My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Perjalanan



"Hari, ini, kita ke mana?" tanya Naza.


"Diam, dan ikut aja," jawab Eldar sambil memasangkan sabuk pengaman Naza.


"Ini, masih jam tiga pagi, Sayang," balas Naza.


"Shut up!" sahut Eldar dengan sedikit meninggikan suaranya, "Shut up," ucapnya lagi, tapi dengan suara yang lebih lembut.


"Kenapa kamu jadi galak begitu? Kayak penculik," ucap Naza.


Eldar memajukan wajahnya hingga jarak wajahnya dengan wajah Naza kurang dari lima sentimeter, "Karena kamu banyak tanya, Tuan Naza," jawab Eldar.


Naza sempat kaget dan memundurkan kepalanya, "Aku diam, aku nurut, aku ganteng," ucap Naza dengan wajah sedikit tegang.


"Anak pintar," puji Eldar sambil mengusap-usap kepala Naza sambil tersenyum lalu pergi.


"Ibu galak," gumam Naza menggerutu.


Eldar berhenti lalu berjalan mundur menghampiri Naza lagi, "Tadi kamu ngomong apa?" tanya Eldar dengan sorot mata tajam.


"Ee ... ka-kamu terlihat lebih cantik dari biasanya," kilah Naza.


Eldar tersenyum sambil bertepuk tangan, "Aku tahu, itu!" ucap Eldar dengan gembiranya, "Kamu memang kekasih yang sangat perhatian," lanjut Eldar memuji Naza.


"He he." Candra menampilkan senyum terpaksanya.


Eldar segera masuk ke mobil dan memakai sabuk pengamannya, "Jalan, Pak!" perintah Eldar.


"Siap, Non," balas pak supir.


Mobil mulai berjalan melewati gerbang rumah keluarga Lewis lalu mulai melaju membelah jalanan sepi. Udara malam bercampur udara pagi memang tidak bisa dipungkiri kadar dinginnya, bahkan Eldar dan Naza sampai mematikan AC mobil agar tulang mereka tidak menggigil.


Melihat Eldar yang kedinginan sambil meniup-niup kedua tangannya membuat Naza sedih. Di saat kekasihnya kedinginan dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Eldar menghangatkan tubuh.


"Kenapa pakai retak sih!" gerutu Naza dalam hati.


Naza tidak tahu kenapa di malam yang hujan itu dia bisa sangat ceroboh hingga tidak berhati-hati dengan nyawanya sendiri. Andaikan malam itu dia tidak kecelakaan, pasti dia sudah banyak bersenang-senang dan menghabiskan waktu berdua bersama Eldar. Belanja, berwisata, menanti kelahiran anak Candra dan Azila, piknik, jalan-jalan, semua rencana itu sirna begitu saja karena keteledorannya.


"El," panggil Naza pelan.


Eldar menoleh sambil terus meniup telapak tangannya, "Ada apa? Kamu butuh apa? Selimut? Bantal? Minum? Atau apa?" tanya Eldar.


"Kamu bawa selimut berapa?" tanya Naza.


"Satu," jawab Eldar sambil mengangkat telunjuknya.


"Kita pindah ke kursi belakang yuk, nanti selimutnya kita pakai berdua," ajak Naza.


"Hm, oke deh, aku juga kedinginan," jawab Eldar.


"Pak, Pak, Pak! Berhenti dulu, Pak! Minggir dulu!" perintah Naza.


"Ada apa, Tuan? Apa ada yang ketinggalan?" tanya pak supir.


"Hust, jangan kasar-kasar gitu, dia lebih tua dari kamu lho," ucap Eldar.


"Emang kenapa kalau dia lebih tua? Kan dia kerja sama aku," bantah Naza.


"Ya, nggak boleh gitu juga, walaupun dia kerja sama kamu terus kamu gaji, tetep aja kamu juga harus hormat sama yang lebih tua," bantah Eldar.


"Kayaknya kamu juga harus ngaca deh, Yang. Di sini aku juga lebih tua dari kamu lho," balas Naza.


"Kamu nyindir aku? Iya? Kamu lupa kalau aku lagi PMS? Kenapa nggak peka sih! Dikasih tau malah bantah mulu!" ucap Eldar sambil menatap tajam ke arah Naza.


