My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Chicken Dinner



"Zila!" panggil Bunda Putri, "Mau ke mana?" lanjutnya bertanya.


Azila berhenti tidak jauh dari tangga, "Mau nyiapin makan siang buat Candra, Bun," jawab Azila.


"Kamu juga ikut makan! Dari tadi pagi kamu belum makan apa-apa, kasihan nanti Kean sama Lean nggak dapet nutrisi dari ASI mu," ucap Bunda Putri.


"Iya, Bun. Ini, Zila juga mau ikut makan," balas Azila.


"Jangan sampai telat makan lagi, kamu lupa kalau dulu kamu pernah sakit maag?" sahut Mamah Mitha.


"Iya, Mah. Baru kali, ini, Zila telat makan, kemarin-kemarin Zila tepat waktu terus kok makannya," jawab Azila.


"Minta Bik Ijah buat panasin lauk makan siang tadi!" ucap Bunda Putri.


"Iya," jawab Azila sembari beranjak pergi ke meja makan.


Azila membuka tudung saji yang lumayan besar di atas meja. Di sana masih ada satu ekor Peking duck, sambal korek, aneka lalapan, sayur bening, dan sayur lodeh kesukaan Ayah Yoga.


"Bik! Bik Ijah!" panggil Azila.


Bik Ijah menghampiri Azila dengan berlari kecil, "Iya, Non. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bik Ijah.


"Tolong panasin Peking ducknya dong, Bik," jawab Azila.


"Baik, Non. Apa ada lagi yang harus saya lakukan?" tanya Bik Ijah.


"Emm," sambil mengetuk janggutnya dengan jari telunjuk, "Sama siapin nasi buat aku sama Candra terus piring juga ... dua, terus sambal apa, ini?"


"Sambal korek, Non," sahut Bik Ijah.


"Iya, sama sambal koreknya, ini, semua aja," ucap Azila, "Orang-orang sudah makan semua kan?" tanya Azila.


"Sudah, Non," jawab Bik Ijah.


"Bik Ijah sama pelayan yang lain? Pak Ujang?" tanya Azila.


"Sudah semua, Non. Tinggal Non Azila sama Tuan Candra saja yang belum makan siang," jawab Bik Ijah.


"Oke, sambalnya semua aja sama cobeknya sekalian terus taruh di nampan, lalu kasih timun sama kubis aja lalapannya," ucap Azila.


"Baik, Non. Apa masih ada lagi?" tanya Bik Ijah.


"Udah, itu, aja, Bik. Maaf, ya, udah ngerepotin, Bibik," jawab Azila.


"Tidak apa-apa, Non. Saya di sini kan kerja terus digaji," balas Bik Ijah.


"Oke, kalau gitu aki tunggu di sana, ya, Bik," ucap Azila sambil menunjuk di mana Kean dan Lean bermain dengan kedua Nenek mereka.


"Baik, Non," jawab Bik Ijah.


Azila berbalik lalu beranjak ke tempat Kean dan Lean, tapi dia terhenti dan kembali berbalik, "Bik!" panggil Azila.


"Iya, Non. Ada apa lagi?" tanya Bik Ijah yang baru saja mau ke dapur untuk memanaskan Peking duck.


"Nanti Peking ducknya dipotong biasa aja, ya, Bik. Kayak potong daging ayam gitu aja," ucap Azila.


"Baik, Non. Apa ada lagi?" tanya Bik Ijah.


"Udah, Bik," balas Azila sembari kembali berbalik dan berjalan ke tempat Kean dan Lean.


°°O°°


Candra berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, dia mengacak-acak rambutnya agar cepat kering.


"Belum balik, ya," gumam Candra saat tidak mendapati Azila di kamar.


Karena Azila belum balik, Candra pergi ke fitting room terlebih dahulu, dia berjalan dengan hati yang amat sangat bahagia lalu dia mengiringinya dengan siulan. Sesampainya di fitting room Candra membuka handuknya lalu memilih akan memakai baju yang mana.


