
Langit biru sudah mulai berganti warna, cahaya jingga menyebar menampakkan senja, terlihat seorang wanita cantik dengan gaun pengantin sedang berdiri berpegangan pagar besi pembatas, wanita bergaun pengantin sedang menikmati udara senja pertama kali setelah masa lajangnya berakhir.
"Apakah hidupku akan seindah senja sore ini?" Gumam wanita itu dalam hatinya.
"Kalau di lihat-lihat, hidupku lucu juga ya, menikah dengan orang yang paling aku benci sejak kecil, dan mungkin akan melahirkan anak dari benih yang ia tanam," wanita itu tak henti bergumam dan menertawakan takdir hidupnya sendiri, wanita itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan lewat mulut.
"Oke, bagaimana pun takdirku, aku tidak akan menyerah, aku harus menjaga tubuhku agar dia tidak menodaiku, sebelum dia mencintaiku dengan tulus, aku tidak akan membiarkan dia membobol pertahanan terakhirku," gumam wanita itu dalam hatinya, sambil menyemangati dan menasihati dirinya sendiri.
≈≈≈
"Aku udah selesai, sekarang giliran mu," ucap tiba-tiba seorang laki-laki dari belakang yang membuat wanita itu agak terkejut. Ya, mereka adalah Azila dan Candra yang sedang bergantian memakai kamar mandi, karena dinding pembatas antara kamar mandi dengan seluruh ruang di kamar adalah kaca transparan, Azila mengajak Candra untuk bergantian memakai kamar mandi karena dia takut diintip oleh Candra.
"Lo, jangan mencari kesempatan untuk mengintip ku saat mandi, dan jangan masuk sebelum gue kasih kabar," ucap Azila.
"Ehhemm, kayaknya ada yang lupa sama janjinya sendiri nih," dehem Candra sambil menyindir Azila yang masih menggunakan panggilan lo gue.
Mendengar sindiran dari Candra, Azila tersenyum dan mulai berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai paling atas.
"Ooh, sorry, aku khilaf," jawab enteng Azila yang sudah berlalu pergi memasuki lift.
"Jika alasan mu khilaf, maka jangan salahkan aku, jika nanti malam aku akan khilaf melihat mu," gumam Candra dengan tawa licik dan tersenyum seringai.
≈≈≈
Azila telah selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, dia beranjak keluar dengan tubuh yang dibalut handuk dan handuk kecil di kepalanya.
"Aahhh, segar sekali badanku, mandi air hangat memang yang terbaik," ucap Azila sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan handuk, lalu dia berjalan menuju lemari pakaian.
"Loohhh," Azila terkejut karena di dalam lemari pakaian, dia tidak menemukan pakaian ganti wanita, di sana hanya ada handuk kimono dan tiga setel kemeja laki-laki.
"Kenapa otak ku jadi bodoh sih, sampai lupa bawa baju ganti, haduuh," dengus kesal Azila sambil mengacak-acak rambutnya yang masih basah.
"Ahh, minta Mamah anterin baju aja lah," ucap Azila sambil mencari-cari dimana ponselnya.
"Aduuhh, pikun sekali kamu, kan tadi HP mu kamu titipkan ke Mamahmu," ucap Azila yang kini memarahi dirinya sendiri sambil menampar pelan kedua pipi mulusnya.
"Aahha, aku punya ide," ucap girang Azila yang baru saja mendapatkan sebuah ide, Azila melepas handuk yang menutupi tubuh putih mulusnya dan kembali ke lemari pakaian, dia mengambil kemeja milik Candra dan memakainya.
Kemeja berwarna putih kebiru-biruan yang hanya bisa menutupi bagian atas sampai pahanya, membuat Azila menjadi sangat imut dan cantik seperti anak kucing. Siapapun laki-laki yang melihat Azila memakai kemeja kebesaran itu, pasti akan langsung tergoda untuk terus memandangnya.
Di roof top hotel.
Candra terlihat mondar mandir di atas roof top sambil menggosok-gosokkan tangannya lalu menempelkannya di pipi, dia mulai kedinginan karena Azila tak kunjung kembali, dia sudah menunggu kedatangan Azila berjam-jam di sana, langit yang tadinya masih di terangi sinar senja kini sudah berubah menjadi gelap.
