
Candra sampai di rumah Kakek sudah dari pukul sepuluh pagi dan sekarang sudah menjelang setengah satu siang. Entah sudah berapa lama Candra menunggu Azila di kamar. Namun, Azila tak kunjung kembali hingga membuat Candra ketiduran karena kelelahan.
Di kebun belakang, Azila masih santai-santai setelah menyelesaikan lukisannya yang beraliran abstrak atau lebih tepatnya berbeda jauh dari model yang ia lukis. Namun hatinya sudah sangat senang saat menyelesaikan lukisan itu, bukan karena hasilnya, tetapi karena dia melukis itu sambil meluapkan emosinya yang masih mengganjal di hatinya.
Para pelayan yang melihat hasil lukisan cucu majikannya itu ingin tertawa tetapi takut dosa, apalagi jika mereka ketahuan, bisa habis mereka berhadapan dengan ibu hamil satu ini. Pelayan-pelayan tadi tidak memberitahu Azila jika Candra sudah menyusulnya kemari, mereka pikir jika Candra hanya melihat keadaan Azila dan kembali pergi.
Azila sudah mulai lapar dan mengantuk, sejak tadi hanya ada buah-buahan di sampingnya, padahal dia ingin makan ayam bakar, tetapi dia terlalu malas berbicara dan malas untuk menyuruh para pelayan. Azila hanya duduk dan sesekali merebahkan tubuhnya di kursi kayu yang panjangnya dua kali lipat dari tinggi Azila.
"Zila, ayo masuk, kita makan siang dulu, dan setelah, itu, kamu istirahat," ucap Nenek yang ada di pintu pembatas kebun belakang dengan rumah.
"Akhirnya, ada yang peka," batin Azila.
"Oke, Nek," jawab Azila sembari berdiri dan berjalan menghampiri neneknya dengan dibantu seorang pelayan.
Nenek telah tahu akan kedatangan Candra dari Kakek. Kakek juga sudah memberitahu tentang kesalahpahaman antara Azila dan Candra, Nenek merasa lega saat mengetahui jika masalah rumah tangga cucunya hanya salah paham, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika cucu mantunya memang selingkuh, bagaimana nanti nasib Azila dan anaknya.
Azila dan Nenek sudah ikut duduk di kursi meja makan bersama Kakek. Nenek mengangkat telapak tangannya sebatas dada memberi Kakek sebuah isyarat di mana Candra, Kakek menyatukan kedua tangannya dan ditempelkan di samping kepala isyarat tidur. Saat Nenek memanggil Azila tadi, Kakek melihat Candra di kamar dan ternyata Candra tertidur di sana, Kakek tidak mau membangunkan Candra karena dia tahu kalau cucu mantunya itu pasti kelelahan.
Azila mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah aneh Kakek dan neneknya yang seperti mengobrol dengan bahasa tubuh, dia memandangi kedua manusia lanjut usia itu secara bergantian, "Kalian sedang apa?" tanya Azila tiba-tiba.
Kakek dan Nenek berpaling menoleh ke Azila, sejenak Kakek dan Nenek saling pandang sambil tersenyum, lalu kembali menatap Azila.
"Jangan suka kepo, tadi, itu, pembicaraan antara suami, dan istri," jawab Nenek.
"Itu namanya bahasa cinta," sambung Kakek.
Azila kembali mengerutkan dahinya dan memasang wajah jijik, "Sejak kapan kalian jadi seperti ABG labil kayak gitu?" tanya Azila.
"Jangan salah, walaupun sudah tua, dan kulit sudah keriput begini, tapi jiwa kami masih jiwa anak SMA yang dimabuk cinta," jawab Kakek.
Jawaban Kakek membuat bulu kuduk Azila berdiri semua. Bukan karena takut, melainkan jiwanya merasa tergelitik oleh jawaban Kakek.
"Sudah, ayo makan, kasian kedua anakmu di sana, mereka pasti kelaparan sejak pagi tadi," ajak Nenek.
Azila mengangguk dan mulai menikmati makanan di piringnya. Akhir-akhir ini nafsu makan Azila menurun karena terlalu banyak beban pikiran tentang kelanjutan rumah tangganya.
Setelah selesai menikmati makan siangnya, Azila berdiam diri sejenak sampai makanannya benar-benar sudah turun ke bawah. Setelah merasa lebih enak dan lega, dia beranjak berdiri kembali ke kamarnya.
Saat sudah berada di dalam kamar, Azila tidak terlalu memperhatikan tempat tidurnya, dengan kondisi remang-remang dia langsung naik ke tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.
