My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Apa yang sudah terjadi



Naza sudah sampai di depan hotel dengan Eldar yang masih tertidur pulas dan yang pasti tangannya sudah berhenti merangsang laki-laki yang menggendongnya. Naza bingung mau membawa Eldar ke mana karena dia tidak tahu di lantai berapa dan nomor berapa kamar hotel Eldar. Tak mau ambil pusing mau menaruh tubuh wanita cantik itu di mana, dia bergegas membawa Eldar ke kamar hotelnya.


Sesampainya di kamarnya, Naza segera membaringkan Eldar ke ranjangnya dan dia segera berlari masuk ke kamar mandi karena adik kecilnya sudah meronta-ronta di balik celananya akibat menahan rasa ingin buang air kecil.


Setelah beberapa menit berkutat di kamar mandi, akhirnya Naza keluar dari sana dengan balutan handuk kecil yang terlilit di pinggangnya. Rambut basah, tetesan air yang masih mengalir melewati dada bidangnya, aroma Citrus yang memikat, badan atletis, sungguh pemandangan yang begitu memikat untuk setiap wanita.


Naza berjalan menghampiri Eldar yang masih pulas dan dia mulai duduk berjongkok di samping ranjang, matanya tak lepas dari wajah putih mulus milik seorang wanita yang terpaut enam tahun di bawahnya. Naza tak bisa berbohong jika dia mengagumi wajah cantik di depannya ini, tangannya mengusap lembut pipi Eldar dan menyingkap anak surai rambut Eldar.


"Kenapa kamu memberantakan hatiku? Kenapa kamu selalu membuatku tertarik padamu? Kenapa hatiku menjadi bimbang saat berada di dekatmu? Kenapa aku tertarik padamu yang menyebalkan, ini?" ucap Naza.


Setelah puas memandangi wajah Eldar, Naza berdiri dan beranjak ke kopernya, Naza mengganti pakaiannya dan ikut berbaring di samping Eldar. Saat dia baru saja terpejam dan akan melayang ke dunia mimpi, dia tersentak dan terbangun kembali karena Eldar sudah berpindah posisi tidur.


"Kenapa cobaan terus datang, Tuhan?" keluh Naza.


Eldar masih terlelap dalam dunia mimpi, kepalanya sudah berpindah ke dada Naza, kakinya melingkar melewati dan menindih adik kecil Naza, tak lupa tangan tidak punya akhlak miliknya sudah bergerilya di dada Naza.


"Tuhan, kuatkan lah imanku, jangan sampai aku khilaf, dan melepas keperjakaanku sebelum menikah dengannya," ucap Naza berdoa, "Eh? Kok menikah dengannya? Kenapa aku jadi berharap sama wanita nakal, dan nggak ada akhlak, ini, sih? Kacau-kacau," lanjutnya menggerutu.


Naza menggeser kaki Eldar agar adik kecilnya tidak tegang sepanjang malam, lalu dia menggenggam tangan Eldar yang membuat bulu kuduknya berdiri.


"Udah, ya ... jangan banyak gerak, nanti bahaya," ucap Naza sembari mulai memejamkan matanya lagi.


Pagi telah tiba menyapa dunia yang sudah tua, mentari tersenyum membangunkan kehidupan dan mengingatkan pada manusia jika Tuhan masih memberkahi mereka. Pagi ini Azila dan Candra bangun lebih awal karena mereka ingin berduaan menikmati pantai.


Para pedagang sudah mulai membuka kedai mereka, para turis yang menginap di hotel dekat pantai juga sudah berhamburan menikmati udara pagi pantai. Panas matahari tidak begitu terik karena masih jam setengah delapan pagi, tidak ada aktivitas lain selain orang yang berjalan-jalan sambil berfoto dengan background pantai.


Candra dan Azila duduk di tepi pantai berpasir putih dengan santai, "Yang, apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Candra. Azila menoleh menatap bingung wajah Candra.


"Ingat? Ingat apa?" tanya balik Azila.


Candra memalingkan wajahnya menatap pantai, "Sekitar setengah tahun lalu, kita saling mengungkapkan perasaan kita ... dan lucunya, kala, itu, kita melakukan malam pertama di siang bolong di alam terbuka, dan di bawah pohon kelapa pula," ucap Candra.


Azila merasa geli dan malu saat mengingat waktu itu, tetapi dia juga bahagia karena dari situlah awal kebahagiaannya tercipta sampai sekarang. Azila menyandarkan kepalanya di bahu Candra dan melingkarkan tangannya di pinggang Candra.


