
Azila duduk di tepi ranjang dan memangku nampan yang berisikan susu, roti, dan selai coklat di pangkuannya.
"Kertas apa ini?" tanya Azila sambil menoleh ke Candra.
"Baca aja," jawab Candra yang baru duduk di samping Azila.
Azila menaruh kembali nampan itu ke nakas, lalu mengangkat gelas susu dan mengambil selembar kertas yang ada di bawahnya, Azila membuka kertas yang dilipat menjadi dua bagian lalu membaca tulisan di dalamnya.
Dear, Azila Yudistira, istri ku.
Aku tahu aku salah, tapi semua itu aku lakuin karena aku terlalu cemburu. Aku nggak suka kamu di peluk pria lain selain aku, bahkan sehelai rambut mu pun aku tidak ridho jika orang lain menyentuhnya. Aku tau tidak ada alasan yang membenarkan sikap ku yang sudah membohongi mu, aku menyesal.
From, Candra Wibawa, suami mu.
"Makasih," ucap Azila setelah membaca surat dari Candra.
"Makasih? Makasih buat apa?" tanya Candra.
"Makasih buat seminggu, ini, kamu telah membuat hidup ku berantakan," jawab Azila.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu," balas Candra.
"Aku kecewa padamu," ujar Azila.
"Maafkan aku, jangan marah lagi, aku bisa mati perlahan jika kamu terus marah padaku," ucap Candra.
"Kamu itu laki-laki, dan sekarang kamu sudah dewasa, seharusnya kamu memakai kedewasaan mu, bukan kekanak-kanakan mu. Kamu terlalu tega untuk menyakiti ku dari pada meluruskan masalah denganku," ungkap Azila yang mulai menangis.
Candra yang tidak tahan karena melihat Azila menangis, dia lekas memeluk tubuh Azila dan mencoba menenangkan Azila, "Maafkan aku yang kekanak-kanakan, ini, aku telah dibutakan oleh cemburu yang menguasai emosiku, kamu jangan menangis, itu akan menyakiti hatiku."
"Apa kamu akan meragukan cintaku lagi?" tanya Azila sambil menatap wajah Candra.
"ku pastikan tidak akan pernah," jawab Candra.
"Aku akan ingat itu," balas Azila yang kini membalas pelukan Candra sambil membenamkan wajahnya di dada Candra.
"Sayang, kita sudahi dulu, ya, pelukannya," ucap Candra sambil mengelus rambut Azila.
"Kenapa? Apa kamu jijik padaku?" tanya Azila yang semakin erat memeluk Candra.
"Pikiranmu terlalu berlebihan, Sayang. Anak kita sudah menunggu sarapannya dari tadi," jawab Candra sambil menghadapkan wajah Azila ke atas menatap dirinya.
"Apa dia memberitahu mu?" tanya Azila.
"Dia mengirim pesan lewat telepati," jawab Candra dengan bibir melengkung ke atas.
"Kenapa dia malah mengirim telepati kepadamu? Padahal yang mengandung dia, itu, aku. Bukan kamu," balas Azila.
"Karena yang membuat dia, itu, aku. Bukan kamu," ucap Candra menirukan perkataan Azila.
"Tapi, aku berperan lebih pen--" ucap Azila yang terhenti karena Candra mencium bibirnya.
"Jangan bicara lagi, cepat makan rotinya dan minum susunya," perintah Candra sambil mengambil nampan di nakas.
"Baiklah-baiklah, aku akan menuruti perkataan suamiku yang tidak mau mengalah seperti cowok batu yang pernah ku kenal dulu," jawab Azila sambil sejenak melihat Candra dan segera mengambil nampan yang ada di tangan Candra.
"Anak pintar," ucap Candra sambil mengelus-elus kepala Azila seperti anak kecil. "Aku mau mandi dulu," lanjut Candra sembari berdiri dari duduknya.
"Tunggu," ucap Azila sambil memegang pergelangan tangan Candra.
"Ada apa?" tanya Candra dengan dahi mengkerut.
"Kenapa wajahmu? Habis berantem?" tanya Azila yang baru sadar kalau wajah Candra sedikit bengkak dan membiru.
