My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Tidak tuli



Azila telah turun dari pesawat dan sekarang dia sudah menginjakkan kakinya di tanah Bandung, di mana tempat ibunya dilahirkan. Azila sekarang menaiki mobil golf yang ada di Bandara bersama kedua kopernya.


Setelah sampai di depan Bandara, Azila terlihat menoleh ke sana kemari mencari seseorang, matanya berhenti pada laki-laki yang sedang bersandar di pintu mobilnya.


Azila mengeluarkan ponselnya dari tas dan mengetik sebuah pesan, tidak lama kemudian laki-laki tadi sudah berada di depan Azila.


"Tolong bawakan, ya, Mas," ucap Azila. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk pelan.


Mereka berdua telah berada di dalam mobil yang melaju menuju sebuah tempat. Sudah hampir satu jam perjalanan yang ditempuh oleh Azila dan laki-laki itu, akhirnya sampailah mereka di depan rumah sederhana.


Hari sudah gelap, Azila segera turun dan dibantu oleh laki-laki tadi. Sesampainya di depan pintu, Azila beberapa kali mengetuk pintu kayu yang berukir seekor naga hingga seorang nenek-nenek berusia enam puluh tahunan keluar.


"Nenek!" ucap Azila dengan sedikit berteriak.


Nenek itu mengerutkan dahinya dan sedikit menyipitkan matanya untuk memastikan sesuatu.


"Ali!" panggil Nenek itu dan memeluk Azila. Azila memanyunkan bibirnya namun juga mengeratkan pelukannya.


"Nama ku Azila, Nek. Bukan Ali," ucap Azila, "Azila sudah tidak tomboi lagi," lanjut Azila.


"Benarkah?" tanya Nenek sembari melepaskan pelukannya.


"Apa Nenek tidak melihat, dan merasakan perut ku yang sudah membesar, ini?" jawab Azila sembari mengelus perutnya. Nenek tersenyum.


"Kenapa wajah suamimu semakin jelek?" tanya Nenek sambil melihat laki-laki di belakang Azila dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Bu-bukan, Nek. Mas, ini bukan suami Zila," jawab Azila agar neneknya tidak salah paham.


"Oh, Nenek kira," ucap Nenek, "Ya sudah, ayo masuk," lanjut Nenek.


"Iya, ayo, Nek," balas Azila, "Bantu bawa sampai dalam, ya, Mas," pinta Azila. laki-laki itu mengangguk.


Sesampainya di dalam rumah, Azila duduk dan membuka tas mahal merek Louis Vuitton miliknya, dia mengambil uang dan memberikannya ke laki-laki tadi.


"Mas, ini ongkosnya, sesuai aplikasi, ya," ucap Azila sambil memberikan sejumlah uang.


"Terima kasih, Kak. Saya pamit dulu," balas laki-laki itu. Azila dan Nenek mengangguk.


Sekarang Azila sedang berada di rumah neneknya dari Mamah Mitha, sebenarnya dia ingin pergi ke Korea Selatan dan sekalian menetap di sana. Namun, kondisi tubuh dan fisiknya tidak mendukung apalagi dia tidak memiliki kenalan di sana. Pada akhirnya dia memutuskan untuk terbang ke rumah neneknya.


"Ada apa gerangan yang membuat Ali ku datang mengunjungi ku?" ucap Nenek.


"Nenek, namaku, itu bukan Aliza, tetapi Azila," ucap Azila dengan sedikit geram karena sejak kecil neneknya ini memanggil dia Ali atau Aliza.


Nenek menahan tawanya melihat Azila yang sedikit kesal, "Jangan marah-marah, kasian bayimu," ucap Nenek.


"Nenek, juga, sih," balas Azila, "Sukanya godain, dan ngerjain mulu," lanjut Azila.


Nenek terkekeh melihat wajah Azila yang manyun seperti anak kecil yang tidak dituruti permintaannya. Dari salah satu kamar, Kakek Azila keluar dan terlihat bingung dengan wanita berperut besar yang sedang berbicara dengan Nenek.


"Kakek!" sapa Azila begitu senangnya. Namun, si Kakek masih tidak mengenali siapa wanita itu.


"Wanita gila atau apa dia, ini?" ucap Kakek dalam hatinya.


Kakek duduk di sebelah Nenek, "Siapa, ini?" tanya Kakek dengan sedikit berbisik ke Nenek tetapi masih terdengar ke telinga Azila.


Tiba-tiba Nenek memukul lengan Kakek, "Dia, itu cucumu," jawab Nenek, "Anaknya Mitha," lanjutnya.


"Oohhh," balas Kakek, "Tapi, kok, beda, ya?" lanjut Kakek sambil mengelus jenggot putihnya.


"Apanya yang beda?" tanya Nenek.


"Ali, kan, item, jelek, buluk, tomboi, dan nakal," ucap Kakek.


