My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Rencana



Azila, Bunda Putri, dan Ayah Yoga telah sampai di depan teras rumah Wibawa, mereka bertiga keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah besar itu bersama-sama.


"Bunda, Ayah. Nanti Azila tidak ikut makan siang bareng ya, Azila mau istirahat di kamar aja?" ucap Azila ke kedua mertuanya.


"Iya, Sayang. Kamu istirahat di kamar aja biar nanti Bunda anterin makan siangmu ke kamar," balas Bunda Putri.


"Iya, Bun. Kalau begitu Azila ke kamar dulu," pamit Azila yang dijawab anggukan oleh kedua mertuanya dan Azila langsung berjalan menuju kamarnya.


»Flashback di rumah sakit.«


Drrtt.. drrttt.. getar ponsel Ayah Yoga. "Bun, Ayah keluar angkat telpon dulu ya," ucap Ayah Yoga ke Bunda Putri dan dibalas dengan anggukan oleh Bunda Putri, lalu Ayah Yoga keluar dan mengangkat telponnya.


"Ada apa, Pak Suryo?" Tanya Ayah Yoga.


"Tuan Besar, saya sudah melacak dimana Tuan Candra berada sekarang," jawab Pak Suryo.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Ayah Yoga yang sudah sangat kuatir.


"Tuan Candra sekarang ada di Los Angeles, Tuan. Namun lokasi pastinya selalu berubah-ubah, mungkin di sana Tuan Candra sedang dalam perjalanan," jelas Pak Suryo dari dalam telpon.


"Ngapain anak ini ke Los Angeles tanpa izin ke Ayah dan Bundanya dulu," gumam dalam hati Ayah Yoga yang keheranan dengan Candra.


"Ya sudah, terima kasih, Pak Suryo. Sekarang lanjutan pekerjaan mu!" Perintah Ayah Yoga dan langsung mematikan sambungan telponnya, lalu Ayah Yoga masuk kembali ke ruangan Dokter Rizka.


»Flashback selesai.«


Azila sudah berada di dalam kamarnya yang terang dan tertata rapi, dengan alunan suara jam dinding yang berdetak mengisi keheningan ruangan yang dingin itu. Aroma parfum yang biasa Candra semprot ke tubuhnya masih tersisa dan tercium sampai ke hidung Azila.


Azila duduk di tepi ranjang lalu mengambil ponsel yang tadi ia tinggal di nakas samping ranjangnya saat ke rumah sakit. Dilihatnya ponsel yang selalu ramai dengan notifikasi chat dan pemberitahuan lainnya, namun tak ada satupun notifikasi yang sangat ia rindukan.


"Kamu kenapa tidak pulang dan tidak menghubungi ku sama sekali, Candra? Aku merindukanmu," ucap Azila yang sendu dan tanpa ia sadari air matanya mulai berlinang melewati pipinya.


≈≈≈


Setelah selesai menyantap sarapan pagi, Eldar mengajak Candra untuk jalan-jalan keluar.


"Mom, Dad. Eldar mau jalan-jalan sama Kak Candra, boleh ya," ucap Eldar meminta izin ke kedua orang tuanya.


"Katanya kamu mau ikut Daddy ke kantor untuk belajar," jawab Mommy Vidia.


"Awal bulan depan aja ya, lagian kalau sekarang nanggung, masih tanggal 20," rayu Eldar dengan dengan wajah melasnya.


"Terserah kamu Eldar, Daddy akan mengajarimu saat kamu sudah siap," balas Daddy Mada, sedangkan Mommy Vidia hanya mengangguk menyetujui ucapan Suaminya.


"Makasih Daddy, Mommy. Kalian memang yang terbaik," kata Eldar sambil memeluk dan mencium pipi kedua orang tuanya.


"Tante, Om. Candra pamit bawa Eldar dulu ya," pamit Candra sambil menyalami dan mencium punggung tangan Mommy Vidia dan Daddy Mada.


Setelah berpamitan, Candra dan Eldar pergi jalan-jalan dengan mengendari MINI John Cooper Works milik Eldar.


"Kendaraan mu keren juga, El," puji Candra yang sedang mengemudi.


"Tentu, wanita cantik dan keren seperti ku ini harus mengendarai yang cantik dan keren pula," jawab Eldar yang menyombongkan dirinya.


"Jika aku boleh muntah di sini, aku akan muntah sekarang karena mendengar kesombongan mu itu," balas Candra dengan tawa kecilnya.


"Jahat banget sih Kak sama adeknya, bilang iya gitu lho biar adeknya seneng," dengus Eldar dengan bibir manyun sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Melihat Eldar yang manyun, Candra semakin tertawa, "Iya-iya, kamu adalah Adek Kakak yang paling cantik pokoknya," ucap Candra sembari mengelus rambut halus Eldar.


