
"Kamu kenapa, Nak?" Tanya Bunda Putri yang sedang memijit tengkuk Azila.
"Zila juga nggak tau, Bun. Udah dari kemarin malam Zila suka muntah," jawab Azila sambil membasuh bibirnya.
Bunda Putri terlihat tersenyum dengan jawaban Azila, Bunda Putri sedang memikirkan sesuatu tetapi dia belum bisa memastikannya, "Kapan terakhir kamu datang bulan, Sayang?" Tanya Bunda Putri lagi untuk memastikan.
Azila sejenak berpikir dan mengingat-ingat, "Emm, terakhir, kemarin setelah pulang dari villa sama Candra, Bun. Memangnya kenapa, Bun?" Tanya balik Azila setelah menjawab pertanyaan Bunda Putri.
Mendengar jawaban Azila, Bunda Putri tiba-tiba melompat-lompat dan berjingkrak-jingkrak, Azila yang melihat Bundanya tiba-tiba bertingkah aneh membuatnya keheranan.
"Bun, apa Bunda sehat? apa Bunda lagi demam?" Tanya Azila yang mulai kuatir dengan mertuanya.
Bunda Putri yang mendengar pertanyaan Azila, ia langsung menghentikan kegembiraannya dan diam menatap Azila dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Kamu tau, kenapa Bunda bisa sampai sesenang ini, Sayang?" Tanya Bunda Putri dengan penuh teka-teki. Azila menggeleng dengan bibirnya yang manyun, lalu Bunda Putri memegang kedua pundak Azila dan menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskan, "Hufftt, kamu tau, Zila. Apa artinya kalau kamu telat datang bulan, sering mual, dan muntah-muntah?" Tanya Bunda Putri.
"Zila nggak tau, Bun. Apa Azila sekarang sedang terkena penyakit atau terserang virus, Bun?" Tanya Azila dengan wajah polosnya, Bunda Putri menahan tawanya karena melihat kepolosan Azila.
"Azila sayang, (sambil menakupkan tangannya ke kedua pipi Azila) sekarang, kamu, sedang hamillll," ucap Bunda Putri sembari memeluk tubuh menantunya itu.
"Beneran, Bun? Apa Zila bakal jadi seorang ibu seperti Bunda dan Mamah?" Tanya Azila yang masih belum percaya.
Bunda Putri melepaskan pelukannya dan berkata, "Iya, Sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu seperti Bunda dan Mamah kamu."
Mendengar jawaban Bunda Putri, Azila langsung memeluk tubuh mertuanya itu dengan sangat erat hingga membuat Bunda Putri sulit untuk bernafas.
"Zila, apa kamu ingin membunuh Bunda? kamu terlalu kencang memeluk Bundanya," ucap Bunda Putri yang wajahnya mulai memerah karena kesulitan bernafas.
"Maaf, Bun. Zila nggak bermaksud begitu, Zila hanya terlalu bahagia karena Zila akan menjadi seorang ibu," jawab Azila yang sudah melepaskan pelukannya.
"Bunda mengerti, Sayang. Ayo kita beritahu Ayah dan yang lainnya," ajak Bunda Putri dan Azila mengangguk menuruti ucapan Bundanya.
Di meja makan.
"Apa Azila baik-baik saja, Bun?" Tanya Ayah Yoga yang kuatir saat Azila berlari ke dapur dan muntah.
"Azila baik-baik aja, Yah. Sekarang Bunda dan Azila punya kabar baik buat Ayah dan Dara," jawab Bunda Putri.
"Kabar bahagia apa, Bun?" Tanya Ayah Yoga yang penasaran.
"Sebentar lagi, kita, akan, jadi, kakek dan nenek," jawab Bunda Putri dengan senyum lebar yang tergambar di wajahnya.
"Apa itu benar, Bun?" Tanya Ayah Yoga yang masih belum percaya.
"Itu baru tebakan Bunda sih, Yah. Karena tanda-tanda yang di alami Azila, mirip banget sama tanda-tanda Bunda saat pertama kali hamil, Yah," jawab Bunda Putri.
"Baiklah, kalau begitu nanti kita ke dokter untuk memastikan apakah Azila hamil atau tidak, dan sekarang kita lanjutkan sarapan dulu," ucap Ayah Yoga yang langsung di turuti oleh semua orang.
