
Budayakan like dulu sebelum baca ya:)
"Apa yang sudah terjadi semalam?" gumam Eldar saat sadar jika Naza tidak memakai baju dan sweater yang ia kenakan juga sudah tidak ada di tubuhnya.
Eldar membeku tak bisa bergerak karena rasa syok dan gugupnya, ada rasa tidak tega juga karena Naza sudah menggendongnya begitu jauh sampai ke hotel, tetapi hatinya masih was-was dan otaknya tidak karu-karuan dengan tanda tanya besar, kenapa Naza tidur telanjang? Dan ke mana sweaternya pergi?
Waktu terus berlalu membuat Eldar kembali tertidur di pelukan Naza dengan begitu nyaman dan lelap. Sudah satu jam setengah mereka tertidur kembali hingga jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.
Eldar kembali terbangun karena merasa sesak dan sulit bernapas, dia perlahan membuka matanya dan masih menemukan Naza yang tertidur sambil memeluknya.
"Kenapa dia tidur mulu, sih? Peluk-peluk anak orang pula," gerutu Eldar.
Pengap dan aroma kecut karena dia belum mandi sejak kemarin malam membuatnya tidak betah di pelukan Naza, otaknya yang mulai bisa berpikir sudah menemukan ide bagaimana dia bisa keluar dari dekapan laki-laki tampan yang bisa menggoda imannya jika terus di posisi itu.
Bugh ....
"Aahhhkkk ..!" Naza berteriak begitu kencang karena terkejut dan merasakan sakit di bagian kejantanannya.
Naza terbangun dan melepaskan pelukannya pada Eldar lalu memegangi Mr. P miliknya yang sakitnya tidak akan bisa dibayangkan oleh semua wanita.
"Apa yang kamu lakukan, bodoh! Apa kamu mau merusak masa depan ku!" teriak Naza sambil turun dari ranjang dan memegangi adik kecilnya yang terasa sangat nyeri.
"Salah kamu sendiri, kenapa peluk-peluk orang tanpa izin!" balas teriak Eldar.
Naza semakin geram, dia tidak bisa berpikir jernih karena terbangun dengan cara yang tidak wajar. Naza kembali naik ke ranjang dan mengunci kedua tangan Eldar ke atas.
"Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun oleh orangtuamu? Udah digendong ke sini nggak bilang terima kasih, bikin orang marah nggak minta maaf malah marah balik. Apa, sih, yang ada di otakmu?" geram Naza tepat di depan wajah Eldar.
Tiba-tiba buliran air mata mengalir dari pelupuk mata Eldar, dia jadi syok karena ini kali pertama ada orang yang memarahinya dengan membentak-bentak dan mangatai dirinya.
"Sakit," lirih Eldar dalam isakannya. Naza melepas kuncian tangannya dan membuang napas kesal lalu pergi masuk ke kamar mandi meninggalkan Eldar yang masih terisak di atas ranjang.
Di dalam kamar mandi Naza memukul-mukul tembok dengan kepalan tangannya, dia melepaskan celana pendeknya dan berdiri di bawah shower dengan air hangat yang mengguyur tubuhnya.
Naza terdiam di bawah shower yang mengguyurnya sambil memejamkan matanya dan menarik rambutnya ke belakang, dia menengadah dengan mata terpejam dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
"Kenapa aku jadi bicara kasar begitu kepadanya? Kenapa aku tidak berpikir dulu, sih! Bodoh banget," gerutu Naza meratapi kebodohannya karena membentak seorang wanita.
Naza sudah selesai mandi dan dia keluar dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya. Hening. Tak ada isakan tangis. Mata Naza membulat saat mendapati Eldar yang meringkuk di lantai sambil memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di antara tubuh dan lututnya. Naza berlari menghampiri Eldar dan berlutut di depan wanita itu, samar-samar dia mendengar Eldar masih menangis.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Naza dengan suara lemah lembut.
