
Nabila masih mematung di depan pintu kamar dengan tangan terangkat seperti Maneki neko, keringat sebesar biji jagung sudah menghiasi dahi Nabila, bibir bawah yang sesekali ia gigit karena kebimbangan yang begitu dalam.
Klek....
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Nabila yang terkejut langsung menurunkan tangannya, Azila yang baru saja membuka pintu langsung terperanjat karena kaget, dia kaget karena tiba-tiba ada orang di depan pintu kamarnya dengan wajah pucat.
"Ya, Tuhan!" sebut Azila yang terkejut sampai termundur beberapa langkah karena melihat wajah seseorang yang pucat.
"Nabila!" panggil Azila yang baru mengenali kalau orang itu adalah Nabila.
"Se-sejak kapan kamu di sini? Dan, kenapa wajahmu jadi pucat seperti itu?" Tanya Azila yang masih ada rasa terkejutnya, namun Nabila hanya diam tidak menjawab.
"Ada apa, Sayang?" tanya Candra yang baru datang di belakang Azila sambil melingkarkan tangannya di pinggang Azila.
Azila mengarahkan bola matanya ke arah Nabila, Candra yang mengerti isyarat Azila, dia lekas mengikuti kemana arah bola mata Azila, setelah mendapati Nabila yang bengong, Candra mendekatkan bibirnya ke telinga Azila sambil menutupi bibirnya dengan tangan.
"Sayang, sepertinya dia mendengar jeritan mu tadi," bisik Candra.
Azila sempat tertegun saat Candra berbisik, bibir Azila yang semula datar dan sedikit terbuka, kini berubah ekspresi menjadi melengkung ke atas.
"Nab, sadar," ucap Azila yang kini telah memegang kedua pundak Nabila dan menggoyangkannya maju mundur, setelah beberapa goyangan, akhirnya Nabila tersadar juga.
"Ahh, iya. Apa? Kamu bicara apa, tadi?" jawab Nabila yang gelagapan karena terkejut.
"Hi hi hi," tawa Azila yang melihat tingkah Nabila. "Kamu kesini mau ngapain?" lanjut tanya Azila.
"Ahh, iya. Aku disuruh Mamah buat manggil kamu," jawab Nabila yang masih kacau karena perasaan yang campur aduk.
"Baiklah, ayo, kita turun," jawab Azila sambil menarik Nabila untuk berjalan.
"Ahh, iya-iya, ayo," balas Nabila.
Azila dan Nabila berjalan berdampingan sambil Azila melingkarkan tangannya di pinggang Nabila. Sedangkan Candra, dia berjalan dengan jarak beberapa langkah dari Azila dan Nabila.
"Nab, aku tahu, kamu sedaang mikirin teriakan ku tadi ya," tebak Azila yang tepat sasaran.
"Lagian, kamu pagi-pagi udah main kayak gitu, teriakan mu kencang pula, bikin aku zinah telinga aja," jelas Nabila yang sudah bisa mengontrol rasa tegangnya.
"Dasar, otak mesum," ucap Azila sambil menonyor kepala Nabila.
"Mesum apanya, jelas-jelas aku dengar desahan mu yang sangat menikmati, dulu aja bilangnya musuh, sekarang malah saling menikmati," ujar Nabila sambil menatap Azila.
"Karena kita udah saling jatuh cinta, Nabila ku sayang," balas Azila sambil mencubit pipi Nabila. "Suara yang tadi kamu dengar, itu bukan desahan, tapi arahan, tadi aku nyuruh Candra buat mindahin sofa," lanjut Azila.
"Mindahin sofa apa main di sofa, hayo?" goda Nabila sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Kalau nggak percaya, noh, tanya sendiri ke Candra," balas Azila sambil mengarahkan bola matanya untuk melirik Candra.
"Iya-iya, aku percaya," jawab Nabila yang mencoba percaya pada saudara angkatnya. "Aku punya kejutan buat kalian berdua, dan kalian berdua pasti terkejut saat melihatnya," lanjut Nabila sambil melihat Azila lalu menoleh ke Candra.
"Jika kami tidak terkejut?" sahut Azila.
"Itu tidak mungkin," balas Nabila sambil tersenyum penuh teka-teki.
