
Azila sudah puas dengan suapan manis dari mulut Candra, dia tidak menyangka jika Candra akan melakukan hal seperti itu hanya untuk merasakan rasa manis coklat saat menyesap bibir Azila.
"Yang, aku udah kenyang," ucap Azila sambil mengunyah wafer yang baru disuapi Candra.
Candra mengangguk, "Apa kamu suka aku suapi seperti, ini?" tanya Candra.
Azila berhenti mengunyah dan menelan wafernya, lalu dia memajukan wajahnya, "Aku lebih suka begini," ucap Azila sembari mencium dan sedikit menyedot bibir Candra.
"Kamu sangat pandai untuk membuatku dipenuhi gairah, Sayang," ucap Candra saat ciuman mereka berhenti.
"Apa aku sepandai, itu?" tanya Azila dengan berbisik.
Candra tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Azila, "Aku tidak pernah berbohong, Sayang. Buktinya bisa kamu lihat sendiri di balik celana ku ... pegang aja kalau nggak percaya," balas Candra dengan berbisik.
Paakk ....
"Aahhk...! Kenapa malah dipukul, Yang. Sakit tau!" keluh Candra sambil tidur meringkuk dan memegangi adik kesayangannya.
"Aku cuma pegang doang, katanya kalau nggak percaya kamu suruh pegang aja," jawab Azila sambil menahan tawanya.
"Pegang, ya, pegang pelan-pelan, kalau kamu tadi, itu, mukul namanya," balas Candra.
"Ya, maaf, lagian kenapa juga kamu gampang banget berdirinya," ucap Azila.
"Kan, gara-gara kamu hamil, Yang. Udah sebulan lebih nggak pernah dikeluarin," jawab Candra sembari kembali duduk karena rasa nyerinya sudah mulai mereda.
Azila terdiam, dia merasa bersalah juga karena kebutuhan biologis suaminya terhenti karena kondisinya saat ini. Azila tersenyum karena terpikirkan sesuatu yang mungkin bisa membuat suaminya lebih baik.
"Yang, ayok ke kamar, aku ada hadiah untukmu di kamar," ajak Azila. Candra mengangguk sambil tersenyum gembira karena akan mendapat hadiah.
"Zila mau kasih aku apa, ya? Apa mau kasih aku jam? Soalnya kemarin, kan, jamku jatuh terus pecah," pikir Candra.
Candra segera membantu Azila berdiri dan menggenggam tangan Azila. Sesampainya di kamar, Azila duduk di sofa besar yang seperti ranjang.
"Yang, tiba-tiba anakmu pengen lihat kamu olahraga, nih," ucap Azila sambil mengelus perutnya.
"Heh?" Candra terkejut dan merasa kecewa, dia kira akan mendapatkan hadiah keren dari Azila, tapi ternyata hadiahnya adalah permintaan Azila yang tiba-tiba ngidam aneh.
"Ayolah, Yang. Dia nendang-nendang terus, ini, lho," rengek Azila.
"Iya-iya," balas Candra dengan suara pasrah. Azila tersenyum senang melihat Candra begitu nurut padanya.
"Yang," panggil Azila dengan manja.
Candra yang baru saja merebahkan tubuhnya di lantai dengan begitu malas menatap wajah Azila.
"Apa lagi?" tanya Candra dengan suara malas.
"Anakmu bilang kalau kaos sama celana pendekmu lepas aja," jawab Azila dengan manja. Candra menatap bingung Azila sambil menautkan kedua alisnya.
"Apaan, sih, Yang. Jangan aneh-aneh deh ngidamnya, masa disuruh telanjang di depanmu," ucap Candra.
"Kamu kok gitu, sih, Yang? Kamu mau anakmu nanti ileran gara-gara nggak dituruti permintaannya?" ucap Azila dengan suara sedikit meninggi.
"Ya enggak, lah, Yang," balas Candra.
"Lagian, kenapa musti malu juga, sih? Kan, aku istrimu, aku juga udah lihat kamu telanjang berpuluh-puluh kali," ucap Azila sedikit murung, "Lagian, kan, masih pakai celana dalam juga, nggak telanjang bulat," lanjut Azila.
"Iya-iya," balas Candra yang kembali pasrah.
Candra mulai melepas kaos dan celana pendeknya di depan Azila. Mata Azila membulat saat ia mendapati Candra tidak memakai celana dalam, dia menahan tawanya karena ada burung yang dibiarkan bergelantung bebas.
"Kenapa senyam-senyum kayak gitu? Kamu ngerjain aku, ya?" tanya Candra penuh curiga.
"Mana ada, aku cuma merasa lucu aja lihat itumu kamu biarkan bergelantung bebas," jawab Azila sambil tertawa karena tidak bisa lagi untuk menahannya.
Candra membuang napas kesalnya karena penampilannya menjadi bahan tertawaan Azila, dia kembali mengenakan celana pendeknya karena sudah tidak tahan merasa malu.
"Kenapa dipakai lagi celananya?" tanya Azila setelah berhenti tertawa.
"Kamu, sih, ngetawain aku," jawab Candra.
"Iya-iya, maaf," balas Azila, "Cepat lepas celanamu, dan ganti pakai celana dalam!" perintah Azila.
"Boleh?" tanya Candra.
"Kan tadi aku udah bilang kalau nggak telanjang bulat," jawab Azila.
Candra berjalan ke ruang wardrobe untuk mengganti celananya, setelah mengganti celana pendeknya dengan celana dalam putih bertuliskan Lounge dia berjalan keluar menghampiri Azila.