"Begitulah kelakuanmu, tidak ada romantis-romantisnya sama sekali," balas Azila.


"Apa kamu tidak ngaca? Kamu lebih tidak romantis, dan lebih kejam saat, itu," balas Candra, "Kamu membuat tubuhku seperti mati rasa hanya untuk mendengarkan jawaban yang pasti seorang istri lakukan," lanjut Candra.


"Siapa suruh kamu jadi pencemburu," balas Azila, "Lagian, kamu juga sangat jahat, sudah tahu kalau, itu, pertama kalinya, tapi kamu malah main kasar sampai aku nggak bisa jalan," lanjut Azila.


"Itu karena pesona mu yang membius ku sampai hilang kendali, dan lupa daratan, Sayang," ucap Candra sambil mencubit gemas pipi Azila.


"Pasti, tanpa kamu minta pun, aku selalu bersyukur," sahut Candra.


Candra dan Azila menikmati pagi mereka ditemani view pantai dan kemesraan-kemesraan yang mereka umbar tanpa mempedulikan orang di sekitar mereka berdua.


Di lain tempat yang tidak gelap namun tidak terang juga, sinar matahari sudah menembus gorden berlapis kamar itu, tidak begitu terang namun masih jelas untuk melihat dunia nyata. Kamar yang menjadi saksi kemesraan dua insan tanpa adanya tali hubungan.


Terlihat dua manusia lawan jenis masih tertidur dengan posisi romantis seperti pasutri yang masih anget-angetnya, saling peluk dan ada rasa tak ingin melepaskan satu sama lain. Siapa lagi mereka jika bukan Naza Lewis dan Eldar Safira, sepasang manusia yang tidak sadar dengan perasaannya masing-masing.


Hari sudah beranjak siang, jam juga sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Eldar mulai membuka matanya dan melihat dunia sekitar yang asing untuk pikirannya.


"Di mana aku? Apa, ini, di hotel?" gumam Eldar sambil mengamati sekitar.


Eldar membulatkan matanya saat mendapati dirinya sedang tidur dengan seorang laki-laki sambil berpelukan.


"Aaakkhhh ..!" teriak Eldar hingga memekakkan telinga Naza.


Naza yang terkejut langsung terbangun dan bangkit menindih tubuh Eldar, "Diam!" bentak Naza dengan wajah marahnya.


Eldar diam seketika dan tidak bergerak sama sekali, tubuhnya membeku dan mulutnya seperti rapat tak ada celah hingga tak ada sepatah katapun yang bisa keluar dari sana.


Tatapan Naza dan Eldar bertemu begitu dalam di keheningan yang baru tercipta. Mata Eldar menampakkan ketakutannya dan mata Naza menampakkan kemarahan karena tidurnya terganggu.


Suasana itu benar-benar cukup untuk membuat detak jantung keduanya terdengar saling berlomba siapa yang paling cepat. Tangan Eldar menahan tubuh Naza agar tidak begitu dekat dengannya, tangan itu bisa merasakan detak jantung Naza yang begitu cepat.


"Kenapa jantungnya berdetak dengan cepat? Apa dia marah gara-gara aku mengganggu tidurnya? Tapi, aku, kan, hanya reflek gara-gara terkejut," ucap Eldar dalam hatinya.


Wajah Naza mulai mendekat, dia masih belum sadar seutuhnya dari tidurnya. Tangan Eldar tiba-tiba tidak memiliki tenaga untuk menahan tubuh Naza yang semakin menempel ke tubuhnya. Sekarang tubuh Naza sudah menindih tubuh Eldar, hanya wajah mereka saja yang memiliki jarak.


Cupp ....


Kecupan lembut mendarat di bibir Eldar, "Jangan berisik, aku masih mengantuk, dan capek gara-gara menggendongmu tadi malam," lirih Naza.


Eldar menelan ludahnya dengan susah payah, dia begitu syok karena Naza mengecup bibirnya, tubuh dan mulutnya seperti tidak berfungsi untuk meronta atau memberontak. Naza menggulingkan tubuhnya ke samping Eldar dan kembali tertidur sambil memeluk Eldar dengan begitu erat.


"Apa yang sudah terjadi semalam?" gumam Eldar saat sadar jika Naza tidak memakai baju dan sweater yang ia kenakan juga sudah tidak ada di tubuhnya.


Ku ingat kan lagi, jangan lupa kasih like biar author semangat up nya. Apa kalian nggak mau crazy up? Kalau mau, ya tekan like, jangan asik baca doang:)