"Pakai baju apa buat nanti, ya? Jadi bingung gara-gara gerogi, padahal dulu pas pertama kali begituan di pantai nggak ada gerogi-geroginya sama sekali, kenapa sekarang jadi gerogi gini, padahal cuma mau dibantu pakai tangan doang," gumam Candra.


°°O°°


"Non, semuanya sudah siap," ucap Bik Ijah yang baru datang menghampiri Azila.


"Oh, sudah, mana, Bik?" tanya Azila.


"Di meja makan, Non," jawab Bik Ijah.


"Oh, oke, makasih, ya, Bik," ucap Azila. Bik Ijah mengangguk lalu berpamitan untuk kembali ke belakang.


"Kean, Lean, Mama tinggal makan dulu, ya, sama Papa, kalian di sini dulu sama Nenek-nenek kalian," ucap Azila sembari berdiri lalu pergi ke meja makan. Tak lupa dia juga menciumi kedua pipi dua anaknya sebelum pergi.


Azila mengambil nampan yang berisi makan siangnya bersama Candra. Memang sedikit berat karena ada cobek dari batu yang juga ada di sana.


"Pa!" panggil Azila dari luar.


"Apa?" jawab Candra sambil berteriak.


"Bukain pintu!" jawab Azila.


"Buka aja sendiri, aku lagi main nih, nggak bisa ditinggal," balas Candra tanpa menoleh ke pintu.


"Cepatlah, jangan main game terus, bukain pintu sebentar aja, berat nih," ucap Azila.


"Minta orang lain aja buat bukain, nanggung nij," balas Candra.


"Aku hitung sampai tiga, ya ... satu," ancam Azila.


"Ahh! bikin males main aja!" gerutu Candra.


"Duuaa," ucap Azila dari luar.


"Iya-iya, tunggu sebentar!" teriak Candra sembari cepat-cepat turun dari kasur lalu membukakan pintu untuk Azila.


"Nah, gitu dong, nurut," ucap Azila saat pintu sudah terbuka. Candra segera berlari kembali ke kasur.


"Ehhh, mau ke mana? Sini, bantu angkat nampannya," ucap Azila yang membuat Candra mengurungkan niatnya untuk loncat ke kasur, "Jadi suami nggak peka banget sih kalau istrinya lagi kesusahan," ucap Azila memarahi Candra.


"Iya-iya," jawab Candra sembari mengambil nampan makanan dari tangan Azila lalu menaruhnya di meja dekat balkon.


Setelah menaruh nampan tadi ke atas meja, Candra berlari lalu meloncat ke atas kasur. Dia meraih ponselnya lalu bernapas lega karena karakternya masih hidup. Candra sedang memainkan game yang dulu katanya haram dimainkan di Indonesia.


"Pa, ayo makan dulu," ajak Azila.


"Iya, bentar, lagi main," jawab Candra.


"Nanti main lagi, kita makan dulu biar kamu memiliki tenaga nanti," ucap Azila.


"Tenaga buat apa?" tanya Candra.


"Buat mainlah, apalagi," jawab Azila.


"Iya, bentar, nanggung banget, ini, bentar lagi bakal chicken dinner," balas Candra.


"Ayam nggak enak, masih enakan bebek tuh, ada Peking duck tuh," ucap Azila.


"Iya, tau kalau ada Peking duck, tapi bukan, itu, maksudku, tapi di game, ini, kalau kita menang kita dinamakan chicken dinner," jelas Candra.


"Entah apalah, itu, maksudmu, aku tidak paham, yang penting kamu cepet selesaiin game, itu, lalu cepat makan ke sini," ucap Azila.


"Iya, bentar lagi juga selesai, tinggal satu nih musuhnya," ucap Candra.


Azila tidak lagi menggubris Candra, dia duduk di sofa sambil melihat pemandangan di luar balkon.


"yeeyy! Akhirnya menang juga," ucap Candra sambil berdiri di atas kasur dan mulai berjoget, "Chicken dinner, chicken dinner," ucap Candra dengan begitu senangnya.


Hayo, likenya mana sama komennya? Jangan lupa like dong, yang baca ribuan masa likenya nggak ada 100:(