My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Sedia baju sebelum lahiran



Sejak Candra dan Azila sampai, sudah satu jam lebih berlalu. Meja makan yang tadinya masih kosong dan baru dibersihkan, kini sudah penuh dengan makanan di atasnya, mulai dari Appetizer,  Main Course, dan Dessert, semua lengkap tersaji di atasnya.


Jika makanan sudah siap, pastinya para penikmat sudah siap di sana untuk menyantap makanan itu. Terlihat Mamah Mitha dan Papah Hendri sudah duduk di kursi samping meja makan, namun mereka berdua tidak bernafsu untuk menyantap makan siang mereka.


Mamah Mitha terus saja memandangi pintu utama rumahnya, dia sangat cemas karena belum ada kabar dari anak dan menantunya.


"Pah," Mamah Mitha memanggil Papah Hendri yang ada di sampingnya.


"Hm," jawab Papah Hendri.


"Azila sama Candra, kok, belum datang, ya, Pah? Padahal mereka sudah bilang kalau jam delapan pagi akan ke sini. Tapi, ini, sudah jam setengah satu siang lebih, Pah," jelas Mamah Mitha dengan rasa cemasnya.


"Mungkin mereka tidak jadi ke sini, Mah. Udah, ayo kita makan," balas Papah Hendri sambil mengambil nasi dan beberapa lauk.


"Apa, jangan-jangan, mereka kecelakaan, Pah?"


Uhhuk uhhuk


Mendengar ucapan Mamah Mitha, Papah Hendri langsung tersedak di suapan pertamanya.


"Pah, Papah kenapa? Hati-hati, lah, kalau makan, jangan buru-buru," ucap Mamah Mitha sambil mengelus punggung suaminya dan menyodorkan segelas air putih.


Papah Hendri meminum air yang diberikan oleh istrinya, "Mamah, sih. Bicaranya enggak dijaga, omongan adalah doa, Mah. Masa Mamah doain anak sendiri kecelakaan," ucap Papah Hendri sambil mengelus dadanya yang terasa perih karena tersedak.


Mamah Mitha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan barusan, "Ya, maaf, Pah. Namanya juga khawatir," jelas Mamah Mitha.


Cklek..


Suara pintu utama terbuka, Mamah Mitha dan Papah Hendri langsung menoleh menatap pintu utama yang hanya dihalangi oleh ruang tamu.


Di hati Mamah Mitha, dia sangat berharap jika yang membuka pintu itu adalah Azila dan Candra. Begitu juga dengan Papah Hendri, dia juga sangat berharap itu adalah Azila dan Candra.


Mereka berdua sangat merindukan anak dan menantunya itu, apalagi Azila sedang mengandung cucu pertama mereka.


Mata kedua manusia paruh baya itu mulai meredup dari binarnya. Mereka berdua sedikit kecewa karena harapan mereka menjadi sirna setelah mengetahui siapa yang membuka pintu.


Walaupun mata mereka kehilangan binar harapan, namun senyum di bibir mereka tetap mengembang lebar.


Dari balik pintu, masuklah seorang laki-laki tampan dengan paras orang Eropa dan seorang wanita cantik yang sangat mereka rindukan juga. Ya, mereka berdua adalah Kevin dan Nabila, yang tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Siang, Pah, Mah," sapa Nabila yang sudah berada di antara kedua orangtua angkatnya.


"Siang, Om, Tante," sapa Kevin sambil mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.


"Kenapa kalian baru datang? Sesibuk, itukah, kalian? Sampai lupa kalau masih punya orangtua di sini," ucap Mamah Mitha tanpa melihat Nabila maupun Kevin.


Nabila merangkul pundak Mamah Mitha, "Mah, jangan berpikir seperti, itu. Mamah tahu sendiri, kan. Kita masih sibuk mempersiapkan acara pernikahan kita," jelas Nabila.


"Salah sendiri. Kenapa kalian menolak bantuan orangtua," balas Mamah Mitha dengan judesnya.


"Bukannya kita tidak mau, Mah. Tapi kita sendiri yang mau mengurus semuanya, kita tidak mau merepotkan Mamah sama Papah," ucap Nabila.


"Sudahlah, Nab. Mamah mu hanya ingin menggoda mu, dia terlalu merindukan mu dan Azila," ucap Papah Hendri.


Saat itu juga, Mamah Mitha mencubit perut Papah Hendri, "Kenapa Papah bilang-bilang, sih. Kan jadi tidak seru," ucap Mamah Mitha sambil terus mencubit perut Papah Hendri.


"Ohh. Jadi, ceritanya Mamah lagi ngerjain aku, nih? Oke, aku ngambek sama Mamah, aku enggak mau bicara lagi sama Mamah," ucap Nabila sembari pergi dan duduk di kursi seberang, begitu juga dengan Kevin, dia duduk di samping Nabila.


Mamah Mitha tertawa kecil melihat tingkah Nabila, "Dasar, cewek lebay," ledek Mamah Mitha.


"Siapa, nih, yang lebay?" tanya seorang wanita dari belakang Mamah Mitha.


Sontak mata Mamah Mitha dan Papah Hendri langsung menoleh ke belakang, "Zila !" ucap Mamah Mitha dengan sedikit berteriak.


"Mah, Mamah jangan kencang-kencang manggilnya. Zila di sini, dan Zila tidak tuli," ucap Azila.


"Sejak kapan kamu sampai? Perasaan, dari tadi tidak ada yang membuka pintu," tanya Mamah Mitha.


Azila dan Candra pergi dan duduk di kursi mereka, "Sudah dari tadi, Mah. Tapi, pas kita sampai, Mamah sama Papah tidak ada. Ya, kita langsung ke kamar dan tidur," jawab Azila.


"Kenapa tidak mencari kita? Dari tadi pagi Mamah sama Papah di rumah terus," ucap Mamah Mitha.


"Emm, itu, karena--" ucap Azila menggantung sambil menatap Candra.


Candra menjadi bingung saat Azila menatapnya, dia tidak mungkin berkata jujur, "Emm, tadi, tadi kita kelelahan, Mah. Habis dari mall, belanja baju untuk calon bayi," ucap jujur Candra, namun masih menyembunyikan sesuatu.


"Kandungan Azila baru dua bulan, Candra," ucap Papah Hendri sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya, kita hanya mengikuti pepatah Sedia payung sebelum hujan, Pah. Makanya kita juga Sedia baju sebelum lahiran," ucap Candra.


Mereka semua yang ada di meja makan malah tertawa dibuat Candra, begitu juga dengan Azila, dia kagum ke suaminya karena pintar mencari alasan.


Setelah bercanda gurau, mereka berenam mulai menikmati makan siang mereka tanpa kehadiran Abyasa. Abyasa tidak ada di sana karena dia sedang mengikuti studi campus di kota Malang.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