My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Nggak Mood



"yeeyy! Akhirnya menang juga," ucap Candra sambil berdiri di atas kasur dan mulai berjoget, "Chicken dinner, chicken dinner," ucap Candra dengan begitu senangnya.


"Heh! Kayak anak kecil aja, udah punya dua anak juga ... masih aja lompat-lompat gitu," ucap Azila memarahi Candra.


Candra berhenti melompat lalu turun dari kasur, dia berlari menghampiri Azila yang duduk di sofa lalu memeluknya dari belakang, tidak lupa dia menghujani pipi Azila dengan bibirnya yang turun cukup deras.


"Ada apa sih? Kenapa bahagia banget gitu kelihatannya?" tanya Azila sambil menahan kepala Candra agar tidak naik turun menciuminya.


"Aku habis menang main game," jawab Candra dengan girangnya.


"Hm, kirain apa," ucap Azila yang tak lagi ingin tahu, "Udah, ayo makan dulu, aku juga mau makan," ajak Azila.


"Kamu belum makan?" tanya Candra yang sudah melonggarkan pelukannya.


"Belum ... dari pagi malahan," jawab Azila.


"Kenapa nggak makan? Nanti kalau sakit gimana? Terus kalau kamu sakit siapa yang bakal marahin aku?" ucap Candra.


"Aku masih kuat marahin kamu walaupun aku sedang sakit," jawab Azila sambil mencubit pipi Candra.


"Memang, itu, keahlianmu," balas Candra sambil melangkahi sofa lalu ikut duduk di samping Azila.


"Dan keahlianku sangat berguna untukmu," balas Azila sambil tertawa.


"Kita makan di balkon yuk," ajak Candra.


"Nampannya angkat kamu kalau mau pindah ke balkon," jawab Azila.


"Ayo," ajak Candra yang sudah berdiri sambil mengangkat nampan.


Azila juga beranjak mengikuti Candra yang berjalan ke balkon. Bukan hanya mengekori Candra, tapi Azila juga memeluk Candra dari belakang alias menambah beban Candra.


"Sayang, nanti kalau nampannya jatuh gimana? Turun dulu," ucap Candra.


"Enggak mau, masa segini aja kamu nggak kuat, lemah banget," ucap Azila sambil bermalas-malasan di punggung Candra.


Mendengar ucapan Azila, Candra merasa harga dirinya sedang diejek oleh istrinya sendiri. Candra mempercepat langkahnya menuju balkon.


"Pa, pelan-pelan dong, aku mau jatuh nih," ucap Azila sambil mempererat pegangannya di leher Candra.


"Huhh! Cupu!" ucap Candra ketika dia sudah menaruh nampan yang ia bawa ke meja di balkon.


"Hemh!" Azila memukul bahu Candra, "Perutku sakit tau kalau kamu lari kayak tadi ... mana hampir jatuh pula," gerutu Azila sembari duduk di kursi.


"Salah sendiri, siapa suruh main gelantungan kayak monyet," balas Candra sembari ikut duduk.


"Ambilin minum dong, Pa. Beneran sakit, nih," ucap Azila sambil memegang perutnya.


Candra beranjak mengambil air ke dispenser yang ada di kamarnya lalu kembali ke balkon dengan membawa segelas air dan minuman kaleng. Sebenarnya kamar mereka tidak memiliki balkon karena ada di lantai satu, lebih mirip teras disebutnya. Tapi, lantai satu rumah mereka sedikit naik tidak rata dengan tanah karena garasi bawah tanah mereka lebih tinggi dari tanah. Sekitar satu setengah meter dari tanah adalah lantai satu dan juga tidak seluas teras, jadi kita sebut aja balkon. "Ah, entah apa lah yang aku jelaskan," batin Author yang menjerit kebingungan.😅


"Minum dulu," ucap Candra sambil menyodorkan segelas air.


Candra mengangkat kursinya lalu meletakkannya di samping kursi Azila, "Ma," panggil Candra dengan manja.


"Hm?" jawab Azila sambil mengusap bibirnya yang basah setelah minum.


"Aku makannya mau disuapin sama kamu," ucap Candra sambil mendekatkan wajahnya yang berekspresi sok imut.


"Mau pakai tangan apa sendok?" tanya Azila.


"Tangan," jawab Candra.


"Ya udah, kamu ambil nasi ke piring dulu, nanti kita makan sepiring berdua, aku mau cuci tangan dulu di kamar mandi," ucap Azila sembari beranjak pergi.


Tidak lama kemudian Azila kembali sambil membawa sebotol air mineral. Candra sudah mengambil nasi ke piring bersama satu paha Peking duck dan sambal korek.


