My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Pergi



Azila dan Candra sudah selesai bersiap-siap dan akan segera berangkat, mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Azila dan Candra melihat Dara, Bunda Putri, dan Ayah Yoga di ruang keluarga, Ayah Yoga sedang sibuk dengan laptopnya dan Bunda Putri sedang menemani Dara belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya.


"Ayah, Bunda," sapa Azila dan Candra bersamaan, lalu Ayah Yoga, Bunda Putri, dan Dara menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Ada apa, Nak?" Tanya Bunda Putri ke Azila dan Candra.


"Aku sama Zila mau pergi keluar dulu, Bun," jawab Candra.


"Ohh, ya udah, sana pergi, tapi nanti pulangnya harus sebelum jam makan malam, ya," ucap Bunda Putri.


"Oke, Bunda," jawab Azila, "Siap, Bunda ku sayang," jawab Candra dengan garis senyum manis di bibirnya.


Azila dan Candra berlalu pergi menuju teras depan, Candra pergi ke garasi untuk mengambil mobil, lalu dia menghampiri Azila yang berdiri menungguinya di tangga teras depan.


"Ayo," ajak Candra, lalu Azila memuruni tangga dan duduk di samping kursi Candra.


Setelah Azila selesai memasang sabuk pengamannya, Candra mulai menginjak pedal gas mobilnya dan melaju membelah jalan raya yang lenggang menuju ke Pondok Indah Mall.


Sesampainya di sana, Azila dan Candra berjalan layaknya orang sedang catwalk, karena di setiap langkah mereka menjadi pusat perhatian banyak pengunjung Mall.


"Sayang, apa kamu nyaman di lihatin banyak pasang mata yang menyorot ke kita?" Tanya Candra ke Azila dengan berbisik.


"Santai saja, mereka hanya kagum dan heran melihat kita," jawab Azila yang terus berjalan ke depan dengan sangat anggun, Azila berjalan dengan begitu percaya diri dan tidak memperdulikan tatapan semua orang di Pondok Indah Mall itu.


"Kenapa mereka kagum? Dan kenapa mereka juga heran melihat kita?" Tanya Candra lagi yang tidak tahu maksud perkataan Azila.


Mendengar pertanyaan Candra, Azila tersenyum sambil melirik Candra, lalu dia berkata, "Mereka kagum, karena ada bidadari surga yang turun ke sini."


"Lalu, herannya?" Tanya Candra lagi.


Azila menahan senyumnya dan menjawab, "Mereka heran, karena mereka melihat ada bidadari yang berjalan sambil berpegangan tangan dengan iblis."


"Apa kamu bilang?" Tanya Candra dengan sedikit berteriak karena ejekan Azila.


"Wleeee," ejek Azila sambil memeletkan lidahnya.


"Zila! Awas kamu!" Ucap Candra yang gemes dengan kelakuan Azila.


Azila yang tau kalau dia sedang dalam situasi yang tidak mengenakkan, dia langsung berlari menjauh dan meninggalkan Candra.


"Zila!" Panggil Candra sambil sedikit berteriak, lalu Candra berlari mengejar Azila yang sudah mulai jauh dan memasuki kerumunan para pengunjung, "Zila! Tunggu!" Seru Candra yang sudah mulai kehilangan jejak Azila.


≈≈≈


Sudah hampir setengah jam Candra berkeliling mencari dimana Azila berlari dan bersembunyi.


"Dimana sih, kamu, Zila. Udah capek jalan muter-muter, masih aja belum ketemu, sampek perutku keroncongan pula," dengus Candra sambil memegangi perutnya, "Beli makan dulu aja lah, sapa tau, habis perut di isi, keberuntungan pada datang menghampiri, ha.. ha.. ha.. ha," ucap Candra sambil tertawa seperti orang yang mendapatkan ide cemerlang.


Candra berjalan memasuki tempat makan ala-ala Jepang dan Korea, lalu dia memesan beberapa makanan dengan iPad yang di sediakan oleh tempat makan itu.


