
Malam dengan kebahagiaan telah berlalu, namun perasaan bahagia masih kuat dan kian menggebu di hati.
Pagi ini terasa begitu dingin, sang surya masih malu-malu untuk menampakkan wajahnya.
Terlihat seorang laki-laki sedang duduk di atas pagar pembatas balkon, dengan secarik kertas dan pena yang diputar-putar seperti mainan, sesekali dia memejamkan matanya dan menarik nafas menghirup udara pagi yang masih suci tanpa debu.
Laki-laki itu membuka matanya dan menghentikan tangannya yang memutar-mutar pena, matanya mulai melihat kertas di pahanya dan mulai menuliskan sesuatu.
Pagi Yang Candu
Pagi masih membuta
Mengogahkan mata untuk melihat dunia
Sayup dingin angin pagi
Menggigilkan tubuh telanjang di atas ranjang
Selimut tebal guling bantal
Memeluk hangat tubuh menggeliat
Menuntun opini lurus kejalan mimpi
Bermodal hangat berwujud awan pekat
Membutakan hajat yang sudah di panjat
Memberi kutu tuk melupakan waktu
Membujuk rayu menginjeksi candu
Agar jiwa tak menyatukan nyawa
Tapi waktu selalu pintar
Digantungnya lentera terang di ujung timur
Menyelinap melewati gorden bercelah
Mengetuk kantung mata tanpa mengucap sapa
Dengan paksa membangunkan pemilik mata
(nb: itu puisi ciptaan author sendiri ya reader)
Laki-laki berkulit putih itu memandang lagi coretan di kertasnya, sejenak dia termenung seperti mengenang masa lalu.
Seorang wanita cantik berjalan mendekati laki-laki yang tengah duduk di pagar balkon, di berjinjit dan berhenti tepat di belakangnya.
Belum sadar jika ada orang di belakangnya, laki-laki itu memandang langit yang mulai terang dan menghangat, "Zila, apa kamu tahu rahasia terbesar dalam hidupku?" ucap laki-laki itu.
Azila yang berdiri di belakang laki-laki itu sontak terkejut, dia berpikir kalau laki-laki itu sudah mengetahui kedatangannya, saat Azila akan menjawab, laki-laki itu kembali berkata, "Benci yang kita timbun sejak pertengkaran pertama kita waktu sekolah dasar. Kini sudah berubah menjadi benih-benih cinta, dan apa kamu tahu, sejak kita masuk sekolah menengah atas, aku sudah mulai menyadari, jika aku telah mencintaimu," ucap Candra sambil membuang nafas besar.
Telinga Azila mendengar semua yang diucapkan Candra, hingga matanya menitihkan air mata bahagia.
Greep..!!
Azila memeluk Candra dari belakang dan membenamkan wajahnya di punggung Candra.
Punggung Candra menjadi basah karena lelehan air mata Azila, "Apa kamu mendengar semuanya?" tanya Candra lagi, lalu Azila mengangguk.
Candra merasakan punggungnya semakin basah, lalu dia melepaskan pelukan Azila dan membalikkan badannya, lalu turun dari pagar balkon, "Jangan menangis, jika kamu terus menangis, anak kita akan memarahi ku," ucap Candra sambil mengusap pipi Azila yang basah karena air mata.
Bibirnya mulai tersenyum mendengar ucapan Candra, entah mengapa, akhir-akhir ini Azila ingin selalu bersama dengan Candra, bahkan rasa itu bisa menghilangkan latahnya. Beberapa kali Yasa ingin mengejutkan Azila di depan orang banyak, agar semua orang melihat kalau Azila latah. Namun, bukannya Azila yang malu dibuatnya, malah Yasa sendiri yang malu karena tingkah lawakannya yang garing.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang sejak awal?" tanya Azila yang kembali memeluk Candra.
Candra menaruh tangannya di kedua pipi Azila, dia mendongakkan wajah Azila agar menatap wajahnya, "Karena, kebencian mu terlalu besar saat, itu," jawab Candra, "Lagian, cinta akan datang dengan sendirinya, tanpa harus dipaksa," ucap Candra menambahi jawabannya.
