My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Suara Aneh



Candra sedang perjalanan pulang setelah meeting setengah hari dengan kliennya dari luar negeri, dia pulang ditemani Pak Suryo yang memang setiap hari bertugas untuk antar jemput Candra. Pak Suryo bukanlah supir pribadi, tapi dia adalah kepala pelayan di keluarga Wibawa.


Setelah jam makan siang, tepatnya setelah meeting selesai Candra langsung pulang karena merasa sedikit pusing, dia memberikan semua pekerjaannya ke Pak Nyu yang merupakan asisten pribadinya. Pak Nyu sedikit lebih tua dari Candra, usia mereka hanya terpaut lima tahun saja dan Pak Nyu adalah penerus Pak Suryo jika dia pensiun nanti. Setiap asisten pribadi kepala keluarga Wibawa akan berkesempatan untuk naik menjadi kepala pelayan di rumah Wibawa.


Sesampainya di rumah, Candra bertemu Mamah Mitha dan Bunda Putri yang sedang bermain dengan cucu-cucu mereka. Candra menghampiri kedua jagoannya lalu duduk dan memberi ciuman gemas di kedua pipi Kean dan Lean. Satu fakta yang author kasih tau ke kalian kalau Kean dan Lean selalu tertawa jika Candra datang dan memberi ciuman di kedua pipi mereka, tapi Kean dan Lean tidak akan berekspresi atau bahkan bisa seperti marah kalau orang lain yang mencium mereka.


"Utututu, sayangnya Papa kok bau kecut semua, ini," ucap Candra sambil menggelitiki perut Kean dan Lean, "Belum mandi, ya," lanjutnya.


"Tumben jam segini sudah pulang," ucap Bunda Putri.


"Iya, Bun. Tadi habis meeting kepala Candra pusing, jadi pulang aja," jawab Candra, "Eh pas ketemu jagoan-jagoan kecil, ini, pusing Papa langsung ilang," lanjutnya sambil menciumi perut Kean dan Lean secara bergantian.


"Mandi dulu sana! Terus nanti minta Zila buat mijitin kamu," ucap Mamah Mitha.


Candra menegakkan duduknya lalu menoleh ke Mamah Mitha, "Azila bisa pijit, Mah?" tanya Candra dengan sedikit tidak percaya kalau istrinya bisa pijit.


"Kenapa nggak kamu coba buktikan aja sendiri," jawab Mamah Mitha.


"Benar juga, ya, kenapa nggak aku buktikan sendiri aja," gumam Candra.


"Emangnya kamu nggak pernah minta Zila buat pijitin kamu?" tanya Mamah Mitha.


Candra menggeleng, "Enggak, Mah. Aku nggak tau kalau dia bisa pijit, bahkan aku yang sering pijitin dia waktu hamil," jawab Candra.


"Kalau, itu, memang tugasmu. Mana bisa istrimu pijit sendiri kalau perutnya terus membesar," ucap Bunda Putri.


"Ya udah, Candra ke kamar dulu, ya, Mah, Bun," ucap Candra sembari bangkit dari duduknya.


"Iya, sana pergi istirahat," balas Bunda Putri.


"Papa pergi dulu, ya, kalian jangan bandel, jangan rewel, dan jangan ngerepotin Nenek-nenek kalian, oke," ucap Candra sambil mengelus kepala Kean dan Lean.


Candra beranjak pergi ke kamarnya yang ada di sebelah tangga, sebenarnya kamar itu adalah kamar tamu, tapi saat kehamilan Azila masuk tujuh bulan mereka pindah ke sana untuk mengurangi resiko jatuh dari tangga.


Ketika Candra masuk ke kamar, dia tidak menjumpai Azila di sana. Candra melihat kamarnya sudah tertata rapi dan itu adalah hasil pekerjaan Azila. Sejak Azila pindah ke rumah Wibawa, dia membuat peraturan di mana tidak ada pelayan yang boleh membersihkan kamarnya dengan Candra. Namun, ketika usia kandungan Azila masuk usia delapan bulan, dia baru meminta bantuan pelayan untuk membersihkan kamar, dan itupun tidak lama karena seminggu setelah melahirkan Azila sudah membersihkan kamarnya sendiri.


"Ma! Mama!" panggil Candra.


"Aku di kamar mandi!" sahut Azila. Candra berjalan menuju kamar mandi.


