
"Ayo, Candra, jangan lemah," gumam Candra yang mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Candra berdiri dan berlari lagi menghampiri Azila yang tubuhnya sudah mulai tertutup air pantai, Candra meraih tubuhnya Azila yang sudah tidak sadarkan diri dan menggendongnya menembus derasnya hujan malam itu.
Mereka berdua sudah sampai di teras villa lalu Candra mendudukkan Azila di kursi kayu yang ada di teras, Candra berjalan ke depan pintu dan dia membuka pintu dengan sidik jarinya. Setelah pintu terbuka, Candra kembali menggendong Azila dan membawanya masuk.
≈≈≈
Di dalam kamar villa.
Candra membawa Azila masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar mereka, Candra menyalakan kran air hangat sambil menunggu bathup nya penuh. Candra mendudukkan Azila di lantai kamar mandi dan di senderkan ke bathup. Dia melepaskan semua pakaian yang di kenakan oleh Azila karena sudah basah kuyup dan kotor oleh pasir.
Candra sempat bimbang untuk melepaskan pakaian Azila, karena dia tidak pernah melihat tubuh Azila yang tanpa sehelai benang pun.
Saat itu, dia hanya pernah melihatnya sekilas karena ketidak sengajaan.
"Ini, untuk kebaikan Azila. Candra jangan mikir aneh-aneh dan cepat lakukan," batin Candra dan mulai melepaskan helai demi helai pakaian Azila.
Candra menelan ludah saat pertama kalinya melihat tubuh Azila yang sangat seksi dan menggoda.
"Hei, mesum ..! Apa yang kamu lakukan?" umpat Candra yang menyadarkannya dari keterpakuan saat melihat tubuh Azila.
Candra mengangkat tubuh Azila dan memasukkannya ke dalam bathup yang sudah terisi air hangat.
Candra hanya menaruh Azila di bathup dan membiarkan tubuh Azila terendam oleh air hangat, Candra melepaskan semua pakaiannya yang sudah sangat kotor karena banyak pasir di tubuh dan bajunya, lalu Candra mengguyur tubuhnya di bawah shower hangat.
Setelah Candra selesai membersihkan tubuhnya, dia mengambil bathrobes dan memakainya. Dia pun mengangkat tubuh Azila yang masih berendam air hangat di bathup dan mendekapnya digendongan agar tubuh Azila menjadi lebih hangat.
Candra merebahkan tubuh Azila di kasur dan menyelimutinya. Candra menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan menempelkannya di pipi Azila yang masih terasa dingin.
≈≈≈
Malam semakin gelap dan sunyi, suara deburan ombak terdengar begitu jelas di telinga Candra, dan dinginnya malam mulai terasa ke tulang, malam semakin larut dan Candra sudah mengantuk berat. Dia tertidur di lantai dengan kepalanya berbantal pinggiran kasur, tangan Candra yang selalu menggosok tangan Azila untuk memberinya kehangatan, kini hanya menggenggam tangan Azila yang berada di dalam selimut.
≈≈≈
Keesokan harinya.
Suara deburan ombak di temani kicauan burung camar dengan hangatnya sinar matahari yang menembus gorden tipis kamar villa, membangunkan Azila yang sudah semalaman tidak sadarkan diri. Azila mengusap-usap ke dua matanya dan mengamati ruangan yang dia tempati saat ini.
"Di mana aku? Bukannya, tadi malam aku terjatuh dan terseret ke pantai?" gumam Azila yang mengingat-ingat kejadian semalam.
"Ngapain Candra tidur, di situ?" gumam Azila dengan bingung.
"Apa dia yang menolongku, tadi malam?" gumam Azila yang mulai menerka-nerka.
"Hhuuuooohh ... (suara Candra menguap) kamu sudah bangun?" tanya Candra dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Azila mengangguk dan tersenyum manis, lalu Azila mencoba untuk bangun dan duduk di kasur.
"Eeehhh ,, jangan-jangan ..! Jangan keluar dari selimut ..!" ucap Candra yang kaget karena dia ingat jika sekarang Azila tidak memakai baju sama sekali.