"Ya, nanti kalau kurang tinggal ambil lagi aja, kan, masih banyak juga, itu, nasinya," ucap Candra sambil menunjuk bakul nasi.


Azila mengangguk-angguk lalu mulai menyuapi mulut Candra dan mulutnya sendiri secara bergantian. Candra mengunyah makanannya sambil melihat-lihat email dari kantor dan juga membalas pesan-pesan dari temannya. Sedangkan Azila cuek-cuek aja dengan Candra, dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang dilakukan Candra. Azila sudah percaya sepenuhnya terhadap Candra dan begitupun sebaliknya.


Azila lebih sibuk memisahkan daging Peking duck dari tulang-tulangnya. Memang sesekali dia melirik apa yang sedang Candra lakukan dengan ponselnya yang membuat Candra begitu serius memainkannya.


"Pa!" panggil Azila pelan.


"Hm?" jawab Candra sambil mengunyah makanan.


"Tentang tadi pagi gimana?" tanya Azila.


"Hm? Pindah rumah?" tanya balik Candra.


"Iya," jawab Azila sambil mengangguk.


"Emm, gimana, ya ... aku sebenernya nggak masalah, tapi-" jawab Candra menggantung.


"Tapi kenapa?" tanya Azila.


"Tapi ... aku nggak tega lihat kamu capek-capek ngurus rumah, ngurus anak, ngurus aku ... aku pengen meringankan bebanmu sebagai ibu rumah tangga bukannya malah menambah bebanmu," jawab Candra.


"Sebenarnya ... aku dari dulu pengen seperti ibu-ibu rumah tangga biasa ... bangun pagi, nyiapin sarapan, ngurus bayi, nyuapin makan bayi, nyiapin baju suami, nyuci baju sendiri, masak, semuanya pengen sendiri," ucap Azila sambil menyuir-nyuir daging Peking duck jadi kecil-kecil.


"Kamu lagi kurang kerjaan?" tanya Candra.


"Ha? Maksudnya?" tanya balik Azila sambil mengemut bumbu Peking duck dan sambal yang tersisa di jempolnya.


"Tuh," sambil menunjuk piring, "Dagingnya kamu suirin sampai kecil-kecil begitu, masa nanti kerasa kalau dimakan," ucap Candra.


"Hm?" dehem Azila sambil melihat isi piringnya dengan jempol yang masih stay di mulutnya.


Candra jadi gemas dan iri dengan jempol istrinya sendiri, karena itu dia menarik paksa jempol Azila lalu memasukkannya ke mulutnya.


"Hei, Pa, ngapain?" tanya Azila sambil mencoba melepaskan tangannya, tapi terus ditahan oleh tangan Candra.


"Lepasin dong," rengek Azila.


Candra menatap mata Azila, dia terus-terusan menahan tawanya, lalu melepaskan jempol Azila yang diemutnya.


"Gurrrihh," ucap Candra lalu melepas tangan Azila.


"Ihh, jorok tau," ucap Azila sambil mengelap jempolnya ke kaos Candra.


"Jorok, tapi enak," jawab Candra sambil tertawa.


"Aku serius lho, Pa. Papa, malah bercanda kayak gitu," balas Azila dengan wajah cemberut, "Nggak lucu tau," lanjutnya dengan wajah yang semakin ditekuk.


"Sini-sini, liat aku," ucap Candra sambil memalingkan wajah Azila untuk menatapnya, "Gini, kalau kamu mau mau kayak ibu rumah tangga yang kamu sebutin tadi, kita nggak perlu pindah rumah atau pisah rumah sama Bunda, dan Ayah. Kamu tinggal bilang kalau semua urusan rumah tangga kita, kamu yang pegang. Mulai dari masak, ngurus bayi, nyuci, dan lain-lainya kamu tinggal bilang aja, nanti Bunda sama yang lain pasti ngerti kok," jawab Candra.


Azila tetap diam sambil terus mendengar ucapan Candra dengan baik-baik.


"Lagian, aku juga nggak tega kalau tiap hari harus ninggalin kamu sendirian sambil ngurus anak-anak, sambil nyuci, sambil ini, sambil itu, aku nggak bisa, Sayang," ucap Candra, "Kamu ngertiin aku, ya ... toh, di sini kami juga masih bisa jadi ibu-ibu rumah tangga seperti yang kamu pengen," lanjutnya.


"Gimana?" tanya Candra.


"Nanti ku pikir lagi aja deh, lagi nggak mood mikir berat," jawab Azila. Candra tersenyum melihat Azila yang sudah tidak cemberut lagi.


"Kalau gitu kamu lanjut suapin aku aja," ucap Candra sambil menarik pipi Azila agar tersenyum lebih lebar.


Tolong luangkan waktu untuk menekan tombol like ya sahabat 😇