Setelah selesai sarapan, Ayah Yoga mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
Tuuut.. tuuttt..
"Halo, Pak Suryo. Pagi ini saya mau mengantar Azila ke rumah sakit, jadi kamu hendel dulu kerjaan di kantor, nanti siang setelah jam istirahat saya baru ke kantor," ucap Ayah Yoga ke Pak Suryo.
"Baik, Tuan Besar," jawab Pak Suryo.
"Oh, iyaa, satu lagi, kamu cari dimana Candra berada sekarang, jika sudah ketemu kabari saya!" Perintah Ayah Yoga.
"Baik, Tuan Besar," jawab Pak Suryo, lalu sambungan telpon telah di matikan oleh Ayah Yoga. Setelah semua siap, Azila, Bunda Putri, dan Ayah Yoga masuk ke mobil dan berangkat ke rumah sakit.
≈≈≈
Di depan sebuah pintu besar, berdirilah seorang laki-laki dengan setelan baju casualnya. Laki-laki itu menekan bel rumah besar yang berdiri layaknya istana kerajaan, dan tak berselang lama, pintu besar di hadapannya terbuka.
"Selamat pagi, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan perempuan muda. Terlihat dia baru bekerja di rumah besar itu, karena dia tidak mengenali siapa laki-laki dihadapannya.
"Saya ingin bertemu dengan Eldar Safira, apa dia ada?" Tanya Candra pada pelayan itu.
"Nona Eldar ada di dalam, Tuan. Mari masuk," balas pelayan itu dengan sangat sopan dan ramah, lalu Candra masuk dan dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu rumah keluarga Safira. Pelayan yang tadi menuntun Candra ke ruang tamu, sekarang sudah pergi untuk memanggil Nona di rumah besar itu.
Tak berselang lama, terlihat wanita cantik bahkan sangat cantik, sedang berjalan menuju ruang tamu dengan memakai piyama berwarna biru laut dan sendal bulu berwarna biru muda.
"Siapa yang berani menemui Nona dari keluarga Safira sepagi ini?" Ucap seorang wanita yang sudah berdiri dengan berkacak pinggang di belakang sofa yang di duduki Candra.
"Siapa yang paling berani selain Candra Wibawa," balas Candra yang langsung berdiri dan menghadap ke belakang sambil berkacak pinggang mengikuti gaya wanita cantik yang ada di depannya.
"Kak Candra!" Teriak wanita cantik itu sambil berlari mengitari sofa dan langsung memeluk tubuh Candra. Candra yang masih jet lag tak kuasa menahan beban wanita cantik itu, hingga akhirnya Candra jatuh ke sofa dan wanita cantik itu terduduk di atas perut Candra.
"Hei, Eldar. Kamu kira sekarang kamu masih kecil? cepat turun, perut ku sudah tak kuat menahan berat badan mu!" Ucap Candra yang wajahnya memerah karena menahan beban berat di perutnya yang masih kosong belum sarapan.
"Secara tidak langsung kamu menyebut ku gendut, Kak," dengus Eldar yang sudah turun dari perut Candra.
"Aku tidak bilang kamu gendut, tapi kamu sendiri yang bilang begitu," jawab Candra sembari duduk dan merapikan pakaiannya.
"Terserah, aku tak peduli, pokoknya Kakak yang bilang aku gendut, titik!" Seru Eldar sambil menunjuk ke bawah.
"Huuh, Adek kakak makin gede makin gemesin aja sih," ucap Candra yang berdiri dari duduknya dan mencubit kedua pipi milik Eldar.
"Iihh, sakit, Kak," rintih Eldar sambil menepis tangan Candra dan mengelus kedua pipinya.
"Maaf, Kakak terlalu gemes sama pipi mu yang seperti pantat bayi itu," jawab Candra sambil menahan tawanya.
"Oh, ya, mana Kakak Ipar? Kok nggak kelihatan?" Tanya Eldar sambil celingukan mencari Kakak Iparnya.
"Dia sedang di rumah, aku tidak mengajaknya kesini," jawab Candra dengan lesu dan duduk lagi di sofa.
Eldar yang melihat perubahan raut wajah kakaknya setelah dia menanyakan tentang Kakak Iparnya, dari sangat ceria dan tiba-tiba berubah murung, membuat Eldar tahu kalau mereka sedang ada masalah, lalu Eldar duduk di samping Kakaknya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