My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Petir



Setelah Candra mendapat telpon dari Azila, dia langsung bergegas pergi tanpa membereskan mejanya yang berantakan, sebelum turun ke lantai dasar, candra mampir ke ruangan Ayahnya terlebih dahulu untuk izin pulang duluan.


Di ruangan kantor milik Yoga.


"Yah, Candra pulang duluan, Azila ingin mengajak ku pergi jalan-jalan sekarang," ucap Candra.


"Baiklah, hati-hati di jalan, nanti kasih tau Bunda kalau Ayah pulang agak malam karena masih ada banyak berkas yang belum Ayah cek dan tanda tangani," jelas Ayah Yoga yang masih sibuk dengan komputer di depannya.


"Iya, Yah. Ayah jangan pulang larut dan jangan terlalu memaksakan diri, kalau begitu Candra berangkat dulu," pamit Candra sambil mencium punggung tangan Ayahnya, lalu dia berjalan keluar dan berhenti di samping Pak Suryo.


"Pak, tolong jaga Ayah, ya," pinta Candra ke Pak Suryo.


"Baik, Tuan Candra," jawab sopan Pak Suryo, lalu Candra melanjutkan jalannya menuju lift dan turun ke lantai dasar, Candra berjalan keluar kantor ke tempat mobilnya di parkir dan langsung menancap gas menjemput Azila.


Hanya butuh 30 menit Candra sudah sampai di depan teras rumah mewah milik keluarga Wibawa, Candra keluar dari mobilnya dan berjalan agak cepat karena dia tidak mau Azila menunggunya.


Candra teringat ketika mereka akan pindah ke rumah keluarga Wibawa, saat itu orang-orang lelah menunggu Azila yang sedang membuat alis, tapi nggak jadi-jadi, itupun yang kena marah malah Candra, apalagi sekarang, jika Candra yang melakukan kesalahan mungkin Azila akan ******* tubuh Candra dan membuatnya menjadi bola bowling.


"Candra, Ayah tidak ikut pulang?" Tanya Bunda Putri.


"Ayah masih mengurus beberapa dokumen dan menandatangani berkas, Bun. Mungkin agak malam baru pulang, Candra juga udah minta Pak Suryo buat jagain Ayah di sana. Jadi, Bunda tenang aja," balas Candra yang di jawab senyum manis oleh Bunda Putri.


"Bun, aku ke kamar dulu, mau jemput azila," pamit Candra sembari berjalan menaiki tangga dan Bunda putri hanya memandang punggung anaknya yang mulai hilang dari jarak pandang matanya.


≈≈≈


Cklekk.


Candra membuka pintu kamar dan masuk menghampiri Azila yang sedang duduk di ranjang. "Sudah siap?" Tanya Candra yang kini sudah berdiri tegak di depan Azila.


"Kamu lama sekali, sih, aku sudah siap sejak tadi," jawab ketus Azila.


"Iya-iya, maaf. Ayo, pergi sekarang," ajak Candra sambil mengulurkan tangannya untuk pegangan Azila berdiri, tetapi Azila malah beranjak berdiri lalu berjalan melewati Candra dan mengabaikan tangan Candra yang sudah siap menjadi pegangannya untuk berdiri.


"Harap sabar Candra, ini adalah ujian," gumam Candra dalam hati sambil mengelus dadanya dan menahan diri agar tidak marah.


Azila dan Candra sudah berada di mobil, mereka dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang masih belum diketahui oleh Azila karena Candra merahasiakannya.


"Kamu mau bawa aku kemana, sih? Ini udah dua jam lebih kita di jalanan, apa kamu mau membuangku ke laut atau menjatuhkanku ke jurang?" Tanya ketus Azila karena dia melihat di sebelah kirinya ada jurang yang cukup tinggi dan di ujung mata Azila melihat bibir pantai yang lumayan sepi, di sepanjang perjalanan Azila merasakan jalan yang menanjak dan menurun.


"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku ingin membuang mu?" Jawab Candra dengan nada dingin, seakan-akan dia memang akan membuang Azila ke laut ataupun menjatuhkannya dari atas jurang.


"Kau! Baiklah, jika kamu ingin menghilangkanku dari dunia ini," umpat Azila yang menahan kekesalannya dan menurunkan tangannya yang tadi ia angkat dan ingin memukul wajah Candra.


Candra melihat Azila sudah tertidur di tempat duduknya, saat Candra mendekatkan tangannya untuk membangunkan Azila yang sedang tertidur, tangan Candra kembali dia tarik dan mengurungkan niatnya karena orang yang ingin dia bangunkan sudah terbangun lebih dulu.


"Kita dimana?" Tanya Azila dengan suara serak khas orang bangun tidur sambil mengucek-ngucek matanya.


"Turun dan lihat sendiri," jawab lembut Candra, lalu mereka berdua turun dari mobil dan Azila melihat pemandangan di sekelilingnya.


Mata Azila memancarkan kebahagiaan dengan senyum yang sangat manis di bibirnya, Azila menoleh ke arah Candra yang memandangnya sambil menyenderkan tubuhnya ke mobil, lalu Azila pergi menghampiri Candra.


"Terima kasih sudah membawa ku kesini," ucap Azila yang tanpa sadar Azila memeluk tubuh kekar Candra, Candra membalas pelukan Azila dan mereka cukup lama berpelukan.


"Hei, ngapain kamu peluk-peluk tubuh ku, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan," dengus Azila yang menyalahkan Candra.


"Kenapa aku yang kamu marahin? Kan, kamu yang meluk aku duluan," balas Candra yang protes karena dia merasa tidak bersalah.


"sttt, diam, pokoknya semua yang terjadi adalah salah mu, bukan salah ku," ucap Azila dengan suara seperti seorang direktur yang sedang memarahi bawahannya.


"Aaahh, terserahlah, memang benar kata Bunda, kalau wanita tidak pernah salah," umpat kesal Candra dalam hatinya.


Setelah perdebatan tadi, Azila berlari menuju bibir pantai dan bermain air laut, sedangkan Candra hanya menunggu sambil memperhatikan Azila dari mobil.


"Zila! Cepat kemari, ayo masuk villa, sebentar lagi akan turun hujan!" Teriak Candra, tetapi Azila tidak mendengar karena jarak mereka terlalu jauh.


Gllleeedaaarrr....


Suara petir yang sangat keras dan seketika itu juga hujan turun dengan derasnya, Azila yang terkejut mendengar suara keras petir tadi langsung jatuh ke pasir dan tidak sanggup untuk berdiri, tubuh Azila terbaring di atas pasir, tubuhnya di terjang oleh ombak di bibir pantai, Azila sangat takut hingga dia meneteskan air mata, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali karena saking takutnya. "Tuhan, tolong aku," ucap Azila dalam hatinya.


Candra yang mendengar kerasnya suara petir tadi juga terkejut karena tidak ada kilatan cahaya sebelumnya, pada saat melihat Azila terjatuh Candra langsung berlari menghampiri Azila yang mulai terseret oleh ombak pantai.


"Zila, bertahanlah," gumam Candra yang berlari menerjang derasnya hujan.


Candra berlari semakin cepat dengan rasa kuatir yang sangat nampak di wajah Candra, rasa takut yang begitu besar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa wanita yang mulai di cintainya itu.


Glleedaarrr....


Tiba-tiba suara petir yang tidak kalah kerasnya dengan petir sebelumnya membuat Candra tersungkur ke pasir.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