My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Katanya suka



"Apa kamu udah nggak waras? Dimana-mana orang itu maunya cium pipi, cium kening, cium bibir, nah, kamu malah pengen cium ketiak," ucap Candra yang tidak mengerti jalan pikiran Azila.


"Aku juga nggak tahu, tapi udah dari kecil aku kayak gitu, tapi dari sekian ketiak orang yang aku cium baunya, cuma ketiak papah aja yang aku suka," ucap Azila dengan polosnya.


"Ya udah, sana, cium ketiak Papahmu," ucap Candra.


"Hei, apa matamu sudah rabun? Aku ini udah 23 tahun, masa mau ngusel di ketiak Papahku," ucap Azila yang memang benar kalau di pikir pakai logika.


"Lagian, sudah hampir 7 tahun aku udah nggak pernah cium ketiak orang," ucap Azila dengan wajah menyeringainya mendekat ke arah Candra.


"Stop!" Seru Candra sambil tangan kanannya menahan kepala Azila, "Jika kamu memang mau cium ketiakku, kita bikin perjanjian dulu, agar kita saling untung, bagaimana?" Ujar Candra dengan senyum liciknya.


"Oke," jawab Azila tanpa pikir panjang.


"Kenapa kamu nggak mikir dulu, sih, kamu nggak takut kalau aku minta macam-macam?" Tanya Candra yang mulai ragu dengan Azila, dan Azila hanya menggeleng kepalanya.


"Memang kamu mau minta apa? Nggak akan macem-macem karena aku ini istri mu, mana mungkin kamu tega," jawab Azila dengan senyum seringai yang makin lebar.


"Apa dia salah minum obat ya? Kok jadi ngeri aku sama dia," ucap Candra dalam hatinya.


"Oke, kamu boleh cium ketiakku, tapi, kamu harus janji kalau kamu tidak akan memanggilku cowok mesum lagi ataupun cowok batu, sekarang kamu harus memanggilku sayang, oke?" Kata Candra yang masih memegang kepala Azila.


"Kenapa permintaanmu begitu bodoh, tapi tidak masalah, aku setuju," jawab enteng Azila.


"Sekarang, lepasin tanganmu dari kepalaku dan buka jaketmu," tambah azila.


"Ini kamu yang minta, ya," balas Candra yang memiliki akal bulus untuk Azila.


Candra melepaskan pegangannya di kepala Azila dan membuka jaketnya, Azila yang sudah menahan hasratnya selama 7 tahun lebih langsung nyosor ke depan.


"Eits, santai dong, main nyosor aja," kata Candra yang menyetop bibir Azila dengan jari telunjuknya.


"Apa lagi," keluh Azila.


"Tutup mata dulu," pinta Candra, tanpa membantah atau mengeluh, Azila menuruti perkataan Candra.


"Aku itung ya.. satuu.. duua.. tiiiga,"


Cupp, bibir Candra dan bibir Azila bertemu.


"Aaahhh, apa yang kamu lakukan, kamu sudah mencuri ciuman pertamaku," teriak Azila sambil memukul dada Candra.


"Auuh, au, sakit, jangan pakai kekerasan dong," rintih kesakitan Candra, lalu tangan Candra menangkap tangan Azila agar tidak memukulnya lagi.


"Dasar pencuri!" Maki Azila yang sudah terduduk di sofa, lalu Candra duduk di samping Azila.


"Tenanglah, kalau aku pencuri, berarti kamu juga pencuri," ucap Candra yang membuat Azila bingung.


"Maksudmu?" Tanya Azila sambil menoleh ke Candra.


"Tadi itu juga ciuman pertamaku, Sayang," jelas jujur Candra, lalu Azila menatap lekat mata Candra untuk memastikan dia berbohong atau tidak, tetapi Azila menemukan sorot mata yang sangat serius dan Azila mempercayai perkataan Candra.


Suasana berubah menjadi canggung, mereka berdua saling diam dan tidak ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu, sampai pada akhirnya, Candra mengalah karena dia sadar kecanggungan ini dia yang membuat.


"Zila," panggil Candra.


"Hmm,"


"Maaf," ucap Candra.


"Hmm,"


"Aku serius," tegas Candra.


"Hmm,"


Usaha Candra hanya di balas dengan deheman saja oleh Azila, lalu ada lampu menyala di atas kepala Candra.


