My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bahagia atau Sedih



Eldar yang melihat perubahan raut wajah kakaknya setelah dia menanyakan tentang Kakak Iparnya, dari sangat ceria dan tiba-tiba berubah murung, membuat Eldar tahu kalau mereka sedang ada masalah, lalu Eldar duduk di samping Kakaknya.


"Apa Kakak dan Kakak Ipar baik-baik saja?" Tanya pelan Eldar sambil memegang pundak Candra.


"Dia mengkhianati cinta ku, El. Dia selingkuh dengan laki-laki lain di belakang ku dan aku melihat dengan jelas, dengan mata kepala ku sendiri dia sedang berpelukan dengan laki-laki selingkuhannya di mall," jelas Candra dengan nada agak membentak karena dia sudah tidak kuasa menahan amarahnya.


Melihat Kakaknya yang sudah di selimuti oleh amarah, Eldar mendekatkan dirinya ke Candra dan memeluk tubuh Candra dari samping, "Apa Kakak sudah memastikan jika Kakak Ipar benar-benar selingkuh?" Tanya Eldar, dan Candra menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Lalu, kenapa Kakak sudah menyimpulkan kalau Kakak Ipar selingkuh dengan laki-laki lain?" Tanya Eldar lagi yang membuat Candra berpikir.


"Aku tidak tau, El. Saat aku melihat Azila berpelukan dengan laki-laki itu, rasanya hati ku sangat sakit, El. Seperti sedang di sayat lalu di taburi garam," jelas Candra yang mulai sedih karena mengingat rasa sakit waktu itu.


"Itu namanya Kakak sedang cemburu, jaman sekarang ada sahabat cowok dan cewek yang berpelukan itu wajar kak, bahkan disini cium pipi juga wajar dalam sebuah persahabatan," jelas Eldar yang membuat hati Candra agak tenang.


"Apa aku sedang cemburu saat Istriku di sentuh orang lain?" Tanya Candra sambil merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke Eldar.


"Yups, betul, lebih tepatnya Kakak itu sedang over over over cemburu," jawab Eldar yang sekarang juga menghadap ke Candra.


"Kenapa ada overnya? Tiga kali pula," tanya Candra sambil mengerutkan dahi.


"Karena Kakak baru cemburu aja langsung terbang dengan pesawat pribadi meninggalkan Indonesia dan langsung ke Los Angeles, apalagi kalau ada masalah besar di atas cemburu, jadi enggak kebayang apa yang bakal Kakak lakuin," jawab Eldar sambil tertawa.


"Apa kamu sedang mengejek ku? Rasakan ini!" ucap Candra yang langsung menempelkan dan mengapit wajah Eldar ke ketiak Candra yang sudah hampir 1 hari belum mandi.


"Aaaarghhh, hehiak hu hau hah," teriak Eldar yang tidak jelas.


"Rasakan jurus ku ini, jurus ketiak basah 24 jam, hiyaaa!" Seru Candra yang menirukan suara anime.


"Ohhh, jadi ini tamu keluarga Safira sekaligus orang yang sudah membuat keributan di pagi ini," ucap seorang wanita yang berumur kisaran 45 tahun.


"Ehh, Tante Vidia. Maaf, Tan, udah bikin rusuh," jawab Candra yang sudah melepaskan Eldar dari jepitan ketiaknya dan berjalan menghampiri Tantenya, lalu dia menyalami tangan Tantenya dan tak lupa Candra juga mencium punggung tangan Tantenya.


"Kapan sampainya?" Tanya Tante Vidia, sembari ikut duduk di sofa lain.


"Sampai bandara jam 5 pagi tadi, Tan. Terus langsung meluncur ke sini," jawab Candra yang sudah duduk di sofa sebelumnya.


"Oh ya, mana Azila? kok tidak keliatan?" Tanya Tante Vidia.


"Azila di rumah, Tan. Dia tidak ikut, soalnya aku hanya sebentar di sini," jawab Candra yang berbohong.


"Sayang, siapa tamu kita di pagi hari ini?" Tanya Om Mada yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"Siapa lagi kalau bukan Candra Wibawa, Pa. Cuma dia yang berani mengusik pagi kita, Pa," jawab Tante Vidia.


"Ohh, keponakan ku si jagoan Candra Wibawa ternyata," balas Om Mada, dan Candra berdiri dari tempatnya dan berhambur ke pelukan Om Mada dan tak lupa ia menyalami dan mencium punggung tangan Om Mada.


Setelah Om Mada datang, mereka berempat malah asik bercanda gurau dan saling lempar pertanyaan. Jam besar yang berada di pojok paling strategis itu telah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit.


"Ayo kita sarapan dulu, koki keluarga ini sudah selesai memasak sarapan buat kita," ajak Tante Vidia ke ketiga orang yang bersamanya di ruang tamu. Candra, Eldar, Om Mada, dan juga Tante Vidia beranjak berdiri dan berjalan bersamaan menuju meja makan dan kini mereka sudah duduk di kursi masing-masing.