Jleeebb ....


"Begitu jelek, kah, aku waktu kecil," gumam Azila dalam hati.


"Sekarang, sih, putih, cantik, feminim, anggun, dan yang paling enak dipandang, itu, dia bahenol," jawab Kakek.


Puukkk ....


Nenek menampar mulut Kakek hingga Kakek terperanjat dan memegangi mulutnya yang terasa sakit.


"Kenapa dipukul?" tanya Kakek.


"Kalau jelalatan, itu, yang bener," jawab Nenek, "Masa cucu sendiri dijelalatin," lanjutnya.


"Kan, bercanda, jangan terlalu agresif dong," balas Kakek, "Udah tua masih aja agresif kayak pemain smack down," lanjut Kakek mengejek.


"Ooo, sudah berani mengejek ya? Ku smack down berserak juga kau," ucap Nenek sambil menaikkan lengan dasternya.


Kakek pun lari masuk ke kamarnya meninggalkan Azila dan Nenek di sana. Azila dari tadi menahan tawanya karena tingkah dua orang lanjut usia itu.


"Kalau ketawa, ya, ketawa aja, jangan ditahan, nanti lumpia kuning mu keluar baru tahu rasa," ucap Nenek yang melihat Azila sedang menahan tawanya.


"Enggak, Nek. Azila nggak nahan ketawa, kok," ucap Azila, "Oh ya, Nek. Beberapa hari kedepan Azila tinggal di sini, ya, Nek," pinta Azila.


"Kenapa? Apa kamu sedang bertengkar dengan suami mu? Atau bertengkar dengan mertua mu? Atau sama kedua orangtuamu?" tanya Nenek yang sudah meredakan nada tingginya. Maklum, Nenek Azila adalah orang asli Medan.


Azila terdiam, dia teringat kembali dengan kejadian tadi siang, hatinya kembali merasakan sakit saat mengingat foto Candra yang sedang berciuman dengan Amanda. Tanpa dia sadari, air matanya mulai berlinang fi pipinya.


"Hey, Sayang. Kenapa? Ada apa? Jangan menangis, tidak ada yang jual balon malam-malam begini," ucap Nenek sembari duduk di samping Azila dan memeluk cucunya itu.


"Nek, please jangan bercanda, Zila udah gede, Zila nggak main balon lagi," ucap Azila dalam isakan nya.


"Kan, dari dulu kamu kalau nangis minta dibeliin balon," jawab Nenek.


"Itu, Yasa, Nek, bukan aku," balas Azila sembari melepaskan pelukan Neneknya.


"Ohh, salah, ya. Maaf," ucap Nenek, "Maklum, Nenek udah tua, udah enam puluh tahun lebih, suka lupa," lanjut Nenek.


"Emm," balas Azila dengan bibir yang memanyun.


"Sini," ucap Nenek sambil merentangkan tangannya. Azila kembali ke dalam pelukan neneknya.


Kakek Azila kembali keluar kamar karena merasakan keheningan di ruang tamu, saat keluar dari kamar, Kakek melihat Azila menangis di pelukan istrinya. Dia pun kembali dan duduk di sofa seberang Azila dan Nenek.


"Kenapa dia," tanya Kakek pada Nenek. Nenek menggelengkan kepalanya.


"Zila," panggil Kakek, "Ayo, ikut Kakek ke halaman belakang," ajak Kakek sembari berjalan lebih dulu.


Azila dan Nenek hanya diam dan mengikuti Kakek dari belakang. Nenek menyuruh seorang pelayan untuk menaruh koper-koper dan menyiapkan kamar untuk cucunya itu.


Di halaman belakang, terpampang jelas langit yang bertabur bintang-bintang, Kakek menyuruh Azila duduk di sofa dekat kolam renang.


"Ceritalah, mungkin Kakek, dan Nenek bisa membantu masalah mu," ucap Kakek yang duduk di samping Azila.


Dengan sedikit keraguan, Azila mulai menceritakan alasan kenapa dia datang ke rumah Nenek dan kakeknya. Setelah mendengar cerita dari cucunya, Kakek tiba-tiba menggebrak meja kayu kecil di depannya.


"Laki-laki tidak tahu diri! Berani-beraninya dia menyakiti cucuku," umpat Kakek dengan kemarahan.


"Kamu tinggallah di sini selama kamu mau, bukalah lembaran barumu di sini, jangan memikirkan laki-laki bodoh, itu," ucap Kakek, "Kalau bisa atau mau, kamu boleh mencari suami lagi, di sini," lanjut Kakek.


"Kakek ..!" teriak Azila dan Nenek bersamaan. Kakek langsung terperanjat karena terkejut.


"Kalian, ini, Kakek tidak tuli," gerutu Kakek. Azila dan Nenek malah tertawa mendengar Kakek yang menggerutu.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