My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bahu yang Nyaman



Hari ini Candra dan Azila memiliki acara kumpul dengan dua pasangan lain. Sudah lebih dari satu bulan Candra dan Azila tidak bertemu dengan Kevin, Nabila, Naza, dan Eldar. Kebetulan sekali Eldar datang ke Indonesia dan sebentar lagi pesawatnya akan landing di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pastinya sudah asa pangeran bermobil putih yang sudah menanti kedatangan Eldar.


Acara berkumpul ketiga pasangan itu diadakan di rumah Candra karena kondisi Azila yang tidak mendukung untuk bepergian ke luar rumah. Azila dan Candra sudah menyiapkan tempat nongkrong mereka dan tentunya ada banyak makanan yang sudah tersaji karena jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang dan sudah waktunya makan siang. Kevin dan Nabila baru sampai di kediaman Candra, karena ini acara kumpul bisa, jadinya mereka datang dengan pakaian santai seperti saat berada di rumah sendiri. Kebetulan Ayah Yoga dan Bunda Putri sedang menghadiri pembukaan hotel siang itu, jadi mereka pebih leluasa untuk berpakaian santai m


Pesawat Eldar sudah landing dan dia segera berjalan keluar karena sudah tidak sabar ingin bertemu pangeran tampannya setelah satu bulan tidak bertemu. Sebenarnya Naza ingin terbang ke Los Angeles seperti dua bulan sebelumnya, tetapi Eldar menolak dan dia ingin datang ke Indonesia karena dia tidak mau melihat Naza berjuang sendiri untuk mengikis jarak di antara mereka. Pertama kali pacaran dan baru beberapa menit mereka berdua jadian, mereka sudah di uji dengan jarak yang tidak sopan.


Sesampainya di depan bandara, mata Eldar celingukan ke sana kemari mencari seseorang yang amat begitu ia rindukan. Mata Eldar berhenti pada seorang laki-laki yang bersandar di mobil putih sambil kedua tangannya bersendakap di depan dada, dan sialnya mata laki-laki itu sudah sejurus menatap ke arah Eldar, walaupun tatapan mata itu berjarak kisaran 50 meter, tapi tatapan itu tetap berhasil membuat jantung Eldar lepas kendali dan pipinya bersemu merah.


"Ya Tuhan, kenapa Engkau menciptakan laki-laki, itu, dengan begitu sempurna? Setiap kali melihatnya serasa ingin terus memeluknya dengan erat," ucap Eldar dalam hati.


Baru kali ini Eldar melihat Naza memakai pakaian santai dengan cropped pants putih yang dipadukan dengan sweater hitam polos lalu dengan loafer shoes dan tak lupa kaca mata hitam yang menambah kesan maskulin pada penampilan casualnya.


Melihat Eldar yang diam saja di tempat, Naza segera berjalan menghampiri Eldar yang menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. Sesampainya ia di depan Eldar, Naza lekas mendaratkan satu kecupan di bibir di bibir Eldar.


"Kenapa melihatku seperti, itu? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Naza sambil melihat dirinya sendiri.


"Bukan salah, tapi penampilanmu membuatku ingin memelukmu dengan begitu erat," jawab Eldar.


"Kalau begitu kenapa masih diam? Sini," balas Naza sambil merentangkan kedua tangannya.


Eldar yang sudah bernafsu untuk memeluk Naza sekaligus melepaskan rasa rindu yang menyesakkan hatinya, dia langsung melompat ke gendongan Naza dan memeluknya dengan sangat erat, tangan Eldar melingkar di leher Naza dan kedua kakinya sudah melingkar di atas pinggang Naza.


"Sayang, jangan erat-erat, aku tidak bisa bernapas dengan lancar," ucap Naza. Eldar pun sedikit mengendurkan pelukannya.


Mata mereka saling menatap dengan wajah yang tanpa ada jarak, kening mereka sudah menempel dan hidung mereka saling bergesekan. Naza menghujani bibir Eldar dengan kecupan, lalu kecupan itu mulai berubah menjadi ciuman panas hingga mereka lupa kalau sedang ada di depan umum. Walaupun jika mereka sadar kalau banyak orang yang menonton aksi mereka, Naza dan Eldar tidak ambil pusing dan masa bodoh dengan orang lain karena yang terpenting adalah mereka segera melepas rindu itu.


