My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Yang penting rejeki



Candra telah berdiri di depan toilet wanita dengan troli yang masih ia bawa, "Dasar wanita enggak jelas, dari dulu sukanya ngejelekin orang.. mulu," ucap Candra sambil menggelengkan kepalanya.


Sudah hampir lima menit Candra berdiri di depan toilet wanita, tetapi dia belum juga menjumpai Azila.


Terlihat dari jauh, Candra melihat seorang wanita sedang menuju kearahnya, wanita itu tidak asing bagi Candra.


Wanita itu sekarang sudah berdiri di depan Candra, "Istrimu belum keluar?" tanya Amanda sambil melihat ke arah dalam toilet dan kembali menatap Candra.


"Ya," jawab cuek Candra.


"Em, mau aku lihatkan ke dalam?" tanya Amanda.


"Tidak perlu," jawab dingin Candra tanpa melihat ke arah Amanda.


Amanda merasa kesal karena Candra cuek dan acuh terhadapnya, dia merasa Candra berubah menjadi lebih dingin sekarang ini, "Jadi, kamu mau mengacuhkan aku? Lihat saja, cepat atau lambat, aku akan membuat hidupmu lebih berwarna setelah hari, ini," ucap Amanda dalam hatinya.


"Sayang, kamu kemana, selamatkan aku dari wanita jelek, ini," gumam Candra dalam hatinya, dia berdoa agar Tuhan segera mengirim Azila untuk menolongnya.


Setelah Candra berdoa dalam hatinya, belum ada dua detik dia berdoa, Azila keluar dari toilet wanita sambil merapikan rambutnya.


Azila terkejut saat dia melihat Candra sedang berduaan dengan seorang wanita di depan toilet wanita. Tapi Azila mencoba berpikir positif jika wanita itu adalah rekan kerja atau klien Candra, karena memang Amanda sedang memakai pakaian kantornya saat itu.


Candra menyadari kalau Azila berdiri di depan pintu keluar toilet, dia langsung menghampiri Azila dan memeluk istrinya, "Sayang, kenapa kamu lama sekali? Kamu membuatku cemas, dan takut," ucap Candra dalam pelukannya.


"Iya-iya, maafkan aku. Jangan lebay, aku hanya sudah tidak tahan ingin buang air kecil," jawab Azila sambil melepaskan pelukan Candra.


Azila menatap Candra lalu sekilas melirik ke arah wanita di samping mereka, lirikan mata Azila memberi isyarat ke Candra jika dia ingin tahu siapa wanita itu.


Amanda mendapati kalau Azila sedang meliriknya, lalu dengan inisiatifnya sendiri, Amanda mengulurkan tangannya kepada Azila, "Amanda, teman sekolah Candra waktu SMA," ucap Amanda dengan senyum palsu.


Dengan sedikit ragu dan merasa agak aneh, Azila membalas uluran tangan Amanda, "Azila, istri Tuan Candra," ucap Azila dengan jelasnya saat berkenalan. Ucapan Azila seperti menekankan dan memberi tahu Amanda kalau jangan mencoba menggoda Candra.


"Azila, nama yang cantik, seperti orangnya," ucap Amanda setelah mereka selesai berjabat tangan untuk kenalan.


"Jelas," celetuk Candra sambil mengelus rambut halus Azila.


"He he he. Emm, apa kita bisa berteman?" ucap Amanda pada Azila.


"Tentu," jawab Azila dengan senyum di bibirnya.


"Kalau begitu, apa aku boleh meminta nomor WhatsApp mu?" ucap Amanda sembari menyodorkan ponselnya ke Azila.


Dengan senang hati, Azila menerima ponsel Amanda lalu memasukkan nomor WhatsApp nya, "sudah," ucap Azila sambil mengembalikan ponsel Amanda.


"Terima kasih !" ucap Amanda dengan wajah bahagianya, "Nanti aku akan menghubungimu," lanjutnya lagi.


"Sayang, ayo, nanti kita kesiangan, dan Mamah akan marah padaku," ajak Candra sambil menarik Azila.


"Oh, iya, kenapa aku lupa," ucap Azila, "Kita pergi dulu, Man !" ucap Azila sedikit berteriak sambil melambaikan tangan ke Amanda.


"Iya, hati-hati !" balas Amanda dengan sedikit mengeraskan suara dan membalas lambaian tangan Azila.


Amanda tersenyum melihat punggung Azila dan Candra, "Nikmati hari-hari bahagia kalian, karena sebentar lagi, hari-hari kehancuran kalian akan datang," ucap Amanda.


Candra dan Azila berjalan dengan terburu-buru, "Sayang, pelan-pelan kalau jalan, apa kamu lupa? Aku sedang hamil !" ucap Azila yang menghentikan jalannya karena napasnya mulai ngos-ngosan.


Candra baru ingat kalau istrinya sedang hamil, dia terlalu kesal dengan Amanda hingga lupa kondisi istrinya sendiri, "Maaf, Sayang. Apa kamu masih kuat berjalan?" tanya Candra.


"Apa kamu tidak lihat? Aku sudah kelelahan. Pakai tanya kuat jalan apa enggak," jawab ketus Azila.


Seketika itu juga Candra langsung diam dan hanya memperhatikan Azila yang kelelahan. Mereka berdua memang sudah terlalu lama di mall, padahal mereka sudah memberitahu ke Mamah Mitha kalau akan datang jam delapan pagi, sedangkan sekarang sudah jam sebelas siang.


Candra berpikir bagaimana mereka berdua bisa segera sampai di rumah Mamah Mitha tanpa membuat Azila kelelahan.


Setelah berpikir beberapa detik, Candra mendapatkan sebuah ide. Dia memandangi ke sekeliling mereka, lalu Candra memanggil seorang office boy yang baru saja selesai membersihkan lantai, "Mas, sini !" teriak Candra memanggil office boy tadi.


Office boy tadi segera menghampiri Candra, "Iya, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Iya, ada. Tolong bawa troli, ini, ke kasir, dan bayar semuanya, lalu antar ke rumah saya. Saya ada urusan mendesak," ucap Candra sambil memberikan trolinya.


"Tap--" ucap Mas office boy terhenti.


"Ini, uangnya, dan, ini, alamatnya," potong Candra sambil memberi Mas office boy lima puluh lembar uang seratus ribuan dan kartu nama milik Papah Hendri.


Setelah memberikan uang dan kartu nama ke Mas office boy, Candra langsung menggendong Azila dan pergi meninggalkan Mas office boy.


"Sayang, segitu takutnya, kah, kamu sama Mamah?" tanya Azila sambil menahan tawanya.


"Diam, dan menurut saja, Mamah mu tidak jauh beda sama Bunda kalau sudah marah," jawab Candra tanpa melihat Azila, dia terus berjalan sambil menggendong istrinya menuju mobil mereka.


Di lain sisi, Mas office boy masih terdiam sambil memandangi uang pemberian Candra, "Rejeki nomplok atau rejeki anak sholeh, nih? Ah, bodo amat, yang penting, ini, rejeki, dan rejeki tidak boleh ditolak, ha ha ha," ucap Mas office boy sambil tertawa.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