My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Merepotkan



Sepanjang perjalanan Naza dan Eldar tidak saling bicara dan saling acuh satu sama lainnya. Setelah turun dari mobil pun Eldar berjalan duluan meninggalkan Naza di dalam mobil.


"Hm, wanita memang merepotkan," gumam Naza sambil menyenderkan kepalanya ke kursi.


Pak supir masih berdiri membuka pintu untuk tuannya, tapi sudah tiga menit lebih Naza hanya diam menyandarkan kepalanya ke kursi. Pak supir tahu kalau tuannya sedang gundah gulana akibat pertengkaran tadi.


"Tuan, apa anda tidak turun? Semua orang sedang melihat ke sini, tuan," ucap pak supir ketika melihat pandangan semua orang di gazebo tertuju pada Naza.


"Kita jalan saja, Pak. Saya mau ke suatu tempat," ucap Naza tanpa melihat pak supir atau orang-orang yang melihatnya dari gazebo.


"Tapi, tuan. Non El-" belum sempat pak supir menyelesaikan ucapannya, Naza tiba-tiba memotongnya.


"Sepertinya aku mau ganti supir cerewetku dengan supir yang tidak banyak bicara," ucap ketus Naza.


"I-iya, tuan. Kita jalan sekarang, tapi jangan ganti saya, ya, tuan. Saya sudah nyam-" lagi-lagi ucapan pak supir dipotong Naza.


"Oke, saya akan ganti supir," ucap Naza sembari mengambil ponsel di sampingnya.


"Oke-oke, kita jalan," ucap pak supir sembari menutup pintu Naza lalu bergegas masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya.


"Kita ke mana, tuan?" tanya pak supir setelah mobilnya keluar dari halaman rumah keluarga Wibawa.


"Jalan saja," jawab Naza ketus.


≈≈≈≈


Di gazebo terlihat Eldar yang semakin murung, "Kenapa dia tidak turun? Kenapa malah pergi?" tanya Eldar dalam hati.


"Naza mau ke mana, El?" tanya Bunda Putri. Eldar menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.


"Enggak bilang sama kamu?" tanya Bunda Putri.


"Enggak, Tan. Mungkin ada yang ketinggalan kali di rumah," kilah Eldar. Bunda Putri mengangguk mengerti.


"Ikut Tante bikin minum yuk," ajak Bunda Putri. Eldar mengangguk setuju.


"Semuanya, tunggu di sini, ya, kita ambilin camilan dulu," ucap Bunda Putri sembari beranjak berdiri lalu disusul oleh Eldar.


"Aku bantu, ya, Tan," sahut Nabila sembari beranjak berdiri, namun ditahan oleh Kevin.


"Kamu sedang hamil, biar aku saja yang bantu Tante," ucap Eldar.


"Iya, Eldar benar, lebih baik kamu duduk santai di sini saja dengan yang lainnya," ucap Bunda Putri.


"Baiklah jika kalian tidak mau dibantu," balas Nabila sembari duduk kembali.


Eldar dan Bunda Putri beranjak masuk ke dalam rumah untuk membawa minuman dan beberapa camilan yang sudah disiapkan oleh para pelayan.


Di tengah perjalanan ke dapur, Bunda Putri menghentikan langkahnya lalu memegang pundak Eldar, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada keponakannya ini, tapi sejak Naza pergi Eldar mulai berwajah murung.


Eldar berhenti lalu menoleh, "Ada apa, Tan?" tanya Eldar.


"Tidak, Tante ingin memastikan kalau keponakan Tante yang cantik, ini, baik-baik saja," jawab Bunda Putri.


Sejenak Eldar terdiam, dia juga tidak mengerti kenapa hatinya terasa sakit ketika melihat Naza pergi tanpa bilang apa-apa kepadanya.


"Eldar baik-baik saja kok, Tan," ucap Eldar mencoba bersikap setenang mungkin.


"Benarkah?" tanya Bunda Putri dan Eldar mengangguk.


"Bukannya Tante mau ikut campur masalah kalian, tapi Tante hanya geram saja saat melihat sepasang kekasih yang perang dingin, apalagi kalau pertengkaran mereka hanya karena hal-hal sepele," ucap Bunda Putri.


"Kamu tau kenapa banyak anak muda atau pasangan yang gagal dalam menjalin hubungan mereka?" tanya Bunda Putri.


