
18 jam sudah Candra berada di atas awan, dan kini Candra telah sampai di bandara internasional Los Angeles LAX pada pukul 05:00 di zona waktu Los Angeles, California, Amerika Serikat dan di waktu Indonesia saat itu sudah jam 20:00 waktu Indonesia.
"Tuan Candra, kita sudah sampai," ucap Pak Nyu, dan Candra hanya menjawab dengan senyum datar dan kembali ke wajah dinginnya.
Para pengawal yang tadi ikut naik pesawat, kini sudah berjajar di sepanjang jalan keluar dari pesawat sampai ke sebuah mobil yang pintunya sudah terbuka. Candra berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan.
"Kemana tujuan kita, Tuan?" Tanya Pak supir yang memakai setelan jas seperti para pengawal.
"Ke rumah Eldar Safira," jawab singkat Candra.
"Baik, Tuan," balas Pak supir, lalu Pak supir segera menancap gas dan membelah jalanan kota Los Angeles menuju ke rumah keluarga Safira. Pak Nyu dan para pengawal juga memasuki mobil mereka masing-masing dan mengikuti mobil Candra.
Candra yang melihat rombongan mobil di belakangnya menjadi agak risih, lalu dia mengambil ponselnya yang sudah dia minta dari Pak Nyu setelah turun dari pesawat. Jemari Candra memainkan ponsel di tangannya dengan sangat lincah, terlihat dia sedang menelpon seseorang.
"Halo, Tuan Candra, apa anda membutuhkan sesuatu atau ada masalah?" Tanya seorang pria yang ada di dalam sambungan telpon.
"Jangan ikuti mobilku, kamu pergi cari hotel untuk tempatmu tidur dan suruh para pengawal untuk mengawasi dari jarak jauh!" Perintah Candra pada seorang pria yang ada di dalam sambungan telpon.
"Baik, Tuan," jawab ramah pria dalam telpon yang ternyata adalah Pak Nyu.
Mobil Pak Nyu dan para pengawal mulai menjaga jarak dan menjauh dari mobil Candra, tetapi masih dalam jarak pengawasan mereka.
≈≈≈
Eldar Safira adalah kerabat jauh dari Candra, tetapi mereka berdua sudah berteman dengan sangat dekat dan sudah seperti kakak adik. Dulu kakek buyut mereka adalah saudara, dan kakek buyutnya Candra mendirikan grup Wibawa sedangkan kakek buyutnya Eldar mendirikan grup Safira.
Candra dan Eldar sudah hampir 6 tahun tidak pernah ketemu lagi, dan hari ini adalah hari pertemuan mereka setelah 6 tahun tidak bertemu. Sebenarnya Candra masih belum memberitahu Eldar kalau dia akan datang, alasannya karena ini mendadak dan ponselnya Candra dia berikan ke Pak Nyu.
Setelah satu jam setengah waktu yang di gunakan mobil Candra untuk membelah jalanan Los Angeles, kini mobil Candra telah sampai di depan gerbang sebuah rumah yang sangat besar yang hampir mirip seperti sebuah istana, besarnya hampir 3 kali lipat dari rumah Candra.
Tiit tiit.. tiit tiit.. Pak supir membunyikan klaksonnya, Pak supir telah membunyikan klakson beberapa kali dan keluarlah seorang satpam yang setengah berlari menghampiri mobil Candra.
"Selamat pagi, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak satpam ke supir Candra.
Lalu Pak supir menoleh ke Candra, dan Candra mengerti dengan maksud tolehan supirnya, "Saya mau bertemu dengan Eldar Safira," ucap Candra dari kursi belakang, lalu Pak satpam menghampiri Candra yang berada di kursi belakang dan Candra membuka kaca mobilnya.
"Apa anda sudah punya janji dengan Nona Eldar sebelumnya, Tuan?" Tanya Pak satpam dengan ramahnya ke Candra.
