
"Bik Inem," panggil Candra yang baru sampai di dapur.
"Iya, Tuan. Ada apa?" Tanya Bik Inem yang sekarang sudah menghadap Candra.
"Bik, Candra pinjam kunci cadangan kamarnya Zila, Bik," ucap Candra.
"Oh, iya, mari, Tuan. Saya ambilkan," jawab Bik Inem.
Bik Inem berjalan keluar dari dapur dengan Candra yang berjalan mengekori Bik Inem, mereka berdua telah sampai di depan lemari yang tidak jauh dari dapur, di lemari itu banyak kunci yang bergelantungan dan tertata rapi, bahkan setiap kunci memiliki label nama masing-masing, Bik Inem mengambil kunci yang ada namanya Azila.
"Ini, Tuan. Kuncinya," ucap Bik Inem sambil memberikan kunci di tangannya.
"Terima kasih, Bik," ucap Candra sembari menerima kunci yang diberikan Bik Inem.
"Sama-sama, Tuan," balas Bik Inem.
"Saya tinggal dulu, Bik." ucap Candra sambil melangkah pergi meninggalkan Bik Inem.
"Iya, mari, Tuan," balas Bik Inem yang juga melangkah menuju dapur lagi.
"Eh, Bik Bik. Bibik ada kertas sama pulpen nggak?" Tanya Candra.
"Em, kayaknya ada, Tuan. Tunggu sebentar ya, Tuan. Saya ambilkan dulu," jawab Bik Inem.
"Oke, Bik. Saya tunggu di ruang keluarga, Bik," balas Candra.
"Iya, Tuan," jawab Bik Inem, lalu Candra pergi ke ruang keluarga dan Bik Inem pergi mengambilkan kertas dan pulpen untuk Candra.
≈≈≈
"Ini, Tuan. Kertas sama pulpennya," ucap Bik Inem sambil memberikan kertas dan pulpennya ke Candra.
"Makasih, Bik," jawab Candra sambil menerima kertas dan pulpennya.
"Saya pamit ke dapur dulu, Tuan," ucap Bik Inem.
"Iya, Bik. Maaf ya, Bik. udah ngerepotin malem-malem guni," jawab Candra yang merasa tidak enak sudah merepotkan Bik Inem.
"Tidak apa-apa, Tuan. Sudah tugas saya untuk melayani keluarga ini," balas Bik Inem sambil tersenyum. "Saya pergi dulu, Tuan," ucap Bik Inem.
"Iya, Bik," jawab Candra, lalu Bik Inem pergi meninggalkan Candra sendirian di ruang keluarga.
Candra menaruh kertasnya di atas meja dan menuliskan sesuatu di kertasnya. "Oke, beres, sekarang tidur dulu supaya besok tidak kesiangan," ucap Candra yang berbicara sendiri sambil melihat tulisan yang ada di kertas.
≈≈≈
05:15 WIB
"Huuoah," Candra menguap sambil meregangkan otot-ototnya yang sudah kaku semua.
"Hem, jam berapa ini," gumam Candra sembari mengambil ponselnya yang ditaruh di nakas samping tempat tidurnya.
"Udah jam 5 lebih, Zila udah bangun belum ya? Semoga aja belum," ucap Candra setelah melihat jam di ponselnya.
"Ayo Candra, semangat, hari ini kamu harus bisa menyelesaikan masalah yang telah kamu ciptakan sendiri," ucap Candra yang menyemangati dirinya sendiri.
Candra turun dari ranjangnya lalu masuk ke kamar mandi, setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi Candra keluar dari kamar dan berjalan ke dapur.
"Lho, Tuan. Apa Tuan sudah lapar? Tapi maaf, Tuan. masakannya masih belum siap," ucap seorang pelayan yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan.
"Tidak, Bik. Saya cuma mau nyiapin sarapan untuk Azila," jawab Candra.
"Oh, iya, Tuan. Tuan butuh apa? biar kami siapkan," balas pelayan.
"Susu untuk wanita hamil ada, Bik?" Tanya Candra pada pelayan di depannya.
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin tidak ada," jawab pelayan.
"Haduh, gimana nih," ucap Candra dalam hatinya.
"Cari apa, Tuan?" Tanya Bik Inem yang baru datang.
"Cari susu buat wanita hamil, Bik," jawab Candra sambil menoleh ke arah Bik Inem yang baru datang di sampingnya.