Candra berdiri dari duduknya lalu berjalan ke balkon, dia di sana mengambil posisi push up terus mulai menaik turunkan badannya, Azila yang tidak mengerti apa tujuan Candra melakukan push up hanya diam dan melihat saja. "Apa dia bodoh, bukannya ngerayu aku malah push up di balkon, percuma aku jual mahal tadi," gumam Azila dalam hatinya.


"1, 2, 3, 4 ,..., 48, 49, 50 ,..., 98, 99, 100" hitung Candra.


Candra sudah push up sebanyak 100 kali, kini lengan Candra menjadi bengkak dan keringat bercucuran membasahi tubuh kekarnya yang hanya memakai celana training, Azila yang melihat tubuh Candra yang begitu menggoda sampai dia menggigit bibir bawahnya.


Candra masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Azila. "Aku masih punya hutang sama kamu," ucap Candra memulai pembicaraan.


"Hmm," lagi-lagi Azila hanya menjawab dengan deheman.


"Kalau kamu masih mau cium ketiakku, ini, silahkan, sepuasmu," ucap Candra yang sudah mengangkat tangannya yang membuat pendirian jual mahal Azila mulai goyah.


"Beneran?" Tanya Azila dan Candra menjawab dengan anggukan kepala dan senyum manis di bibirnya.


Tak pikir panjang lagi, Azila mendekatkan bibirnya dan mencium ketiak Candra yang putih bersih dan halus.


"Wangi banget, lebih wangi dari ketiak Papah," gumam Azila yang samar-samar Candra bisa mendengar semua perkataan Azila barusan.


"Kamu suka?" Tanya Candra, lalu Azila mengangkat kepalanya dan menjawab dengan anggukan kepala.


"Boleh minta tiap hari nggak?" Ucap Azila sambil memasang wajah imutnya, lalu Candra menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan senyum licik tergambar di bibirnya.


Saat Azila mencium ketiak Candra lagi, dengan cepat tangan Candra mengapit kepala Azila sampai bibirnya menyentuh ketiak Candra yang masih sangat basah akan keringat.


Azila meronta karena tidak tahan dengan keringat Candra yang begitu banyak.


"Heee hehashan," teriak Azila yang tidak jelas, karena Candra merasa kasian dengan Azila, lalu Candra melepaskan apitannya.


"Apa kamu mau membunuhku?" Dengus kesal Azila dengan wajah yang basah karena keringat Candra.


"Katanya kamu suka dengan ketiak ku," jawab Candra sambil menahan tawanya.


"Ya nggak pas basah juga kalau mau nempelin," teriak Azila sambil membasuh wajahnya di wastafel kamar mandi.


Setelah puas mengerjai Azila, Candra mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Azila yang sudah duduk di kasur sambil mengelap wajahnya dengan tisu.


Tidak lama kemudian, Candra keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. "Sayang, kamu cepat beresin barang-barangmu, nanti sore kita akan pindah ke rumah Bunda," ujar Candra.


"Ya, bentar lagi, nunggu kamu pakai baju dulu," jawab Azila yang tidak melihat ke arah Candra.


≈≈≈


"Aku sudah selesai," ucap candra yang sudah selesai memakai baju. Azila yang berbaring di kasur langsung bangun dan berjalan menuju lemari.


"Ambilkan koperku di lemari paling atas itu, tanganku nggak nyampek, ambilkan 2," pinta Azila, lalu Candra mengambil 2 koper besar yang ada di lemari bagian atas, setelah kopernya sudah di bawah, Azila mulai menata semua yang akan dia bawa pindah ke rumah Mertuanya.


"Apa kamu akan membawa semua isi lemari ini?" Tanya candra.


"Ya enggak lah, aku hanya membawa beberapa saja, yang lain biar di sini, jaga-jaga kalau aku akan nginep di sini lagi," jelas Azila dan Candra hanya manggut-manggut.


≈≈≈


Azila sudah membereskan semua keperluannya untuk pindah, dan jam di kamar Azila sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang, yang artinya sebentar lagi akan makan siang.


Azila mencari Candra yang sudah sejak tadi tidak terdengar suaranya. "Dimana dia?" Gumam Azila yang tidak menemukan Candra di kamar, lalu Azila keluar kamar dan turun mencari Candra.


"Mah, lihat Candra nggak?" Tanya Azila yang berpapasan dengan Mamahnya di tangga.


"Dia di halaman belakang, nemenin Papahmu main catur," jawab Mamah Mitha.


"Makasih, Mah," ucap Azila sambil berjalan meninggalkan Mamahnya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