
"Sayang, tunggu!" panggil Candra.
Azila terus saja berjalan tanpa menggubris Candra yang memanggilnya.
"Sayang!" Candra kelepasan memanggil Azila dengan berteriak, "Tung-"
Oeekk oeek oeek
Kean dan Lean terkejut lalu terbangun karena teriakan Candra. Azila yang sudah marah langsung berbalik dengan wajah merah dan tangan mengepal ke atas. Candra langsung membeku di depan pintu fitting room sambil menutup mulutnya.
"Matilah aku," batin Candra.
Rasanya dia ingin menangis kalau sudah di posisi seperti itu. Wajah Azila benar-benar membuatnya mati kutu dan tidak bisa bergerak seperti sedang melihat setan tepat di depan matanya.
"Hiiihhh!" Azila menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya.
Jika saja Kean dan Lean tidak makin keras menangisnya, Azila pasti sudah menjitak kepala Candra dan menganiaya suaminya sendiri, dia tidak peduli lagi dengan hukum tentang KDRT.
Azila langsung menghampiri kedua bayinya yang sudah seperti lomba menangis. Azila jadi kewalahan untuk menenangkan siapa dulu, bahkan dia jadi bingung harus menggendong siapa dulu.
"Cup cup cup, jangan nangis, anak pintar tidak boleh menangis," ucap Azila sambil menepuk-nepuk pelan paha Kean dan Lean.
"Apa kamu akan diam saja di situ?" teriak Azila sambil menatap tajam ke Candra.
Candra yang masih diam membeku langsung beranjak membantu Azila, dia segera menggendong Lean karena Kean sudah digendong Azila.
"Cup cup cup, anak Mama jangan nangis," ucap Azila sambil menimang-nimang Kean.
"Lean jangan nangis, maafin Papa, ya, Sayang. Tadi Papa nggak sengaja teriaknya," ucap Candra yang juga menimang-nimang Lean.
"Papa memang nakal, ya, Sayang. Nanti biar Mama pukul, biar Papa kapok," ucap Azila.
"Kan, nggak sengaja, Sayang. Lagian kamu juga pakai marah nggak jelas segala," sahut Candra.
"Kok kamu salahin aku? Kan, kamu yang mancing-mancing dulu, gimana sih, istrinya sendiri kok disalahin," balas sewot Azila.
"Tadi aku kan udah bilang kalau cuma bercanda aja, Yang," balas Candra.
"Salah sendiri bercanda nggak lihat-lihat waktu sama tempat," balas Azila, "Pakai teriak pula, jadi kebangun, kan, Kean sama Lean," lanjut Azila yang semakin marah.
Candra membawa Lean keluar dari kamar, jika dia terus berdebat dengan Azila bukannya Kean dan Lean cepat tidur, yang ada Kean dan Lean akan tambah menangis karena kedua orangtua mereka terus berdebat.
Azila memutar bola matanya dan mencoba meredam emosinya, jika dia terus emosi nanti dia bakal mempengaruhi bayinya. Kean tidak kunjung mereda juga menangisnya, Azila jadi bingung harus gimana lagi untuk menenangkan Kean.
"Sayang, jangan nangis terus dong, Mama jadi pusing nih, diam ya, Sayang," ucap Azila sambil terus menimang-nimang Kean.
Karena Kean tidak kunjung diam juga, Azila merebahkan Kean di ranjangnya lalu dia membuka dressnya dan membuka salah satu sisi bra menyusuinya.
"Ayo, sini, minum cucunya Mama," ucap Azila sambil kembali menggendong Kean.
Akhirnya Kean lebih tenang setelah menyusu ke Azila, walaupun Azila cuma memakai celana dalam dan bra saja dia tidak peduli dengan dinginnya AC, yang penting buah hatinya bisa tenang dan tidur dengan nyaman kembali.
Beberapa menit kemudian setelah menyusu dan terus ditimang-timang oleh Azila, akhirnya Kean sudah kembali tidur juga. Di sela Azila menimang Kean, dia kepikiran dengan Lean yang dibawa keluar kamar oleh Candra.
Azila memandangi wajah Kean yang tertidur sambil masih menyusu ke mamanya, "Semoga adikmu tidak membuat Papa pusing, ya, Sayang. Kasihan Papa, sudah Mama marahin, masa masih mau ditambah adikmu yang rewelnya tidak kalah denganmu," ucap Azila.
