
Candra turun dari pohon kelapa lalu mengambil buah kelapa yang tadi ia petik. Sedangkan Azila yang hanya duduk sambil melihat apa yang sedang di lakukan oleh Candra.
"Apa kamu pernah belajar jadi pemain atraksi?" Tanya Azila dengan mengerutkan dahinya.
"Tidak," jawab singkat Candra.
"Lalu, bagaimana kamu membuka kelapa itu? Apa kamu mau menggerogoti kulit kelapa itu lalu memukul tempurungnya sampai pecah?" Tanya Azila yang nerocos tiada henti.
Candra hanya tersenyum mendengar perkataan Azila yang selalu berbicara tiada henti, lalu Candra berdiri dan memandang sekelilingnya dengan teliti seperti sedang mencari suatu benda yang bisa membantunya membuka kelapa.
Setelah memandang sekelilingnya, Candra melihat benda pipih dengan pegangan kayu yang menancap di pohon kelapa lain yang tak jauh dari tempatnya berteduh. "Nah, itu yang ku cari," ucap Candra dalam hati yang sudah menemukan benda yang bisa membantunya.
"Candra, kamu mau kemana?" Teriak Azila yang penasaran.
Candra terus saja berjalan tanpa menjawab teriakan Azila, lalu dia mengambil benda pipih tadi yang ternyata adalah golok. Setelah mengambil golok yang menancap di pohon kelapa, Candra lekas kembali ke tempat Azila yang sedang duduk berteduh.
"Kurang-kurangi kebiasaan tuli dan bisumu itu, aku tidak suka kalau aku di abaikan," dengus kesal Azila yang tidak memandang wajah Candra, dia lebih memilih melihat keindahan pantai di depannya.
Candra hanya tersenyum melihat tingkah Azila yang seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta tetapi cinta monyet. Candra melubangi ke dua kelapa tadi dan membawanya duduk di samping Azila yang sedang duduk melamun sambil memandang pantai berpasir putih itu.
"Ini, minum dulu," ucap Candra sambil menyodorkan kelapa yang sudah dia buka atasnya, lalu Azila tanpa sungkan atau malu atau gengsi, dia menerima kelapa yang di berikan oleh Candra, "Makasih," ucap singkat Azila.
Candra dan Azila meminum air kelapa yang ada di tangan mereka sambil menikmati keindahan pantai yang sepi, karena pantai ini adalah pantai pribadi milik keluarga Wibawa.
Kesunyian datang di antara mereka berdua, Candra mengerti kalau Azila sedang marah kepadanya karena tadi dia mengabaikan pertanyaan Azila, Candra menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.
Candra menaruh kelapa yang diminumnya ke pasir, Candra bergeser mendekati Azila dan memeluk tubuh Azila dari samping.
"Apa kamu sangat marah padaku, Sayang? Sampai-sampai kamu tega tidak mengajakku berbicara," tanya Candra yang memandang lekat wajah Azila.
"Kamu jahat Candra, kamu sudah mengabaikanku, aku takut jika tadi kamu meninggalkanku di sini, aku kuatir kalau terjadi apa-apa dengan mu saat kamu pergi," jawab Azila yang mulai meneteskan air matanya karena ini baru pertama kalinya ucapannya di abaikan oleh seseorang.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menebus air mata mu yang jatuh karena ku, Sayang?" Tanya Candra sambil menghapus lelehan air mata Azila yang jatuh membasahi pipinya.
Azila menepis tangan Candra yang mencoba menghapus air matanya dan melepaskan tangan Candra yang merangkul tubuhnya, kini Azila duduk berhadapan dengan Candra, tatapan Azila sangat dalam menembus mata Candra yang memantulkan bayangan Azila.
"Apa kamu mencintai ku Candra?" Tanya Azila yang lirih dengan air mata yang masih mengalir.