Namun, tidak ada jawaban dari Eldar dan terlihat Eldar semakin mengeratkan pelukannya pada kedua lututnya. Naza berdiri dan menyalakan lampu ruangan hingga tidak ada kegelapan lagi di sana, dia kembali berlutut di depan Eldar agar tinggi mereka sama.
Aroma Citrus mulai terhirup ke hidung Eldar, dia merasakan ketenangan karena dia juga menyukai aroma itu. Sudah tidak ada isakan lagi yang terdengar, Naza menjadi bingung dengan apa yang harus ia lakukan di waktu seperti ini.
"Jangan bersedih lagi, maafkan aku karena sudah membentakmu tadi ... aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku karena aku tidak bisa berpikir jernih kalau aku terbangun tiba-tiba, apalagi kamu menendang kemaluanku," ucap Naza sambil mengelus kepala Eldar dengan lembut, "Sakit tau," lanjut Naza.
"Maaf," ucap Eldar begitu lemah dan masih membenamkan wajahnya di kedua lututnya.
Naza menarik kakinya dan duduk bersila, perlahan dia mengangkat kepala Eldar dan mengarahkan wajah Eldar agar menatap wajahnya. Naza tersenyum dan mengusap pipi Eldar yang basah kuyup karena air mata.
"Jangan menangis lagi, aku tidak suka wajah cantikmu jadi seperti orang habis dipukuli," ucap Naza.
"Siapa suruh kamu membuatku menangis," sahut Eldar.
"Sungguh aku tak berniat membuatmu menangis, aku, aku hanya-"
"Diamlah, aku mengerti," potong Eldar sambil tersenyum. Naza ikut tersenyum lega dan mengeratkan pelukannya.
Kegugupan akan menjangkiti siapa saja jika dia belum tahu perasaan masing-masing, Eldar memberanikan diri dan mencoba masa bodoh dengan rasa malunya, dia memang benar-benar membutuhkan pelukan yang hangat saat ini, perlahan dia membalas pelukan Naza dan mulai menikmati kehangatan tubuh Naza yang tak terbalut benang.
Kenyamanan membuat siapa saja akan terbuai dan terbius. Eldar memejamkan matanya dan meraba dada bidang Naza, dia bisa merasakan dan mendengar detak jantung Naza yang berdetak semakin cepat, dia juga tidak bisa membohongi dirinya kalau jantungnya juga berdetak tidak kalah cepat dengan jantung Naza.
"Apa kamu gugup?" tanya Eldar sambil menengadah menatap wajah Naza.
"Ya, kamu membuatku gugup setiap saat," balas Naza.
"Kamu juga membuatku gugup setiap berada di dekatmu," ucap lirih Eldar dan masih terdengar di telinga Naza.
"Benarkah? Ku kira cuma aku yang merasakannya," balas Naza.
"Ya, awalnya aku juga mengira kalau aku sendiri yang merasakan, ini," jawab Eldar.
"Apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?" tanya Naza dengan wajah yang begitu serius.
Eldar kembali menyandarkan kepalanya di dada Naza, menghirup aroma Citrus yang menempel di kulit Naza, dia semakin mengeratkan pelukannya dan sedikit menggesekkan wajahnya di dada bidang Naza.
"Perasaan apa yang kamu maksud?" tanya balik Eldar.
Naza mengangkat dagu Eldar dan menatap begitu lekat wajah cantik di depannya itu, "Apa kamu mencintaiku?" tanya Naza dengan lembut dan serius.
Eldar memalingkan wajahnya dan membenamkan wajahnya ke dada Naza, "Entahlah, aku tidak tahu apa, itu, cinta ... aku tidak pernah jatuh cinta, dan aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta," jawab Eldar.
"Apa kamu merasakan kenyamanan saat bersamaku? Apa kamu merasa aman saat di pelukanku?" tanya Naza.
"A-aku-"
Gantung ya? Makanya tekan like dan kasih komentar yang banyak biar aku cepet up lagi.