"Kamu memang yang paling pintar ketika bicara Cinta," ucap Azila sambil tersenyum.
"Karena aku belajar dari ahlinya langsung," balas Candra sembari menyandarkan kepala Azila ke dadanya.
Kedua pasangan itu berpelukan cukup lama, lalu duduk di kursi empuk sambil terus berpelukan dan menikmati pagi yang kian menghangatkan tubuh mereka.
≈≈≈
Di rumah keluarga Wibawa sudah mulai sepi, tinggal Eldar yang sedang berenang dan Bunda Putri yang bermain ayunan di samping kolam renang sambil membaca majalah. Sedangkan Ayah Yoga sudah berangkat ke kantor dan Dara yang sudah masuk sekolah.
Eldar berhenti berenang dan beristirahat di dekat Bunda Putri dengan tubuhnya masih terendam dalam kolam. Bunda Putri menoleh melihat Eldar yang menidurkan kepalanya di atas tangan, "Udah capek?" tanya Bunda Putri.
"Maybe. Hari, ini, terasa begitu membosankan," jawab Eldar yang masih tetap dalam posisinya.
Bunda Putri menutup majalah yang dia baca, "Apa kamu memikirkan Naza?" tanya Bunda Putri, "Jangan-jangan, kami suka, ya, sama Naza," tebak Bunda Putri yang dibalas lirikan tajam oleh Eldar.
"Mana mungkin, Tante. Naza, itu, siapa. Eldar tidak kenal, dan tidak tahu," jawab Eldar dengan nada datar.
"Apa kamu pura-pura lupa atau memang sudah pikun?" ejek Bunda Putri, "Laki-laki yang terus kamu pandang tadi malam, itu, namanya Naza, dia kakaknya Kevin," jelas Bunda Putri.
Matanya sedikit memicing sambil otaknya mencerna perkataan Bunda Putri barusan, "Kevin yang duduk di sebelahku tadi malam?" tanya Eldar memastikan, lalu Bunda Putri mengangguk pelan.
"Ohh, jadi, namanya Naza. Keren juga, sama seperti orangnya," gumam Eldar dalam hatinya.
Bunda Putri menahan tawanya saat melihat Eldar melamun, lalu dia beranjak pergi meninggalkan Eldar, "Kalau cinta, ya, kejar. Jangan hanya melamun, diambil orang baru tahu rasa kamu," ucap Bunda Putri di sela langkahnya.
Namun Eldar hanya diam tanpa merespon ucapan tantenya, lalu dia menggelengkan kepalanya agar tidak terus memikirkan laki-laki yang belum dia kenal itu, "Eldar, sadar, dia hanya akan menjadi racun dalam hidupmu," gumam Eldar agar tidak larut dalam bayangan Naza.
Eldar kembali berenang beberapa putaran, lalu keluar dari kolam dan mengeringkan badannya.
≈≈≈
Di halaman belakang rumah keluarga Yudistira, Candra, Azila, dan Mamah Mitha sedang duduk santai di sana. Candra masih belum kembali ke kantor, dia membawa semua pekerjaannya kemanapun dia berada, dan itu semua adalah permintaan Azila, dia tidak mau Candra pergi jauh dari sisinya, walaupun itu hanya pergi ke kantor.
"Nak, apa kalian jadi pulang nanti sore?" tanya Mamah Mitha pada anak dan menantunya.
"Iya, Mah. Kami sudah beberapa hari, di sini. Minggu depan kita juga akan menginap, di sini, lagi," jawab Azila.
Mamah Mitha sedikit bersedih karena akan ditinggal lagi oleh Azila dan Candra. Melihat Mamah Mitha yang menunduk, Azila segera duduk di samping mamahnya, "Tidak apa-apa, Mah. Ada Nabila, di sini, dia sudah cukup untuk membuat rumah, ini, ramai seperti di pasar," ucap Azila sambil merangkul pundak Mamah Mitha.
"Baiklah," jawab Mamah Mitha dengan garis senyum di bibirnya.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