≈≈≈
Mereka bertiga telah turun dari anak tangga. sekilas, Candra dan Azila tidak tahu siapa laki-laki yang sedang menyalami Mamah Mitha dan Papah Hendri.
"Apa kejutan mu berupa sesosok laki-laki itu?" tanya Azila sambil menunjuk ke arah laki-laki yang ada di dekat Papah Hendri.
"Bukan cuma itu saja," jawab Nabila yang membuat Azila menyatukan kedua alisnya.
Sejenak Azila dan Candra memandangi siapa laki-laki itu, hingga senyum lebar tergambar di bibir Candra, sedangkan Azila hanya masih tertegun dan tidak percaya setelah melihat laki-laki itu.
"Kevin!" seru Candra sembari berlari menghampiri Kevin, begitupun dengan Kevin yang langsung berlari menghampiri Candra.
"Apa kamu pacaran sama laki-laki yang ikut di acara tunangan ku dengan Candra?" tanya Azila yang masih tak percaya. Nabila menjawab pertanyaan Azila dengan anggukan dan senyum manis di bibirnya.
"Wah, gila sih, ini. Kalian gercep banget," lontaran kata yang keluar dari mulut Azila. "Atau, jangan-jangan, kamu udah ngebet pengen di manjain laki-laki, ya," goda Azila dengan senyum jahil di bibirnya.
"Otak, pagi-pagi jangan gila dulu, mana ada aku nerima laki-laki gara-gara nafsu, ini aja pacar pertamaku," jawab Nabila sambil menepuk jidat Azila.
"Sakit bodoh," balas Azila sambil menampar pantat Nabila dan mengelus jidatnya.
"Panas bodoh," balas Nabila sambil mengelus pantatnya.
≈≈≈
"Hei, Bro," sapa Kevin sembari berpelukan dengan Candra.
"Hei juga, Sob," balas sapa Candra dalam pelukannya dengan Kevin. "Lo, pacaran sama Adik Ipar gue?" lanjut tanya Candra.
"Kalau bisa, Gue juga bakal jadi adik ipar Lo nantinya, he he he," jawab Kevin dengan tawanya.
"Reuninya udah dulu, sekarang semuanya duduk," perintah Papah Hendri.
"Hati-hati kalau ngomong sama calon Mertua, bisa nggak direstui Lo nanti," bisik Candra.
"Tenang, Bro. Gue udah belajar tadi malem," balas Kevin.
Mereka semua lekas duduk di tempat masing-masing, sedangkan Kevin memilih duduk di samping Candra karena dia belum memiliki tempat sendiri di keluarga Yudistira.
Awalnya, mereka yang ada di meja makan hanya sarapan biasa, tanpa perbincangan apapun. Namun, di tengah sarapan mereka, Papah Hendri mulai menanyai Kevin, memang saat itu Kevin dan Nabila adalah topik utama di acara sarapan pagi mereka.
"Kevin," panggil Papah Hendri.
"Iya, Om," jawab Kevin sembari menoleh ke arah Papah Hendri dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
"Apa kamu pacarnya Nabila?" tanya Papah Hendri sambil menoleh ke Nabila lalu menatap Kevin.
"Iya, Om," jawab Kevin.
"Kenapa kamu memacari anak, Om?" tanya Papah Hendri dengan tatapan fokus ke Kevin.
"Ka-ka-karena saya cinta Nabila, Om," jawab Kevin yang gelagapan karena tatapan Papah Hendri.
"Pah, Papah tanyanya kok gitu?" sahut Nabila yang kasihan melihat Kevin gelagapan.
"Kenapa?" tanya Papah Hendri sambil menatap ke arah Nabila.
"Lanjut aja, Pah, lanjut, nggak apa-apa, kok," jawab Nabila yang takut kalau salah menjawab.
Melihat tingkah Nabila dan Kevin, Azila menahan tawanya karena merasa lucu, begitupun dengan Mamah Mitha dan Yasa. Sedangkan Candra hanya diam dan membatin di hatinya, "Untuung, aku dijodohin, kalau enggak, nasib ku pasti tidak jauh beda sama Kevin."
"Nabila, Kevin. Papah tidak merestui hubungan kalian berdua!" ucap Papah Hendri dengan tegasnya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