
Mobil Porsche Macan 2.0 berwarna abu-abu berhenti di depan sebuah cafe bertema klasik. Dua orang turun dari mobil itu, mereka berdua berjalan masuk dengan sang laki-laki yang berjalan di belakang wanita.
"Pilih duduk di mana? Aku ikut kamu aja," tanya wanita itu.
"Terserah," jawab si laki-laki dengan nada datar.
"Ya sudah, kita duduk di sana saja," balas si wanita sambil menunjuk tempat duduk di pojok cafe.
Laki-laki itu hanya mengangguk dan mengikuti si wanita yang sudah berjalan duluan. Setelah mereka berdua duduk, si wanita mengangkat tangan dan melambai ke pelayan cafe di sana. Pelayan cafe pun datang menghampiri meja mereka berdua.
"Iya, mau pesan apa?" tanya pelayan cafe setelah sampai di samping meja. Pelayan itu menyodorkan buku menu cafe ke kedua tamunya.
"Aku mau ice caramel macchiato, fried potato, sama grilled sausage," ucap wanita itu sambil memberikan buku menu ke pelayan.
"Mas nya?" tanya pelayan.
"Hot Chocolate mix latte," jawab laki-laki itu sembari mengembalikan buku menu.
"Ada yang mau ditambah?" tanya pelayan itu lagi.
Sang laki-laki menggelengkan kepalanya dan sang wanita juga ikut menggelengkan kepalanya. Setelah mendapatkan jawaban dari tamunya, pelayan itu undur diri untuk menyiapkan pesanan dari tamunya.
Kedua tamu itu adalah Candra Wibawa dan Amanda Mardiana.
Kedatangan mereka berdua membuat beberapa pengunjung cafe mencuri pandang wajah tampan Candra, mereka berpikir kalau Candra dan Amanda adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar, pasalnya sejak dari pintu masuk sampai duduk, Candra hanya cuek dan lebih mengurus dirinya sendiri.
"Kita mulai sekarang?" tanya Amanda.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Candra.
"Oke," balas Amanda.
Amanda memberikan map yang berisi surat kontrak kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan Candra. Candra membuka map itu dan mulai menjelaskan bagian-bagian yang ditunjukkan oleh Amanda.
Tak berselang lama, seorang pelayan membawa minuman dan camilan pesanan mereka, setelah pelayan itu meletakkan pesanan Candra dan Amanda, dia lekas undur diri. Candra melanjutkan penjelasannya hingga kurang lebih empat puluh lima menit Candra menjelaskan bagian-bagian yang belum Amanda mengerti.
Di lain tempat, Azila begitu bahagia karena sejak pagi dia mendapatkan tendangan kecil dari calon anaknya, sangking senangnya, dia sampai lupa kalau suaminya belum memberi kabar kepadanya hari ini.
Azila terus mengelus lembut pelan perutnya, dan tendangan kecil menjadi balasan dari malaikat kecil di dalam perutnya.
"Sayang, apa kamu akan terus menendang Mama?" ucap Azila.
"Eh, kenapa kamu menendang Mama lagi?" tanya Azila sambil mengelus perutnya.
"Kamu kenapa, Nak? Bunda perhatikan dari tadi, kamu senyam-senyum terus, apa ada yang lucu di sini?" tanya Bunda Putri yang baru datang dan berdiri di samping Azila.
"Bunda," ucap Azila karena sedikit terkejut dengan kehadiran bundanya. Bunda Putri tersenyum melihat reaksi Azila.
"Ini, Bun. Dedek bayinya terus nendang-nendang perut mamanya," ucap Azila sambil mengelus perutnya.
Bunda Putri duduk di samping Azila, "Apa kamu mau jadi pemain sepak bola? Iya? Cepatlah keluar dari perut mamamu, nanti Nenek ajarin main bola," ucap Bunda Putri sambil mengelus-elus perut besar menantunya.
"Dedek tidak mau, Nek. Dedek masih betah di perut Mama," ucap Azila sambil menirukan suara anak kecil.
"Kalau begitu, tendangi saja perut mamamu, ini," ucap Bunda Putri.
Dari arah dalam rumah, Ayah Yoga melihat istri dan menantunya tertawa bahagia. Entah apa yang sedang mereka tertawakan, pikir Ayah Yoga.
Karena penasaran, Ayah Yoga mengurungkan niatnya untuk ke kamar dan berjalan menghampiri Azila dan Bunda Putri di halaman belakang.
