
Matahari kian menjinjing tinggi menebar sinar silaunya. Di kamar yang tertutup nan gelap, masih terbaring seorang wanita cantik sedang tidur begitu pulas dengan perut buncitnya.
Azila terbangun karena badannya terasa pegal-pegal akibat terlalu lama berbaring. Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
Beberapa menit telah berlalu, Azila sudah selesai mandi dan sudah mengganti pakaiannya. Dia mengambil ponsel barunya dan melihat jam.
"Jam sembilan? Benar saja kalau perutku terasa sakit, ternyata ada yang kelaparan di dalam sana," ucap Azila sambil mengelus-elus perutnya.
Azila mematikan dan mencarge ponselnya, lalu dia berjalan keluar mencari Kakek dan Neneknya. Seorang pelayan menghampirinya karena Azila terlihat celingak-celinguk.
"Selamat pagi, Non," sapa pelayan itu, "Apa non Azila sedang mencari Kakek, dan Nenek?" lanjut tanya pelayan itu. Azila mengangguk karena memang benar dia mencari dua manusia lanjut usia itu.
"Kakek, dan Nenek sedang di kebun belakang, Non," ucap pelayan itu, "Mari, saya antar," lanjutnya.
Azila mengernyitkan dahinya. Setahu dia yang namanya kebun pasti sangat panas dan pasti jauh dari rumah Kakek dan neneknya ini. Pelayan di depan Azila mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh cucu majikannya itu. Pelayan itu sedikit tersenyum.
"Non Azila tenang saja, kebunnya deket, kok," ucap pelayan itu, "Dan tidak panas juga, dijamin adem, dan seger udaranya," lanjutnya. Azila kembali mengernyitkan dahinya.
"Kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apa dia punya kemampuan membaca pikiran orang lain?" gumam Azila.
"Mari, Non," ucap pelayan itu. Azila mengangguk dan tersenyum.
Pelayan itu membalas senyum Azila, "Apa non Azila butuh pegangan saat jalan?" tanya pelayan itu. Azila menggeleng.
"Tidak, usah. Kandungan saya baru jalan lima bulan, saya masih kuat," jawab Azila.
"Ini, baru lima bulan?" tanya pelayan itu. Azila mengangguk.
"Lima bulan sudah sebesar, ini? Pasti non Azila punya anak kembar, ya," ucap pelayan itu. Azila tersenyum karena pelayan itu lebih seperti sahabat saat berbicara, namun lebih sopan.
"Semoga saja," balas Azila. Pelayan itu menautkan kedua alisnya.
"Kenapa semoga, Non? Apa non Azila belum SSG? Eh, apa, itu, yang di terawang perutnya pakai alat? SMG? MSG?" ucap pelayan itu kebingungan. Azila tertawa sambil memegangi perutnya.
"USG, Bik. Bukan MSG, emang micin," jawab Azila yang masih ingin tertawa namun perutnya sudah kaku. Pelayan itu menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Ah, maklum, Non. Bibik orang desa, makanya tidak tahu, itu, alat MSG. Bibik tahunya dari berita-berita di handphone. Azila kembali menahan tawanya.
"USG, Bibik. Bukan MSG, kalau MSG, itu, micin buat masak," jelas Azila. Pelayan itu kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah-sudah, ayo antar aku ke kebun belakang, bisa-bisa aku lahiran sekarang kalau terus tertawa," ucap Azila. Pelayan itu mengangguk dan mulai berjalan menuntun Azila ke kebun belakang.
Setelah melewati dapur dan kamar para pelayan, Azila sudah mulai merasakan angin yang berhembus. Pelayan tadi membuka pintu kayu seperti jeruji besi dan menyingkap kain yang menutupi pintu itu.
Mata Azila berbinar, senyumnya sumringah. Dia berjalan seperti tidak memiliki beban, matanya terus memandang kebun yang di luar pemikirannya.
Pelayan tadi kembali memegangi tangan Azila karena dia takut kalau cucu majikannya itu terjatuh. Setelah mereka berada di luar pintu, Azila semakin melebarkan senyumnya. Dia begitu amat sangat tenang dan tentram.