Setelah lima menit berciuman di depan umum, Naza melepaskan ciumannya, "Kita lanjut di mobil saja, ya, Sayang," ajak Naza. Eldar tersenyum dan mengangguk.


Naza mengambil koper Eldar dan menariknya menuju ke mobil, dia merasa begitu senang saat Eldar bermanja-manja padanya seperti halnya sekarang. Setelah berciuman tadi, Eldar tidak mau turun dari gendongan Naza dan memilih untuk membenamkan wajahnya di leher Naza sambil mengecup dan menyesap leher Naza hingga meninggalkan beberapa bercak merah kecil di leher Naza.


Sesampainya di mobil, Naza memasukkan koper Eldar ke bagasi lalu beralih ke samping mobil dan membuka pintunya, Naza mendudukkan Eldar dan melepaskan pelukannya, dia lekas beranjak dan duduk di kursi kemudi. Sebelum menjalankan mobilnya, Naza mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka kamera pada ponselnya.


Setelah melihat pantulan dirinya di kamera, Naza sedikit terkejut saat mendapati ada bekas kiss mark Eldar di lehernya, dia menoleh menatap Eldar dengan tatapan serius. Eldar yang mendapatkan tatapan itu hanya bisa tersenyum seperti tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Kamu semakin nakal, dan liar, Sayang," ucap Naza sambil menarik hidung mancung Eldar.


"Karena ketampananmu membuatku lupa daratan," balas Eldar.


"Itu pasti, karena akulah laki-laki paling tampan di dunia, ini," ucap Naza sambil menata rambutnya.


"Cantik-cantik tapi agresif," balas Naza sembari menjalankan mobilnya.


"Agresif-agresif gini juga ditaksir sama cowok tampan, jadi jangan meremehkan pesona kecantikanku," balas Eldar.


Naza mengerutkan dahinya, "Siapa?" tanya Naza yang mulai merasa cemburu. Bukan cemburu karena ada laki-laki lain yang menyukai Eldar, melainkan cemburu saat Eldar bilang kalau cowok itu tampan.


Eldar mendekatkan bibirnya ke telinga Naza lalu berbisik, "Kamu."


Blushh


Pipi Naza nampak merah setelah mendengar bisikan cinta dari Eldar. Padahal Eldar hanya membisikkan kata 'kamu' di telinga Naza, tetapi itu sudah bisa membuat Naza senyum-senyum tidak jelas. Eldar kembali ke kursinya dan memasang sabuk pengamannya, dia bisa melihat wajah merah Naza dan bibir Naza yang selalu bergerak karena menahan senyumnya. Perjalanan untuk sampai ke rumah Candra masih sekitar 45 menit lagi, jadi Eldar memutuskan untuk tidur dulu.


"Sayang, aku capek, mau tidur sebentar, nanti kalau udah sampai bangunin aja nggak apa-apa," ucap Azila Eldar.


"Tidurlah," balas Naza.


"Jangan macem-macem kalau aku lagi tidur, awas aja kalau kamua curi kesempatan dalam kesempitan," ucap Eldar sambil menatap tajam mata Naza.


"Kita sudah pernah tidur bareng, Sayang. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku mengambil keuntungan saat kamu tidur," balas Naza dengan senyum licik.


"Baiklah, terserah kamu," balas Eldar sembari menyandarkan kepalanya di bahu Naza dan memeluk lengan kekar Naza.


"Sayang, kenapa malah menggodaku? Aku akan khilaf beneran nanti," ucap Naza.


"Aku tidak menggodamu, aku hanya percaya padamu," balas Eldar.


"Tidurlah yang benar, nanti badanmu sakit kalau posisi tidurmu seperti, ini," ucap Naza.


Eldar menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau, bahumu adalah tempat paling nyaman untuk tidur di mobil," bantah Eldar.


Naza membuang napas besar, dia tidak lagi membantah Eldar karena dia tidak mau menunda waktu tidur Eldar yang sedang kelelahan.


"Bahu yang nyaman," gumam Eldar sembari memejamkan matanya. Naza tersenyum dan mengecup pucuk kepala Eldar.


Ku ingatkan, kembangkan budaya like dan komen, itu bisa membuat author bahagia dan kalian dapat pahala.


Maaf telat up, akhir-akhir ini author kehilangan mood buat nulis.