≈≈≈


Bunda Putri nampak membantu Azila untuk masuk ke mobil dan mereka duduk bersama di kursi belakang sedangkan Ayah Yoga duduk di kursi kemudi. Setelah semua siap, Ayah Yoga segera menjalankan mobilnya dengan perlahan dan berangsur menambah kecepatan lalu membelah kemacetan jalanan Jakarta.


Setelah hampir 1 jam setengah mereka terjebak macet, akhirnya mereka telah sampai di depan rumah sakit besar yang dimana pemilik saham terbesar di rumah sakit itu adalah Yoga Wibawa.


Azila, Bunda Putri, dan juga Ayah Yoga berjalan memasuki rumah sakit dan berhenti di tempat resepsionis.


"Selamat pagi, Tuan Yoga. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas resepsionis dengan ramah.


"Sudah, Tuan. mari saya antar," jawab petugas resepsionis, lalu Ayah Yoga mengangguk dan petugas resepsionis keluar dari tempatnya lalu memandu Ayah Yoga, Bunda Putri, dan Azila menuju ruangan Dokter Rizka.


"Ini, Tuan. ruangan Dokter Rizka," ucap petugas resepsionis yang berhenti di depan sebuah pintu.


"Terima kasih sudah mengantar kami ke sini," balas Ayah Yoga dengan senyum tipis di bibirnya.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya mohon undur diri," ucap petugas resepsionis yang di jawab anggukan Ayah Candra dan dia berjalan kembali ke tempatnya bekerja.


Tok.. tok.. tok.. suara Ayah Yoga mengetuk pintu, lalu tak berselang lama pintu itu di buka oleh Dokter wanita muda.


"Ohh , kalian sudah datang, ayo masuk,"ucap Dokter Rizka mempersilahkan mereka bertiga masuk.


"Silahkan duduk, Tuan Yoga, Nyonya Putri, Nona Azila," ucap Dokter Rizka yang mempersilahkan mereka duduk di sofa ruangan.


"Apa mau langsung di cek Nona Azila nya?" Tanya Dokter Rizka pada mereka bertiga.


"Langsung saja, Dok," jawab Bunda Putri.


"Baik, Nyonya," balas Dokter Rizka, "Mar, Nona, ikut saya ke ruang pemeriksaan," ucap Dokter Rizka dengan senyum ramah dan Azila berdiri lalu mengikuti Dokter Rizka dari belakang.


Setelah melewati pengecekan dan juga tes menggunakan test pack dan semua hasil sudah berada di tangan Dokter Rizka. Dokter Rizka keluar dari ruang pemeriksaan bersama Azila di sampingnya.


"Bagaimana Dok hasilnya?" Tanya Bunda Putri yang langsung berdiri saat Dokter Rizka dan Azila keluar dari ruang pemeriksaan.


"Selamat, Tuan dan Nyonya Wibawa. Sebentar lagi kalian berdua akan menjadi kakek dan nenek, dan usia kandungan Nona Azila sudah 6 Minggu," jawab Dokter Rizka dengan senyum lebar di wajahnya.


Mendengar ucapan Dokter Rizka, Bunda Putri dan Ayah Yoga sangat bergembira lalu mereka memeluk menantunya itu.


"Selamat, Nak. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu seperti Bunda," ucap Bunda Putri sambil melepaskan pelukannya.


Azila nampak lesu dengan senyum tipis yang sudah hampir pudar dari bibirnya. Azila tidak tau harus menunjukkan ekspresi bahagia atau sedih, karena di satu Azila sangat bahagia karena dia akan menjadi seorang ibu tapi di sisi lain Azila merasa sangat sedih karena ketidak hadiran Candra di hari ini dan Azila juga tidak tau entah dimana Candra berada sekarang.


"Zila, apa kamu tidak senang jika kamu hamil?" Tanya Bunda Putri yang melihat Azila menunduk dengan lesu.


"Ahh, a-aku tidak apa-apa, Bun. Aku tiba-tiba merasa sangat lelah dan aku sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, dan aku sangat-sangat bahagia hingga aku tak bisa mengekspresikan kebahagiaan ku, Bun," jawab Azila yang mencoba untuk menutupi kesedihannya.


"Itu wajar, Nona. Saat anda sedang hamil, anda akan merasa cepat kelelahan. Perbanyak beristirahat, jangan melakukan pekerjaan berat, dan jaga mood Nona agar tidak berpengaruh buruk ke janin, Nona," jelas Dokter Rizka.


Lalu Dokter Rizka menjelaskan semua tentang awal kehamilan dari apa yang baik buat ibu hamil sampai apa yang buruk bagi ibu hamil.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Dokter Rizka, mereka bertiga kembali ke rumah keluarga Wibawa.


Di dalam mobil.


"Bun, Yah. Zila boleh minta sesuatu tidak?" Tanya Azila.


"Boleh banget, Sayang," jawab Bunda Putri yang ada di sampingnya.


"Zila minta, tolong jangan beritahu siapapun termasuk Mamah sama Papah Zila sebelum Zila memberitahu kabar bahagia ini ke Candra," ucap Azila.


Bunda Putri dan Ayah Yoga mengangguk dan menuruti permintaan menantu mereka, mereka berpikir kalau Azila ingin memberi kejutan ke semua orang.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