"Oh, buat Non Zila ya, Tuan," balas Bik Inem
"Iya, Bik. Tapi sayangnya di sini nggak ada," ucap Candra yang merasa sedih.
"Ada kok, Tuan. Kemarin Nyonya suruh saya beli buat Non Zila," balas Bik Inem yang membuat Candra kembali bersemangat.
"Oh ya? Mana, Bik, susunya?" Tanya Candra yang sangat senang.
"Sebentar, Tuan," jawab Bik Inem lalu membuka lemari kecil yang ada di atas dan mengambil sekotak susu bubuk untuk ibu hamil, "Ini, Tuan," ucap Bik Inem sambil memberikan kotak susu ke Candra.
"Makasih, Bik," ucap Candra sambil menerima kotak susu dari Bik Inem.
"Sama-sama, Tuan," balas Bik Inem.
Candra dengan semangat mengambil gelas dan memasukkan beberapa sendok susu bubuk kedalamnya. "Bik, mana air panasnya?" Tanya Candra.
"Ini, Tuan," jawab Bik Inem sambil memberikan termos yang berisikan air panas.
"Oke, sudah beres semua," ucap Candra yang sudah menyiapkan satu gelas susu, beberapa lembar roti tawar, dan selai coklat.
"Bik, tolong antar ini ke kamar Zila ya, Bik," pinta Candra ke Bik Inem.
"Baik, Tuan," jawab Bik Inem.
"Em, wait wait wait kayak ada yang kurang ya," ucap Candra sambil mengetuk jidatnya. "Oh, surat!" Ucap Candra sembari berlari ke kamar tamu.
"Oke, sudah Bik," ucap Candra yang baru kembali dari kamar tamu dan meletakkan sepucuk surat di bawah gelas susu.
"Baik, Tuan," jawab Bik Inem, lalu Bik Inem mengambil nampan yang sudah berisi roti tawar, selai coklat, dan susu dengan surat dibawahnya, lalu mengantarkannya ke kamar Azila.
≈≈≈
Tok tok tok.
"Non Zila," panggil Bik Inem sambil mengetuk pintu.
"Non Zila," panggil Bik Inem lagi.
"Siapa sih itu, masih pagi juga," gerutu Azila yang sudah berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Non, Non Zila," panggil Bik Inem lagi dan lagi.
"Iya-iya," teriak Azila sambil berjalan ke arah pintu.
Cklek.
Azila membuka kunci lalu membuka pintunya, "Ada apa, Bik?" Tanya Azila yang cuma memunculkan kepalanya.
"Ini, Non. Ada titipan dari Tuan Candra," jawab Bik Inem sambil menyodorkan nampan yang ia bawa.
"Bawa balik, Bik," jawab Azila sembari menutup pintu dan menguncinya lagi.
"Loh, Non," ucap Bik Inem yang bingung. "Gimana terusan? Bawa balik ajalah," lanjut Bik Inem.
≈≈≈
"Kok dibawa balik, Bik? Zila nya belum bangun?" Tanya Candra yang menunggui Bik Inem di depan dapur.
"Anu, Tuan. Kata Non Zila disuruh bawa balik, terus pintunya dikunci lagi," jawab Bik Inem.
"Ya udah, Bik. Sini, biar saya antar sendiri," ucap Candra sembari mengambil nampan di tangan Bik Inem dan berlalu pergi.
"Kenapa tadi tidak diantar sendiri aja," gumam Bik Inem sambil menggelengkan kepalanya.
≈≈≈
Kini Candra sudah ada di depan kamar Azila, dia merogoh saku celananya dan mengambil kunci yang tadi malam dia pinjam dari Bik Inem, Candra pelan-pelan membuka kunci dan membuka pintunya, dia mengintip apakah Azila ada di sana atau tidak.
"Kok sepi? Dimana dia?" Gumam Candra karena tidak melihat adanya Azila. "Masuk ajalah," lanjut Candra.
Candra mengambil kunci yang dia pakai untuk membuka pintu dan memasukkannya ke saku celananya, Candra menutup pintu dengan pelan, setelah pintu tertutup dia berjalan dengan menjinjit dan menaruh nampan yang dia bawa ke nakas samping tempat tidur.
"Oh, lagi mandi, pantesan pas di cari nggak ada," gumam Candra yang mendengar gemercik air dari kamar mandi.
