My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Teriakan



"Aku sudah selesai menuruti permintaan mu, sekarang aku pergi mandi, ya," ucap Candra sembari berjalan meninggalkan Azila di balkon.


"Kenapa buru-buru, aku belum membolehkan mu pergi," ucap Azila yang menarik pergelangan Candra hingga berbalik dan berpelukan.


"Ada apa lagi? Aku sudah basah karena keringat, handuk mu juga basah kena keringat ku," kata Candra.


Azila hanya tersenyum membalas perkataan Candra, Azila semakin erat memeluk tubuh basah suaminya, kini Azila mulai mendekatkan hidungnya ke ketiak Candra yang mengeluarkan aroma khas Candra.


"Sayang, kenapa kamu malah mengendus ketiak ku? Kecut tahu, baunya," ucap Candra sambil memegang kepala Azila yang makin maju untuk mengendus ketiaknya.


"Aku kangen ketiak mu, tauk," jawab Azila yang kini memandang wajah Candra.


"Kumat lagi, lah, bawaan bayinya," ucap Candra dalam hatinya.


"Tuh, kan, badanmu kena keringat ku, kamu sih, orang lagi keringetan juga, malah ditempelin," ucap Candra yang melihat keringat di dahinya menetes diantara dua gunung milik Azila.


"Kan, tinggal mandi lagi, Sayang. Apa kamu udah nggak mau deket-deket lagi sama aku? Aku jelek, ya?" ucap Azila dengan wajah sedihnya sambil memainkan tonjolan kecil berwarna coklat muda yang ada di dada putih Candra.


Candra yang merasa geli sudah mulai tidak bisa menahannya lagi, segeralah Candra menakup pipi Azila dan mencium ganas bibir Azila. Azila yang gelagapan langsung menarik tonjolan coklat muda di dada Candra.


"Auhh! Sakit, Yang," reflek Candra yang kesakitan sambil menyudahi ciuman ganasnya.


"Kenapa kamu menariknya, sakit tauk," ucap Candra sambil mengelus tonjolan di dadanya.


"Siapa suruh kamu main cium aku di sini, apa mata mu sudah rabun, tuh lihat," jawab Azila sambil menunjuk balkon rumah tetangganya. Di sana ada anak kecil yang berusia sekitar 3 tahun ke atas sedang menonton aksi Candra dan Azila tanpa kedip.


"Siapa suruh kamu menggoda ku, Sayang," balas Candra sembari menoleh kearah jari Azila menunjuk, "Astaga, kita telah memberi tontonan yang tidak baik, Sayang," lanjut Candra sembari kembali menatap Azila.


"Itu salahmu. Ayo, kita masuk, sebelum ibunya datang dan tergoda dengan suamiku yang seksi, ini," ucap Azila sambil mengecup dada Candra.


"Kamu semakin nakal, Zila," balas Candra sembari menggendong Azila masuk ke dalam kamar.


Candra menggendong tubuh Azila yang hanya terbalut handuk, setelah sampai di kamar, Candra mendudukkan Azila di ranjang lalu dia pergi mengambil handuk di lemari dan bergegas masuk ke kamar mandi, Azila yang merasa diabaikan hanya bisa memanyunkan bibirnya.


"Kenapa sekarang aku jadi aneh, sih. Kemarin aku jadi latah, sekarang aku jadi bernafsu setiap melihat Candra. Sayang, apa ini ulah mu? Kamu jangan bikin Mamah jadi punya sifat yang aneh-aneh, ya, Sayang," gumam Azila sambil mengelus-elus perut ratanya.


"Kenapa pagi ini sangat gerah, ya, padahal baru jam setengah tujuh, rusak kali, ya, AC nya," ucap Azila sembari melepas handuknya dan mengipasi dirinya.


"Huft, lama-lama makin gerah banget, nyusul Candra mandi ajalah, sekalian mandi lagi," ujar Azila yang sudah berdiri dan berjalan menyusul Candra di kamar mandi.


Azila membuka pintu kamar mandi dan langsung nyerobot ikut Candra tanpa menutup pintu dulu, Azila langsung menggeser tubuh Candra dan mengguyur dirinya di bawah shower. Candra yang bengong melihat Azila masuk tanpa ketuk dulu dan main serobot shower nya. Candra yang sudah sangat gemas dengan Azila sejak tadi pagi, langsung mendekap Azila.


