
Siang ini entah mengapa menjadi begitu panas, hingga dua orang manusia berlari dengan cepat saat turun dari mobil mereka, padahal halaman depan rumah tempat mereka berhenti ada pohon besar yang lumayan rindang, namun terik matahari masih terlalu panas dan mengalahkan keteduhan pohon itu.
Padahal hari ini masih jam setengah dua belas siang, namun matahari sudah sangat menyengat.
Di depan pintu rumah keluarga Yudistira, Candra dan Azila masih berdiri di sana sambil mengipas ngipaskan tangan dan baju mereka.
"Sumpah. Ini, panas sekali," ucap Azila sambil mengipasi wajahnya dengan tangan, "Beginilah, kalau panas tidak pada waktunya," umpat Azila.
Melihat istrinya yang marah ke matahari, Candra tiba-tiba tersenyum, "Mungkin matahari sedang sangat senang, dan ceria. Makanya dia bersinar lebih terang," ucap Candra sambil tersenyum dan tertawa kecil.
"Dia senang, kita yang terpanggang," celetuk Azila sambil memutar bola matanya.
Candra langsung merangkul pinggang Azila dan mencium pipi istrinya yang sedang marah sama matahari, "Kenapa sih, kamu kok gemesin banget," ucap Candra sambil menghujani pipi Azila dengan ciuman.
Tangan Azila menghadang bibir Candra yang ingin mencium pipinya untuk yang ke sekian kalinya, "Stop ..! Jangan diterusin, nanti malah jadi nafsu," ucap Azila, lalu dia melepaskan tangan Candra yang ada di pinggangnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku memang selalu nafsu saat ada kamu, Sayang," gumam Candra sambil tersenyum memandang punggung Azila yang berjalan meninggalkannya.
Candra lekas membuyarkan pikiran bahagianya dan mengejar Azila, "Sayang, tunggu suami tampan mu, ini !" teriak Candra sambil berlari.
≈≈≈
Azila menghampiri Bik Inem yang sedang membersihkan meja makan, "Hai, Bik !" sapa Azila dengan semangatnya sambil memeluk Bik Inem.
Bik Inem sedikit terkejut karena dia tidak menyadari kapan Azila datang, "Ya ampun, Non-non, bikin Bibik kaget saja," ucap Bik Inem sambil mengelus dadanya.
Azila tertawa dan melepaskan pelukannya, "He he, maaf, Bik. Zila, kan, hanya mau memberi Bibik kejutan," kilah Azila.
"Iya-iya, Non. Bibik, kan, tidak tahu kalau Non Zila mau memberi Bibik kejutan, makanya tadi Bibik terkejut," balas Bik Inem sambil tersenyum bahagia.
Azila mengerutkan dahinya karena dia tidak mengerti inti ucapan Bik Inem barusan, "Bibik ngomong apa, sih? Azila enggak paham, kata-kata Bibik terlalu abstrak untuk Zila yang bodoh, ini," ucap Azila sambil tertawa. Bik Inem pun ikut tertawa bersama Azila karena dia juga tidak mengerti kata-katanya sendiri.
Candra menghampiri Azila yang sedang tertawa bersama Bik Inem, "Ada apa, ini? Kenapa kalian tertawa begitu? Apa ada yang lucu?" ucap Candra yang baru sampai.
Seketika itu juga, Bik Inem dan Azila berhenti tertawa, mereka berdua sejenak saling pandang lalu tertawa kecil, namun mereka segera menutup rapat bibir mereka.
Bik Inem menunduk karena merasa tidak sopan di depan Candra, "Ma-maaf atas kelancangan saya, Tuan," ucap Bik Inem yang masih menunduk.
"Santai saja, Bik. Anggap saja Candra sebagai anak Bibik," ucap Candra.
"Benar, Bik. Jangan mau punya anak seperti dia, nanti Bibik bakal repot sendiri," celetuk Azila sambil melirik Candra.
Bik Inem menjadi tidak tahan untuk tertawa saat mendengar ucapan Azila, namun dia langsung bungkam dan menghentikan tawanya saat dia sadar siapa yang dia tertawakan.
Candra semakin gemas dengan Azila yang selalu membuat dia tersenyum dan membuat dia tidak mau jauh-jauh dari Azila.
"Semakin lama kamu semakin nakal, ya, Sayang," ucap Candra sembari menghampiri Azila.
Saat Azila ingin melarikan diri. Tangan Candra lebih dulu menggenggam pergelangan tangan Azila dan menariknya, membuat Azila berbalik badan dan jatuh di pelukan Candra.
"Kamu mau pergi kemana adik kecil? Kakak belum selesai berbicara, dan urusan kita belum selesai," ucap lirih Candra di telinga Azila.
"U--" kata Azila terhenti karena tiba-tiba Candra mengangkat tubuhnya.
"Jangan banyak bicara, Sayang. Aku akan mencium bibirmu jika kamu tidak berhenti berbicara," ancam Candra dengan suara pelan. Walaupun itu pelan, tapi Azila langsung diam dan menurut.
Candra mengalihkan pandangannya ke Bik Inem, "Bik, anggap saja aku sebagai anak Bibik, ya. Jika Bibik butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan ke anak mu, ini," ucap Candra sembari meninggalkan Bik Inem.
"Kamu mau membawaku kemana? Kita, kan, belum ketemu sama Mamah dan Papah," ucap Azila.
Cupp..
Candra mengecup lembut bibir Azila, "Tadi, kan, aku sudah bilang, jangan banyak bicara, atau aku akan mencium mu. Apa kamu tidak dengar?" ucap Candra yang terus berjalan.
Azila menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mendengar mu karena aku terpesona dengan ketampanan mu," ucap Azila sambil merangkul leher putih Candra.
Mendengar itu, Candra menghentikan langkahnya, "Jangan sampai kamu membuatku lepas kendali, Sayang," ucap Candra.
Azila tertawa kecil mendengar perkataan suaminya, lalu dia mengecup pipi Candra yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus setelah dicukur, "Jika pelan-pelan, mungkin tidak masalah," balas Azila sambil menggigit bibir bawahnya.
Candra tersenyum dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan, dia segera melanjutkan langkahnya menuju kamar Azila dengan semangat yang membara.
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