"Lama banget sih tuh cewek kurcaci, mana di sini dingin banget, apa jangan-jangan dia lupa, awas aja kalu alasannya lupa," umpat kesal Candra yang berjalan menuju lift, setelah dia sampai di depan kamar, Candra mengetuk pintu berulang-ulang kali, tetapi masih tidak ada jawaban.
"Budek apa gimana sih nih cewek, pintu udah di gedor-gedor masih aja nggak nyaut," Candra merasa sangat marah karena ini pertama kalinya ada orang yang berani melupakannya.
Tiba-tiba hati Candra yang tadinya telah terbakar amarah dan emosi kini berubah menjadi sangat gelisah dan kuatir. "Jangan-jangan dia pingsan di kamar mandi lagi, kalau dia sampai kenapa-kenapa, bakal di geprek aku sama Bunda dan Mamahnya," ucap Candra dalam hatinya, lalu dia berlari menuju lift dan turun ke lantai dasar.
Setelah sampai di lantai dasar, Candra berlari ke meja resepsionis.
"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya petugas resepsionis.
"Saya minta kartu akses cadangan kamar nomor 2108," ucap Candra yang nampak sangat tergesa-gesa.
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar ya," lalu petugas resepsionis mencari kartu akses cadangan di lacinya, setelah menemukannya petugas resepsionis itu langsung menyerahkan kartu akses cadangan itu ke Candra.
"Ini, Tuan. Kartunya," ucap petugas resepsionis sambil menyodorkan kartu ke Candra, "Jangan sampai hilang lagi ya, Tuan," lanjut petugas resepsionis dengan senyum ramahnya, tetapi Candra tidak merespon sama sekali dan berlari meninggalkan meja resepsionis menuju lift.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Candra langsung membuka pintunya dengan kartu yang tadi dia bawa, saat Candra sudah masuk ke dalam kamar yang sudah gelap tetapi masih kelihatan karena ada lampu warna warni yang menyala remang-remang.
Karena hatinya sudah sangat gelisah dan kuatir, dia tidak melihat ke arah kasur dan tidak sadar kalau TV di kamarnya sedang menyala, dia berlari ke kamar mandi dan langsung membuka kamar mandi. Setelah dia di dalam kamar mandi, Candra tidak menemukan orang yang sedang dia cari. Matanya bergerak kesana kemari menyusuri kamar yang diterangi lampu remang-remang, mata Candra berhenti mencari setelah menemukan orang yang di carinya sedang tertidur dengan nyenyaknya.
"Sial, kenapa aku kuatir mikirin orang yang sedang tertidur dengan nyenyaknya tanpa memikirkan beban apapun," dengus kesal Candra dalam hatinya, lalu dia mendekat dan duduk di tepi ranjang, Candra memandang wajah wanita yang baru di nikahinya tadi pagi.
"Ternyata kamu makin cantik ya kalau di pandang dari dekat," ucap Candra dalam hatinya.
Candra mengamati tubuh Azila dari ujung rambut sampai ujung kakinya, "Ternyata kamu nggak punya baju ganti, sampai tega meninggalkan suamimu ini kedinginan di roof top?" Gumam Candra dengan suara pelan karena takut mengganggu tidur nyenyak Azila.
Iman Candra goyah karena tergoda dengan tubuh Azila yang hanya berbalut kemejanya, lalu dia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Azila, sampai bibir Candra dan bibir Azila berjarak kurang dari 1 senti meter. "Hei, apa kamu mau memberikan ciuman pertama mu untuk orang yang tertidur?" Ucap Candra dalam hatinya sembari menarik kembali kepalanya.
Candra yang tidak jadi mencium bibir Azila, kini dia berdiri dan menutupi tubuh Azila agar dia tidak khilaf. Setelah menutup tubuh Azila, Candra berbaring di samping Azila dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, Candra sudah tertidur lelap di samping Azila dengan posisi memeluk pinggang Azila yang tertidur di dekapan tubuh Candra.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