My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Candra Hilang



Tak terasa sudah tiga bulan berlalu, kini usia Kean dan Lean telah menginjak angka empat bulan. Mereka berdua sudah bisa menggunakan tangan mereka untuk menggenggam benda. Seperti bayi pada umumnya, Kean dan Lean juga sangat tertarik dengan jari jempol mereka, sehingga mereka sering memasukkan jempol mereka ke dalam mulut lalu menghisapnya seperti sedang menyusu.


Candra sudah tidak sesantai dulu lagi, sekarang dia kembali disibukkan dengan urusan perusahaan yang akhir-akhir ini membuat kepalanya berputar-putar. Di dalam perusahaan menjadi sedikit gaduh karena ada pesaing yang membuat mereka benar-benar kewalahan.


Sudah lebih dari 50 tahun lebih perusahaannya dibangun oleh kakeknya lalu diteruskan oleh ayahnya dan sampailah ke tangan dia. Perusahaan keluarga Wibawa bergerak di bidang kesehatan, lebih rincinya mereka fokus ke pengobatan luka luar seperti luka bakar, hasil kecelakaan, stretch mark, bekas luka, dan luka-luka lain yang membuat kulit mengalami kerusakan.


Setelah Kakek Candra meninggal, perusahaan seperti berhenti di satu titik di mana tidak ada lagi inovasi yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen ataupun dalam konteks persaingan. Ayah Yoga menganggap jika perusahaan mereka telah berada di titik paling puncak dan tidak ada lagi yang bisa menyamai pencapaian mereka.


Di lain sisi Candra yang merupakan lulusan jurusan kewirausahaan sedang merencanakan sebuah inovasi.


"Kita tidak bisa berdiam diri di titik di mana orang masa lalu lah yang mencapainya. Teknologi semakin canggih, dan sekolah medis memiliki lulusan yang bisa membahayakan kondisi perusahaan jika kita tetap diam seperti ini," ucap Candra di tengah rapat bersama para pemegang saham perusahaan yang lainnya.


"Kalau begitu kita harus merekrut Dokter, dan ilmuan yang handal untuk menunjang keberhasilan inovasi kita, bagaimana?" ucap Pak Joko yang merupakan salah satu pemegang saham dari lima pemegang saham termasuk dirinya dan Candra.


"Hmm, sepertinya usulan Pak Joko memang jalan terbaik untuk kita saat ini," sahut Pak Bram yang juga salah satu pemegang saham.


"Lalu, bagaimana dengan perusahaan Adi Saputra Pharmacy? Sejak kemunculan mereka setengah tahun yang lalu sudah membuat pemasaran obat kita menurun," tanya Pak Isman, dia juga salah satu pemegang saham.


Kelima pemegang saham itu nampak cukup risih atas kemunculan Adi Saputra Pharmacy, pasalnya obat yang mereka jual memiliki kegunaan yang sama. Namun, Adi Saputra Pharmacy menjual produk mereka dengan harga yang lebih murah. Akibatnya banyak konsumen mereka yang berpindah ke Adi Saputra Pharmacy.


"Bagaimana jika kita juga menurunkan harga sampai di bawah mereka? Karena perusahaan ini sudah berdiri lama, jadi banyak orang sudah tau dengan kualitas yang kita berikan, dan pada akhirnya konsumen kita yang pergi akan kembali," ucap Dava.


Dava adalah pemegang saham termuda di sana, umurnya baru menginjak 21 tahun, sedangkan Candra sudah menginjak usia 24 tahun. Dava menggantikan ayahnya yang telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas dua tahun yang lalu.


"Saya setuju dengan usulan Pak Dava," ucap Pak Bram.


"Saya juga setuju," sahut Pak Isman.


"Sepertinya anak muda zaman sekarang memang sangat pintar," ucap Pak Joko dengan senyum senangnya.


"Bagaimana dengan anda, Bapak Candra?" tanya Pak Isman.


"Apa, itu, tidak terlalu beresiko? Dalam setengah tahun ini, pemasukan kita semakin merosot turun, sedangkan harga bahan baku yang kita butuhkan harganya semakin naik," jawab Candra.


"Jika kita tidak mau mengambil sebuah resiko, maka kita akan stack di tempat ... dan pada akhirnya kita juga akan gulung tikar," ucap Dava.


"Pak Dava benar, jika kita tak berani mengambil resiko, cepat atau lambat kita pasti akan bangkrut juga," ucap Pak Joko.


Perdebatan pemikiran mereka pun terjadi, Candra tidak yakin dengan usulan Dava untuk menurunkan harga. Tetapi pemegang saham lainnya setuju dengan Dava, dan mau tidak mau Candra jiga ikut setuju dengan usulan Dava.


