
"Sayang, bangun. Bunda mau bicara sama kamu," ucap Candra, "Sayang, ayo bangun," ucapnya lagi.
Karena tidak ada jawaban, Candra menyalakan lampu tidur di sampingnya. Setelah lampu tidur menyalaβ,
Duaarrr ....
"Kamu ..!" teriak Candra.
Candra terperanjat dan lompat dari ranjang, ponsel yang tadi dia genggam juga jatuh ke lantai.
"Halo, Can !" panggil Bunda Putri karena mendengar teriakkan Candra begitu kencang, "Apa kalian baik-baik saja? Apa ada masalah?" lanjut Bunda Putri.
Candra mengambil ponselnya, "Candra matikan dulu, Bun," ucap Candra lalu memutus sambungan teleponnya.
Di atas ranjang Amanda menarik selimut dan menutupi tubuhnya, dia menundukkan wajahnya. Candra mendadak kacau dan pikirannya berlari ke sana ke mari mencari jawaban untuk situasi yang dia hadapi sekarang.
Di balik wajah yang menunduk di atas ranjang, tersirat senyum puas karena keadaan inilah yang dia harapkan.
Candra menatap Amanda dengan tatapan tidak percaya. Di dalam benaknya hanya ada penyesalan yang tidak beralasan, dia merasa berdosa tanpa tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat. Hatinya gusar memikirkan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan wanita di atas ranjang itu.
Sekejap bayangan Azila mendarat di otaknya, dia bertambah gusar dan takut karena bingung harus berbicara apa ke pada istrinya saat ini.
Lebih dari lima menit ruangan itu hening tanpa ada percakapan tau penjelasan. Candra masih berdiri agak jauh dari ranjang, dia sudah memakai baju kerjanya kembali. Sedangkan Amanda masih menutup tubuhnya dengan selimut ranjangnya sendiri.
Candra mengacak-acak rambutnya karena dia tidak ingat sama sekali dengan apa yang sudah dia lakukan, yang dia ingat hanya sampai dia tertidur di kursi belakang mobilnya, tapi kenapa saat bangun dia sudah berada di kamar yang tidak dia kenali, bahkan ada wanita di sampingnya saat dia tidur.
"Apa yang sudah terjadi, Tuhan," gumam Candra dalam hati.
Candra melihat jam di ponselnya dan waktu sudah menginjak jam delapan malam, Candra sekilas menoleh ke Amanda yang terus menunduk. Dia berencana untuk pergi meninggalkan kamar itu.
Saat Candra sudah berada di depan kamar, dia terhenti karena ada yang memeluknya dari belakang, dengan cepat dia melepaskan tangan yang memeluknya itu.
Amanda yang masih menyelimuti tubuhnya sudah berdiri di belakang Candra.
"Jangan pergi," ucap Amanda, "Aku takut," lirihnya.
Candra diam tak menjawab, menoleh pun tidak. Namun, entah kenapa dia merasa begitu bersalah.
"Ji-jika, a-aku hamil, ba-bagaimana? Kamu harus tanggung jawab, Candra," ucap Amanda yang mulai meneteskan air mata palsunya.
Candra berbalik dan mencengkeram rahang bawah Amanda, "Jangan bicara omong kosong, aku tahu, ini, semua adalah ulah mu sendiri," geram Candra dengan wajahnya yang sudah memerah.
Amanda hanya diam, tangisnya semakin pecah saat merasakan sakit karena cengkraman tangan Candra. Candra membuang muka Amanda saat air mata Amanda mengenai tangannya.
"Kamu jahat, Candra ! Kamu hanya mengambil enaknya saja, tapi tidak mau bertanggung jawab," ucap Amanda dengan nada tinggi, "Dasar laki-laki tidak tahu diuntung !" maki Amanda sambil memukul-mukul dada Candra.
Pukulan Amanda melemah dan dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia terduduk sambil terus meneteskan air mata kepalsuannya.
"Berhentilah menangis, aku tidak akan berbelas kasihan padamu," ucap Candra lalu pergi. Namun dia terhenti karena pintu keluar terkunci.
"Jangan harap kamu bisa keluar dari sini, kamu sudah meniduri ku, maka kamu harus bertanggung jawab," ucap Amanda.
"Jangan gila, Nona Amanda Mardiana !" teriak Candra sambil menunjuk Amanda. Amanda terdiam beku dengan jantung yang berpacu cepat.
Candra menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan, dia mencoba menenangkan pikirannya dan mencoba berpikir di otak yang jernih.