"Em?" gumam Eldar sambil menoleh, "Memangnya kenapa, Tan?" lanjut Eldar bertanya.


"Mereka terlalu egois satu sama lain, dan tidak mau saling mengerti," jawab Bunda Putri, "Sifat egois mereka akan menimbulkan emosi ketika ada masalah, entah, itu, masalah serius ataupun masalah sepele. Perlahan cinta mereka akan terkikis, dan hubungan yang awalnya mereka bangun dengan penuh kasih sayang, dan cinta pada akhirnya akan berakhir," lanjut Bunda Putri.


Eldar kembali merenung, dia teringat kembali dengan kejadian di mobil tadi, "Seharusnya aku tidak bersikap seperti tadi ke dia," ucap Eldar dalam hati, "Tapi, dia juga salah, udah tau kalau aku lagi pms, kenapa malah banyak tanya sih, bukannya diem sama nurut aja gitu," gerutu Eldar dalam hati.


"Hei!" panggil Bunda Putri sambil menepuk pundak Eldar.


"I-iya, Tan. Ada apa? Tadi nggak denger Tante ngomong apaan," ucap Eldar yang terkejut.


"Kamu kenapa sih, El? Perasaan dari tadi ngelamun terus," tanya Bunda Putri.


"Si-siapa yang ngelamun, Tan? Dari tadi Eldar biasa-biasa aja tuh, nggak ngelamun nggak apa," kilah Eldar.


Bunda Putri tersenyum sambil menggeleng kepalanya, "Dari mana kamu tahu kalau kamu tidak melamun?" tanya Bunda Putri.


"Ini, Eldar baik-baik aja tuh, nggak ngelamun nggak apa sejak tadi," jawab Eldar dengan sangat percaya diri.


"Lalu, sejak kapan orang yang tidak melamun bisa lupa di mana letak dapur?" ucap Bunda Putri.


"Maksudnya?" tanya bingung Eldar.


"Tuh lihat, dapur ada di sana, dan kita melewatinya," jawab Bunda Putri sambil menunjuk dapur yang ada di belakangnya.


Eldar melongo tidak percaya, "Ha? Kenapa dapurnya ada di sana?"


Tuukk


"Auuhh, sakit," rintih Eldar.


Bunda Putri menyentil kening Eldar karena gemas, "Bukan dapurnya yang kenapa ada di sana, tapi kamu yang jalan melewatinya," ucap Bunda Putri.


"I-iya kah? Kenapa aku kok nggak tahu, ya," ucap Eldar.


"Ya, karena kamu ngelamun terus, jadinya lupa mau kemana," sahut Bunda Putri.


"He he, maaf, Tan," balas Eldar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu ada masalah sama Naza, ya?" tebak Bunda Putri.


Eldar kembali diam, dia tidak tahu harus jujur atau berbohong di saat seperti ini. Setelah beberapa saat berpikir, Eldar memutuskan untuk jujur saja, siapa tahu Bunda Putri bisa membantu masalahnya.


"Tadi sewaktu di perjalanan aku sama Naza bertengkar karena Naza tidak mau membelikan ku bakso pinggir jalan, alhasil kita saling diam, dan aku tidak tau tadi Naza mau ke mana," ucap Eldar menjelaskan.


"Sudahlah, jika sudah terlanjur, ya, sudah, mau bagaimana lagi?" ucap Bunda Putri, "lebih baik nanti kalau Naza udah balik ke sini, kamu coba ajak dia bicara," lanjut Bunda Putri.


Eldar mengangguk mendengar saran dari Bunda Putri tadi, "Kalau begitu kita balik ke dapur lalu bawa minum dan camilannya ke gazebo," ucap Bunda Putri. Eldar tersenyum dan mengangguk, lalu dia menyusul Bunda Putri yang sudah berjalan duluan ke dapur.


"Ternyata urusan cinta memang merepotkan, ya," ucap Eldar dalam hatinya.


Eldar bersama Bunda Putri dan dua pelayan berjalan keluar menuju gazebo untuk menaruh minuman dan camilan yang sudah disiapkan.


Jangan lupa like ya gaes. Vote nggak vote terserah kalian.


Dan yang belum masuk ke GC ku, kalian dipersilahkan untuk masuk.