
Setelah beberapa saat, Naza berbalik badan dan menghampiri Eldar, lalu dia duduk agak jauh di samping Eldar.
Dengan kepala menatap lurus ke depan, Naza menarik nafas lalu berkata, "Aku akan menikahi mu."
Duarr..!!
Seketika kilatan petir menghantam jantung Eldar, hingga dia merasa jika jantungnya berhenti sejenak, lalu berpacu dengan cepat. Saat itu juga Eldar berhenti menangis dan menatap Naza dengan sorot mata terkejut dan tidak percayanya.
Paak..!
Eldar menampar kepala Naza dari belakang, "Laki-laki bodoh!" umpat Eldar yang geram.
"Hai, cewek bodoh. Ini, kepala, bukan samsak!" teriak Naza sambil memegang kepalanya.
"Yang bilang samsak juga siapa?" tanya Eldar dengan sedikit meninggikan suaranya, "Punya otak nggak dipakai, punya telinga nggak dipakai," umpat Eldar yang masih terdengar di telinga Naza.
Mendengar ucapan Eldar, kedua alis Naza terangkat dengan wajah mulai memerah, "Kam--" ucap Naza yang tertahan sambil menunjuk Eldar. Dia menurunkan tangannya dengan wajah geram saat Eldar menatapnya, lalu Naza berdiri dan keluar dari kamar itu.
Saat Naza sudah keluar dari kamar tamu, dia melihat ke arah meja makan, Naza melempar senyum ke Ayah Yoga dan Bunda Putri ketika mereka bertemu pandang, namun wajah Naza langsung berubah dingin saat pandangannya bertemu dengan Candra. Setelah itu, Naza melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah keluarga Wibawa, dia langsung bergegas memacu mobil BMW-nya dengan kecepatan tinggi menuju bandara.
Eldar yang masih duduk di ranjang merasa aneh dengan kejadian tadi, dia memang benci sama Naza, namun saat Naza keluar dari kamar, entah mengapa hati kecil Eldar merasakan sesak, "Hei, hati. Kenapa kamu tidak sinkron dengan otak?" ucap Eldar sambil memandang dadanya.
Eldar beranjak dari ranjangnya dan berlalu ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, Eldar keluar dengan rambut basah dan handuk kecil yang melingkar di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Eldar telah selesai mengenakan bajunya dan keluar dari kamar untuk sarapan.
Sesampainya di ruang makan, Eldar langsung duduk di samping Bunda Putri. Di sana hanya ada Ayah Yoga dan Bunda Putri saja, "Tan, Kak Candra sama Kak Azila, di mana?" tanya Eldar sambil menggigit sandwich di tangannya.
"Mereka lagi siap-siap mau ke rumah orangtuanya Azila," jawab Bunda Putri.
"Ohh," balas Eldar sambil manggut-manggut.
Mereka bertiga hening beberapa detik, "Oh, ya, kenapa tadi malam bisa tidur sama Naza?" tanya Bunda Putri.
Sejenak Eldar berhenti mengunyah sandwich di mulutnya dan berpikir sambil menatap ke atas, "Entahlah. Seingat Eldar, tadi malam Eldar diantar pulang sama cowok, itu. Karena kelelahan, Eldar tertidur, dan bangun-bangun sudah seperti tadi pagi," jelas Eldar dengan jujurnya.
"Eldar tidak diapa-apain, kok, Tan, Om. Tadi, Tante sama Om lihatkan, kalau baju Eldar masih utuh dan terpasang rapi. Sumpah demi Tuhan, Tan, Om. Eldar tidak berbuat seperti, itu," ucap Eldar menambahi penjelasannya tadi, agar Ayah Yoga dan Bunda Putri tidak salah paham atau berpikir aneh-aneh.
"Iya-iya, Tante sudah tahu dari Candra. Tadi, itu, hanya mengerjai kalian saja," ucap Bunda Putri dengan bibir yang menahan senyum.
Eldar mendengus lega karena semua orang percaya padanya, terlebih lagi Candra yang membantu menjelaskan ke semuanya, tetapi Eldar juga geram terhadap Candra, karena dia sudah mengerjainya.
"Eldar," panggil Ayah Yoga.