Bibir Candra mulai menelusuri tengkuk dan punggung Azila, sedangkan tangannya mulai menjelajahi tubuh Azila bagian depan. Entah mengapa Azila begitu menikmati setiap sentuhan dan kecupan dari Candra. Mereka berdua terus melanjutkan aksinya di kamar mandi.


≈≈≈


Mamah Mitha sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya dan memasak lebih banyak karena ada menantunya, Papah Hendri dan Yasa sudah duduk di kursi mereka sambil menunggu tamu yang kemarin baru datang.


"Mah, tumben, masak banyak banget, mau hajatan apa ini?" tanya Yasa yang belum tahu jika Candra ada di rumah mereka.


"Bukan hajatan, hari ini keluarga kita bakal kumpul semuanya, Kakak Ipar mu juga ada di sini sekarang, dan sebentar lagi Nabila juga bakal kesini," jawab Mamah Mitha yang sudah ikut duduk setelah selesai menata makanan di meja makan.


"Nabila beneran mau kesini?" tanya Papah Hendri.


"Beneran, Mah?" tanya Papah Hendri yang belum percaya sepenuhnya.


"Iya, Pah. Tapi Mamah juga belum tahu siapa pacarnya Nabila," jawab Mamah Mitha.


"Akhirnya, ada orang yang bisa menaklukkan jual mahalnya, Papah jadi penasaran, siapa laki-laki yang bisa mendapatkan anak, ini," ucap Papah Hendri.


"Pah, Mah. Kalau Yasa cari pacar sekarang dan ngenalin ke Papah sama Mamah, boleh nggak?" celetuk Yasa.


"Ku smackdown beserak kau, masih SMA juga, nggak ada itu pacaran, nggak ada nggak ada," jawab Mamah Mitha dengan nada tinggi seperti Mak Beti.


"Kesurupan Mak Beti pula," ucap Yasa dalam hatinya, "Iya-iya, Mah. Yasa cuma bercanda doang tadi," jelas Yasa ke Mamah Mitha.


Papah Hendri yang melihat istri dan anaknya begitu akur membuat hatinya tersenyum bahagia. Walaupun hubungan mereka adalah keluarga, mereka lebih sering berinteraksi layaknya seorang sahabat, bukan karena anak mereka yang tidak sopan, tapi Papah Hendri dan Mamah Mitha lah yang mengikuti gaya obrolan anak muda, mereka hanya ingin lebih dekat dan mengerti kemauan anak mereka.


"Selamat pagi, my family, apa kalian sedang menunggu bidadari cantik ini?" sapa Nabila yang baru datang dengan suara kerasnya.


"Idih, pedenya minta ampun," celetuk Yasa.


"Cantik, mah, bebas," balas celetuk Nabila, dan Yasa membalas dengan mulut yang nyinyir.


"Pagi juga, Sayang," balas sapa Mamah Mitha.


"Mana pacarmu? Katanya mau dikenalin," tanya Papah Hendri yang celingukan karena melihat Nabila datang sendiri.


"Masih parkir mobil, Pah. Tadi aku langsung masuk karena udah kangen banget sama kalian, apalagi muka tengilnya adekku yang, ini," jawab Nabila sambil mencubit pipi Yasa yang ada di depannya.


"Ya, udah, kalau begitu, Mamah panggil Zila sama Candra dulu," ucap Mamah Mitha sembari berdiri dari duduknya.


"Mereka tidur di sini, Mah?" tanya Nabila sebelum Mamah Mitha melangkahkan kakinya.


"Iya," jawab Mamah Mitha.


"Mah, biar Nabila aja yang manggil mereka," ucap Nabila.


"Pacarmu?" tanya Mamah Mitha.


"Dia udah besar, Mah. Dia juga udah pernah ketemu kalian," jawab Nabila. "Biar aku aja yang panggil mereka. Mamah, di sini aja, oke," lanjut Nabila.


"Baiklah, terserah kamu," jawab Mamah Mitha sembari duduk kembali.


Nabila langsung berlari dengan semangatnya menaiki anak tangga menuju kamar Azila dan Candra. Rasa kangen Nabila ke Azila sudah tak terbendung lagi, karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Kini Nabila sudah sampai dan berdiri tepat di depan pintu kamar, sebelum Nabila mengetuk pintu, dia samar-samar mendengar teriakkan Azila dari dalam.


"Candra ..! Terus! Sedikit lagi! Yah!" teriakan Azila yang bersarang di telinga Nabila.


Nabila menjadi ragu saat mau mengetuk pintu kamar, entah mengapa jantungnya mulai berdegup kencang dan merasa gerah akibat teriakan Azila.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