"Saya Candra Wibawa, apa saya masih perlu membuat janji terlebih dahulu untuk menemui Eldar Safira?" Balas tanya balik Candra yang membuat Pak satpam gelagapan katdia tau siapa Candra Wibawa itu.
"Maaf, Tan Candra. Saya tidak mengenali wajah, Tuan," ucap Pak satpam sambil membungkukkan setengah badannya.
"Tidak apa apa, Pak," jawab singkat Candra lalu menutup kembali kaca mobilnya. Pak satpam langsung berjalan menuju gerbang dan membuka lebar-lebar gerbang rumah yang nampak seperti istana. Mobil Candra masuk dan berhenti di depan teras rumah besar itu.
≈≈≈
Di kamar Azila dan Candra.
"Candra, kamu kemana sih," gumam Azila yang sudah mulai kuatir.
"Telpon kali aja ya, sapa tau udah bisa di telpon," ucap Azila sambil meraih ponsel di sampingnya dan mulai mencari kontak Candra, saat jemari Azila ingin memencet tombol telpon, tiba-tiba Azila merasa mual dan langsung berlari ke wastafel kamar mandi.
Huok.. huok.. huok.. Azila memuntahkan makanan yang telah tadi ia telan saat makan malam bersama Bunda Putri dan Ayah Yoga.
"Kenapa aku tiba-tiba nggak enak badan ya, apa aku salah makan atau masuk angin karena AC terlalu dingin ya?" Tanya Azila pada dirinya sendiri. Setelah merasa agak baikan, Azila keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya dan mengurungkan niatnya untuk menelpon Candra, lalu Azila tertidur dengan lelap sampai pagi menjelang.
≈≈≈
Di meja makan
"Bun, Candra sama Azila mana? Kok belum turun?" Tanya Ayah Yoga.
"Bunda juga belum tau, Yah. Biar Bunda panggil mereka ya," jawab Bunda Putri sambil berdiri dan berjalan menuju kamar Azila dan Candra.
Tok tok tok, suara ketukan pintu di kamar Azila dan Candra, "Iya ada apa?" tanl Azila dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ayo turun dan sarapan, Nak," teriak Bunda Putri dari luar pintu kamar.
"Iya, Bun. Bntar lagi nyusul," jawab Azila yang sedang mengusap-usap matanya yang masih sayu, lalu Bunda Putri turun kembali ke meja makan.
Azila turun dari kasur dan menuju ke kamar mandi, 10 menit Azila di kamar mandi dan keluar dengan keadaan yang sudah segar. Azila keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama, dia mengira kalau Candra sudah pulang dan sudah di meja makan.
≈≈≈
Saat sampai di meja makan, Azila menjadi agak cemberut karena tidak menemukan Candra di sana.
"Bunda, Candra udah berangkat ya?" Tanya Azila ke Bunda Putri.
"Bukannya dia masih tidur denganmu tadi?" Jawab Bunda Putri yang belum tahu kalau Candra masih belum pulang sama sekali sejak kemarin sore.
Azila menggelengkan kepalanya dan bekata, "Sejak kemarin sore, aku dan Candra ada sedikit salah paham, Bun. Dan sekarang aku juga tidak tahu Candra sedang ada dimana,"
"Ohh, ya udah kamu jangan terlalu memikirkan itu dulu, mungkin dia sekarang sedang menginap di rumah Kevin atau di hotel atau dia sedang ada pekerjaan yang nggak bisa di tunda, sekarang ayo kita sarapan dulu!" Ajak Bunda Putri.
Azila dan yang lain menjawab ajakan Bunda Putri dengan menganggukkan kepala mereka dan langsung mulai menyantap makanan yang ada di meja.
Saat Azila memasukkan suapan pertama ke mulutnya, tiba-tiba Azila mual dan langsung berlari ke arah wastafel yang ada di dapur. Ketiga orang yang sedang duduk di meja makan merasa bingung dengan Azila, lalu Bunda Putri menyusul Azila yang sedang memuntahkan angin dan sedikit cairan dari mulutnya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