
"Zila, kenapa kamu menampar ku, apa salahku?" Tanya Candra dengan nada yang agak membentak.
"Kamu tanya apa salahmu? Jelas-jelas kamu sudah membohongiku, Candra!" Jawab Azila yang sudah marah.
"Aku membohongimu apa, Zila?" Tanya Candra yang masih tidak mengerti apa maksud Azila.
"Kamu masih berani bertanya apa kebohongan yang sudah kamu lakukan, hah?" Jawab Azila dengan suara membentak, "Dokter bilang kalau kamu itu koma, dan sejak kapan orang koma bisa jalan-jalan sepertimu?" lanjut Azila yang semakin marah.
"Awalnya aku hanya berniat melihat seberapa besar cintamu padaku, Zila," jawab Candra yang mengatakan sejujurnya, tetapi dia tidak mengatakan kalau dia juga berniat mengerjai Azila. Candra rasa, itu bukan alasan yang tepat untuk saat ini.
Mendengar alasan Candra, Azila sontak kaget. Rahang Azila mengerat. Dahi mengkerut. Nafasnya memburu. Jantungnya berdebum dahsyat. Seperti sebuah granat telah dilempar ke dalam dadanya. Amarahnya meluap. Matanya menatap tajam ke arah Candra.
"Kamu bilang apa? Ingin melihat seberapa besar cintaku? Apa sekarang kamu sudah melihatnya? Apa kamu sudah puas?" Balas Azila yang semakin marah.
"Sayang, tenanglah, aku bakal jelasin semuanya. Kita duduk dulu ya!" Ajak Candra sembari memegang bahu Azila.
Telinga Azila seakan telah menutup dan tidak mau mendengar ucapan apapun lagi dari Candra, Azila menepis tangan Candra yang mencoba menyentuhnya, dan tak sadar air mata Azila keluar dari pelupuk matanya, Azila berbalik badan dan melangkah meninggalkan Candra. Candra yang masih dirundung kebingungan langsung mengejar Azila dan menarik pergelangan tangannya.
Azila memberontak dan melepaskan pegangan Candra yang mencengkram pergelangan tangannya. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu, aku tidak sudi dipegang oleh laki-laki tukang selingkuh dan brengsek sepertimu!" Seru Azila dan berlari keluar dari kamar perawatan rumah sakit.
2 bodyguard yang masih berdiri di depan pintu hanya diam dan tak melakukan apapun saat Azila keluar dari kamar perawatan dengan kondisi yang masih menangis.
Candra yang mulai tidak karuan karena mendapat tuduhan dan hinaan dari Azila, dia segera menyusul Azila dengan kekuatiran yang mulai menguasai dirinya. Saat Candra sudah berada di luar pintu, dia melihat Azila sudah berhenti di depan lift.
"Kenapa kalian diam saja!" Bentak Candra ke kedua orang yang berdiri di depan pintu sebelum dia berlari menyusul Azila.
Kedua bodyguard itu saling memandang satu sama lain, mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Tuannya itu, karena tidak mau mendapat masalah, kedua bodyguard itu langsung berlari menyusul Candra.
Ting, suara pintu lift terbuka, mata Azila membulat besar karena terkejut melihat wanita yang keluar dari dalam lift.
Plak, tiba-tiba Azila menampar wanita yang baru saja keluar dari lift sampai terseret oleh arah tamparan Azila, "Dasar pelakor hina!" Seru Azila dalam isakan tangisnya lalu berjalan masuk kedalam lift.
Eldar yang baru saja keluar dari lift dan disambut oleh tamparan wanita yang tidak ia kenal sama sekali membuatnya geram dan mulai tersulut emosi, saat Eldar berbalik dan ingin membalas tamparan itu, tetapi dia sudah terlambat, pintu lift sudah menutup dan mulai bergerak turun. Eldar yang sudah tersulut oleh emosinya hanya bisa menendang-nendang pintu lift dan terus memencet tombol di samping lift agar mau terbuka, namun usahanya itu sia-sia saja.
Candra yang tadi menyaksikan kejadian diluar dugaannya itu sempat kaget, Candra segera menghampiri Eldar yang melampiaskan amarahnya ke pintu lift.
