
Pagi sudah tiba, seorang laki-laki tampan bernama Candra sudah berpakaian rapi dengan koper kecil di sampingnya. Dia sudah berada di dalam mobil menuju bandara Soekarno-Hatta.
Tidak butuh waktu lama Candra sudah sampai di Bandara, kini dia sudah ada di ruang tunggu untuk naik ke pesawatnya. Sebenarnya Candra ingin terbang dengan pesawat pribadi milik keluarganya, namun bundanya tidak memberikan izin.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Candra sudah berada di dalam pesawat dan tidak lama lagi pesawat yang ditumpangi Candra akan landing di kota tempat istrinya bersembunyi.
Candra sudah turun dari pesawat dan sudah berada di dalam taksi online pesanannya. Taksi itu membawa Candra ke alamat yang sudah diberikan oleh Papah Hendri. Setelah setengah jam lebih perjalanan, kini Candra sudah sampai di depan pintu kayu besar dengan ukiran seekor naga.
Tanpa banyak keraguan, ketakutan, atau kegugupan, Candra mengetuk pintu itu. Pintu mulai terbuka dan seorang Kakek-kakek keluar dari dalam rumah.
"Kakek!" ucap Candra sedikit terkejut, dia tidak tahu jika alamat itu adalah alamat kakeknya Azila.
"Andra?" tanya Kakek yang sedikit lupa.
Candra tahu itu Kakek karena dia pernah bertemu saat acara pernikahannya dengan Azila dan hanya saat itu saja dia pernah bertemu. Sedangkan Kakek sudah mulai lupa, jika bukan karena Azila melihatkan foto suaminya kemarin, pasti Kakek tidak bisa menebak siapa laki-laki di depannya itu.
"Andra siapa, Kek?" tanya Candra kebingungan karena tidak tahu siapa itu Andra.
"Suami cucu saya, lah," jawab Kakek.
"Candra, Kek. Bukan Andra," balas Candra.
"Nah, itu, maksud Kakek," sahut Kakek. Candra membuang napas lega karena kakeknya hanya salah sebut.
"Azila nya ada, Kek?" tanya Candra.
"Ada, di dalam," jawab Kakek, "Tapi kamu tidak diterima, di sini, dan Kakek tidak mengijinkan mu bertemu Azila," lanjut Kakek.
Candra menautkan kedua alisnya, "Loh, kenapa, Kek? Candra, kan, suaminya Azila cucu Kakek," tanya Candra.
"Kakek tidak bodoh, dan pikun. Azila datang ke sini karena kamu selingkuh, kan," jawab Kakek.
Candra mengkerut kan dahinya, "Haduh, kenapa banyak sekali yang jadi salah paham dan mikir aku selingkuh, sih," keluh Candra dalam hatinya.
"Jangan salah paham dulu, Kek," ucap Candra, lalu Candra mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi hingga Azila pergi ke sana.
"Kakek tidak percaya," ucap Kakek setelah Candra menjelaskan panjang kali lebar. Candra tidak menyangka jika orang lanjut usia akan sedikit merepotkan dan keras kepala, padahal Candra sudah melihatkan video yang dia dapat dari kepolisian.
Candra tidak kehilangan akal, dia menelpon Papah Hendri untuk membantunya menjelaskan ke Kakek, namun sudah beberapa kali dia menghubungi nomor Papah Hendri tetapi tidak ada jawaban.
"Lebih baik kamu pergi, dan jangan buang waktu, di sini," ucap Kakek sembari berjalan masuk.
"Kek, Kek. Sebentar, ya, jangan masuk dulu," ucap Candra sambil menahan Kakek. Candra menelpon Mamah Mitha dan beruntungnya Mamah Mitha langsung menjawab panggilan telpon itu.
"Iya, Can. Ada apa?" tanya Mamah Mitha dari dalam telpon.
"Ini, Mah. Kakek tidak ngijinin Candra ketemu sama Azila, Mamah bantu Candra buat jelasin ke Kakek, ya," jawab Candra.
"Kenapa tidak kamu jelasin sendiri?" tanya Mamah Mitha.
"Sudah, Mah. Tapi Kakek tidak percaya, Mamah bantuin Candra, ya, Mah. Ini, Kakek ada di sini, Mamah bantu Candra ngomong, ya," jawab Candra.
