
Azila pergi menghampiri Candra yang sedang menemani Papahnya main catur di halaman belakang.
"Pah, aku pinjam menantumu sebentar ya, Pah. Ada hal penting yang harus kami lakukan," ujar Azila yang meminta izin ke Papahnya sambil menarik tangan Candra.
"Pah, Candra ngurus Zila dulu ya, Pah," ucap Candra sambil berjalan dan mencoba mengimbangi langkah Azila.
"Hadeh, dasar anak muda, pengennya bareng mulu, jadi ingat masa pacaran ku dengan Mitha," ucap Papah Hendri sambil membayangkan masa lalunya dan memasukkan pion catur ke dalam papan catur.
≈≈≈
Di kamar Azila.
"Ada hal penting apa?" Tanya Candra.
"Aku nggak kuat bawa dua koper besar ini, kamu bantu bawa ke mobil ya," jawab Azila sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Ku kira hal penting apa, ternyata di suruh angkat koper," batin Candra dalam hatinya.
"Iya-iya, aku bantuin," jawab Candra mengiyakan permohonan Azila.
"Makasih," balas Azila sambil tersenyum manis.
≈≈≈
"Udah masuk semua, apa lagi, kalau minta bantu bilang sekarang, kalau nanti aku nggak mau, aku capek mau tidur," ucap Candra yang tidak ingin disuruh saat dia sedang istirahat.
"Kamu bisa masak nggak?" Tanya Azila sambil memegang perutnya.
"Bisa, sedikit, kenapa? Mau minta di masakin?" Tanya balik Candra yang mengerti maksud Azila dengan memegang perutnya dan bertanya apakah Candra bisa masak.
Azila menjawab dengan anggukan cepet dan wajah yang mulai sumringah.
"Ya udah, ayo kita ke dapur," ajak Candra sambil berjalan pergi ke dapur, sedangkan Azila mengekor di belakang Candra sambil memegang kaos T-shirt bagian belakang Candra.
≈≈≈
Di dapur.
Candra dan Azila sudah sampai di dapur, para pelayan di dapur bingung karena melihat dua majikan muda mereka sedang ada di dapur, lalu Bik Inem datang menghampiri mereka.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nona?" Tanya Bik Inem menawarkan diri.
"Tidak, Bik. Zila cuma pengen saya masakin aja kok," jawab ramah Candra dengan senyum manis terukir di wajahnya
"Biar saya saja, Tuan. biarkan saya saja yang memasak buat Non Zila," lanjut bibik menawarkan dirinya.
"Nggak mau, Bik. Zila pengen di masakin sama suami Zila ini," ucap Azila sembari memeluk lengan Candra dan menyandarkan kepalanya di bahu Candra. Azila tidak sadar kalau sekarang Candra sedang tersipu malu dan wajahnya memerah karena kelakuan Azila yang tiba-tiba memeluk lengan Candra dan memanggilnya Suamiku dengan mesra.
"Ya sudah, Tuan Candra, Nona Zila. Silahkan menggunakan dapur, kami akan keluar mengerjakan pekerjaan lain, nanti kalau butuh bantuan langsung panggil Bibik ya, Tuan, Nona," ucap Bik Inem.
"Siap, Bik. Tenang saja, kami tidak akan menghancurkan dapur kalian kok," canda Azila yang masih memeluk lengan Candra.
"Baiklah, Non. Kita pergi dulu," ucap Bik Inem sambil menatap pelayan yang ada di dapur dan mereka semua mengerti maksud tatapan Bik Inem, lalu semua pelayan meninggalkan dapur dan menyisakan dua orang manusia yang satu masih merasa berbunga-bunga dan yang satu lagi tertawa nyengir.
"Kenapa kamu masih diam? Sana cepet masak, udah laper banget ini aku," rengek protes Azila.
"Apa kamu akan terus memeluk tanganku saat aku masak?" Tanya balik Candra sambil menatap pelukan Azila di lengan kekarnya.
Merasa tersindir oleh ucapan Candra, Azila langsung melepaskan pelukannya di tangan Candra dan duduk di kursi mini bar yang ada di dapur.
