
Ting ...
Satu chat masuk di ponsel Azila. Wajah bahagia langsung terpancar di wajahnya karena chat itu adalah chat dari Candra, dia dengan semangat langsung membuka chat itu.
Wajah yang tadinya sangat sumringah, tiba-tiba berubah bingung sekaligus marah.
"Apa-apaan, ini?"
"Ada apa, Zila?" tanya Mamah Mitha.
"Ah, enggak, Mah, nggak ada apa-apa," kilah Azila, "Zila ke kamar dulu, ya," pamit Azila sembari berdiri dan pergi tanpa persetujuan orang-orang di sana.
"Kenapa, Mah?" tanya Abyasa pada Mamah Mitha.
Mamah Mitha menggelengkan kepalanya sambil mengangkat sedikit kedua pundaknya. Abyasa memalingkan wajahnya dengan wajah sedikit khawatir terhadap kakaknya.
"Ada apa, Mit?" tanya Bunda Putri yang juga bingung dengan tingkah Azila barusan.
Mamah Mitha kembali mengangkat sedikit kedua pundaknya tanda tidak tahu, "Aku juga tidak tahu, Put. Tadi ponselnya berbunyi, terus dia bicara sendiri, pas aku tanya ada apa? Dia bilang tidak ada apa-apa, lalu dia pergi," jelas Mamah Mitha.
"Oooh," ucap Bunda Putri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh ya, berhubung, ini, sudah masuk jam makan siang, ayo kita ruang makan dan makan siang bersama." Bunda Putri mengajak para tamu kehormatan mereka untuk makan siang.
"Oh, mari-mari, aku sampai lupa belum memberi kalian suguhan," sahut Ayah Yoga.
"Makin tua makin pikun," sahut Papah Hendri yang membuat semua orang menjadi tertawa.
"Sudah, ayo, nanti keburu dingin makanannya," ucap Bunda Putri sembari berdiri.
Ayah Yoga dan para tamu keluarga Wibawa ikut beranjak mengikuti Bunda Putri ke ruang makan.
Sesampainya di sana, mereka semua duduk dan dihadapkan dengan makanan Padang yang sudah tersaji rapi dan masih tertutup dengan plastik wrap.
"Bun, panggil Dara sama Azila ke sini, ajak ikut makan siang bersama !" perintah Ayah Yoga. Bunda Putri beranjak berdiri dari duduknya.
Saat Bunda Putri baru berjalan beberapa langkah, "Put," panggil Mama Mitha.
"Iya?" ucap Bunda Putri sambil menoleh.
"Tolong jangan ajak Azila ke sini, ya. Sepertinya kondisi hatinya sedang tidak bagus," jawab Mamah Mitha.
"Baiklah, nanti aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan makan siangnya ke kamar," balas Bunda Putri.
Mamah Mitha mengangguk sambil tersenyum. Bunda Putri melanjutkan langkahnya. Setelah beberapa saat, Bunda Putri sudah kembali bersama Dara dan dia juga sudah meminta pelayan untuk mengantarkan makan siang Azila ke kamar.
Tok ... tok ... tok ....
"Non," panggil Bik Ijah.
Tok ... tok ... tok ....
"Non Zila," panggil Bik Ijah lagi.
Ckleek,
Pintu terbuka dan mencul kepala Azila di celah pintu yang terbuka itu.
"Ada apa, Bik?" tanya Azila sambil sesekali melirik nampan di tangan Bik Ijah.
"Ini, Non. Disuruh Nyonya mengantar makan siang non Zila," jawab Bik Ijah sambil mengangkat nampan di tangannya.
"Oh, iya, Bik. Sini," balas Azila sambil membuka pintunya dan mengambil nampan di tangan Bik Ijah.
Mata Bik Ijah merasa terheran saat sekilas melihat kamar Azila berantakan, padahal setiap hari saat Bik Ijah mengambil pakaian kotor di kamar Azila, kamar itu selalu tertata rapi.
"Tidak biasanya kamar non Zila berantakan seperti, itu. Apa gara-gara perutnya semakin besar, ya?" ucap Bik Ijah dalam hati.
"Apa non Azila membutuhkan bantuan untuk membersihkan kamar?" tanya Bik Ijah.
"Iya, Non. Bibik permisi dulu kalau begitu," ucap Bik Ijah.
Azila mengangguk dan dia segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Bik Ijah masih terheran dengan tingkah majikannya itu, lalu Bik Ijah membuang pikiran jelek di otaknya dan segera kembali melakukan pekerjaannya.