"Ya, Baiklah," balas Mamah Mitha.
"Kek, ini, Mamah Mitha mau bicara sama, Kakek," ucap Candra sembari memberikan benda pipihnya ke Kakek.
"Ya sudah, ayo masuk," ucap Kakek.
"Terima kasih, Kek," jawab Candra.
"Hmm," balas Kakek sembari berjalan masuk.
Sesampainya di ruang keluarga, Kakek duduk di sofa dan mulai menikmati kopi yang sudah ia tinggalkan untuk membukakan pintu.
"Azila di mana, Kek?" tanya Candra memulai pembicaraan.
"Ada, di kebun belakang," jawab Kakek.
"Di kebun?" tanya Candra yang terkejut.
Kakek mengangguk sambil menyeruput kopinya, "Sepertinya dia sedang melukis," ucap Kakek.
"Azila, kan, sedang hamil, Kek. Kenapa diajak ke kebun?" tanya Candra.
"Tenang saja, kebunnya ada di belakang rumah, tidak jauh, dan dia ditemani sama neneknya, dan semua pelayan," jawab Kakek, "Makanya tadi Kakek yang bukain pintu," lanjut Kakek.
Candra sedikit lega, "Lewat mana, Kek, kalau mau ke kebun belakang?" tanya Candra yang sudah tidak tahan untuk bertemu dengan Azila.
"Dapur lurus ke belakang," jawab Kakek. Candra mengangguk.
"Candra ke kebun belakang dulu, ya, Kek," ucap Candra.
"Hmm, pergilah," jawab Kakek. Candra beranjak berdiri dan berjalan menuju kebun belakang.
Saat sampai di kebun belakang, Candra terkesima dengan pemandangan indah itu, sama seperti Azila yang juga terkesima saat pertama kali melihat kebun belakang itu. Beberapa pelayan menyadari kedatangan Candra, namun Candra segera menaruh jari telunjuknya ke bibirnya tanda untuk diam. Para pelayan mengangguk mengerti.
Candra melihat Azila sedang melukis seorang wanita yang sedang memetik buah anggur, dan wanita dalam lukisan itu adalah Nenek yang memang sedang memetik buah anggur. Candra ingin menghampiri Azila yang tengah duduk membelakanginya, tetapi sebuah ide terlintas dalam benaknya, lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan kebun belakang.
Candra kembali menghampiri Kakek yang masih duduk do sofa ruang tamu sambil membaca koran, "Kek, kamar Azila di mana, Kek?" tanya Candra. Tanpa melihat dan masih fokus dengan korannya, Kakek menunjuk sebuah pintu.
"Terima kasih, Kek," ucap Candra. Kakek diam saja.
Candra mengambil kopernya dan berjalan menuju kamar Azila, sebelum membuka pintu kamar, Candra berbalik dan menghampiri Kakek lagi, "Kek, jangan beritahu Azila kalau Candra ke sini, ya, Kek," ucap Candra, "Candra mau kasih kejutan ke Azila, Kek," lanjut Candra.
"Iya, cerewet," ucap Kakek tanpa melihat Candra.
Candra sedikit merasa sakit dihatinya setelah mendengar kata cerewet yang terlontar dari mulut Kakek, "Apa aku emang cerewet, ya?" ucap Candra dalam hatinya, lalu dia kembali beranjak masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh Kakek.
Setelah berada di dalam kamar, Candra menjatuhkan tubuhnya ke kasur, "Ah, capek sekali," gumamnya.
Candra memejamkan matanya sambil merasakan empuknya kasur itu, badannya terlalu capek setelah penerbangan, apalagi sebelumnya dia banyak begadang dan kurang tidur untuk mencari Azila. Dia mencium kedua ketiaknya.
"Apa aku mandi dulu, ya?" gumamnya, "Nanti aja, lah, bareng Azila aja mandinya, siapa tahu dia kangen mandi bareng," lanjut Candra sambil tersenyum membayangkan saat dia mandi berdua bersama Azila.
"Akhirnya," gumam Candra yang merasa bahagia karena akan bertemu Azila lagi.
Sekilas mengingatkan saja ya, jangan lupa kasih like setelah baca, komen juga boleh, apalagi kasih tip koin, aduh terima kasih banget pokok ðŸ¤.