
Karena pintu kamar mandi sudah terbuka, Kevin langsung masuk dan terhenti tepat di belakang wanita yang berjongkok dengan daster berada di atas dadanya.
Wanita di depannya berdiri dan berbalik setelah selesai dengan urusannya, "Mati aku, cobaan apalagi, ini, Tuhan," ucap Kevin dalam hati.
Aaakkhhh ..!!
Teriak Nabila dengan begitu kencangnya, sampai-sampai Azila, Candra, Papah Hendri, dan Mamah Mitha yang ada di ruang keluarga bisa mendengar teriakkan Nabila. Mereka semua yang mendengarnya langsung berlari mencari di mana Nabila berada.
Papah Hendri yang sudah berlari paling depan tiba-tiba berhenti, "Nabila, di mana?" tanya Papah Hendri sambil menoleh ke belakang.
"Di kamar, Pah. Tadi dia pamit mau ke kamarnya," jawab Azila dengan sedikit berteriak.
Setelah mendengar jawaban Azila, mereka semua berlari menuju kamar Nabila yang ada di lantai dua, tidak hanya para keluarga yang panik, para pelayan pun juga panik dan mengekori para majikannya.
Tok tok tok.
Pintu kamar Nabila di ketuk oleh Papah Hendri.
Tok tok tok.
"Sayang. Nabila. Nak, kamu kenapa? Cepat buka pintunya," teriak Mamah Mitha sambil terus mengetuk pintu kamar Nabila.
Tok tok tok.
"Nabila, buka pintunya, Nab," teriak Papah Hendri.
Mamah Mitha sudah sangat panik dan takut, dia menghadap suaminya Yang sedang mengetuk pintu dengan kerasnya, "Pah, dobrak saja," ujar Mamah Mitha sambil memegang lengan Papah Hendri.
Mendengar perkataan Mamah Mitha, Papah Hendri menganggukkan kepalanya dan menyuruh Mamah Mitha untuk menjauh dari pintu, "Mamah, awas dulu. Papah mau mendobrak pintunya."
Mamah Mitha segera melangkah mundur dan memberi ruang untuk Papah Hendri, "Yang, bantuin Papah," perintah Azila ke Candra.
Dengan sigap, Candra langsung menghampiri Papah Hendri dan membantunya, "Pah, dobrak bareng," ujar Candra dan dijawab anggukan oleh Papah Hendri.
"Hitungan ke tiga, ya," ucap Papah Hendri sambil menatap Candra, lalu Candra mengangguk.
Mereka berdua berjalan mundur beberapa langkah dari pintu, Papah Hendri mulai menghitung, "Satu, dua, tiga!"
Braaakk ..!!
Papah Hendri dan Candra sedikit berlari ke arah pintu dan berhasil membuka pintu dengan paksa, Papah Hendri langsung berlari mencari di mana Nabila berada, begitupun dengan Mamah Mitha dan Azila, mereka berdua langsung ikut masuk ke dalam dan mencari keberadaan Nabila.
Setelah semua tempat di kamar Nabila ditelusuri, mereka semua tidak menemukan batang hidung Nabila, "Kemana, ini, anak," dengus Mamah Mitha dalam kekhawatirannya.
"Jangan-jangan, dia lompat ke bawah, Mah, Pah," celetuk Azila hingga membuat mata semua orang tertuju padanya.
Mamah Mitha mendekat di mana Azila berdiri, "Kamu jangan bercanda, Zila," ucap Mamah Mitha yang mulai takut dan sedikit percaya dengan celetukan Azila.
"Ya, ya, bisa saja, Mah. Mungkin dia frustrasi gara-gara tidak direstui sama Papah, terus lompat ke bawah," ujar Azila yang cukup membuat Mamah Mitha dan lainnya percaya dengan perkataanya.
Seketika itu juga, Mamah Mitha dan yang lainnya memandang Papah Hendri, "Kenapa kalian memandang ku seperti, itu?" tanya Papah Hendri sambil sedikit membentak.
Karena merasa dirinya terpojok akan tatapan semua orang, Papah Hendri bergegas menuju balkon dan melihat ke bawah, lalu Mamah Mitha menyusul Papah Hendri untuk memastikan perkataan Azila.
Setelah sampai di balkon dan melihat ke bawah, Papah Hendri dan Mamah Mitha tidak menemukan apa-apa di bawah, "Gimana, Mah?" tanya Azila yang sudah berdiri di belakang Mamah Mitha dan Papah Hendri.
"Ekspetasi mu terlalu tinggi," ucap Mamah Mitha sembari berjalan melewati Azila.
Seorang pelayan berjalan sambil tertunduk menghampiri Mamah Mitha yang baru 3 langkah di belakang Azila, "Maaf, Nyonya, Tuan, Non. Tadi, saya lihat Non Nabila masuk ke kamar tamu di sebelah tangga," ujar pelayanan itu.
Tanpa banyak berpikir dan bertanya, Mamah Mitha, Papah Hendri, Azila, dan Candra, langsung berjalan dan sedikit berlari menuju kamar tamu yang dimaksud oleh pelayan tadi.
