My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Belum cukup umur



Candra dan Eldar mengambil baju pasien mereka dan bergegas ganti baju di kamar mandi, kebetulan kamar mandi di kamar perawatan itu ada dua, yang satu khusus untuk mandi dan satunya lagi untuk mandi dan buang air.


Beberapa menit kemudian Candra telah keluar terlebih dahulu, dan tak berselang lama Eldar juga keluar dari kamar mandi satunya.


"Sekarang, Tuan Candra dan Nona Eldar silahkan berbaring di ranjang kalian masing-masing, saya akan menangani Tuan Candra dan Nona Eldar akan di tangani oleh Suster," jelas Pak Dokter.


Candra dan Eldar menurut apa kata Pak Dokter, mereka hanya pasrah saja saat Pak Dokter dan Suster memasang alat pada tubuh mereka lalu membalut beberapa bagian tubuh mereka yang tidak luka sama sekali.


"Oke, Tuan. Sudah selesai, sekarang, Tuan tinggal berpura-pura koma saja dan jangan bergerak sama sekali walaupun itu bola mata tuan, kecuali nafas bolehlah," jelas Pak Dokter pada Candra.


"Siap, Dokter," ucap Candra dengan senyum lebar di bibirnya.


"Sudah selesai, Nona," ucap Suster yang baru selesai memasang perban di dahi Eldar sebelah kiri. Eldar membalas ucapan Suster dengan senyum yang ramah dan manis.


"Nona Eldar tinggal bersandiwara saja seperti yang sudah di jelaskan Dokter barusan," ucap Suster lagi.


"Oke, Sus," jawab Eldar sambil memanggut-manggut kan kepalanya, "Terima kasih," lanjut Eldar.


"Sama-sama, Nona," balas Suster sambil tersenyum ramah ke Eldar.


"Kalau begitu, saya dan Suster pamit pergi dulu ya, Tuan, Nona," pamit Pak Dokter sebelum beranjak pergi meninggalkan kamar.


"Iya, Dok," balas Candra.


Pak Dokter dan Suster merapikan ranjang Candra dan Eldar agar terlihat lebih rapi, setelah itu mereka berdua beranjak keluar dari kamar. Saat Suster sudah membukakan pintu untuk Pak Dokter, dan Pak Dokter akan melangkah keluar, tiba-tiba Candra berseru, "Dok, kalau Azila sudah di sini, sering-seringlah kesini, saya tidak tahan berdiam diri terus."


Mendengar seruan Candra, Pak Dokter dan Suster berhenti melangkah dan menoleh ke arah Candra, "Baik, Tuan. Apa ada lagi?" Tanya Pak Dokter.


"Bawa makanan dan cemilan, Dok," teriak Eldar yang menyahut pembicaraan Candra dan Pak Dokter.


"Baik, Nona, ada lagi?" Tanya Pak Dokter lagi.


Candra dan Eldar bertatapan seakan mereka sedang berdiskusi, "Tidak," ucap Candra dan Eldar bersamaan.


"Kalau tidak ada lagi, saya pergi dulu, Tuan, Nona," pamit Pak Dokter yang lalu melangkahkan kakinya keluar dan di susul oleh Susternya.


Setelah Pak Dokter dan Suster keluar, suasana ruangan menjadi sepi, Candra dan Eldar hanya terbaring diam tak bergerak sama sekali, mereka berdua takut jika banyak gerak nanti ada alat yang lepas dari tubuh mereka.


"Kak Candra, aku mulai bosan," rengek Eldar sambil menoleh ke ranjang kakaknya.


"Sabar saja, kamu kira Kakak juga enggak bosan," jawab Candra yang juga menoleh ke ranjang Eldar.


"Bukan sabar atau tidak sabarnya Kak, tapi badan ku akan kaku dan kram kalau terus berdiam seperti ini," balas Eldar.


"Gerakin jari kaki dan jari tanganmu saja, biar aliran darahmu lancar," ucap Candra.


"Tap--" ucap Eldar yang tertahan karena ada suara pintu di buka, lalu Candra dan Eldar langsung mengembalikan pandangan mereka ke atas dan memejamkan mata mereka.


Klek, pintu kamar Candra dan Eldar di buka oleh seseorang.


"Hei, anak-anak nakal, tidak usah bermain akting, ini Ayah, dan Azila masih di rumah" ucap seseorang yang membuka pintu kamar, dan ternyata itu adalah Ayah Yoga.


