My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Tidak Pernah Cukup



Acara makan siang pun selesai, Azila merapikan piring miliknya dan juga Candra dengan menatanya menjadi sebuah tumpukan. Candra mengangkat kaos putih oblongnya sampai ke atas dada, entah mengapa setelah perutnya terasa cukup kenyang dia pun merasa kegerahan dan keringat mulai membasahi tubuhnya.


"Papa mau mandi dulu," ucap Candra.


"Lagi?" tanya Azila.


"Yup," jawab Candra sambil mengangguk.


"Mandi di jam seperti ini, tidaklah baik, Pa," ucap Azila.


"Ya, tapi Papa tak tahan dengan udaranya. Papa kegerahan," ucap Candra.


"Terserah kamu saja, aku akan menyiapkan baju ganti untukmu," ucap Azila.


"Apa kamu tidak ingin menemaniku mandi?" Candra tersenyum penuh dan menatap Azila dengan tatapan seakan menggodanya.


Azila hanya tersenyum dan tak menghiraukan godaan Candra. Dia memilih masuk ke kamar dan menyiapkan baju Candra. Tumpukan piring itu dibiarkan begitu saja, karena kekenyangan nanti Azila minta pelayan aja yang akan mengangkatnya.


Candra pun ikut masuk ke kamar dan pergi menuju kamar mandi. Sedangkan Azila masuk ke fitting room mengambil baju ganti untuk Candra.


"Sayang!" panggil Candra dari dalam kamar mandi.


Azila yang mendengar teriakan Candra pun bergegas menghampiri Candra dan membuka pintu kamar mandi. Terlihat Candra yang sudah membuka bajunya dan menyisakan celananya saja.


"Ada apa?" tanya Azila.


"Kenapa tidak ada handuk di kamar mandi?" tanya Candra. Azila melihat sekitar kamar mandi dan memang tak terlihat adanya handuk di sana.


"Kebiasaan, pikunnya kumat. Tunggu sebentar, aku akan ambilkan yang baru," ucap Azila.


Candra mengangguk dan Azila mengambil handuk bersih dari dalam lemarinya. Dia pun kembali menghampiri Candra dan alangkah terkejutnya saat Candra menarik tangannya sehingga dia pun masuk ke kamar mandi. Azila semakin terkejut ketika melihat tubuh Candra yang ternyata sudah tak terbalut sehelai benang pun.


"Apa-apaan, sih? Bagaimana jika aku jatuh?" ucap Azila dengan nada sedikit kesal.


"Bantu aku. Tubuhku terasa lengket, dan tak nyaman. Bantulah bersihkan punggungku, aku tak bisa menjangkaunya," ucap Candra sambil mencoba memegang punggungnya, namun tidak sampai karena otot bisepnya semakin besar.


Azila menghela napas dan mengiyakan permintaan Candra. Dia pun mulai mengambil sabun cair dan menuangkannya di punggung Candra.


Candra memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan tangan Azila yang terasa begitu lembut. Seketika suhu tubuhnya menjadi lebih hangat. Dia berbalik dan menatap Azila penuh arti.


"Kamu membangunkannya," ucap Candra.


"Apa?" Azila mengerutkan dahinya, merasa bingung mendengar ucapan Candra.


Candra mengalihkan pandangannya menuju area sensitifnya, Azila pun mengikutu arah pandang Candra dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat area sensitif Candra yang mulai hidup.


"Astaga, aku bahkan tidak melakukan apapun," ucap Azila.


"Bagaimana bisa tidak melakukan apapun? Sentuhanmu membuatku tidak tahan, dan kamu harus bertanggung jawab," ucap Candra.


"Hah! Tidak mungkin kita akan melakukannya di siang hari seperti ini," ucap Azila.


"Ayolah, aku tidak tahan lagi," ucap Candra, "Sudah dua bulan lebih kamu tidak memenuhi kebutuhan biologisku," lanjutnya.


Belum sempat Azila menjawab ucapan Candra, Candra lebih dulu mendorongnya ke dinding dan membuatnya sedikit terkejut dan hampir saja terjatuh karena lantai yang cukup licin.


"Aku menginginkanmu," ucap Candra pelan dan membalik tubuh Azila sehingga kini Azila membelakangi Candra.


Candra mengangkat baju Azila dan mengecup setiap inci punggung Azila, membuat Azila memejamkan matanya merasakan suatu sensasi tak biasa. Kecupan Candra begitu lembut dan basah membuatnya mengepalkan tangannya menahan gejolak yang kian menyiksanya.


"Aku--" Azila semakin mengepalkan tangannya kala Candra menyelipkan tangannya dan menyentuh area sensitif Azila. Candra pun menyeriangai, rupanya Azila begitu menikmati sentuhannya.