Candra menunggu Azila di depan kamar mandi dengan menyenderkan tubuhnya di tembok dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Azila dengan balutan handuk yang menutupi sebatas dada sampai pahanya, Azila masih belum sadar jika Candra barada di belakangnya.
"Bukannya itu nampan yang dibawa Bibik tadi? Kok bisa disitu? Perasaan, aku nggak bawa masuk tadi," ucap Azila yang bingung kenapa nampan yang dibawa Bik Inem bisa ada di kamarnya.
Candra yang berada dibelakang Azila langsung memeluk tubuh Azila dan membungkam mulut Azila.
"Hohong! hihaha hahu!" Teriak Azila yang tidak jelas.
"Zila, tenanglah, ini aku Candra," ucap Candra di dekat telinga Azila.
"Hehahih hahha!" Azila berteriak yang tidak jelas.
"Zila, maafkan aku, aku salah, aku memang bodoh, maafkan aku, Zila," lirih Candra di telinga Azila.
"Jangan membuatku gila, Zila. Jangan membuatku hancur, aku tidak bisa menikmati hidupku tanpamu, Zila," ucap lirik Candra yang terngiang di telinga Azila.
"Aku mencintaimu, Istriku. I love you," lirih Candra yang sekarang menopangkan kepalanya di pundak Azila.
Tangan Candra yang membungkam mulut Azila dia lepaskan, sekarang Candra memeluk Azila dengan begitu erat.
"Apa kamu hanya akan meminta maaf tanpa penjelasan," ucap Azila.
"Tanyakan semua hal yang mengganjal di hatimu, Sayang. Aku akan menjawab semuanya," jawab Candra.
"Siapa wanita selingkuhanmu itu? kenapa kamu main gila dibelakang ku?" Tanya Azila.
"Dia bukan selingkuhan ku tapi dia adikku, lebih tepatnya sepupu jauh ku, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya ke Mamah sama Papah, kalau masih tidak percaya, kamu bisa tanya ke Ayah sama Bunda, atau ke orangnya langsung," jawab Candra yang sekarang membenamkan wajahnya di tengkuk Azila yang basah.
"Lalu kenapa kamu membohongiku dengan cara seperti itu? Hatiku hancur seketika itu juga," ucap Azila.
"Maafkan aku, saat itu aku dibutakan oleh cemburu, aku membohongimu karena ingin melihat apakah kamu cinta padaku atau tidak," jelas Candra.
"Kamu bodoh, Candra," balas Azila.
"Aku tahu, dan aku mengakui itu," balas Candra.
"Apakah kamu akan terus memelukku dan membiarkan anakmu kelaparan?" Tanya Azila dengan lengkung bibirnya.
"Astaga, aku lupa, maafkan aku, Sayang," jawab Candra yang sudah melepaskan pelukannya dan beralih ke depan Azila.
"Minta maaf juga sama anakmu," sahut Azila dengan senyum bahagia.
Candra duduk berjongkok didepan perut Azila dan mengelusnya, "Maafkan Papamu yang bodoh ini ya, Sayang," ucap Candra lalu mencium perut Azila.
"Oh, ya, tadi kamu ingin bukti cintaku kan?" Tanya Azila sambil memandang Candra yang sudah berdiri.
"Aku akan membuktikannya sekarang," ucap Azila sembari melepas lilitan handuknya dan menyambar bibir Candra. Azila begitu bersemangat hingga Candra gelagapan untuk mengimbanginya.
Tangan Azila mulai berpetualang dan mencari harta karun didalam hutan. Candra yang hampir hilang akal sehatnya karena kelakuan Azila yang begitu liar, tangan Candra memegang kedua pipi Azila dan mendorongnya mundur, aksi Azila berhenti seketika.
"Kenapa?" Tanya Azila.
Tuuk.
Candra menyentil dahi Azila. "Sarapan dulu, aku tidak mau kalau anakku kelaparan didalam sana," jawab Candra dan dibalas senyum oleh Azila, lalu Candra mengambil handuk yang ada dilantai dan menutupi tubuh Azila.
"Apa itu kamu sendiri yang membuatnya?" Tanya Azila, lalu Candra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Azila berjalan menuju nakas untuk memakan sarapan buatan Candra, sedangkan Candra masih mengatur nafasnya yang memburu dan membatin di dalam hatinya, "Ini pembuktian cinta yang gila."
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