≈≈≈
Nabila semakin takut karena dia tidak mengenali siapa laki-laki yang mendekap dan membungkamnya dari belakang, tidak hanya itu yang menjadi alasannya terus meronta, tetapi keadaan tubuh bawahnya yang masih terpampang begitu saja tanpa penutup apapun, sedangkan dasternya sudah turun dan menutupi dadanya.
"Diamlah, Nab. Ini, aku, Kevin," bisik Kevin di dekat telinga Nabila.
Saat itu juga, Nabila mulai tenang dan tidak memberontak lagi, dia sangat mengenali suara laki-laki yang berbisik di telinganya.
Karena Nabila sudah lebih tenang dan tidak memberontak sama sekali, Kevin melepas tangannya yang membungkam Nabila, "Kenapa kamu di sini, dan kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Nabila setelah tangan Kevin tidak menutupi mulutnya lagi.
"Ya, karena aku sudah menyelesaikan tugas dari papahmu, lagian, ini, kamar tamu, kenapa kamu di sini?" jelas Kevin lalu balik bertanya.
"Aku kangen dan khawatir sama kamu, terus, saat aku mau ke kamar untuk buang air kecil, entah mengapa kakiku malah membawaku datang ke sini," jelas Nabila sambil menggerakkan tubuhnya karena dia teringat kalau belum membasuh bagian intimnya.
Kevin yang merasakan gesekan di beberapa bagian tubuhnya menjadi sedikit bernafsu, "Jangan banyak bergerak, atau adik kecilku akan bangun," ujar Kevin di dekat telinga Nabila.
"Salah kamu, aku belum selesai dengan kegiatan ku tadi malah kamu peluk," balas Nabila.
"Kenapa kamu baru bilang," balas Kevin sambil melepaskan dekapannya lalu berjalan masuk ke bathtub dan menutup tirai yang menjadi pembatas di kamar mandi itu, "Cepat kamu basuh dan ambilkan baju ku di luar," ucap Kevin dari balik tirai, "Sebaiknya kamu cepat, sebelum semua orang datang ke sini karena teriakan mu tadi," kata Kevin menambahi ucapannya barusan.
Nabila segera melakukan apa perkataan Kevin tadi, sekarang Kevin telah memakai kembali baju yang dia kenakan tadi, begitu juga dengan Nabila, dia telah memakai kembali celana dalamnya.
Kleek.
Pintu kamar tamu terbuka dan semua orang masuk ke dalam, mereka semua langsung menuju kamar mandi yang pintunya terbuka.
Mata Papah Hendri terbelalak melihat Nabila yang sedang di gendong Kevin, "Nabila kenapa?" tanya Papah Hendri dengan kekhawatiran bercampur takut.
"Tadi, Kevin mendengar Nabila berteriak, Om. Terus, Kevin langsung ke sini, dan saat Kevin sampai di sini, Nabila sudah terbaring di lantai, Om," jelas Kevin.
"Apa ada yang sakit, Sayang?" tanya Mamah Mitha sambil memegang kaki Nabila yang terbalut daster basah.
"Nabila tidak kenapa-kenapa kok, Mah. Tadi hanya terpeleset terus jatuh, untung Kevin cepat datang," jawab Nabila dengan suara lemah.
"Cepat baringkan dia ke ranjang, Papah akan panggil dokter ke sini," ucap Papah Hendri sembari merogoh ponsel dari saku jasnya.
"Jangan, Pah." Nabila melarang Papah Hendri saat mau menelpon dokter, "Nabila cuma terpeleset, Pah. Jangan berlebihan, percayalah," ucap Nabila.
Papah Hendri menoleh ke Mamah Mitha, lalu Mamah Mitha mengangguk, "Baiklah, Papah tidak memanggil dokter ke sini," ucap Papah Hendri, "Dan kamu Kevin, good job untuk hari, ini. Nanti malam, kamu ikut makan malam di sini bersama kita dan keluarga Wibawa," ucap Papah Hendri dengan senyum di bibirnya.
"Dengan senang hati, Om," jawab Kevin sambil menundukkan kepalanya.
"Mulai sekarang, kamu harus memanggil ku 'Papah' jangan 'Om' lagi," balas Papah Hendri sembari pergi meninggalkan kamar tamu, lalu di susul Mamah Mitha dan semua pelayan yang sejak tadi mengekori para majikannya.
Mata Kevin dan Nabila seketika bertemu, keduanya bertatapan dengan senyum bahagia yang tidak bisa mereka bendung lagi.
"Keren parah," ucap Candra sambil menepuk pundak Kevin.
"Selamat, anda sudah mendapatkan restu, Tuan, Nona," ucap Azila pada Kevin dan Nabila.
"Terima kasih," balas Kevin.
Candra dan Azila pergi meninggalkan Kevin dan Nabila yang masih diserang kebahagiaan tiada tara.
"Ini, rahasia kita berdua sayang," ucap Kevin lalu mengecup kening Nabila.
"Baik, suamiku," jawab Nabila sambil mengangkat kepalanya dan mencium pipi Kevin.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