"Baiklah, saya setuju dengan usulan Pak Dava," ucap Candra sembari menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Bagus, sebentar lagi perusahaan kita akan bangkit lagi, dan kembali menduduki tahta," ucap Pak Bram.


Meeting telah di tutup oleh Candra, semua pemegang saham lalu pergi meninggalkan ruang meeting, dan hanya meninggalkan Candra yang meratapi kepalanya yang rasanya ingin meledak.


Orang terakhir yang berjalan melewati Candra adalah Dava, sesampainya Dava di samping kursi Candra dia berhenti sejenak.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Dava sambil memegang pundak Candra.


"Ya, semoga sama dengan yang kita harapkan," ucap Candra.


Dava melepaskan tangannya lalu berjalan keluar. Sebelum dia keluar dari pintu, Dava menoleh ke belakang menatap Candra yang meletakkan kepalanya di atas meja. Bibir Dava tersenyum melihat laki-laki yang sudah lama ia kenal itu, lalu dia melanjutkan langkahnya untuk pergi.


°°O°°


Hari sudah petang dan sudah lewat jam pulang. Pak Suryo berada di depan kantor dan sudah menunggu Candra keluar selama satu jam lebih. Namun, yang ia tunggu-tunggu tak kunjung datang, akhirnya dia memutuskan untuk mengeceknya ke dalam kantor.


"Hey, junior," panggil Pak Suryo.


"Oh, hai, senior," sapa balik Pak Nyu yang terkejut, "Maaf, senior, saya tidak menyadari kedatangan anda ke sini," lanjut Pak Nyu.


"Tidak apa-apa," jawab Pak Suryo.


"Senior ada apa ke sini?" tanya Pak Nyu.


"Saya mau mencari Tuan Candra, sudah sejam lebih saya menunggu di depan, tapi beliau tak kunjung keluar juga, jadi saya coba cek aja ke ruangannya, eh taunya cuma ada kamu," jelas Pak Suryo.


"Bukannya Tuan Candra sudah pulang duluan?" tanya Pak Nyu.


"Tuan Candra pasti akan menghubungiku jika ingin pulang atau diantar ke mana," ucap Pak Suryo.


"Sejak sore tadi sehabis meeting, Tuan Candra tidak kembali ke sini," ucap Pak Nyu, "Mungkin Tuan Candra lupa untuk menghubungimu, lalu dia pulang pakai taksi," lanjut Pak Nyu.


Pak Suryo langsung mengeluarkan ponselnya, terlihat dia sedang mencari nama kontak lalu dia menempelkan ponselnya ke telinga.


"Hallo," ucap seorang wanita dari telepon.


"Hallo, Non," ucap Pak Suryo.


"Ada apa, Pak? Kenapa masih belum pulang juga?" tanya wanita itu, dan ternyata dia adalah Azila.


"Apa Tuan belum di rumah?" tanya Pak Suryo.


Azila yang berada di kamarnya jadi bingung, "Ya, belumlah, kan Pak Suryo yang pergi jemput," ucap Azila.


"Tapi, Tuan tidak ada di kantor, Non," ucap Pak Suryo dengan gugup.


"Jangan bercanda, Pak," ucap Azila.


"Saya tidak bercanda, Non. Saya sekarang ada di ruangannya Tuan, tapi di sini hanya ada asistennya saja," ucap Pak Suryo, "Kata asistennya, Tuan sudah pulang sejak sore tadi," lanjut Pak Suryo.


Tuutt!


Azila mematikan sambungan teleponnya dengan Pak Suryo.


"Bagaimana, senior?" tanya Pak Nyu.


"Tuan belum pulang ke rumah," ucap Pak Suryo.


"Apa jangan-jangan ... Tuan Candra diculik," ucap Pak Nyu.


Mata Pak Suryo dan mata Pak Nyu saling tatap, lalu beberapa detik kemudian mereka berdua berlari keluar dari ruang kerja Candra.


Azila langsung mencari nomor telepon Candra dan segera menghubunginya. Hatinya memang terasa gelisah sejak sore tadi, entah apa yang mengganggu dirinya. Namun, setelah mendapat telepon dari Pak Suryo dia langsung tahu kenapa dirinya menjadi gelisah.


Drrtt ... drtt ... ting ting tung ting tung


Dari meja kerja Candra terdengar dering ponsel. Ternyata ponsel Candra ditinggal saat akan ke ruang meeting.


"Kenapa nggak diangkat terus sih!" gerutu Azila yang mondar-mandir ke sana ke mari sambil terus menelpon nomor Candra.


Jangan lupa tekan like ya guys, komen juga. Terima kasih.