My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bakso



Senyum senang tergambar di bibir Naza sambil memandangi bakso di tangannya, dia sudah membayangkan bagaimana raut wajah senang wanitanya saat nanti dia memberikan makanan yang yang membuat mereka perang dingin karena tidak dituruti.


"Sepertinya majikanku kena gegar otak juga saat kecelakaan," ucap pal supir dalam hatinya.


Tidak salah pak supir berpikir kalau Naza kena gegar otak karena pak supir merasa Naza yang sekarang berbeda dengan Naza yang dulu. Jika dulu Naza terkesan diam tidak banyak bicara, sekarang dia lebih cerewet dan gampang marah.


"Tapi tak apalah, lebih baik tuan Naza seperti sekarang aja daripada yang dulu, setiap mengantar tuan Naza mobil, ini, seperti kuburan," ucap pak supir dalam hati, "Sunyi," lanjutnya.


Di sela senyum Naza tiba-tiba terbersit satu pikiran yang entah datang darimana, dia kembali memandangi kantong kresek bening yang berisikan bakso untuk Eldar.


"Hm?" Naza berpikir sambil menempelkan jempol dan telunjuknya yang membentuk ceklist ke dagunya.


"Sepertinya ada yang kurang," gumam Naza, "Tapi, apa, ya?" Lanjutnya.


Naza tidak pernah memberi hadiah ataupun kejutan untuk wanita-wanita lain, dia hanya pernah memberi hadiah untuk Mama dan adik perempuannya saja, itupun dia hanya memberikan uang ke mereka dan menyuruh mereka untuk membeli sendiri barang yang mereka mau.


Memang seperti itulah sifat laki-laki kalau hatinya belum pernah terjamah oleh perempuan. Cuek terhadap segala hal yang menurutnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan.


"Masa aku cuma bawa bakso doang?" gumam Naza.


Naza meletakkan kantong kresek berisi bakso tadi ke kursi sebelahnya, lalu dia mengambil ponselnya untuk menanyakan sesuatu ke kakeknya umat manusia zaman sekarang. Setelah mendapatkan jawaban dari pikirannya tadi, Naza meminta pak supir untuk pergi ke suatu tempat.


"Semoga kamu suka, Sayang," gumam Naza sambil tersenyum memandangi foto Eldar.


≈≈≈≈


Jam lima sore Naza sudah kembali ke rumah keluarga Wibawa, di sana dia melihat semua orang masih berkumpul di gazebo. Naza melihat Eldar tersenyum ketika mobilnya memasuki halaman depan.


"Pak, jemput tuan putri Eldar ke sini!" perintah Naza.


"Baik, Tuan," jawab pak supir, lalu dia turun melaksanakan perintah tuannya untuk memanggil calon nyonya muda di keluarga tempatnya bekerja.


"Selamat sore semuanya," sapa pak supir dengan sopan ke semua orang di gazebo. Semua orang pun tersenyum ke pak supir.


"Ada apa, Pak?" tanya Kevin.


"Maaf sudah mengganggu waktunya, tapi saya diperintahkan oleh tuan Naza untuk menjemput nona Eldar," jawab pak supir.


"Aku?" tanya Eldar yang bingung, kenapa juga harus dijemput.


"Iya, Nona," jawab pak supir.


"Lalu, Kak Naza di mana, Pak?" tanya Kevin.


"Em, itu ...." Pak supir bingung mau menjawab apa karena Naza menyuruhnya untuk tidak memberitahu kalau Naza ada di mobil.


"Yang jelas sudah ada di rumah lah, gimana sih kamu, ini," sahut Nabila dengan suara agak tinggi sambil mencubit pipi Kevin.


"Aduh, sakit, Yang," keluh Kevin sambil memegang pipinya.


"Kamu aneh sih, kalau Kak Naza di sini ngapain dia nyuruh orang lain untuk jemput pacarnya?" balas geram Nabila.


"Iya-iya, namanya juga tanya," balas melas Kevin.


"Selamat," ucap lega pak supir dalam hati.


"Semuanya, aku pergi dulu, ya," ucap Eldar berpamitan.


"Baik, Nyonya Naza," ucap Candra lalu disambut tawa semua orang.


Eldar jadi tersipu malu saat dipanggil nyonya Naza, dia rasa panggilan itu terlalu cepat untuk disandangnya.


"Ayo, Pak," ucap Eldar.


