My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
PMS



Sudah satu bulan sejak kelahiran Keandre dan Leandre, sekarang dua malaikat kecil itu sudah berada di istana kerajaan keluarga Wibawa.


Memiliki bayi kembar memang lebih repot, apalagi tanpa ada bantuan baby sitter. Alasan Azila tidak mau menyewa jasa baby sitter karena dia takut jika kedua anaknya akan lebih dekat dengan orang lain dan bukan padanya.


Awalnya Candra dan yang lainnya menyarankan untuk menggunakan jasa baby sitter, tapi Azila tetap bersikukuh tidak mau. Alhasil Candra dan yang lain cuma bisa menuruti ibu dua anak itu.


Karena tidak ada baby sitter, Azila meminta bantuan Bunda Putri dan Mamah Mitha untuk membantunya merawat si kembar saat dirinya sedang mandi ataupun makan, bahkan Mamah Mitha setiap pagi setelah selesai sarapan bersama Papah Hendri dan Abyasa, dia langsung berangkat ke rumah keluarga Wibawa lalu pulang setelah makan malam.


Semua lelah yang mereka rasakan saat mengurus si kembar akan langsung hilang ketika kedua bayi lucu itu tersenyum.


Wajah Keandre dan Leandre sangat mirip sekali seperti manusia yang dicopy paste, bahkan Candra, Bunda Putri, dan Mamah Mitha yang sering mengajak mereka bermain pun masih bingung membedakan mana Keandre dan mana Leandre.


Tapi kesamaan itu tak berlaku untuk Azila, dia sangat mengenali Mana Keandre dan mana Leandre. Orang awam pasti akan kebingungan untuk membedakan mereka karena hampir semuanya sama, bahkan tanda lahir mereka pun sama, sama-sama berada di bahu kanan.


Setelah memiliki dua orang putra, Candra mengurangi jam kerjanya di kantor hanya untuk bisa lebih cepat pulang. Biasanya Candra pulang kantor jam enam sore, kini setiap jam tiga sore dia sudah sampai rumah.


Jadwal siapa pengasuh bayi pun sudah dibuat, setiap pagi setelah Keandre dan Leandre selesai minum ASI, Bunda Putri dan Ayah Yoga yang menemani mereka jalan-jalan pagi. Beranjak siang Mamah Mitha menemani Keduanya sampai tertidur.


Baru setelah Keandre dan Leandre mandi sore, Azila dan Candra yang menjadi pengasuh kedua bayi kecil itu sampai malam. Kadang-kadang Kevin, Nabila, dan Abyasa juga ikut membantu mengasuh Keandre dan Leandre.


Sepertinya halnya sore ini, setelah mandi Keandre dan Leandre diajak ke taman depan rumah. Di taman depan rumah mereka tidak akan kepanasan karena ada gazebo dari kayu pahatan yang cukup besar, bahkan bisa menampung sampai 15 orang dewasa.


Sore itu bertepatan dengan diperbolehkannya Naza untuk beraktivitas normal, jika sebelumnya dia masih memakai perban di hidung, kini sudah boleh dilepas. Namun, perban di tangannya masih belum boleh dilepas, masih harus menunggu satu Minggu lagi untuk melepaskannya.


"Hmm, akhirnya bisa keluar juga," ucap Naza.


Sekarang Naza sedang di dalam mobil bersama Eldar menuju rumah keluarga Wibawa. Sejak pulang dari rumah sakit Eldar tidur di rumah keluarga Lewis bersama Naza dan Cindy, sedangkan Mama Okta dan Papa Mark sudah kembali ke Amerika tiga hari yang lalu dan Kevin lebih sering tidur di rumah keluarga Yudistira.


"Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat keponakan-keponakanku yang lucu," ucap Epdar gemas sambil membayangkan wajah Keandre dan Leandre.


Terakhir Eldar bisa melihat langsung Keandre dan Leandre ketika mereka masih di rumah sakit, dan itupun sudah lebih dari tiga Minggu yang lalu, selebihnya dia cuma melihat dari foto ataupun ketika sedang video call dengan Azila.


"Apa kamu tidak ingin cepat-cepat punya bayi lucu seperti mereka?" tanya Naza.


"Jangan menggodaku, Naza. Sembuhkan dulu tanganmu," ucap Eldar.


"Kamu tenang saja, aku masih bisa memuaskanmu walau hanya dengan satu tangan," goda Naza.


"Jangan mengkhayal, Naza," balas Eldar.


"Maka dari, itu, ayo kita praktek," ucap Naza sambil mencondongkan wajahnya ke wajah Eldar.


"Ada supir kamu di depan," bisik Eldar.


Naza melirik spion dalam mobil, matanya melotot ketika mendapati mata supirnya sedang mengintip aksi mereka.


"Nyetir yang bener! Kamu sedang membawa bidadari di sini!" bentak Naza.