Ayah Yoga memang sudah lepas dari pekerjaannya di kantor, dia sudah melepaskan semuanya ke Candra. Sekarang dia lebih aktif di dunia olahraga, mulai dari joging, renang, tenis, golf, memanah, dan masih banyak lagi.
Laki-laki paruh baya itu sudah sangat tidak sabar untuk menantikan kelahiran cucu pertamanya, bahkan dia sudah membuatkan kamar khusus untuk bayi kecil yang belum lahir itu, walaupun jenis kelamin calon cucunya masih belum diketahui.
"Ada apa, ini? Kenapa kalian tertawa begitu bahagia tanpa mengajakku," ucap Ayah Yoga yang sedikit mengagetkan kedua wanita di sana.
"Bunda tadi juga gitu datengnya," sahut Azila sambil tersenyum, "Ngagetin," lanjut Azila.
Ayah Yoga tersenyum sambil menutup mulutnya, sedangkan Bunda Putri hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah-sudah, Ayah jangan mengganggu, kita sedang bicara sama Dedek bayi," ucap Bunda Putri.
"Apa Ayah tidak diajak? Ayah, kan, juga mau ngobrol sama cucu Ayah," tanya Ayah Yoga.
"Lebih baik, nih, ya, Ayah bawakan kita minuman, dan buah-buahan untuk kita," ucap Bunda Putri.
"Apa setelah, itu, Ayah boleh ikut bicara sama cucu Ayah?" tanya Ayah Yoga sambil alis kanannya yang terangkat.
"Mungkin," jawab Bunda Putri sembari mengalihkan pandangannya ke perut Azila.
"Kok–" ucap Ayah Yoga tertahan.
Ting ting tung ting tung, tung, tung,
Ponsel Azila berdering dan membuat Ayah Yoga menghentikan ucapannya. Azila mengambil benda pipihnya lalu mendekatkan ke telinganya.
"Halo, Mah !" sapa Azila ke orang yang menelponnya, "Ada apa?" tanya Azila.
"Nanti siang Mamah, sama Papah, dan juga Yasa, mau ke rumah mertuamu," jawab Mamah Mitha.
"Oke, Mah. Nanti Zila kabari Ayah sama Bunda," balas Azila.
"Oke," balas Mamah Mitha, "Apa kamu mau titip sesuatu? Biar Mamah bawakan nanti," tanya Mamah Mitha.
"Em, bawakan sempol yang di dekat pom bensin deket komplek kita, Mah. Zila udah lama nggak makan sempol, itu, lagi," jawab Azila.
"Baiklah, nanti Mamah bawakan yang banyak, khusus buat bumil satu, ini," balas Mamah Mitha.
"Siap, Zila sangat menunggu kedatangan, Mamah," balas Azila.
Setelah itu, sambungan telepon berakhir. Dua manusia paruh baya yang sejak tadi diam, kini mulai bersuara.
"Mamah Mitha?" tanya Bunda Putri. Azila mengangguk.
"Mau ke sini?" tanya Ayah Yoga. Azila mengangguk lagi.
"Papahmu?" tanya Ayah Yoga lagi, dan Azila mengangguk lagi.
"Sepertinya kita harus membuat persiapan untuk menyambut tamu kehormatan kita," ucap Ayah Yoga sambil menoleh ke Bunda Putri, dan Bunda Putri menjawab dengan anggukan.
"Sebaiknya kamu suruh suamimu pulang, dan ikut menyambut kedatangan mertuanya !" perintah Ayah Yoga. Azila kembali mengangguk.
"Kenapa kalian dari tadi hanya mengangguk, apa seberat, itu, kah, menjawab dengan perkataan?" ucap Ayah Yoga yang merasa gemas dengan tingkah istri dan menantunya.
Sejenak Azila dan Bunda Putri saling pandang, setelah sekian detik, mereka berdua tertawa karena merasa tingkah Ayah Yoga lucu di mata mereka berdua.
"Baiklah, Yah. Zila suruh Candra pulang dulu," ucap Azila setelah selesai tertawa.
"Sekarang, ayo kita persiapkan penyambutan besan kita," ajak Bunda Putri sambil berdiri dan menggandeng Ayah Yoga pergi masuk ke dalam rumah.
Setelah kedua mertuanya masuk, Azila mengecek ponselnya, namun dia tidak menemukan chat ataupun panggilan tak terjawab dari Candra.
"Tumben, tidak biasanya dia tidak memberi kabar, apa dia masih meeting, ya?" gumam Azila, "Ah, sudahlah, mungkin dia masih sibuk, kirim pesan saja," lanjut Azila.
Azila mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya ke kontak Candra, lalu dia beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