My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Lembur



Azila terkejut hingga pantatnya menyentuh lantai kamar mandi, bukan hanya karena suara Candra yang membuatnya terkejut, tapi Candra tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Iih! Ngagetin aja sih, jadi jatuh kan," gerutu Azila.


"Lebay amat, orang lantainya kering juga," ucap Candra sambil berdiri dan membantu Azila untuk berdiri.


"Ku kira tadi kamu setan tau," ucap Azila.


"Kenapa mengira aku jadi setan?" tanya Candra, "Mana ada setan yang gantengnya nggak ketulungan gini," lanjutnya sambil menggerak-gerakkan alis kirinya.


"Ya karena tadi pas aku ke sini kamu masih di ruang keluarga, terus Ayah udah balik ke kamar, dan Bunda juga masih gendong Kean. Jadi, ku pikir ada setan nyasar ke sini," jawab Azila.


"Kalau begitu anggap aja aku setan ganteng," ucap Candra sambil memainkan rambutnya ke belakang agar aura ketampanannya lebih keluar dengan deras.


"Mana mau aku nikah sama setan, seganteng-gantengnya setan pasti jelek juga akhirnya," ucap Azila.


"Yang penting ada gantengnya, wleee," balas Candra sambil menjulurkan lidahnya.


"Hm, serah deh," ucap Azila sembari berjalan keluar kamar mandi.


Plaakk


"Hati-hati, Sayang," ucap Candra setelah memukul pantat Azila dengan tamparan gemasnya.


"Iihh, mesum!" geram Azila sembari mempercepat langkahnya.


Setelah Azila keluar, Candra masih diam dengan kedua tangannya yang mengepal seperti menahan gejolak dari dalam dirinya.


"Ya Tuhan, kapan aku bisa ambil jatah mingguan ku?" gumam Candra dengan wajah sedihnya.


Sambil meratapi kesedihannya Candra menanggalkan semua pakaiannya lalu masuk ke bathub yang sudah penuh dengan air hangat. Candra duduk selonjoran merendam semua tubuhnya sampai hanya menyisakan bagian hidung ke atas yang berada di atas air.


Air hangat memang cocok untuk mengendorkan semua otot-otot yang kencang dan tegang selama seharian ini, termasuk adik kecilnya yang sering tegang namun selalu diabaikan.


Azila yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri Bunda Putri yang menimang Kean di dekat pintu menuju balkon.


"Kean sudah tidur apa belum, Bun?" tanya Azila.


"Belum," sambil menggeleng, "Tadi udah ngantuk-ngantuk dianya, tapi pas papanya masuk eh melek lagi," jawab Bunda Putri.


"Ya udah, Bun. Sini, biar Zila kasih ASI dulu, mungkin dia kehausan," ucap Azila, "Bunda balik ke kamar aja, nanti keburu dingin lho martabaknya," lanjut Azila.


"Bukan masalah dinginnya, tapi lebih ke arah dimakan sama Ayah," balas Bunda Putri. Azila hanya tersenyum lalu Bunda Putri pergi keluar dari kamar, tapi sebelum itu dia menyempatkan untuk mencium kedua cucu tampannya terlebih dahulu.


°°°°


Candra keluar dari kamar mandi dengan kain putih yang menutupi pangkal pahanya dan kain kecil yang ia gosok-gosokkan ke kepalanya, tiba-tiba keluar asap lalu, Boom!!! Makhluk berwarna keluar dari sana. Wait, ini bukan cerita Aladin, yang bener adalah setelah Candra menggosok-gosok kepalanya, rambut lurusnya yang berwarna semi coklat dan maroon itu kering.


Di sela gosokannya, Candra tersenyum nakal ketika melihat Azila yang sedang tengkurap sambil menonton video-video lucu di Instagram.


Paakk


"Hai," panggil Candra sambil menepuk pantat kenyal Azila.


Azila yang kaget langsung terduduk, "Yang, jangan nakal," ucap Azila sambil berkacak pinggang.


Puukk


"Apa yang mau dikeringin, rambutmu aja sudah kering begini," ucap Azila sambil memukul pelan kepala Azila dengan handuk.