Beberapa menit telah berlalu dan Azila mulai merasakan kalau ada yang memeluk dirinya. Perlahan Azila membuka matanya dan dia samar-samar melihat wajah tampan yang dia benci, namun di lubuk hati terdalamnya dia sangat merindukan wajah familiar itu.
"Apa aku bermimpi?" gumam Azila, "Tapi, kenapa, ini, terlihat begitu sangat nyata," gumamnya lagi.
Azila menepis pikiran jika Candra ada di sampingnya, dia mengangkat tangan Candra yang memeluknya dan turun dari ranjang, dia masih berpikir jika yang dialaminya saat ini hanyalah bunga tidur biasa akibat dia terlalu kepikiran dengan Candra.
Candra sudah bangun sejak tadi dan dia juga mendengar gumaman Azila barusan, Candra ingin memberitahu Azila jika ini bukanlah mimpi, tetapi kenyataan yang sudah dia rencanakan.
Azila masih berpikir jika itu mimpi, lalu dia masuk lagi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, siapa tahu setelah mencuci muka dia bisa terbangun dari mimpi membingungkan itu.
Candra tertawa di atas tempat tidur melihat tingkah Azila, dia begitu tidak percaya jika istri nakalnya itu juga terlalu polos, bagaimana bisa dia tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan.
"Mengerjai mu sedikit mungkin akan menyenangkan," gumam Candra sembari turun dari ranjang.
Setelah mencuci wajahnya, Azila kembali melihat ke arah ranjang, dia bernapas lega karena tidak melihat Candra di sana, "Benarkan. Ini, hanya mimpi biasa," ucap Azila, "Kenapa juga aku memikirkan laki-laki, itu. Jelas-jelas dia sudah tidur bersama wanita lain," lanjut Azila.
Azila mengusap-usap rambutnya karena kembali teringat foto di ponselnya waktu itu.
Aakkhhhh ....
Azila menjerit karena ada yang memeluknya dari belakang dan orang yang memeluknya dari belakang adalah Candra. Candra dengan sigap langsung menutup mulut Azila agar tidak mengundang penghuni rumah itu untuk datang ke kamar Azila.
"Sayang," ucap Candra. Azila merasa sedikit tenang ketika mendengar suara itu karena dia sangat mengenali suara lembut itu.
Karena tidak ada perlawanan atau teriakan lagi, Candra melepaskan tangannya dari mulut Azila. Kini kedua tangan Candra melingkar di pinggang Azila sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Ya Tuhan, kenapa engkau menciptakan dunia mimpi yang begitu nyata untuk ku," ucap Azila karena dia merasakan hembusan napas Candra di tengkuknya.
"Sayang, apa kamu merindukan aku?" tanya Candra sambil membenamkan wajahnya di tengkuk Azila. Candra sedikit membungkuk karena tinggi Azila hanya sebatas dagunya.
"Berbicara jujur dengan bayangannya mungkin akan mengurangi beban pikiranku," ucap Azila dalam hati.
"Benar, aku merindukanmu," jawab Azila. Candra tersenyum bahagia mendengar jawaban Azila.
"Lalu, kenapa kamu meninggalkan ku, dan tidak kembali ke rumah jika kamu rindu?" tanya Candra. Azila menundukkan kepalanya.
"Rasa rinduku masih kalah besar dengan kekecewaan ku pada dirimu di dunia nyata," jawab Azila. Candra melepaskan pelukannya dan menghadapkan Azila untuk menatapnya.
Tampak bulir kristal bening keluar dari pelupuk mata Azila, "Bisakah kamu memelukku sebentar saja, mungkin aku tidak akan pernah lagi mendapatkan pelukan darimu di dunia nyata," pinta Azila.
Candra bingung dengan apa yang sedang dia rasakan, rasa bersalah dan rasa bahagianya bercampur saat itu.
"Toh, ini, hanya di dalam mimpi, aku akan menikmati pelukan darimu untuk yang terakhir kalinya," ucap Azila dengan bulir kristal yang sudah jatuh melewati bakpao kembar miliknya.
Candra mengusap air mata Azila dan memeluk istrinya. Azila sangat senang karena bayangan Candra begitu lembut padanya, hingga Azila melupakan kekecewaannya terhadap Candra dan membalas pelukan Candra dengan erat di dunia mimpi.
"Hanya mimpi," lirih Azila.
{ββββ}
Maaf telat up untuk hari ini, nanti malam akan author tambahi dengan satu bab pendek yang isinya pasti membuat kalian anuπ€. So makasih buat yang selalu kasih like, vote, dan komentar.
I love you gaes.