
Beberapa saat Candra masih diam berdiri di teras rumah Papah Hendri. Hancur pasti, ditinggal istri yang sedang salah paham dan ditambah ayah mertuanya yang sudah salah paham juga.
"Ayah, dan anak sama saja," batin Candra sembari berjalan masuk ke mobilnya.
Di dalam mobil Candra menyandarkan kepalanya ke setir, pikirannya sudah buntu dan tidak tahu harus mencari Azila kemana lagi.
Tiba-tiba dia teringat dengan Kevin dan Nabila yang dua hari lagi akan menikah. Pikirannya semakin buntu saat memikirkan jawaban saat ditanya tentang Azila.
"Haih, merepotkan sekali," gumam Candra, "Kamu di mana, Zila? Tolong jangan pergi begitu saja tanpa kejelasan," gumamnya lagi.
Candra mulai menjalankan mobilnya dan mencoba mencari Azila kembali, dia mencari ke tempat yang sering mereka kunjungi. Candra juga menugaskan beberapa orang suruhannya untuk mengecek hotel ataupun penginapan di sana, dia berpikir kalau Azila tidak mungkin pergi jauh karena perutnya sudah membesar dan mudah capek.
Malam sudah larut dan Candra baru pulang setelah seharian mencari keberadaan Azila. Namun, usahanya hari ini masih nihil tanpa hasil, dia hanya membawa pulang tubuh capeknya dan lebam serta memar di wajahnya. Untung saja saat itu Bunda Putri dan Ayah Yoga sudah berada di kamar mereka, jika Bunda dan ayahnya melihat wajah berantakannya, pasti mereka akan panik sendiri, panggil dokter dan segala macam. Padahal Candra bukan anak tunggal, tapi kedua orangtua nya memperlakukan dia dan adiknya seperti anak tunggal yang terus dimanja.
Candra sudah membersihkan dirinya dan sekarang dia sedang memandangi foto-foto dirinya dan Azila yang dipenuhi senyum bahagia di setiap foto. Malam sudah semakin larut bahkan hari sudah berganti tanggal, tetapi Candra masih memandangi foto istrinya dengan mata sayu dan kantuk berat setelah kecapekan seharian mencari Azila. Candra mulai terpejam dengan tangan yang masih mengacung ke atas memegangi ponselnya.
Dugh ....
Ponsel di tangan Candra terjatuh membentur wajahnya, dia kembali membuka mata dan meringis kesakitan karena ponsel itu jatuh tepat mengenai bekas pukulan Papah Hendri tadi siang.
"Benda sialan!" maki Candra pada ponselnya. Dia meletakkan ponsel itu ke nakas dan mulai memejamkan matanya kembali.
Di tempat lain, tepatnya di kota lain, Azila masih belum tidur karena masih memikirkan perkataan neneknya.
"Kamu boleh marah pada suami mu, dan kamu juga boleh pergi kemanapun untuk menenangkan kekecewaan mu, bahkan jika, itu, membutuhkan waktu yang lama. Kamu tidak memberi kabar ke suami mu, itu, tidak apa-apa, wajar-wajar saja. Tapi, kamu juga harus ingat, kedua orangtua mu masih hidup, dan selalu mengkhawatirkan keadaan mu saat kamu pergi tanpa kabar, apalagi kamu pergi dengan perut besar, dan kamu pergi disaat ada masalah dalam rumah tangga. Berikanlah mereka kabar kalau kamu ada di rumah Nenek, mereka pasti mengerti, dan memahami keadaan mu," ucap Nenek yang masih Azila ingat.
Setelah berjam-jam memikirkan itu, akhirnya Azila menelpon nomor papahnya yang tadi diberikan oleh Nenek.
Ting tung ting tung ....
Ponsel Papah Hendri berdering nyaring di kamar yang sunyi hingga membuat pemiliknya terbangun dengan perasaan sedikit kesal.
"Siapa, sih, tengah malam begini telpon, ganggu waktu tidur aja," gerutu Papah Hendri.
"Lebih baik cepat angkat telpon, itu, daripada menggerutu," sahut Mamah Mitha yang juga ikut terbangun. Papah Hendri membuang napas kesalnya.
"Nomor siapa, lah, ini." Papah Hendri kembali menggerutu saat melihat nama penelponnya adalah nomor tidak dikenal. Papah Hendri mengangkat telpon itu.
"Halo!" ucap Papah Hendri dengan sedikit kesal. Namun, tidak ada jawaban.
"Halo!" ucap Papah Hendri.
"Ha-halo, Pah," jawab Azila dengan tergagap karena merasakan papahnya sedang kesal.
"Zila!" ucap Papah Hendri dengan kerasnya hingga Azila langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lain halnya dengan Mamah Mitha, dia langsung membuka matanya yang sudah ia pejamkan, lalu duduk dan mendekat ke Papah Hendri saat mendengar suaminya memanggil nama orang yang sedang dia khawatirkan sejak siang tadi.
"Yang menelpon Azila, Pah?" tanya Mamah Mitha sambil merampas ponsel di tangan Papah Hendri.
"Belum tahu, Mah. Tapi, dari suaranya, itu, sangat mirip dengan Azila, Mah," jelas Papah Hendri.
"Iya, ini, Zila, Mah, Pah," ucap Azila dari dalam telpon sambil mengucek telinganya yang masih berdenging karena teriakan Papah Hendri.