Candra beranjak berdiri lalu berjalan pergi ke kamar mandi, selang beberapa detik dia keluar lagi dengan rambut yang sudah basah kuyup, bahkan airnya masih menetes-netes. Candra kembali duduk di depan Azila.


"Keringin!" perintahnya.


"Iihh!" Azila jadi geram dengan tingkah Candra.


Dengan rasa kesal Azila menggosok-gosok handuknya ke kepala Candra dengan agak kasar. Bisa dibilang Azila lebih mirip dengan orang yang sedang mengacak-acak rambut Candra.


"Sayang, nggak boleh marah gitu sama suami," ucap Candra, "Pelan dikit," lanjutnya.


"Biarin! Rontok, ya, rontok aja, biar botak sekalian!" ucap Azila yang semakin kesal.


Candra menahan tangan Azila yang semakin kasar menggosoknya, lalu dia berbalik dan mengangkat Azila ke gendongannya.


"Eh, mau ngapain? Turunin!" ucap Azila sambil memukul-mukul bahu Candra.


"Ssstt! Jangan kencang-kencang teriaknya, nanti Kean sama Lean kebangun lagi," ucap Candra.


"Makanya turunin," balas Azila dengan suara yang dikecilkan.


Candra tidak menggubris perkataan Azila, dia malah menggendong Azila turun dari kasur lalu membawanya ke kamar mandi. Sesampainya mereka di kamar mandi, Candra menjatuhkan Azila ke bathub yang masih terisi dengan air sisa berendamnya tadi.


"Candra!" teriak Azila setelah dia basah kuyup di bathub.


"Apaan sih, Yang. Candra-Candra, panggil suaminya kok pakai nama, panggil sayang atau Papa gitu lho, panggil kok nama," ucap Candra.


"Ya, lagian kamu sih pakai ceburin aku ke sini," jawab Azila, "Jadi basah kan sweaternya," ucap Azila sambil mengangkat sweaternya.


"Salah kamu sendiri, dah tau kalau suami lagi pengen dimanja malah di marah-marahin nggak jelas," ucap Candra.


"Tapi ya nggak pakai air bekasmu lah, Yang," balas Azila dengan wajah cemberut.


"Gayamu, Yang-Yang. Biasanya makan pakai piring bekasku juga gitu," ucap Candra, "Tenang aja, aku nggak kencing di situ," lanjutnya sembari berjalan pergi keluar kamar mandi.


"Kesel deh ah!" gumam Azila yang kesal sambil menendang-nendang air.


Candra keluar dari fitting room sambil mengikat tali kimono tidurnya yang berwarna biru tua, dia naik ke kasur lalu duduk selonjoran sambil memainkan ponselnya. Alis Candra terangkat lalu dia menghembuskan napasnya setelah melihat banyak email dari klien dan sekretarisnya.


"Lembur pun dimulai," ucap Candra dengan suara pasrah.


Candra turun dari kasur lalu pergi ke ruang kerjanya untuk mengambil laptop dan dokumen-dokumen yang tadi ia bawa pulang, niatnya tadi dia ingin mengerjakannya setelah orang-orang pulang, tapi dia kelupaan dengan dokumen yang sudah bertumpuk di meja kerjanya.


Setelah mengambil laptop dan dokumen-dokumen, Candra kembali ke kamarnya lalu duduk di sofa dan siap berhadapan dengan cahaya laptop yang akan menemaninya sampai hari esok, itu jika dia kuat.


Azila keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih sedikit basah dengan rambut yang digulung menggunakan handuk, tidak lupa juga dengan handuk yang sedikit lebih besar menggantung di atas buah dadanya hingga di bawah paha.


Otak sudah lebih dingin dan rileks, dia berniat bermanja-manja ke Candra karena dari tadi mereka terus saja berseteru. Tapi, Azila sedikit kecewa karena mendapati Candra malah berkutat dengan laptop dan kertas-kertas.


"Lembur?" tanya Azila sembari duduk di samping Candra.


"Iya, tadi dapet email dari sekretarisku sama klien," jawab Candra tanpa melihat Azila, "Tadi pakai lupa pula kalau aku bawa dokumen yang belum ku periksa, dan tanda tangani," lanjutnya.


Jangan lupa like guys, biar aku semangat buat up.