Tak tahan lagi menahan hasratnya, Candra menarik pinggang Azila lebih mendekat padanya, sehingga kini area sensitif mereka berada diposisi sejajar. Candra menurunkan kain bagian dalam Azila dan perlahan memasukan miliknya. Keduanya saling memejamkan matanya, menikmati setiap gesekan lembut di bawah sana. Rasa yang sudah lama mereka rindukan akhirnya kembali mereka rasakan.


Candra melepaskan miliknya dan membalik tubuh Azila berhadapan dengannya. Candra mencium bibir Azila, mencecapnya penuh napsu. Azila pun membalasanya dengan penuh minat. Beberapa saat berlalu, Candra menghentikan ciuman itu dan perlahan mengecup leher Azila, dan terus mengecup bagian tubuh Azila hingga tanpa Azila sadari Candra kini sudah berlutu di bawahnya.


Candra mengangkat satu kaki Azila dan memainkan lidahnya di area sensitif Azila. Desahan pun lolos dari mulut Azila, dia sungguh tak tahan merasakan sensasi lidah Candra yang seolah tengah menari-nari di area sensitifnya.


Setelah cukup puas, Candra kembali memposisikan dirinya dengan satu kaki Azila yang masih terangkat lalau menghujamkan cukup keras miliknya membuat Azila terkejut dan memekik. Candra pun semakin bersemangat dan mempercepat tempo gerakannya.


Beberapa waktu berlalu, mereka masih tetap dalam posisi yang sama, Candra pun semakin tak tahan ingin segera mencapai puncak kenikmatannya.


Dia menghujamkan miliknya lebih dalam, lebih cepat dan keduanya pun mendesah hebat. Keduanya saling mendapatkan puncaknya. Setelah itu Candra menurunkan kaki Azila lalu mereka saling memeluk tubuh satu sama lain seraya mengatur napas yang tak beraturan akibat olahraga panas tadi.


Perlu waktu beberapa menit untuk mereka menetralkan napas yang ritmenya seperti habis lomba maraton. Azila dan Candra saling pandang di sisa-sisa hasrat yang masih terasa.


"Makasih," ucap Candra pelan.


"Cabut dulu," ucap Azila dengan napas yang masih belum stabil.


"Nanti dulu, biarkan dia lebih lama melepas rindunya di sana," jawab Candra.


Azila menghela napas, dia menurut saja dengan apa ucapan Candra. Azila tak bisa memungkiri kalau dia juga sangat menikmati dan puas dengan olahraga tadi.


Candra lebih mendekatkan tubuhnya ke Azila hingga tubuh mereka berpelukan dan menempel tanpa jarak. Milik Candra yang masih tegak walaupun sudah berhasil menyalurkan hasratnya masuk lebih dalam ke area sensitifnya Azila.


"Apa jantungmu pindah ke bawah sana?" tanya Azila.


"Kenapa emangnya?" balik tanya Candra.


"Dia berkedut," jawab Azila sambil tersenyum meringis.


Candra ikut tersenyum melihat Azila. Bibir Azila yang masih basah membuat Candra tidak tahan untuk menyesapnya lagi, perlahan bibir Candra mendekati bibir Azila. Bibir mereka saling bergantian untuk menikmati satu sama lain.


"Maaf," ucap Candra setelah bibir mereka terlepas.


Azila menatap Candra dengan bingung, "Buat?" tanya Azila.


"Aku kelepasan, seharusnya aku tanya kamu dulu boleh apa enggak. Tapi, aku malah egois," jawab Candra sembari menunduk.


Azila tersenyum mendengar ucapan Candra, "Hei," Azila mengangkat wajah Candra, "Tenang saja, sebenernya aku juga sudah boleh melakukannya," ucap Azila.


Candra membesarkan matanya, "Benarkah?" tanyanya dengan begitu excited hingga dia termundur dan pelukannya terlepas, begitu juga dengan miliknya yang ikut lepas dari area sensitif Azila.


"Dokter Rizka yang bilang begitu," jawab Azila.


"Kapan?" tanya Candra.


"Tadi, sebelum kamu pulang," jawab Azila.


"Kenapa nggak bilang aku?" tanya Candra.


"Kan kamu enggak tanya," jawab Azila.


"Iya juga ya," ucap Candra sambil menggaruk pelipisnya.


"Ayok mandi," ajak Azila sambil kembali memeluk Candra.


"Lanjut ronde dua yuk, dia bangun lagi," ucap Candra pelan.


Azila melirik ke bawah ketika area sensitifnya merasakan ada gesekan dari benda hangat, "Dari dulu satu ronde memang tidak pernah cukup," ucap Azila sembari berjongkok dan meraih adiknya Candra.


Mana support like sama komennya? Jangan sampai kelupaan buat tekan like.