"Zila! Di mana kamu, Nak? Mamah sangat khawatir, apa kamu baik-baik saja sekarang? Bagaimana keadaan mu? Keadaan kandungan mu? Kamu tinggal di mana sekarang? Dan kamu tinggal sama siapa? Apa kamu tinggal sendirian? Atau kamu tinggal di penginapan? Atau di hotel?" tanya Mamah Mitha dengan segala kecemasan dan kekhawatirannya. Azila terkekeh mendengar Mamahnya yang bertanya dalam satu tarikan napas seperti ijab qobul saja.
"Dasar wanita, nggak marah, nggak khawatir, nggak takut, pasti selalu nerocos tiada henti," gerutu Papah Hendri di dalam hatinya.
"Satu-satu, Mah, kalau bertanya," ucap Azila, "Sekarang Azila ada di rumah Nenek, di Bandung, dan Azila baik-baik saja, dedek bayi juga sehat, dan masih suka nendang-nendang," lanjut Azila.
"Sini, Mah. Papah mau bicara sama Azila," ucap Papah Hendri sambil meraih ponselnya dari tangan Mamah Mitha.
"Halo, Nak," ucap Papah Hendri.
"Iya, Pah?"
"Tentang masalahmu, dan Candra, Papah sudah tahu," ucap Papah Hendri. Azila terdiam.
"Papah juga sudah meminta Candra untuk menceraikan kamu secepatnya," ucap Papah Hendri.
Deg ....
Azila terkejut dengan ucapan papahnya. Memang saat ini Azila sudah sangat kecewa dengan Candra dan itu sangat menyakiti hatinya, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, dia lebih sakit saat mendengar kata cerai dari Papah Hendri. Azila kembali teringat dengan pesan Kakek tadi siang.
"Masalah, itu, seperti matematika. Dia rumit, tapi punya penyelesaian. Dia berbeda-beda, dan penyelesaiannya pun berbeda-beda. Di dalam masalah, cobalah untuk mencari alasan, dan penyelesaiannya, jangan lari begitu saja. Bicarakanlah dengan suamimu, setiap orang pantas mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan."
Entah mengapa Azila menjadi tidak tega meninggalkan Candra seperti ini, tetapi dia juga tidak bisa menahan rasa kecewanya.
"Zila, kenapa kamu diam, Nak?" tanya Papah Hendri.
"Em, maaf, Pah. Bukan maksud Azila ingin melawan Papah ataupun tidak sopan ke Papah, tetapi, ini, adalah masalah rumah tangga Azila. Jadi, Papah jangan ikut campur, biarkan Azila, dan Candra yang menyelesaikan masalah, ini, dan untuk kelanjutan hubungan ku dengan Candra, Azila masih belum memutuskan," ucap Azila.
Papah Hendri tersenyum dan membuang napas lega, dia sangat bangga ke anak perempuannya. Walaupun sudah dikecewakan, dia masih bisa berpikir dewasa dan tidak sebodoh dirinya yang langsung meminta Candra untuk menceraikan Azila. Tidak beda dengan Papah Hendri, Mamah Mitha juga begitu bahagia mendengar ucapan putrinya itu.
"Baiklah, maafkan Papah karena sudah ikut campur ke masalah kalian, Papah terbawa emosi saat tadi Candra ke sini mencari mu, dan dialah yang memberitahu Papah tentang masalah kalian," ucap Papah Hendri.
"Apa? Tadi Candra datang ke rumah?" tanya Azila yang terkejut.
"Iya, dia tadi datang ke rumah, dan menunjukkan foto perselingkuhannya, lalu Papah memberi dia beberapa hadiah pukulan ke wajahnya karena sudah membuat putri Papah sedih, dan kecewa," jelas Papah Hendri.
Azila sedikit merasa kasihan ke Candra, bukan karena cintanya, tetapi dia tahu kalau papahnya belajar tinju sampai sekarang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Candra yang telah kena pukulan dari papahnya.
"Terima kasih," ucap Azila. Papah Hendri mengerutkan dahinya.
"Terima kasih untuk?" tanya Papah Hendri.
"Untuk pukulan yang sudah Papah darat kan di wajah laki-laki, itu, dan terima kasih sudah diwakilkan," jawab Azila, "Sebenarnya Azila ingin melakukannya sendiri, tapi Azila tidak bisa memukul," lanjutnya.
"Sepertinya harus belajar tinju dulu," balas Papah Hendri.
"Sepertinya," balas Azila, "Sudah duku, ya, Pah, Mah. Azila ngantuk," lanjutnya.
"Oke, tidurlah," balas Papah Hendri.
"Oh, ya, Pah. Jangan beritahu Candra apapun tentang Zila, ya, Pah. Biarkan dia menderita," ucap Azila, "Dan tolong beritahu Ayah Yoga sama Bunda Putri tentang keadaan Azila, dan beritahu mereka kalau jangan memberitahu keberadaan, dan kabar Azila ke Candra," lanjutnya.
"Siap, Tuan Putri," balas Papah Hendri sembari tertawa.
Setelah itu Azila menyudahi panggilan itu, dia mulai memejamkan matanya yang sudah menahan kantuk.
{≈≈≈≈}
Budayakan memberi author like, sama vote, kalau mau komen juga boleh. Kalau kalian bikin author seneng, author bakal rajin up dan kasih kalian crazy up.
Terima kasih.