"Kamu mau masakin aku apa?" Tanya Azila.
"Kamu minta di masakin apa hari ini?" Tanya balik Candra.
"Ya sudah, ku masakin telur ceplok mata sapi aja ya" Kata Candra.
"Nggak mau, maunya ayam goreng aja, titik," balas Azila dengan muka serius.
"Heehh, tadi ngapain bilang terserah, bodoh," gumam kesal Candra dalam hatinya.
≈≈≈
Waktu telah berlalu, kini Candra sudah selesai menggoreng 4 potong daging ayam.
"Mau makan dimana?" Tanya candra.
"Di balkon kamar aja yuk," balas ajak Azila.
"Jangan lupa bawa nasi juga sama piring," perintah Azila yang di turuti Candra tanpa adanya penolakan atau pengajuan keringanan perintah.
Di balkon kamar Azila.
"Ayam goreng sama nasinya taruh di meja sana (menunjuk meja di balkon) lalu ambikan aku air putih sama susu kaleng di lemari pendingin, emm sama gitar di samping kasur itu juga," suruh Azila dengan senyum puas di bibirnya, akhirnya dia bisa membalas kelancangan Candra yang sudah mengambil ciuman pertamanya tanpa izin atau permisi dahulu ke pemilik bibir.
Dan Candra entah kenapa tidak seperti biasanya dia hanya menurut tanpa membantah ataupun mengeluh.
Candra sudah kembali ke balkon dan membawa satu botol air mineral, satu kaleng susu, dan gitar, lalu di letakkannya di meja.
"Apa sudah cukup, Nyonya?" Tanya Candra sedikit lesu, pasrah dan jengkel terhadap Azila.
"Eemm. udah, sekarang kamu duduk di depanku sini," ucap Azila sambil menarik kursi di sampingnya dan di taruh di depannya, lalu Candra duduk seperti kata Azila.
"Sekarang, kamu suapin aku!" Perintah Azila tetapi kini Candra mulai protes.
"Kenapa manja sekali sih, makan sendiri aja," ucap Candra dengan nada datar.
"Oohh, jadi kamu nggak mau nyuapin aku? Iya?" ujar Azila dengan memasang wajah cemberut dan sedih.
"Nggak, nggak gitu kok, jangan sedih dong, iya-iya aku suapin," ucap Candra yang mengalah dan Azila langsung kembali ceria lagi.
"Gampang banget ngibulin dia, kalau gini terus, bisa dapet asisten gratis aku, ha..ha..ha," ucap Bahagia Azila dalam hatinya.
Azila mengambil gitar yang ada di atas meja dan menaruhnya di pangkuannya.
"Katanya mau nyuapin, kok diem, nggak ikhlas ya," ucap Azila yang melihat Candra masih diam.
"I-iya, ini baru mau nyuapin," jawab Candra sedikit gugup lalu mengambil piring dengan nasi dan ayam goreng buatannya tadi.
Candra mulai menyuapi Azila sendok demi sendok, sedangkan Azila mulai menyetel gitar di pangkuannya dan kadang bergumam pelan menyanyikan sebuah lagu.
"Emang kamu bisa main gitar?" Tanya ragu Candra yang melihat Azila yang dari tadi hanya menyetel gitar di pangkuannya itu.
"Menurut mu, kalau aku nggak bisa main gitar, ngapain ada gitar di kamarku," jawab ketus Azila yang baru menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Nanti aku akan menyanyikan lagu yang spesial khusus untukmu suamiku," ucap Azila yang menggoda Candra.
Candra tersenyum bahagia karena tidak ada lagi panggilan cowok batu atau cowok mesum lagi dari mulut Azila.
"Apakah aku mulai mencintaimu musuhku?" Tanya Candra dalam hatinya.
"Dasar laki-laki bodoh, baru gitu aja udah senyam-senyum kayak orang gila sedang jatuh cinta, lemah banget hatimu itu, kamu harus ingat aku ini musuhmu," gumam Azila dalam hatinya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