"Nah, gitu, kan, lebih enak dilihat," ucap Azila setelah melihat Candra, "Seksi," lanjut Azila sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jangan menggodaku, Sayang. Aku sudah mati-matian menahannya," ucap Candra.
"Kalau begitu cepat penuhi permintaan anakmu!" perintah Azila.
"Iya, bentar," jawab Candra sembari berjalan menuju lemari dekat kamar mandi.
Candra sudah kembali dengan handuk di tangannya, dia membuka handuk itu dan meletakkan di lantai. Candra mulai berolahraga seperti yang ia biasa lakukan di tempat kebugaran.
Sudah setengah jam Candra berolahraga sambil dilihat Azila dari atas sofa, dia sudah merasa cukup untuk memenuhi keinginan anaknya.
"Udah, kan, Yang?" tanya Candra sambil meluruskan kakinya dan napas yang ngos-ngosan. Azila mengangguk sambil tersenyum.
"Minum dulu sana!" perintah Azila. Candra menuruti Azila karena memang dia sudah kehausan.
Candra beranjak ke kulkas di kamarnya dan mengambil sebotol air mineral, lalu dia kembali duduk di atas handuk dan mulai meminum airnya.
"Sini," ucap Azila sambil menepuk sofa di sebelahnya.
"Ngapain?" tanya bingung Candra.
"Nurut aja, ya, sini," jawab Azila sembari menepuk sofa di sebelahnya.
Candra hanya bisa menurut tanpa membantah, dia meletakkan botolnya di lantai dan beranjak menghampiri Azila. Candra membawa handuknya tadi untuk dijadikan alas ia duduk di sofa agar sofanya tidak basah karena keringatnya.
"Apa?" tanya Candra.
Azila mendekatkan tubuhnya hingga tak berjarak lagi dengan Candra, tangan Azila meraih rahang bawah Candra dan menariknya hingga bibir mereka berdua bertemu. Azila mulai mencium dan menyesap bibir Candra. Candra yang memang sudah lama tidak mendapat perlakuan agresif dari Azila menjadi bergairah dan membalas ciuman Azila.
Ciuman panas itu terhenti karena Candra menarik wajah Azila, "Apa, ini hadiahku?" tanya Candra dengan napas yang tersengal-sengal.
"Pintar," jawab Azila yang juga sudah ngos-ngosan, "Walaupun sekarang aku tidak bisa memuaskanmu dengan seperti biasanya, tapi aku masih bisa memuaskanmu dengan, ini," ucap Azila sambil mengelus adik kecil Candra dengan tangannya.
"Maafkan aku," lirih Azila sambil menarik kembali tangannya.
Cupp ....
Candra mengecup bibir Azila, "Lakukanlah sesukamu, Sayang. Aku akan selalu puas dengan semua servismu," bisik Candra sembari membimbing tangan Azila untuk kembali membelai adik kecilnya.
"Terima kasih," ucap Azila.
Candra dan Azila kembali berciuman dengan panas. Tangan Azila terus membelai pisang milik Candra hingga semakin besar. Candra tak mau kalah, dia mulai memainkan tangannya di dada Azila.
Karena posisi itu membuat mereka kurang leluasa, akhirnya Candra berpindah ke depan Azila dan membuka kaki Azila agar di bisa duduk di antara kaki Azila. Tangan kanan Azila kembali membelai pisang Candra yang sudah tak terbungkus apa-apa, sedangkan tangan kirinya sibuk meraba dada bidang Candra yang basah.
Tangan Candra mulai menarik daster Azila ke atas hingga terlepas dari tubuh Azila, bra merah yang membungkus dua gunung besar ditanggalkannya dan tak lupa kain segitiga merah juga ia lepaskan dari pemiliknya.
Ciuman Candra mulai merembet ke dada kiri Azila memainkan dot bayi alami, tangan kiri Candra asik memutar-mutar tonjolan kecil dan meremaas dada kanan Azila, sedangkan tangan kanan Candra sudah sibuk dengan lubang yang sudah basah.
Aksi mereka berdua semakin panas dan sudah berlangsung begitu lama.
"Yang..! Aku sudah nggak kuat," rintih Azila.
"Aku juga, Yang," balas Candra.
Mereka semakin mempercepat gerakan tangan mereka, ciuman panas kembali terjadi, bahkan lebih panas dan bergairah dari sebelumnya.
"Yang...!" teriak Azila.
"Aakkhhh...!" teriak Candra.
Selang beberapa detik kemudian tubuh mereka berdua saling mengejang dan saling menyemburkan cairan kenikmatan, bahkan semburan Candra sampai mengenai wajah Azila karena saking lamanya ditahan.
"Yang, kok ke muka, sih, keluarnya," keluh Azila sambil mengelap wajahnya dengan handuk di sampingnya.
"Kok nyalahin aku, sih, Yang? Kan kamu yang pegang kendali," balas Candra sambil membantu membersihkan wajah Azila.
Azila jadi diam karena memang dia yang pegang kendali ke arah mana akan Candra keluarkan.
Cupp ....
Kecupan singkat dari Candra di bibir Azila, "Terima kasih," lirih Candra dengan wajahnya yang hanya berjarak satu sentimeter dari wajah Azila.
"Sudah tugasku," balas Azila.
Cupp ....
Mereka berdua kembali berciuman, tapi bukan dengan gairah, melainkan dengan kasih sayang, lembut dan menenangkan.
Jangan lupa like dan komen. Udah itu aja.
#Salam dari author termesum se-Mangatoon.