"Eldar, berhenti," ucap Candra yang sudah berada di samping Eldar.
Eldar yang mendengar suara Kakaknya langsung menoleh menghadap Candra. "Kak, apa tadi Kakak lihat yang dilakukan wanita sialan tadi? Dia menamparku dan melontarkan sepatah kata yang tidak aku mengerti artinya, Kak!" Seru Eldar yang mengadu ke Candra. "Apa Kakak mengenal dia?" Tanya Eldar lagi.
Candra mulai bingung dengan situasi saat ini, "Kenapa jadi rumit begini sih," gumam hati Candra dalam lamunannya.
"Kak!" Panggil Eldar dengan teriakannya hingga membuat Candra tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya apa, kamu tanya apa tadi?" Balas Candra yang masih terkejut.
"Apa Kakak mengenal wanita tadi?" Jawab Eldar yang mengulang pertanyaannya.
Mendengar jawaban Candra, raut wajah Eldar berubah terkejut karena tidak percaya. "Hah? Kakak serius?" Tanya Eldar yang masih tidak percaya.
"Iya Eldar, ngapain Kakak bohong padamu," jawab Candra dengan wajah serius.
"Apakah itu cara menyambut pertemuan pertama dengan Adik Iparnya yang berbaik hati membawakan dia makanan?" Balas Eldar sambil mengangkat tas yang ia bawa.
"Itu tidak penting, ayo cepat kejar Kakak Iparmu dulu!" Ajak Candra saat pintu lift sudah terbuka, lalu dia masuk dan menarik Eldar bersamanya.
Kedua bodyguard yang mengejar Candra tadi hanya bengong karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, "Tuan Candra udah turun, kita ikut turun atau ngapain?" Tanya bodyguard nomer 1 ke temannya.
"Turun ajalah, nyusul Tuan Candra. Daripada kita berdiri tidak jelas di sini," jawab bodyguard nomer 2.
"Ayo kita turun lewat tangga sekarang," ajak bodyguard nomer 1.
"Nunggu lift ajalah, turun lewat tangga capek," balas bodyguard nomer 2. "Lagian, di bawah juga sudah ada yang lain, tenang aja," lanjut bodyguard nomer 2.
"Oh, oke. Aku nurut aja, lagian aku juga capek kalau turun lewat tangga," sahut bodyguard nomer 1 yang menyetujui usulan bodyguard nomer 2, lalu kedua bodyguard itu berdiri di depan lift sembari menunggu pintu lift terbuka.
≈≈≈
Di dalam lift.
"Kak, kenapa Kakak Ipar menamparku tadi? Dan apa maksud perkataannya tadi?" Tanya Eldar yang masih emosi sekaligus bingung dan penasaran.
"Memangnya tadi dia bilang apa?" Tanya balik Candra yang tidak mendengar perkataan Azila dan Eldar saat di depan lift.
"Kakak Ipar bilang 'Dasar pelakor hina!' begitu Kak ucapnya tadi," jawab Eldar sambil menirukan gaya bicara Azila tadi.
"Pelakor itu artinya perebut suami orang," jelas Candra.
"What? Kenapa Kakak Ipar menuduhku seperti itu, lalu suami siapa yang aku rebut?" Balas Eldar yang tidak mengerti maksud Azila.
"Sudahlah, dia hanya salah paham, jangan masukkan ke hati," jelas Candra pada Eldar.
"Lalu kenapa kita mengejarnya, Kak?" Tanya Eldar dengan polosnya.
"Ya buat kita jelasin semuanya lah, dasar bodoh," jawab Candra yang geram terhadap Eldar, dan Eldar hanya tertawa menyadari kebodohannya.
≈≈≈
Dengan hati yang sudah hancur, perasaan kecewa terhadap Candra, dan pikiran yang sudah buntu, Azila keluar dari lift dan berjalan sedikit berlari, dia mencoba menahan tangisnya agar tidak pecah di depan orang banyak, dan pada akhirnya, Azila tidak dapat menahan tangisnya lagi, tangisnya pecah saat Azila berada di samping jalan raya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