"Kamu lagi mandi?" tanya Candra yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Udah selesai," jawab Azila sembari membuka pintu, "Ada apa?" tanya Azila.


"Enggak ada apa-apa," jawab Candra.


"Tumben jam segini udah pulang? Biasanya jam empat," tanya Azila.


"Kangen kamu," jawab Candra sambil memeluk Azila.


"Alah, gombal," balas Azila, "Lepasin ah, kamu masih kotor, itu, lho, mandi dulu sana!" suruh Azila sambil mencoba melepaskan tangan Candra yang memeluknya.


"Mau peluk kamu dulu," ucap Candra dengan manja.


"Enggak mau! Aku udah mandi, nanti aku ikut bau lagi kalau kamu nempel-nempel kayak gini," ucap Azila sambil terus memberontak.


"Kalau gitu kita mandi bareng aja," ucap Candra sambil menciumi leher Azila.


"Pa! Lepasin nggak? Aku marah beneran nih!" ucap Azila sedikit meninggikan suaranya.


Muuacch


Azila mencium pipi Candra, "Mandi dulu, nanti baru boleh peluk," ucap Azila dengan suara lembut.


"Iya," jawab Candra dengan wajah sedih.


Azila meraih rahang bawah Candra lalu mempertemukan wajah mereka, "Jangan sedih gitu, tadi aku nggak serius mau marah," ucap Azila.


"Iya, Sayang. Aku paham," jawab Candra, "Tapi aku beneran takut tadi," lanjutnya.


"Ya udah, sana mandi! Nanti boleh peluk sepuasmu," balas Azila.


Candra mengangguk lalu Azila melepaskan tangannya, "Di kamar mandi jangan main pakai tangan kalau lupa nyiramnya," bisik Azila sambil menahan tawanya.


"Hee!" Candra kaget mendengar bisikan Azila.


"Perasaan udah aku siram terus, kenapa dia bisa tau, ya?" batin Candra dengan rasa kebingungannya.


"Ka-kamu tau?" tanya Candra.


"Susah tau kalau susu kental manismu kering di tembok kamar mandi," jawab Azila sembari pergi meninggalkan Candra.


"Ya, habisnya kamu nggak bantu sih," jawab Candra.


"Kan kamu nggak pernah minta bantu, Pa," balas Azila.


"Ya udah sekarang bantuin kalau gitu," ucap Candra.


"Mandi dulu, kamu masih bau, aku nggak mau kalau kamu masih bau," jawab Azila.


"Habis mandi, ya?" tanya Candra yang mencoba mendapatkan kepastian.


"Iya," jawab Azila.


Dengan hati yang berbunga-bunga Candra masuk ke kamar mandi, dia berniat mempercepat mandinya dengan hanya mengguyur tubuhnya di bawah shower tanpa memakai sabun. Tapi, sialnya dia malah sakit perut ketika mau melepaskan pakaian kerjanya, "Ah, sial, tertunda lama lagi," gerutunya sambil cepat-cepat membuka celananya lalu berlari ke kloset.


"Pa, kamu udah makan siang belum?" tanya Azila.


Eeghh! Candra mendorong sekuat tenaga karena emasnya susah keluar, "Apa?" jawab Candra sambil berteriak.


"Kami udah makan siang belum?" jawab Azila dengan suara lebih keras.


"Belum!" jawab Candra.


"Aku siapin makan siangmu dulu, ya," ucap Azila sembari beranjak pergi.


Egghh! Candra kembali mengejan sampai napasnya habis dan emasnya sudah hampir sampai di pucuk lubang, "Iya!" jawab Candra membuat emasnya kembali masuk ke dalam.


"Ahh, kenapa kembali lagi," gumam Candra.


Candra menarik napas dalam-dalam lalu mengejan sekuat-kuatnya. Eghhh! Broottt! Suara dentuman emas bersama gas yang keluar setelah mendapat dorongan yang kuat. Plung plung plung, Setelah dentuman tadi emas Candra keluar dengan lancar tanpa kendala.


Azila yang baru mau membuka pintu kamar terhenti karena mendengar suara aneh, "Suara apa, ya, itu?" gumam Azila.


Ayo likenya mana, jangan asik baca doang ya, hehe.


Maaf kalau di bab ini kata-kata dan cerita yang author gunakan terasa ambigu (jijik) buat kalian.