Mendengar suara itu, Candra dan Eldar membuka mata mereka dan mendengus lega karena Azila tak ikut serta saat Ayah datang.


"Ayah, Om Yoga," panggil Candra dan Eldar bersamaan.


"Iya, Om ngagetin banget tahu," tambah Eldar yang juga ikut protes.


"Emang Om pikirin, siapa suruh kalian mau jahilin menantuku," balas Ayah Yoga yang membela Azila.


"Tau tuh, Om. Kak Candra yang ajak-ajak Eldar, sebenarnya Eldar udah ngelarang dan nolak, tapi Kak Candra maksa mulu," ucap Eldar yang menyalahkan Candra.


"Heh, Adik durhaka, apa maksudmu, ini semua rencana yang keluar dari otakmu dan Kakak hanya melaksanakan rencana jahilmu ini," balas Candra yang tidak terima karena di sudutkan oleh Eldar.


"Hei, hei, hei, kalian diam. Dari kalian berdua tidak ada yang benar kalau kalian udah bersama melakukan kejahilan, kalian sudah besar, sudah dewasa, sudar umur 21 tahun lebih, masih aja kayak anak kecil," ucap Ayah Yoga yang memarahi Candra dan Eldar.


"Iya, Yah. Candra janji kalau ini yang terakhir," ucap Candra yang berjanji ke Ayah Yoga.


"Eldar juga, Om. Eldar janji ini akan jadi yang terakhir," ucap Eldar yang menirukan Candra untuk berjanji ke Ayah Yoga.


"Baiklah, akan Ayah pegang janji kalian berdua, kalau sampai kalian berdua mengingkari janji kalian sendiri, Ayah tak segan-segan melempar kalian ke pulau tak berpenghuni," ucap Ayah Yoga yang membuat Candra dan Eldar menelan ludah dan bergidik ketakutan, padahal Ayah Yoga hanya bercanda, tapi cara bicaranya yang serius membuat Candra dan Eldar percaya dan ketakutan.


"Kalian bersiaplah, Azila sudah ada di lobby rumah sakit," ucap Ayah Yoga setelah mendapat pesan dari orang suruhannya.


"Oh ya, Yah. Tolong panggilin Dokter kesini ya, Yah. Suruh dia datang setelah Azila masuk, Candra masih takut kalau ketahuan terlalu cepat," pinta Candra pada Ayah Yoga.


"Ayah TI-DAK MA-U," tolak Ayah Yoga yang menekan kata tidak maunya.


"Yah, please, ya ya ya," rengek Candra dengan memelas.


"MA-LES," tolak Ayah Yoga lagi sambil menyender ke sofa.


"Ayolah, Yah. Sama anak sendiri enggak boleh pelit," rengek Candra lagi.


"Apa untungnya buat Ayah kalau bantu kamu?" ucap Ayah Yoga yang mencoba memberi kesempatan.


"Emm, Candra bakal buatin Ayah cucu deh, gimana? mau ya, Yah?" Tawar Candra pada Ayah Yoga.


Mendengar tawaran Candra, Ayah Yoga menahan tawanya karena Candra masih belum tau kalau Azila sudah hamil, "Tawaran yang menggiurkan, baiklah Ayah turuti permintaanmu, tapi masih ada satu syarat lagi," ucap Ayah Yoga yang masih belum menyetujui tawaran Candra barusan.


"Apalagi sih, Yah?" Tanya Candra.


"Kamu harus kasih Ayah cucu yang banyak gimana, setuju?" ucap Ayah Yoga.


"Setuju banget," jawab Candra dengan semangatnya.


"Oke, deal!" Seru Ayah Yoga yang tak kalah semangat.


"Kalian lagi melakukan transaksi apa sih? Eldar tidak paham sama sekali dari tadi," tanya Eldar yang masih belum mengerti tentang transaksi apa yang sedang di bicarakan oleh Candra dan Ayah Yoga.


"Diamlah anak kecil, kamu masih belum cukup umur," jawab Candra yang membuat Ayah Yoga tertawa.


"Sudah-sudah, kalian bersiaplah, Azila dan Bunda sudah menuju kemari," ucap Ayah Yoga.


Candra dan Eldar mengatur nafas dan detak jantung mereka, lalu menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan, lalu mereka mulai menutup mata mereka saat terdengar suara gagang pintu kamar di buka.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