"Kamu lihat aja ke dalam selimut. Tapi, jangan teriak-teriak, nanti," balas Candra, lalu Azila membuka sedikit selimutnya dan mengintip ke dalam...
"Aaakkkhhhh ..! Emmm ,, emmmm ,, emmm ..." suara Azila yang mulutnya di bungkam oleh Candra.
"Kan, aku udah bilang jangan teriak. Tenang saja, aku enggak curi kesempatan dalam kesempitan, kok," ucap Candra lalu membuka pelan mulut Azila.
Mendengar penjelasan Candra, Azila hanya terdiam, lalu Candra berdiri dan mengambilkan bathrobes di lemari dan melemparkannya ke Azila, dia pun keluar dari kamar.
Azila menyingkap selimutnya dan memakai bathrobes yang diambilkan oleh Candra. Selesai mengenakannya, Azila keluar kamar dan menyusul Candra yang sedang memasak di dapur.
Azila sedikit berlari saat menghampiri Candra, tiba-tiba Azila memeluk tubuh candra dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan ..! Nanti, aku kamu tuduh mencuri kesempatan dalam kesempitan, lagi," ucap polos Candra yang berusaha melepaskan tangan Azila yang memeluknya dari belakang.
"Diam, lah. biarkan aku memeluk suami ku, sebentar saja," balas Azila dengan suara lemah lembut dan manja.
"Apa kamu habis tersambar petir, tadi malam?" tanya Candra yang sepontan keluar dari mulutnya.
"Mungkin," balas Azila yang sekarang membenamkan wajahnya di punggung Candra, dan Candra pasrah dengan keinginan Azila tetapi dia juga senang karena ini baru pertama kalinya Azila memeluk Candra dan tidak menyalahkannya apalagi menuduhnya mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Zila, apa kamu ingin seperti ini terus?" tanya Candra yang sudah selesai menyiapkan sarapan, Azila hanya menganggukkan kepalanya yang masih terbenam di punggung Candra.
"Aku sudah selesai menyiapkan sarapan. Ayo, bantu aku membawanya ke meja makan, dan kita sarapan bersama," ucap Candra yang lembut sembari mengelus tangan Azila yang melingkar di perutnya.
Setelah puas memeluk tubuh orang yang sudah menyelamatkan nyawanya, Azila melepaskan pelukannya dan membantu Candra untuk menata sarapan ke atas meja yang tak jauh dari dapur, lalu mereka berdua mulai menikmati sarapan mereka.
"Lain kali, biar aku yang masak untuk sarapan. Kamu diam aja, dan tunggu selesai," ucap Azila di sela makan mereka.
"Hari, ini, keadaannya, kan, berbeda. Kamu habis pingsan semalaman, masa aku tega membiarkan mu memasak sarapan untuk ku," balas Candra yang masih fokus pada makanan di depannya.
"Baiklah-baiklah, aku mengalah. Oh, ya, kenapa kamu mengajak ku, ke sini? Bukannya, tadi malam aku ngajak kamu untuk temani aku jalan-jalan keliling kota saja?" tanya Azila yang penasaran.
"Aku hanya ingin menunjukkan tempat yang indah, dan tenang untukmu. Karena, aku pikir, kamu bosan di rumah terus. Anggap saja sekalian bulan madu pertama kita," jawab Candra dengan nada serius tapi santai, Azila hanya diam tak memberikan respon apapun.
Candra yang melihat Azila diam saja dan menciptakan kecanggungan di antara mereka merasa bersalah.
"Kenapa kebodohan mu datang di waktu yang tidak tepat, sih? Dasar bodoh ..!" umpat Candra di dalam hatinya yang merutuki kebodohannya sendiri.
"Zila maaf. Jangan masukkan ucapan ku, tadi, ke hati," kata Candra yang membuka kecanggungan itu.
"Tak apa. habis sarapan, temani aku melihat-lihat pantai, ya," balas Azila dengan wajah ceria dengan senyum manis di bibirnya.
"Siap, Nona Azila Wibawa," jawab Candra dengan memberi hormat ke Azila.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport Author 🙏😘💙