Di dalam kamar, Azila meletakkan nampan tadi di nakas kayu kecil di samping ranjangnya, dia mengambil benda pipih yang tergeletak di ranjang. Matanya masih memancarkan kemarahan dan kebingungan.
"Maksud dia apa, sih? Pakai kirim-kirim gambar seperti, ini," gerutu Azila.
Azila kembali melihat gambar yang dikirim Candra, di sana terpampang gambar setengah badan tubuh seorang wanita dari leher sampai bagian bawah pusarnya. Gambar itu menunjukkan tubuh wanita yang hanya tertutup oleh bra berwarna merah.
Otak Azila tidak habis pikir dengan maksud Candra, pikiran jelek mulai berdatangan ke pikirannya, hatinya mulai merasa kalau Candra sudah mengkhianatinya dan bermain gila di belakangnya.
Azila menutup ponselnya dan merebahkan tubuhnya, dia mencoba menenangkan pikirannya agar emosinya tidak mempengaruhi kandungannya.
Tubuhnya terasa lelah saat dia kembali ke kamar tadi, dia merah tidak jelas dan memberantakan isi kamarnya. Sekarang dia lebih tenang, dia mulai berpikir kalau itu hanya keisengan Candra belaka.
Ting ....
Ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan masuk, dengan mata yang mulai sayu karena mengantuk, Azila meraih benda pipih di sampingnya dan melihat siapa pengirim pesan itu.
Mata Azila kembali terbuka lebar saat tahu pengirim pesan itu adalah suaminya, di lubuk hatinya Azila berharap pesan itu adalah penjelasan tentang gambar tadi. Namun, dia sedikit ragu untuk membukanya karena pesan itu adalah pesan gambar.
"Gambar apa lagi yang dia kirim?" gumam Azila, "Semoga saja bukan gambar seperti tadi," lanjutnya.
Dengan keraguan dan mata yang dia pejamkan, jari Azila menekan dan membuka pesan dari Candra. Dia mulai membuka matanya perlahan karena keraguan masih menyelimutinya.
Duaar ....
Hati Azila seperti tersambar petir melihat gambar yang baru masuk. Napasnya terengah. Giginya merapat. Mata indahnya memancarkan api kemarahan.
Ting ....
Ting ....
Ting ....
Beberapa pesan gambar kembali masuk ke dalam room chatnya dengan Candra. Gambar yang baru masuk itupun membuat Azila kembali murka, dengan amarah yang sudah memuncak, dia melemparkan benda pipihnya itu ke tembok.
Azila beranjak berdiri dan berjalan ke lemari besar di ruang pakaian kamarnya, dia mengambil koper besar dan memasuk beberapa bajunya. Setelah kopernya terisi penuh dengan baju, lalu dia mengambil satu koper besar lagi dan memasukkan beberapa sepatu dan tas miliknya.
Setelah dua koper besar itu terisi penuh, Azila melepaskan dasternya dan mengganti pakaiannya. Selang beberapa menit Azila sudah siap dengan dress bermotif bunga-bunga yang berwarna kalem dan lembut, lalu dia mengambil tas bermerek Luis Vuitton dan mengisinya dengan uang cash hasil tabungannya selama ini.
Azila keluar dari kamar, dia sudah tidak melihat Mamah, Papah, dan Yasa di sana, bahkan Bunda Putri dan Ayah Yoga sudah tidak terlihat. Dia melihat Pak Ujang yang baru keluar dari arah dapur.
"Pak Ujang !" panggil Azila dari lantai dua, "Sini," lanjutnya sambil melambai ke Pak Ujang.
Dengan segera, Pak Ujang naik ke lantai dua dan menghampiri Azila.
"Ada apa, Non?" tanya Pak Ujang.
"Antar aku ke rumah Mamah, Pak," jawab Azila.
"Baik, Non,"
"Bantu angkatin barang-barang bawaan ku dulu, Pak,"
"Baik, Non,"
Azila mengajak Pak Ujang masuk dan menyuruhnya membawa dua kopernya, setelah sampai di teras depan, Pak Ujang langsung mengambil mobil di garasi dan mengantarkan Azila.
Di dalam mobil, Azila memandang keluar jendela, tanpa sadar air matanya mulai menetes, "Kamu kuat, Zila," gumamnya sembari menyeka air matanya yang jatuh.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