"I-iya, tuan," jawab gugup supir Naza yang usianya sudah lebih dari 45 tahun lalu segera menutup spion yang ia gunakan untuk mengintip.


Setelah masalah dengan supir selesai, Naza kembali menatap lurus Eldar. Naza semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Eldar.


"Sekarang, ayo kita lakukan," bisik Naza.


"Naza! Sebaiknya kamu kembali ke tempatmu lalu duduk yang benar!" ucap Naza dengan suara yang berat dan menekan.


Naza semakin mendekat, kini wajahnya tidak lagi menghampiri wajah Eldar, tapi sudah ingin bersarang di leher Eldar. Naza memberi tiupan-tiupan angin untuk memancing Eldar.


"Kamu memang keras kepala, ya!" ucap Eldar dengan suara meninggi, lalu dia menyambar rahang bawah Naza dan mendekatkan wajah Naz ke wajahnya.


"Jangan menggodaku atau macam-macam padaku, aku tidak segan-segan untuk kembali mematahkan hidungmu, itu!" ucap Eldar dengan penuh penekanan.


Eldar melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk dengan nyaman. Pak supir yang mendengar pembicaraan dua anak muda di belakangnya hanya bisa menggeleng kepala. Bagaimana bisa seorang Naza Lewis yang tidak pernah kalah dari wanita bisa tunduk di bawah Eldar.


Naza terdiam di tempat duduknya, dia menerka-nerka dengan sedikit rasa takut terhadap Eldar.


"Sejak kapan dia bisa segalak itu?" batin Naza sambil sesekali melirik Eldar.


Eldar meraih tangan Naza lalu menempelkannya ke pipinya, "Maaf," ucap Eldar, "Aku lagi PMS," lanjutnya.


Naza menghembuskan napas lega, dia kira Eldar benar-benar sudah berubah menjadi galak. Kalau benar-benar berubah jadi galak pasti dia akan menjadi suami takut istri nantinya, dan dia akan sangat malu jika Eldar lebih galak darinya.


"Nggak ada hadiah permintaan maaf nih?" ucap Naza yang memiliki isyarat tertentu.


"Hm?" gumam Eldar tidak mengerti.


Naza tersenyum lalu menggembungkan pipi kanannya dengan lidah sambil menatap sipit Eldar. Eldar tersenyum mengerti apa yang dimaksud Naza, dia melepaskan tangan Naza lalu mulai mendekat.


"Kalau mau cium, harus ada imbalannya," bisik Eldar.


Senyum Naza mengembang, "Kalau mau ada imbalannya, harus cium bibir," balas Naza.


"Setuju," balas Eldar tanpa pikir panjang.


"Lalu, imbalan apa yang kamu mau?" tanya Naza.


"Aku mau kamu traktir bakso di pinggir jalan," jawab Eldar.


Naza melongo tidak percaya, sejak kapan pacarnya yang hidup serba mewah mau makan bakso pinggir jalan.


"Kamu bercanda, ya?" tanya Naza. Eldar menggeleng.


"Serius mau makan di pinggir jalan?" tanya Naza lagi untuk memastikan kalau Eldar benar-benar mau makan di pinggir jalan.


"Kenapa banyak tanya, sih! Tinggal bilang mau apa enggak susah amat! Kalau nggak mau ya udah, aku bisa pergi sendiri nanti!" jawab Eldar yang sebal sambil memanyunkan bibirnya.


"I-iya-iya, kita beli bakso pinggir jalan," balas Naza mengalah.


"Nggak jadi, nggak mau," balas ketus Eldar.


"Ya udah, kita langsung ke rumah Om Yoga aja," balas Naza.


"Oh, jadi segitu aja perjuangannya buat bujukin aku, ya sudah," balas Eldar yang semakin ketus.


"Katanya nggak jadi, nggak mau beli bakso," ucap Naza yang jadi bingung.


Hening sejenak karena Eldar diam tidak menjawab.


"Jadi, mau beli bakso dulu atau langsung ke rumah Om Yoga?" tanya Naza memastikan.


"Terserah!" jawab ketus Eldar.


"Ya udah kita beli bakso dulu," ucap Naza.


"Nggak mau, udah nggak nafsu," balas Eldar.


"Ya udah, kalau gitu langsung aja ke rumah Om Yoga," ucap Naza.


"Oh, udah nyerah lagi? Ya udah deh," ucap Eldar seperti orang menyindir.


"Katanya nggak mau beli bakso, gimana sih," balas Naza bingung, "Jadi gimana? Beli bakso dulu atau langsung ke rumah Om Yoga?" tanya Naza lagi.


"Terserah!" jawab ketus Eldar.


"Ahhh! bodo amat!" balas Naza yang ikut emosi sendiri.


"Dasar cewek PMS!" gerutu Naza dalam hati.


Jangan lupa like. Vote apa enggak terserah kalian.


Yang belum masuk GC, silahkan masuk.