Tidak butuh waktu lama, pesanan Candra sudah datang satu-persatu dengan di antar oleh nampan yang bergerak secara otomatis. Setelah semua pesanannya datang, Candra memulai memasaknya, dia mulai menaruh daging di atas pemanggang yang ada di mejanya lalu memakan yang sudah matang.


Setelah kenyang memakan semua daging yang ada di meja, Candra berjalan menuju kasir untuk membayar sekaligus mengambil makanan pesanannya untuk Azila, karena sejak siang mereka berdua belum makan, Candra berniat memberikan makanan itu ke Azila setelah menemukannya.


"Perut sudah terisi penuh, makanan buat bidadari yang licik itu juga udah, sekarang tinggal ku temukan dia saja," ucap Candra yang sudah merasa optimis dan bahagia.


≈≈≈


"Aku tidak boleh menyerah, aku harus terus mencari dan menemukan Azila sebelum makanan ini dingin," ucap Candra untuk menyemangati dirinya sendiri.


Candra mulai berjalan dan melanjutkan pencariannya untuk menemukan Azila, dia menaiki eskalator ke lantai 3 dan mulai pencariannya di sana, alangkah terkejutnya Candra karena dia melihat wanita yang sedang dia cari-cari berada tidak jauh darinya, mata Candra membulat seakan menyimpan amarah saat melihat Azila sedang berpelukan dengan seorang laki-laki.


Candra yang sudah tersulut emosi langsung berlari menghampiri Azila dengan kedua tangan yang sudah mengepal sampai urat-urat ototnya keluar.


"Zila!" Teriak Candra yang sudah di penuhi oleh emosi.


Azila yang terkejut dengan teriakan Candra, langsung melepaskan pelukannya dengan laki-laki itu, Azila berlari ke arah Candra dan menggandeng lengan Candra, tetapi Candra malah melepaskan tangan Azila yang berada di lengannya.


"Ada apa?" Tanya Azila yang belum tau kalau Candra sudah tersulut emosi karena rasa cemburunya.


Candra menatap Azila dengan tatapan penuh amarah, lalu Candra membuang makanan yang di pegangnya ke lantai, Candra membalikkan badannya dan pergi tanpa sepatah katapun yang dia ucap.


"Kenapa suamimu?" Tanya laki-laki yang berpelukan dengan Azila tadi.


"Aku nggak tau, Bar. Baru kali ini aku melihat dia begitu," jawab Azila ke Akbar.


"Kayaknya dia cemburu dan salah paham, deh, Zil," ujar Akbar.


"Mana mungkin dia cemburu, kamu tau sendirikan, kalau aku dan dia sudah bermusuhan sangat lama," balas Azila.


"Dasar kamu ini, udah nikah, masiih aja bodoh kayak dulu," ucap Akbar sambil mengejek.


"Enak aja ngatain aku bodoh, kamu tuh yang bodoh," balas Azila.


"Udah, sana, kejar suami mu, jangan sampai perang dunia ke 3 terjadi sebelum Israel dan Amerika Serikat," ujar Akbar sambil tertawa.


"Amit-amit, ya udah, aku kejar dia dulu," ucap Azila yang mulai berjalan mengejar Candra yang sudah tak terlihat lagi.


"Nanti malam aku akan menghubungi mu!" Teriak Akbar.


"Oke," jawab singkat Azila, lalu Azila melanjutkan jalannya dengan agak berlari.


≈≈≈


Candra yang sudah berada di parkiran langsung masuk ke dalam mobilnya, dia langsung menancap gas keluar dari area Pondok Indah Mall, karena terlalu marah, Candra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menyalip beberapa truk besar dan mobil lain hanya dalam hitungan detik.


Candra mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, dia terlihat sedang menelpon seseorang.


"Halo, Pak. Tolong siapkan pesawat sekarang juga!" Perintah Candra pada orang yang ada di telpon.


"Tuan Candra mau menuju kemana?" Tanya orang yang ada di telpon.


"Los Angeles," jawab Candra dengan nada datar.


"Baik, Tuan," jawab orang di telpon, lalu Candra mematikan sambungan telponnya dan melaju ke tempat pesawat pribadi milik keluarganya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