"Kebun yang cukup luas jika berada di belakang rumah," gumam Azila, "Plus indah," lanjutnya.
Nenek yang sedang memetik stroberi melihat kedatangan cucunya, dia segera menghampiri Azila dengan keranjang yang sudah terisi sedikit buah stroberi.
"Mau coba?" tawar Nenek sambil memberikan keranjang buahnya. Azila tersenyum.
"Dengan senang hati," jawab Azila sembari mengambil satu buah stroberi dan memasukkannya ke mulut.
Nenek tiba-tiba menahan tangan Azila sebelum stroberi itu masuk ke mulutnya, "Jangan dibiasakan makan sambil berdiri, tidak baik. Ayo, duduk dulu di kursi, itu," ucap Nenek sambil menunjuk kursi kayu di sebelah mereka berdiri. Azila mengangguk.
Setelah duduk, Azila mulai menikmati buah stroberi dengan ditemani udara sejuk seperti pegunungan dan angin yang bertiup sepoi-sepoi.
"Sejak kapan Nenek, dan Kakek punya kebun, ini?" tanya Azila.
"Ya, sudah satu tahun lebih," jawab Nenek sembari ikut memakan buah di keranjang.
"Pantesan Nenek tidak pernah mengunjungi ku, ternyata punya kesayangan, toh, di sini," ucap Azila.
"Yah, lebih baik di sini daripada di kota metropolitan yang macet, dan banyak polusi," balas Nenek, "Lagian, yang seharusnya mengunjungi, itu, yang muda, bukan yang tua," lanjut Nenek.
"He he he, kan, Azila tidak boleh keluar jauh-jauh," balas Azila.
"Alasan," bantah Nenek. Azila hanya tersenyum karena memang itu hanya alasan berkilah nya saja.
Di tempat lain, Candra baru keluar dari dalam mall setelah menemui satpam yang kemarin membantu Azila, untung saja satpam itu hari ini mendapatkan shift pagi. Jika tidak, Candra harus menunggunya sampai sore untuk bertemu satpam itu.
Dari Pak satpam, Candra di arahkan ke toko gadget tempat Azila membeli ponsel baru. Dari toko itu Candra mendapatkan nomor baru milik Azila, karena kemarin Azila membeli SIMcard sekaligus mengisi paket data di sana. Awalnya pihak toko tidak mau memberikan nomor itu ke Candra karena takut melanggar privasi, tetapi setelah ditunjukkan foto kebersamaan Candra dan Azila, pihak toko memberikan Candra nomor ponsel Azila.
Setelah keluar dari mall dan kembali ke mobil, Candra mencoba menghubungi nomor itu, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Kenapa dia tidak mengangkatnya? Apa dia tidak memegang ponselnya, ya?" batin Candra.
Candra kembali mencoba menghubungi Azila, namun masih tetap tidak di angkat oleh pemilik nomor. Candra kembali mencoba menghubungi Azila beberapa kali dan juga mengirim banyak sekali pesan ke nomor Azila, tetapi tetap nihil tidak ada jawaban.
"Apa dia pulang ke rumah Mamah, ya? Aku coba cek ke sana saja, lah. Siapa tahu dia memang pulang ke rumah mamahnya," gumam Candra.
Candra menyalakan mobilnya, dia masih belum menjalankan mobilnya, "Kalau dia di sana, pasti Papah Hendri, dan Mamah Mitha mengetahui semuanya, dan pasti juga salah paham. Apa mereka akan mengijinkan ku bertemu Azila?" batin Candra, "Tapi, jika Azila tidak ada di sana, apa yang harus ku katakan pada Mamah sama Papah," lanjutnya.
Pergulatan batin Candra membuat dia tidak karu-karuan, "Ahh, kenapa aku jadi penakut, sih!" teriak Candra sambil menggebrak setir mobilnya.
"Baiklah, apapun resiko, dan konsekuensinya, aku harus menghadapinya demi keluarga kecilku," ucap Candra. Tanpa pikir panjang, Candra menancap gas menuju rumah mertuanya.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