"Sebentar," ucap Candra, "Kenapa aku bisa berada di sini? Bukankah tadi siang kita perjalanan ke kantor? Seingat ku, tadi aku mengantuk, dan kamu menggantikan aku menyetir, dan aku menjadi mengantuk setelah meminum air darimu," ucap Candra lagi. Amanda semakin takut karena Candra seperti menyadari rencananya.
"Nona Amanda, jangan-jangan di air, itu, kamu memasukkan obat," tebak Candra sambil berjalan mendekati Amanda.
"Cepat katakan, kamu memasukkan obat apa? Obat tidur? Obat perangsang? Atau obat apa?" tanya Candra yang mulai menerka-nerka.
"Ti-tidak, i-itu, air biasa, aku juga meminumnya, dan aku baik-baik saja," jawab Amanda gugup.
"A-aku tidak berbohong," balas Amanda.
"Lalu, kenapa kamu berbicara dengan tergagap begitu? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu kan?" balas Candra.
"A-aku takut karena kamu marah-marah, dan membentak ku," jawab Amanda. Candra terdiam beberapa saat.
"Berikan kuncinya, dan aku akan mengurus semuanya jika kamu hamil," ucap Candra sambil menyodorkan tangannya. Amanda tersenyum.
"Benarkah? Apa aku bisa memegang janjimu?" tanya Amanda memastikan.
"Aku tidak pernah berbohong," jawab singkat Candra.
Amanda mengangguk lalu berdiri mengambil kartu untuk membuka pintu apartemennya dan membukakan pintu untuk Candra. Setelah Candra keluar dari apartemennya, Amanda melempar selimut yang membungkus tubuhnya dan berjingkrak-jingkrak karena Candra dan Azila masuk ke dalam perangkapnya.
"Selangkah lagi rencana ku akan berhasil, dan Candra akan menjadi milikku seutuhnya," ucap Amanda, "Maaf kan aku, Zila. Aku tidak merebut Candra darimu, tapi kamulah yang sebenarnya merebut Candra dariku, dan aku hanya mengambilnya kembali," lanjut ucap Amanda.
Candra sudah berada di dalam mobilnya, dia segera melaju menuju rumahnya. Candra begitu gusar karena dari pagi sampai malam masih belum ada pesan atau panggilan masuk dari Azila.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya Candra sudah berada di teras rumahnya, dia segera masuk dan berlari menuju kamarnya. Saat sampai di ruang keluarga, dia di hentikan oleh Ayah dan bundanya.
"Candra, ke sini kamu !" panggil Ayah Yoga dengan teriakan membentak. Candra terkejut bukan main karena ini baru pertama kalinya Ayah Yoga membentaknya.
"A-ada apa, Yah?" tanya Candra yang sudah berdiri di dekat Ayah Yoga dan Bunda Putri yang menangis.
Plaaakkk ....
Tamparan keras dari Bunda Putri mendarat di pipi kiri Candra hingga terjiplak merah di sana.
"Ke-ke-kenapa, Bun? Kenapa Bunda menamparku? Apa aku berbuat salah?" tanya Candra yang begitu terkejut karena itu pertama kalinya bundanya berlaku kasar padanya.
Plaaakkk ...
Bunda Putri kembali menampar Candra, "Salah apa kamu bilang? Apa Bunda, dan Ayah pernah mengajarimu untuk selingkuh, dan main gila dengan wanita lain saat istrimu sendiri sedang hamil besar? Apa kamu tidak punya otak untuk berpikir, hah?" teriak Bunda Putri yang meluapkan kemarahannya.
"Siapa yang selingkuh, Bunda? Candra tidak selingkuh, apalagi main gila di belakang Azila," jawab Candra.
Bunda Putri mengambil ponsel Azila yang sudah pecah layarnya namun masih bisa dinyalakan, lalu Bunda Putri membuka room chat Azila dengan Candra dan memperlihatkannya pada Candra.
Deg ....
Jantung Candra seakan berhenti saat melihat foto-fotonya dengan Amanda berada di sana, dia bahkan tidak pernah mengambil, mengirim, melakukan adegan di foto itu.
Candra langsung berlari ke kamarnya dan mencari Azila di sana. Namun kamarnya begitu sunyi dan berantakan. Candra lalu berlari turun menghampiri bundanya.
"Azila di mana, Bun?" tanyanya dengan kekhawatiran yang begitu menyesakkan hatinya.
"Dia pergi,"
Deg ....
Jantung Candra sejenak berhenti berdetak. Dadanya sesak. Pikirannya memanas. Tangan kekarnya mengepal menampakkan urat-urat otot.
Candra berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari rumahnya.
"Hei, mau kemana kamu ?" teriak Bunda Putri. Candra terus berjalan tanpa menggubris pertanyaan bundanya.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya π€ dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author πππ