My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Lupa



Setelah selesai makan, Candra mengajak Azila untuk mandi berdua, dengan sedikit rasa malu sekaligus takut kalau Candra meminta jatah lagi, Azila menerima ajakan Candra.


Mereka berdua mulai masuk ke kamar mandi dan melakukan aktivitas mandi pada umumnya, namun ada aktivitas tambahan di mana mereka saling memandikan satu sama lain.


Beberapa menit sudah Candra dan Azila membersihkan tubuh mereka. Kini mereka berdua sudah memakai pakaian rapi karena malam ini juga mereka akan kembali ke Jakarta, mengingat besok adalah hari pernikahan Kevin dan Nabila.


Candra sudah siap dengan kopernya dan dia melihat Azila dengan wajah heran.


"Apa kamu membawa barang sebanyak, itu, kemarin?" tanya Candra. Azila mengangguk sambil tersenyum dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Kenapa nggak sama lemarinya juga kamu bawa pergi," gerutu Candra. Azila hanya bisa tersenyum mendengar Candra menggerutu.


"Sini," ucap Candra sambil meraih dua koper besar yang sudah Azila kemas.


"Kopermu?" tanya Azila sambil melirik koper Candra.


Tanpa menjawab, Candra mengangkat kopernya dan menaruhnya di atas koper Azila, "Beres," ucap Candra sembari menarik kedua koper Azila.


"Candra! Kenapa aku ditinggal," teriak Azila sambil berjalan menyusul Candra yang sudah ada di luar kamar.


"Apa kamu juga ingin aku seret seperti koper?" tanya Candra.


"Emang kamu tega?" tanya balik Azila.


"Kalau kamu mau ... kenapa tidak," jawab Candra sambil tertawa.


"Jahat banget sama istri sendiri," gerutu Azila. Candra terkekeh mendengar Azila menggerutu.


"Ayo cepat jalan! Kita harus ke Bandara sekarang," ucap Candra sembari melanjutkan langkahnya.


"Isshh ..! Bikin emosi aja sukanya," gerutu Azila sembari berjalan menyusul Candra, "Untung ganteng, kalau nggak! Udah ku cakar-cakar wajahmu," lanjut Azila.


Candra dan Azila menghampiri Kakek dan Nenek yang sedang duduk santai sambil menonton sinetron televisi.


"Kek, Nek, Candra sama Azila mau balik ke Jakarta sekarang," ucap Candra yang berdiri di samping sofa membuat fokus Kakek dan Nenek beralih padanya dan Azila.


"Kenapa tidak menginap dulu? Makan malam juga sudah hampir jadi di dapur," ucap Nenek.


"Besok, kan, acara pernikahannya Nabila, Nek," ucap Azila.


"Loh, bukannya masih Minggu depan?" tanya Kakek.


"Besok, Kakek," jawab Azila gemas.


"Kenapa diajuin? Mereka sudah kebelet, ya?" tanya Kakek. Candra menahan tawanya, sedangkan Azila merasa pusing untuk menjelaskan ke kakeknya yang sudah mulai suka ngaco.


"Tidak ada yang ngajuin, Kek. Memang dari dulu emang besok hari pernikahannya," jawab Azila.


"Iya-iya, Kakek sudah tahu kalau besok acara pernikahannya Nabila, jangan emosi gitu dong jawabnya," balas Kakek sembari kembali fokus ke layar televisi.


"Kalau sudah tahu, kenapa tadi bilang kalau Minggu depan," balas Azila.


"Siapa yang bilang, jangan suka menuduh," balas Kakek.


"Bodo amat!" ucap Azila sambil membuang mukanya.


"Bikin emosi aja," gerutu Azila yang terdengar oleh Candra.


Nenek dan Candra menahan tawa mereka saat melihat perdebatan Azila dan Kakek.


"Kamu juga!" ucap Azila sambil mencubit perut Candra.


"Auuhhh ... sakit, Yang," keluh sakit Candra.


"Aku tak peduli," balas ketus Azila. Candra hanya bisa menggeleng sambil tersenyum dan mengusap bekas cubitan Azila di perutnya.


"Sudah-sudah," lerai Nenek, "Kalian balik naik apa?" tanya Nenek.


"Pesawat milik keluarga Candra, Nek," jawab Candra.


"Kalau begitu, Nenek sama Kakek ikut kalian, ya," ucap Nenek.


Nenek dan Kakek beranjak ke kamar mereka dan mengemas beberapa pakaian mereka ke dalam satu koper berukuran sedang. Setelah itu Nenek menyuruh para pelayan untuk membawa pulang masakan makan malam untuk keluarga mereka.


Kini Candra, Azila, Kakek, dan Nenek sudah sampai di Jakarta. Mereka berempat dijemput dua mobil, Candra meminta pak supir untuk pindah ke mobil satunya karena Candra ingin pergi berdua dulu dengan Azila.


Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mobil Candra dan mobil Kakek berpisah arah, mobil Kakek langsung menunju ke hotel yang sudah dibooking oleh Papah Hendri dan Mamah Mitha untuk keluarga besar, hotel itu dekat dengan pantai yang digunakan untuk pernikahan Kevin dan Nabila.


Mobil Candra melaju menyusuri jalanan kota yang sudah mulai sepi karena sudah menjelang tengah malam. Candra sedang menuruti permintaan Azila yang menginginkan jagung bakar, setelah satu jam berkeliling menyusuri jalanan kota, akhirnya Candra menemukan penjual jagung bakar, dia berhenti dan memarkirkan mobilnya.


"Mau ikut turun atau nunggu di mobil?" tanya Candra sambil melepas seat belt.


"Ikut," jawab Azila dengan manja. Candra tersenyum dan melepaskan seat belt Azila, lalu dia turun dan membukakan pintu untuk Azila.


"Makasih," ucap Azila setelah turun dari mobil.


Candra menggenggam tangan Azila dan berjalan bersama membeli jagung bakar. Karena Azila menginginkan jagung bakar yang baru matang dan masih panas, akhirnya mereka menunggu sedikit lama karena mereka juga harus antre.


Setelah 15 menit menunggu, akhirnya jagung pesanan mereka sudah matang. Azila tidak mau kembali ke mobil karena dia ingin menikmati jagung bakarnya di sana, dia ingin menikmati jagung bakar sambil merasakan kehangatan bara api tempat membakar jagung. Candra hanya bisa menuruti kemauan istrinya jika itu bisa membuat garis senyum di bibir Azila terlihat.


Lebih dari setengah jam Candra dan Azila menikmati jagung bakar di sana. Bukan karena lama saat makan, tetapi Azila selalu meminta lagi saat jagungnya sudah habis. Jadi, Candra harus sedikit bersabar karena Azila meminta yang baru turun dari panggangan.


"Sudah, ya, Yang. Kamu sudah habis tiga, loh," ucap Candra.


"Satu lagi," ucap Azila dengan manja.


"Besok aja lagi, sekarang udah larut, dan kamu harus istirahat," ucap Candra.


"Yang, satu lagi," ucap Azila dengan manja, "Please, ya, ya, ya,"rengek Azila.


Candra menarik napas dan membuangnya kasar, "Satu aja, ya? Habis, itu, pulang terus istirahat," ucap Candra.


"Oke!" balas Azila dengan semangat dan wajah bahagia.


Pada akhirnya Candra menuruti kemauan Azila dan membelikan Azila satu jagung bakar lagi. Bukan karena harganya yang membuat Candra dengan terpaksa membelikan Azila jagung bakar, tetapi saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lebih.


Setelah mendapatkan jagung terakhirnya, Azila tak memakannya langsung di sana, dia membawa jagung itu ke kursi umum yang tidak jauh dari tempatnya.


"Hei, mau ke mana?" tanya Candra. Azila hanya diam dan melanjutkan langkahnya menuju kursi umum.


Candra hanya diam di tempat melihat istrinya menaruh jagung itu di samping kepala anak kecil yang usianya kisaran tujuh tahun, anak itu tertidur sendirian di sana, saat ada rasa hangat yang menjalar di samping telinganya.


"Maaf sudah membuat mu bangun," ucap Azila dengan begitu lembut.


Anak kecil itu terlihat bingung karena baru bangun dari tidurnya.


"Tante punya jagung bakar, dimakan, ya," ucap Azila sambil mengusap pipi anak itu dan pergi meninggalkannya.


"Sudah?" tanya Candra sambil melingkarkan tangannya di pinggang Azila. Azila tersenyum dan mengangguk.


"Ayo," ucap Candra sambil membukakan pintu untuk Azila.


Saat Azila ingin naik ke mobil, bajunya ditarik pelan oleh anak kecil tadi.


"Hai, ada apa?" tanya Azila saat mendapati anak itu.


"Te-terima kasih," ucap anak itu.


"Sama-sama," jawab Azila dengan senyum teduh.


"Adik, Tante sudah mau pulang, dia harus istirahat karena sedang ada adek bayi di sini," ucap Candra sambil mengelus perut Azila.


Anak kecil itu mengangguk lalu mengelus perut Azila sebelum beranjak pergi. Azila dan Candra masuk ke mobil dan Candra mulai melajukan mobilnya.


"Aku sudah tidak sabar melihat anak kita," ucap Candra dengan satu tangan yang menggenggam tangan Azila.


"Aku lupa memberi mu sesuatu," ucap Azila. Candra mengerutkan dahinya.


Jangan lupa tekan jempolnya sampai berubah jadi merah ya, vote juga, kalau kalian lagi banyak rezeki, boleh juga kasih tip koin, hehe😅