
Mohon maaf karena lama tidak up, akhir-akhir ini author sedang sibuk parah di dunia nyata, apalagi ada virus yang mulai menyebar di kota author.
Kalau sudah lupa ceritanya, bisa dibaca ulang 1-3 baba sebelumnya, oke👌
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Setelah berpisah dari Amanda Mardiana, mereka berdua pergi ke meja makan dan mulai menikmati makanannya bersama teman-teman lama mereka.
Suasana bahagia tercipta di sana, dengan kedua pengantin yang menyumbangkan lagu dari Didi kempot yang berjudul Pamer bojo.
Di antara kebahagiaan itu, ada seorang wanita yang selalu melirik sinis ke arah Candra dan Azila, di mata wanita itu tercermin api kecemburuan yang berkobar di hatinya, tangannya mengepal menahan perasaan cemburu dan kesalnya.
Seusai acara, Candra dan Azila langsung berpamitan ke Akbar dan istrinya karena ada jadwal cek ke Dokter siang itu. Dengan masih menggunakan pakaian kondangan, Candra dan Azila menuju rumah sakit.
Setelah kurang lebih satu jam Candra mengemudikan mobilnya, akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit yang sembilan puluh persen sahamnya adalah milik keluarga Wibawa.
Candra dan Azila turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit, di sepanjang jalan yang mereka berdua lalui, semua suster, staf rumah sakit, dan para pegawai memberi hormat kepada tuan besar mereka. Para keluarga pasien yang dirawat di sana menatap heran dua orang yang masuk ke rumah sakit dengan busana ala orang kondangan, namun kedua orang itu sangat dihormati di sana.
Tak berapa lama, Candra dan Azila telah sampai di ruangan Dokter Rizka, Azila langsung dipersilahkan berbaring di ranjang. Azila merasa sedikit takut untuk menjalani USG pertamanya, namun setelah Dokter Rizka menjelaskan prosedurnya, ketakutan Azila mulai berkurang dan mereda.
Setelah beberapa menit, akhirnya Dokter Rizka telah selesai memeriksa kondisi janin Azila.
"Bagaimana, Dok?" tanya Candra.
"Kondisi janin sangat sehat, tidak ada tanda-tanda kelainan pada janin," jawab Dokter Rizka.
Azila menghembuskan napas lega dan mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Apa jenis kelamin anak saya, Dok?" tanya Candra lagi.
"Lalu?" tanya Candra sambil mengerutkan keningnya.
"Di usia janin nyonya Azila yang baru dua belas Minggu, jenis kelamin masih belum bisa dilihat. Jenis kelamin bisa dilihat saat janin sudah menginjak usia antara delapan belas sampai dua puluh Minggu, dan tergantung posisi janin juga," jelas Dokter Rizka.
Candra hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Dokter Rizka, sedangkan Azila tersenyum melihat wajah suaminya yang begitu serius mendengarkan penjelasan dari Dokter Rizka.
Setelah pemeriksaan dan tahu kondisi janin yang sangat sehat, Candra dan Azila bergegas pulang dengan beberapa vitamin dari Dokter Rizka. Di tengah perjalanan, Azila terus saja tersenyum sambil mengelus perutnya, hingga membuat Candra dipenuhi rasa penasaran.
"Sayang, apa kamu sehat?" tanya Candra sambil menoleh sejenak ke Azila.
"Ya, sedikit lelah," jawab Azila.
"Kenapa kamu terus tersenyum seperti, itu?" tanya Candra.
"Apa aku perlu menjawabnya?" Azila berbalik bertanya.
"Sangat perlu, karena aku khawatir padamu," balas Candra.
"Alay, lebay," balas Azila sambil memandang Candra.
"Itu, karena aku sangat mencintaimu, Sayang," ucap Candra sambil meraih tangan Azila dan menggenggamnya.
"Tapi aku suka dirimu yang alay, dan lebay, itu," ucap Azila sambil menyandarkan kepalanya di lengan Candra.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