"Iya-iya, maafin aku," ucap Naza, "Matanya biasa ajalah, jangan melotot kayak gitu, serem nih mobil jadinya," lanjut Naza.


"Anak pintar," balas Eldar sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala Naza.


"Ibu galak," gerutu pelan Naza.


"Hm? Kamu bilang apa?" tanya Eldar sambil mendekatkan telinganya.


"Kami cantik," kilah Naza.


"Tumben muji-muji terus," balas Eldar.


"Bukan muji, tapi kenyataannya memang begitu," jawab Naza.


"Gombal," balas Eldar yang jadi tersipu karena ucapan Naza, "Pak, berhenti dulu, Pak! Kita minggir dulu," ucap Eldar mencoba mengalihkan suasana.


"Baik, Non," jawab pak supir.


"Kalau orang lain yang nyuruh pasti langsung dilakuin tanpa tanya dulu, kalau yang nyuruh aku selalu tanya ke sana ke mari dulu," sindir Naza.


"He he, maaf ,Tuan," balas pak supir sambil tersenyum nyengir lewat spion dalam.


"Maaf-maaf doang, ku gaji kata maaf jiga kamu bulan, ini," ucap Naza dengan wajah dinginnya.


Pak supir tidak lagi berani menatap wajah Naza jika majikannya sudah seperti itu. Jika dia terus meladeni ucapan Naza, bisa dipastikan dia akan hengkang dari pekerjaannya.


Mobil sudah dihentikan oleh pak supir di pinggir jalan. Eldar membuka sabuk pengamannya lalu membantu Naza untuk membuka sabuk pengaman. Setelah itu Eldar dan Naza pindah ke kursi belakang, di kursi belakang bisa diubah jadi seperti kasur, jadi mereka bisa leluasa untuk berbagai selimut. Sebenarnya Eldar dan Naza juga masih sama-sama ngantuk dan belum cukup tidur.


Setelah semua beres, pak supir kembali menjalankan mobil untuk menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Eldar. Rencana pergi pagi ini pun mendadak dibuat oleh Eldar karena tidak lama lagi dia juga harus kembali ke Los Angeles untuk membantu daddynya di perusahaan. Pak supir yang mendadak diajak pun juga tidak keberatan untuk mengantarkan mereka, hitung-hitung wisata gratis dari calon istri majikannya.


Eldar belum memberitahu Naza kalau mereka akan pergi ke mana, Eldar cuma bilang kalau akan mengajak Naza ke tempat yang ceria. Tapi, bukan taman kanak-kanak ya sahabat, he he he.


Pak supir melihat Naza dan Eldar yang terbaring di kursi belakang lewat spion, "Memang hanya Non Eldar yang bisa membuat Tuan Naza diam," gumam pak supir.


Eldar tidur sambil memeluk tubuh Naza, memang tubuh Naza adalah guling ternyaman untuk membantunya cepat tidur. Sedangkan Naza harus merelakan lengan kanannya untuk dijadikan bantal oleh Eldar, walaupun begitu dia tidak keberatan kalau itu bisa membuat kekasihnya nyaman.


Selama ini Eldar tidur di rumah keluarga Lewis. Di saat kedua orangtua Naza masih di Indonesia, Eldar tidur terpisah dengan Naza, tapi ketika kedua orangtua Naza sudah kembali ke Amerika, Eldar lebih sering tidur bersama Naza, lebih sering ya, bukan setiap hari. Saat tidur satu ranjang pun mereka tidak macam-macam, hanya sebatas tidur berdampingan saja, tentunya Naza menjadi bantal gulingnya Eldar.


Pak supir mematikan lampu dalam mobil agar kedua majikannya bisa tidur dengan tenang, nyaman, dan memuaskan. Langit malam perlahan mulai pudar ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Mereka masih belum sampai, masih perlu waktu enam jam perjalanan lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Naza dan Eldar menikmati pemandangan samping jalan yang menampakkan hutan yang mulai terang, mereka menikmatinya sambil berpelukan agar tubuh mereka tetap hangat.


Ayo budayakan like ya sahabat 😇.