"Iya, Om?"
"Penerbanganmu diajukan nanti jam enam sore, apa kamu sudah mengemasi barang-barang?"
"Ya Tuhan, kenapa Eldar baru diberi tahu?" jawab Eldar dengan keterkejutannya, lalu dia berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamarnya sambil membawa piring berisi sandwich.
"Anak, ini," ucap Bunda Putri sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah Eldar pergi, tidak berselang lama, Candra dan Azila turun melewati tangga dan menghampiri Ayah Yoga dan Bunda Putri.
"Oh, ya, apa Eldar belum keluar, Bun?" tanya Azila setelah mencium punggung tangan mertuanya.
"Dia lagi mengemasi barang-barangnya," jawab Bunda Putri.
"Apa Bunda mengusirnya?" tanya Azila yang terkejut.
"Mana ada, jadwal penerbangannya maju nanti sore," jelas Bunda Putri.
"Ooh, Zila pikir, Bunda sama Ayah, mengusir Eldar," balas Azila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah percakapan itu, Candra dan Azila menghampiri Eldar yang sedang menata barangnya ke dalam koper, mereka berdua meminta maaf ke Eldar dan berbincang sebentar.
Kini Candra dan Azila sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka menuju rumah keluarga Yudistira. Suasana romantis dan bahagia memenuhi semua ruang di dalam mobil itu.
Sebelum mereka menuju ke rumah keluarga Yudistira, Candra dan Azila singgah sebentar ke sebuah mall besar, di mall itulah mereka sempat bertengkar karena salah paham.
"Sayang, kita belanja dulu, atau mengunjungi temanmu dulu?" tanya Candra sambil menggenggam tangan istrinya.
"Kita ke tempat Akbar dulu, ya. Aku sudah penasaran dengan apa yang ingin dia berikan kepada kita," jawab Azila dengan senyum manis.
"Baiklah," balas Candra.
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan memasuki mall besar itu sambil bergandengan tangan. Banyak mata yang mencuri pandang sepasang kekasih itu, walaupun hanya memakai outfit yang sederhana dan bermerek, Candra dan Azila sudah memberi image kalau mereka berdua adalah orang kaya.
Candra dan Azila telah sampai di depan gerai milik Akbar, "Hai, Bar!" sapa Azila dengan begitu senangnya.
Mendengar namanya dipanggil, Akbar langsung menoleh ke sumber suara, "Oh, hai," sapa balik Akbar sembari berjalan menghampiri Candra dan Azila, "Bukankah kita janjian nanti sore? Kenapa kalian malah datang begitu awal?" tanya Akbar sambil menarik kursi untuk Candra dan Azila.
Candra dan Azila duduk di kursi yang sudah disiapkan Akbar, "Nanti sore, kita mau ke bandara, nganter sepupu balik ke negaranya," jawab Azila.
"Oh, gitu. Emm, kalian mau minum Thai tea? Biar aku buatkan," ucap Akbar menawari.
"Emm, boleh. Aku rasa coklat, Bar. Kamu rasa apa, Sayang?" tanya Azila sambil menggoyangkan pegangan tangannya dengan Candra.
"Aku rasa taro," jawab Candra.
Akbar berdiri dari duduknya, "Baik, Tuan, Nyonya. Pesanan kalian akan segera dibuat, mohon tunggu sebentar," ucap Akbar sambil membungkuk.
"Lebih baik kamu cepat melaksanakan perintah kita, atau kamu akan kamu gantung di tiang bendera," ucap Candra dengan nada angkuh dan dingin.
Saat itu juga, tawa mereka bertiga pecah. Akbar lekas membuatkan Thai tea untuk kedua tamunya, dia tidak ingin digantung di tiang bendera karena membuat kedua tamunya menunggu lama.
Ketiga orang itu sudah lebih akrab beberapa hari ini, tentu saja setelah semua salah paham antara Candra dan Azila selesai.
Candra juga sedang menyuntikkan dana dan membuatkan beberapa kedai Thai tea untuk Akbar untuk tanda permintaan maafnya. Awalnya Akbar menolak pemberian Candra, namun karena desakan ekonomi, akhirnya Akbar menerima pemberian Candra.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