Di luar kamar Candra membawa Lean melihat aquarium yang cukup besar dengan banyak jenis ikan di dalamnya. Ternyata Lean tidak serewel Kean yang menangis terus, setelah melihat ikan Lean berhenti menangis dan tersenyum.
"Anak Papa memang pinter, ya. Tidak cengeng," ucap Candra.
Candra terus menimang Lean di depan aquarium, dia juga menyanyikan lagu nina bobo untuk Lean. Tidak butuh waktu lama Lean tertidur juga, mengingat setelah dari sore tadi bermain dengan banyak orang, dia pasti lelah juga. Melihat Lean sudah tertidur, Candra membawanya kembali ke kamar untuk dibaringkan ke ranjang bayi.
Kean sudah melepas mulut mungilnya dari dada Azila pertanda kalau dia sudah terlelap. Tepat ketika Azila ingin pergi membaringkan Kean ke ranjang bayi, Candra membuka pintu dan masuk dengan Lean yang juga sudah tertidur di gendongannya.
Melihat itu Azila ingin tersenyum, tapi dia menahannya karena gengsi ke Candra. Jika Candra tidak meminta maaf kepadanya terlebih dahulu, dia tidak akan mau berbicara apapun dan tidak mau menampilkan ekspresi apapun kecuali marah.
Candra menghembuskan napas beratnya melihat Azila yang masih saja marah padanya, dia berjalan ke ranjang bayi melewati Azila begitu saja. Candra tidak mau berdebat lagi dengan Azila, nanti yang ada malah membangunkan Kean dan Lean lagi.
Azila mengikuti Candra yang membaringkan Lean, lalu dia juga membaringkan Kean setelah Candra menepi. Melihat Azila yang hanya memakai celana dalam saja dan bra yang terbuka sebelah membuat Candra bergerak untuk memeluk Azila dari belakang.
Azila diam tidak bersuara ketika Candra memeluknya dari belakang. Selain merasa tubuhnya lebih hangat setelah dipeluk, dia juga berada di samping ranjang bayi, jadi dia tidak bisa bersuara karena takut kedua bayinya terbangun.
Setelah Azila membaringkan Kean ke ranjang bayi, Candra berjalan mundur lalu berjalan maju ke fitting room sambil terus memeluk Azila dari belakang. Tidak ada perbincangan selama perjalanan ke fitting room, mereka saling diam dan Candra menopangkan wajahnya ke pundak Azila.
Sesampainya mereka di fitting room, Candra menutup pintunya lalu kembali memeluk Azila dari belakang, bahkan sekarang dia lebih erat memeluk istri tercintanya itu.
"Kamu ngapain? Aku nggak pakai baju, ini, lho," ucap Azila dengan nada marah, "Nanti kalau aku masuk angin gimana? Kamu mau tanggung jawab?" tanya Azila yang terus ngegas.
"Kalau bicara sama suami nggak boleh ngegas gitu, Yang," ucap Candra, "Aku suamimu, lho," lanjut Candra.
"Ya, kamu sih bikin aku emosi mulu, gimana nggak marah coba," jawab Azila yang jadi sewot lagi, "Awas ah!" ucap Azila sambil mencoba melepaskan tangan Candra yang memeluknya.
Candra menarik ke atas dan membenarkan bra Azila yang terbuka karena habis menyusui Kean tadi. Azila sempat kaget ketika Candra menarik branya, dia kira Candra makin marah lalu ingin melakukan hubungan intim dengan kasar, eh taunya cuma mau membenarkan branya yang tadi belum sempat dia benarkan.
"Bilang apa kalau udah dibantu?" tanya Candra yang sebenarnya menyindir.
"Siapa juga yang minta dibantu," jawab sinis Azila yang tidak ngegas lagi.
"Bilang apa ayo?" ucap Candra lagi sambil menggigit pundak Azila.
"Auh! Sakit, Yang," keluh Azila.
"Makanya yang bener jawabnya," ucap Candra, "Kalau udah dibantu harus bilang apa?" tanya Candra sekali lagi. Azila malah diam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ku gigit lagi, nih, kalau nggak jawab," ancam Candra sembari menempelkan bibirnya ke pundak Azila.
"Iya-iya, makasih," balas Azila dengan cepat sebelum digigit lagi oleh Candra.
"Gitukan enak dengernya," ucap Candra.
Muach
Candra mencium pundak Azila yang tadi dia gigit.
Jangan lupa like sama komen ya guys. Beri author semangat untuk up.