
Untuk kalian semua yang sudah baca novelku sampai sejauh ini, aku pribadi mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan kalian semua. Jika ada kesalahan penulisan atau kata yang kurang tepat, kalian boleh komen di bawah.
Jangan sungkan untuk mengkritik saya, karena saya butuh kritik dan saran dari kalian untuk memberi hasil yang lebih baik.
Cukup basa-basinya, kita lanjut cerita !!!
Naza dan Eldar masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Mama Okta dan Papa Mark pulang ke rumah untuk memasak makan malam lalu dibawa ke rumah sakit.
Semua orang sudah diberitahu jika Naza sudah bangun dari komanya. Tentu saja semua orang pasti senang dan ingin segera melihat kondisi Naza yang sudah bangun, tapi Mama Okta dan Papa Mark melarangnya karena Naza masih tidur bersama Eldar.
Bukan maksud mereka untuk menutupi apa yang dilakukan Naza dan Eldar, tetapi mereka tidak tega jika harus membuat Eldar terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Menemani seseorang yang cuma bisa terbaring tidak sadarkan diri itu pasti sangat membosankan, tapi Eldar tetap terus menemani Naza sampai saat ini.
Naza dan Eldar benar-benar ditinggal berduaan di ruang ICU. Kevin dan Nabila juga sudah datang, tapi mereka memilih pindah ke ruangan Azila karena tidak ingin mengganggu sepasang kekasih yang baru bertemu setelah hampir seminggu berpisah di alam yang berbeda.
Pukul setengah enam sore Eldar terbangun dari tidurnya setelah tiga jam lebih dia tertidur. Eldar masih belum sadar sepenuhnya, tapi dia merasa ada yang aneh. Biasanya setiap dia bangun tidur, tubuhnya akan sakit-sakit karena tidur dengan posisi duduk, tapi sekarang dia merasa lebih segar dan tidak merasakan sakit sama sekali.
"Tidak biasanya tidurku seenak, ini," gumam Eldar.
Saat mata Eldar terbuka lebar, dia baru sadar kalau sekarang dia tidur di atas ranjang dan ada seorang laki-laki dengan baju rumah sakit yang terbaring di sebelahnya. Eldar menoleh mencoba melihat siapa laki-laki di sampingnya ini.
"Ternyata cuma mimpi," gumam Eldar saat mendapati laki-laki di sampingnya adalah Naza.
Eldar beringsut mendekati Naza, dia begitu rindu untuk memeluk tubuh kekar pacarnya itu. Perlahan Eldar memeluk tubuh Naza.
"Mungkin tidak akan ada masalah kalau aku memeluknya, toh, ini, kan cuma mimpi," ucap Eldar sambil memeluk Naza.
Kini Eldar terbaring memeluk Naza yang masih tidur, dia sedikit turun ke bawah agar dia bisa menyandarkan kepalanya di dada Naza.
Naza mulai risih dengan gerakan orang di sampingnya yang tidak bisa diam.
"Apa kamu tidak bisa diam? Aku sedang tidur," ucap Naza yang sudah membuka matanya dan menatap Eldar.
Eldar mendongak setelah mendengar suara dari seseorang, "Ka-kamu bisa bicara?" tanya Eldar yang kaget.
"Kamu pikir aku hewan?" tanya Naza sedikit sinis.
"Eng-enggak sih ... tapi, biasanya kalau di mimpi, itu, tidak bisa bicara," jawab Eldar yang makin bingung.
"Kita buktikan aja, ini, mimpi atau tidak," ucap Naza.
"Bagaimana caranya? Apa aku harus dicubit gitu?" tanya Eldar.
"Jangan, nanti kulitmu lecet," jawab Naza.
"Lalu?"
"Kamu cium aku, nanti kalau bibirmu basah berarti, ini, nyata, tapi kalau tidak basah, ya, berarti hanya mimpimu saja," jawab Naza.
"Emangnya bisa begitu?" tanya Eldar dengan wajah polosnya.
"Kita coba saja," jawab Naza.
Eldar mengangguk setuju dan Naza tersenyum dengan penuh kemenangan. Bagaimana tidak senang, setelah bangun tidur dia akan mendapatkan ciuman dari wanita yang begitu ia cintai dan rindukan.
Perlahan Eldar bangun lalu duduk di samping Naza, mata mereka saling tertuju dalam tatapan yang sudah lama tidak bertemu. Eldar mulai mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka mulai menipis.