"Oh, ini, kemarin pas aku nyariin kamu, aku salah mengenali orang, karena aku kira itu kamu, aku memeluk dia, eh malah ditonjok sama pacarnya, untung ada Eldar sama Pak Ujang," jelas Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia sepupu ku yang kamu kira selingkuhan ku," jawab Candra.
"Oh," jawab singkat Azila, "Oh, ya, apa dia marah padaku? Kemarin aku menamparnya di rumah sakit, aku tidak sengaja, itu reflek karena aku udah marah," lanjut Azila yang teringat kalau dia menampar Eldar waktu di depan lift rumah sakit.
"Tenang saja, dia pemaaf," jawab Candra. "Aku pergi mandi dulu, ya, Sayang," lanjut Candra sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Tunggu," ucap Azila sambil menarik pergelangan tangan Candra lagi.
"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Candra sembari menoleh ke Azila.
"Jangan mandi dulu," jawab Azila.
"Kenapa?" tanya Candra dengan kerutan di dahinya.
"Lepas kaos sama celana mu," ucap Azila.
"Buat apa?" tanya Candra yang semakin bingung.
"Jangan banyak tanya, cepat lakukan," ucap Azila dengan sedikit membentak.
"Iya-iya," jawab Candra yang pasrah. "Apa dia lagi pengen, ya? Sudah lama juga aku sama dia tidak melakukan itu," gumam Candra dalam hatinya.
Candra mulai melepas kaos dan celananya seperti keinginan Azila, sekarang tubuh Candra hanya tertutup celana dalam berwarna putih yang menutupi adik kecilnya sampai paha tengah.
"Ikut aku," ucap Azila sembari berdiri dan menarik Candra ke balkon.
Setelah mereka berdua ada di balkon, Azila duduk di kursi dan Candra masih berdiri sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, Candra malu kalau ada tetangga rumah Azila yang melihat dia hanya memakai celan dalam.
"Apa kamu main di sini? Nanti kalau ada tetangga yang melihat gimana?" tanya Candra yang berpikir kalau Azila ingin melakukan itu di balkon.
"Dasar, otak mesum," balas Azila sambil terus menggigit dan mengunyah roti di tangannya.
"Lalu?" tanya Candra yang semakin bingung.
"Kamu olahraga di sini, aku pengen lihat kamu olahraga," jawab Azila dengan mulut yang masih mengunyah.
"Tapi kenapa harus lepas kaos sama celana, sih, Yang? Kalau ada tetangga yang lihat gimana?" balas Candra yang masih menutupi tubuhnya dengan kedua tangan, walaupun itu hanya menutupi sedikit bagian tubuhnya.
"Apa kamu ingin menolak keinginan anakmu?" balas Azila sambil memasang wajah sedih dan mengelus perutnya.
"Apa dia memberitahu mu?" tanya Candra.
"Dia mengirim pesan lewat telepati," jawab Azila yang menirukan jawaban Candra tadi.
Candra menjadi bingung antara mengabulkan permintaan istri dan anaknya atau memilih menolaknya demi harga dirinya jika ada tetangga yang melihat.
"Cepatlah, jangan banyak berpikir, jam segini semua tetangga masih pada tidur, jika kamu kelamaan mikir, mereka akan segera bangun," desak Azila.
"Tapi, kamu awasi sekitar, ya, biar nggak ada yang ngintip," pinta Candra sebelum menyetujui permintaan Azila dan anaknya.
"Tenang saja, serahkan itu padaku," jawab Azila dengan senyum lebar.
"Baiklah, aku mulai," ucap Candra sembari mulai melakukan pemanasan.
"Anak pintar," ucap Azila yang menirukan ucapan Candra saat di kamar.
Setelah selesai melakukan pemanasan, Candra mulai melakukan beberapa gerakan mulai dari jumping jacks, mountain climbers, squat jumps, squat side kick, push up, plank push up, side leg raise, hip bridge, dan masih banyak lagi.
Kini peluh bercucuran membasahi tubuh Candra yang hanya memakai celana dalam, Azila yang telah selesai dengan sarapan buatan Candra hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