Candra tersenyum mendengar perkataan Azila, lalu dia menakupkan kedua tangannya ke pipi Azila dan mengahapus air mata Azila dengan kedua jari jempolnya, Candra menatap lekat dua manik-manik coklat yang berkilau karena linangan air mata.
"Aku sudah belajar untuk mencintai mu sejak kita duduk berdampingan dan aku mengucapkan ijab qobul di depan semua orang, Sayang. Jadi, sekarang kamu tak perlu meragukan cinta ku ini," jawab Candra yang benar adanya, dia mulai memutuskan untuk mencintai Azila sejak saat itu.
"Aku tidak percaya dengan ucapan mu itu, aku pernah membaca puisi cinta yang kamu simpan di kotak kayu dan kamu taruh di lemari," balas Azila yang semakin sendu dengan kesedihannya.
"Puisi itu memang aku yang buat, tapi kisah di dalamnya bukanlah kisah ku, itu semua adalah kisah sahabat dan teman-teman ku, aku hanya menulis dan menjadikan mereka sebagai objek puisi, aku hanya menyalurkan hobi ku saja waktu itu," jelas Candra sambil menarik pelan tubuh Azila untuk berada di pelukannya. "Menangislah sepuas mu di pelukan ku, Sayang," ucap Candra sambil memberi kecupan di kepala Azila.
"Zila, apa kamu tahu, kamu adalah wanita pertama dan terakhir yang akan mendapatkan cinta ku, dan kamu juga yang sudah mengambil ciuman pertama ku," ungkap Candra yang masih memeluk Azila.
Mendengar perkataan Candra, Azila kembali duduk dan melepaskan pelukannya dengan Candra.
"Kamu juga Candr, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta, dan kamu juga salah satu orang yang akan mendapatkan cintaku," balas Azila yang sudah tidak menangis lagi.
"Kenapa aku menjadi salah satu? Apa kamu ingin membagi cinta mu ke orang lain?" Tanya Candra dengan wajah penasaran dan bingung.
Melihat ekspresi Candra yang kebingungan itu Azila tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Candra tadi dengan anggukan. Candra yang mendapat jawaban anggukan langsung memalingkan wajahnya dan terdiam seperti orang yang sedang marah.
"Bodohnya aku telah memberikan cinta ku padanya, sedangkan dia malah ingin membagi cintanya dengan orang lain," gumam Candra dalam hatinya.
Azila yang tersenyum melihat ekspresi Candra yang menjadi marah karena ulahnya, membuat dia ingin mengerjai Candra, lalu Azila meraih tangan Candra dan menggenggamnya.
"Apa kamu ingin menjadi orang yang egois? Apa kamu ingin menikmati cinta ku ini sendirian tanpa mau berbagi?" Tanya Azila dengan senyum di bibirnya.
"Apa aku salah jika aku menginginkan semua cinta Istriku hanya untukku?" Tanya balik Candra.
"Jika kamu mau menuruti tiga permintaanku, mungkin aku akan memberimu alasan kenapa aku akan membagi cintaku," jawab Azila dengan senyum licik terpancar dari wajahnya.
Candra mencoba berpikir dan mencerna maksud dari ucapan Azila tadi. "Baiklah, apa tiga permintaanmu?" Ucap Candra yang sangat ingin tahu apa alasan Azila ingin membagi cintanya.
"Oke, karena kamu setuju, aku akan memberitahumu tiga permintaanku. Yang pertama, kamu pergilah memanjat ke atas pohon kelapa dan ambilkan aku 1 buah kelapa lalu bukakan untukku," ucap Azila sambil menunjuk ke atas.
Candra hanya diam sambil menganggukkan kepalanya lalu dengan sigap dia berdiri dan melaksanakan permintaan Azila.
Setelah mendapatkan kelapa dan membukanya, Candra memberikan kelapa itu ke Azila.
"Lalu, apa permintaan kedua mu?" Tanya Candra.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