Cupp
Semulanya Eldar masih menutup bibirnya, tapi perlahan dia mencoba untuk membiarkan Naza menikmati bibirnya. Toh, cuma mimpi, pikir Eldar.
Merasa sudah mendapatkan izin dari Eldar, Naza mulai menggila dengan terus mencium, menyesap, dan sesekali menggigit kecil bibir bawah Eldar, tapi gigitannya tidak sampai melukai karena dia tidak ingin menyakiti Eldar.
Ciuman itu semakin panas, yang awalnya Eldar menutup bibirnya lalu mulai membuka bibirnya dan membiarkan Naza menikmatinya, kini Eldar mulai ikut memanas. Sesuatu yang berhubungan dengan seksual memang beracun, cepat atau lambat mereka akan terbuai juga oleh nafsu.
Yang awalnya Eldar hanya duduk diam di samping Naza, kini dia sudah beralih duduk di atas perut Naza. Eldar juga tidak mau kalah dengan aksi bibir Naza, dia mulai melawan setiap permainan Naza.
Tangan Eldar mulai gatal ingin meraba-raba setiap inci dari tubuh kekasihnya itu. Nafsu yang makin memuncak mulai menguasai kesadaran mereka berdua hingga lupa dengan apa rencana awal atau maksud mereka berciuman.
Di ruangan ber-AC itu nafas dua sejoli mulai tersendat-sendat seperti orang habis maraton 1 Km. Tangan kanan Naza memegangi rambut Eldar agar tidak mengganggu ciuman mereka, sedangkan tangan Eldar sudah berhasil membuka empat kancing baju pasien yang dikenakan Naza.
Eldar meraba-raba dada Naza bahkan sesekali dia memainkan put¡ng Naza. Bibir Eldar pun mulai turun menjelajahi leher putih Naza lalu meninggalkan beberapa kiss mark di sana.
Cklekk
Di tengah aksi panas mereka tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang orang, sontak keduanya langsung kalang kabut dan Eldar segera turun dari atas Naza.
"Ma-maaf, saya hanya mau mengecek kondisi tuan Naza saja. Ta-tapi saya akan datang lagi nanti," ucap gugup orang itu, "Sekali lagi maaf sudah mengganggu," lanjutnya. Ternyata orang itu adalah Dokter yang bertanggung jawab atas Naza.
Dengan wajah memerah Eldar turun dari ranjang lalu memanggil lagi Dokter tadi, "Dok, tunggu!" panggil Eldar sedikit berteriak.
Dokter tadi kembali masuk ke dalam ruang ICU, "I-iya, nona. Ada apa?" tanya Dokter.
"Apa, ini, mimpi?" tanya Eldar dengan polosnya.
Dokter menatap bingung kenapa Eldar bertanya begitu, jelas-jelas ini adalah kenyataan. Sebelum dia menjawabnya, dia menatap Naza yang masih terbaring dengan baju yang hanya menyisakan satu kancing saja.
Naza mengangguk seperti mengisyaratkan kalau jawab saja dengan sejujurnya. Dokter pun mengerti lalu mulai menjelaskan apa saja yang sudah terjadi selama tiga jam yang lalu.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter, Eldar menatap Naza dengan wajah memerah karena sudah dibohongi Naza. Eldar mulai mendekat dengan kedua tangannya yang sudah mengepal.
Naza jadi takut melihat ekspresi Eldar, "Ka-kamu mau apa? Ja-jangan macam-macam, aku lagi sakit," ucap Naza semakin takut.
"Kau sudah membohongiku, Naza Lewis," jawab Eldar sambil menarik ke atas lengan bajunya, "Karena kau sudah berbohong, maka aku akan menghukummu," lanjutnya.
Ketika Eldar sudah berada tepat di sampingnya, Naza memejamkan matanya karena Eldar sudah mengangkat satu tangannya.
Cupp
Greebb
Eldar mengecup singkat bibir Naza lalu memeluknya, memang sekarang dia sangat marah ke Naza. Tapi, rasa amarahnya tidak bisa mengalahkan rasa bahagianya karena laki-laki yang ia cintai sudah kembali.
"Itu hukuman untukmu," bisik Eldar.
Naza membuka matanya lalu tersenyum, "Hati-hati, hidungku masih patah, tangan kiriku juga," balas Naza.
Jangan lupa like ya. Mau vote apa enggak terserah kalian.
Bagi yang belum masuk GC (grup chat) bisa langsung masuk aja ya.