"Mari, Nona," balas pak supir sembari mempersilahkan Eldar untuk berjalan lebih dulu.


Di tengah perjalanan Eldar bertanya ke pak supir, "Apa tadi dia masih marah, Pak?"


"Dia? Dia siapa non maksudnya?" tanya bingung pak supir.


"Ooh, tuan Naza toh," ucap pak supir yang baru paham, "Sepertinya tidak, Non," jawab pak supir.


"Em, semoga saja," gumam Eldar.


"Apa, Non? Saya nggak denger," tanya pak supir karena dia seperti mendengar Eldar bicara sesuatu.


"Enggak apa-apa, Pak. saya nggak bicar apa-apa," kilah Eldar.


"Oh, maaf, Non. Bapak udah tua, jadi pendengarannya sedikit bermasalah," ucap pak supir.


Sesampainya di mobil, pak supir membukakan pintu untuk Eldar. Awalnya Eldar menunduk dan tidak memperhatikan dalam mobil. saat dia bingung mencari di mana ponselnya di tas kecilnya tiba-tiba.


"Surprise ..!" ucap Naza sedikit berteriak.


Eldar mundur beberapa langkah karena terkejut, dia kira tadi pak supir yang mengejutkannya, dan ternyata yang berteriak tadi adalah Naza.


"Na-Naza," ucap Eldar tergagap, "Katanya kamu udah balik ke rumah tadi?" tanya Eldar.


"siapa yang bilang?" tanya balik Naza.


Eldar menoleh ke pak supir, "Bukan saya, Non. Tadi tuan Kevin, dan Nyonya Nabila yang bilang," ucap oak supir dengan berbisik.


"Sudahlah, itu, tidak penting," ucap Naza, "Masuklah!" perintah Naza. Eldar mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


"Hai, lihat," ucap Naza sembari mengeluarkan buket mawar putih.


"Waahhh ..!" Eldar menutup mulutnya, dia tidak percaya Naza memberinya bunga karena sejak pacaran sampai sekarang Naza tidak pernah memberinya bunga.


"Kamu Naza pacarku kan?" ucap Eldar sambil meraba-raba wajah Naza.


"Menurutmu?" jawab Naza yang jadi sebel.


"Uuhh, so sweet," ucap Eldar sambil menarik-narik kedua pipi Naza, "Makasih," lanjut Eldar sembari mau memeluk Naza.


"Eh eh eh, mau ngapain?" tanya Naza sambil mencegah tubuh Eldar yang tiba-tiba mendekat.


"Mau peyuk kamu," jawab Eldar dengan suara seperti anak kecil yang sedang manja.


"Tanganku masih sakit, besok aja kalau udah sembuh," ucap Naza sambil menunjukkan tangan kirinya.


Eldar mengurungkan niatnya untuk memeluk Naza lalu memanyunkan bibirnya. Sudah sebulan lebih dia tidak mendapat pelukan dari Naza, hanya mendapat cium di pipi dan keningnya, itupun dia dulu yang meminta ke Naza.


Melihat Eldar yang manyun membuat Naza tidak tega melihatnya, "Ya udah, sini peluk. Tapi, pelan-pelan," ucap Naza.


Mendengar itu Eldar langsung menatap Naza dengan wajah penuh harapan, "Beneran?" tanya Eldar. Naza mengangguk.


Langsung saja Eldar memeluk tubuh Naza, dia memang sangat merindukan hangatnya pelukan dari pacarnya ini. Hangat, nyaman, dan menenangkan, itulah yang Eldar rasakan ketika berada dalam pelukan Naza.


"Aku masih punya hadiah untukmu," ucap Naza.


Eldar melepaskan pelukannya, "Mana?" tanyanya.


"Taraaa!" ucap Naza dengan semangat sambil mengeluarkan sebungkus bakso yang ia beli tadi.


"Bakso!" teriak Eldar kesenangan dan langsung menyambar bakso itu dari tangan Naza.


"Tapi udah dingin baksonya," ucap Naza sedih, "Tadi, habis beli bakso aku pergi beli bunga dulu lalu ke supermarket buat beli, ini," lanjutnya sambil menunjukkan kantong kresek lain.


"Apa, itu?" tanya Eldar


"Buka aja," jawab Naza sembari memberikan kantong itu ke Eldar.


"Astaga," ucap Eldar tidak percaya setelah melihat apa isi kantong kresek itu.


Maaf baru update, belum ada kuota hehe.