Eldar dan Candra sudah seharian mengelilingi kota Los Angeles, mereka juga sudah puas berkuliner dan berbelanja dari mall besar hingga ke pasar yang ada di pinggir jalan. Hari sudah mulai petang tetapi Candra dan Eldar masih asik menyusuri jalanan Los Angeles dengan MINI John Cooper Works milik Eldar.


"Btw, Kakak mau sampai kapan di sini? Apa Kakak tidak mau meluruskan masalah ini dengan Kakak Ipar? Siapa tau Kakak hanya salah paham aja," ucap Eldar yang tidak ingin Kakaknya terlarut dalam salah paham.


"Mungkin kamu benar, tapi hatiku masih sakit karena saat itu, dia meninggalkan Kakak dan membiarkan Kakak kebingungan mencari dia sampai mengitari semua lantai di mall, eh pas Kakak nemuin dia, dia malah sedang asik berpelukan dengan laki-laki lain," jelas Candra yang masih merasakan sakit saat mengingat kejadian itu.


Mendengar penjelasan Kakaknya, Eldar sejenak diam dan memikirkan sesuatu, "Ah iya Kak, bagaimana kalau kita mengerjai Kakak Ipar, sekaligus mengetes seberapa besar cintanya dia ke Kakak, gimana?" Ucap Eldar dengan semangatnya saat mendapatkan ide.


"Gimana caranya?" Tanya Candra yang sudah penasaran.


"Jadi gini, Kak. Besok kita ... bla bla bla bla bla ... nah gitu, Kak. Gimana? Pinterkan Adek Kakak satu ini," ucap Eldar dengan bangganya.


"Hemm, boleh juga rencana mu itu," puji Candra yang mengakui kehebatan otak Eldar dalam urusan kejahilan.


"So? Apa kakak setuju?" Tanya Eldar.


"Why not? let's start your plan," jawab Candra dengan senyum licik di bibirnya.


≈≈≈


Setelah mulai capek berkeliling kota, Candra dan Eldar memutuskan untuk berhenti di pinggir sebuah taman bermain, lalu mereka berdua keluar dari mobil dan duduk di bangku taman yang hanya berjarak 2 meter dari MINI John Cooper Works milik Eldar terparkir.


Candra menghirup udara senja di Los Angeles, ia berharap itu bisa menenangkan pikiran dan kegundahan dalam hatinya, hingga terdengar suara bayi yang tertawa cukup keras hingga terdengar ke telinga Candra, tangisan bayi itu membuat Candra langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sepasang suami istri yang duduk di kursi taman yang cukup dekat dengannya, mereka sedang bermain dengan bayi kecil mereka yang lucu dan imut.


"Zila, mungkin keluarga kecil kita akan jauh lebih sempurna dan bahagia saat ada malaikat kecil yang hadir di antara kita, maafkan aku yang belum dewasa ini, Sayang," batin Candra dalam lamunan yang menyesali tingkah berlebihannya itu.


Candra mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan bangun dari lamunannya tadi.


"El, sekarang kamu hubungi Om dan Tante dulu, dan beritahu mereka kalau sore ini kita akan terbang ke Indonesia!" Perintah Candra ke Eldar.


"Siap, Kakakku yang tampan," jawab canda Eldar yang sembari mengeluarkan ponselnya dan menelpon kedua orang tuanya.


Candra berdiri dari duduknya dan agak menjauh dari Eldar, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo, Pak Nyu," panggil Candra ke orang yang tersambung dengan telponnya.


"Iya, Tauan Candra. Apa ada yang bisa saya bantuin?" Tanya Pak Nyu.


"Siapkan pesawat untuk kita kembali ke Indonesia nanti jam 6 sore!" Perintah Candra.


"Baik, Tuan," jawab Pak Nyu di seberang telpon, lalu Candra mematikan sambungan telponnya dengan Pak Nyu dan kembali duduk di samping Eldar.


"Gimana?" Tanya Candra ke Eldar.


"So pasti boleh dong," jawab Eldar dengan girangnya.


"Baiklah, sekarang kita pulang dan menyiapkan keperluan mu, karena 2 jam lagi kita akan segera berangkat," balas Candra sambil berdiri dari duduknya.


"Oke, Kakak. Kita pulang sekarang, let's go!" Seru Eldar yang sangat gembira karena dia akan terbang ke Indonesia.


Candra dan Eldar masuk ke MINI John Cooper Works dan langsung melaju kembali ke rumah keluarga Safira.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