My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Meratapi nasib



Budayakan like dulu sebelum baca ya, Sayang😘


"Apa kamu merasakan kenyamanan saat bersamaku? Apa kamu merasa aman saat di pelukanku?" tanya Naza.


"A-aku-"


Detak jantung Naza semakin cepat dengan pikiran dan hati yang tidak karu-karuan. Sentuhan lembut di dada, gesekan hidung mancung di dada, pelukan hangat yang begitu erat, wanita cantik bergeliat manja di pelukan, laki-laki normal manapun akan merasakan darahnya mendidih mendesir dengan sensasi yang tak bisa ditahan.


"Ya?" tanya Naza karena Eldar diam sebelum menyelesaikan jawabannya.


"Ya ... aku merasakan, itu ... tapi-" jawab Eldar menggantung.


"Tapi?" tanya Naza bingung karena merasa ada hal buruk jika ada kata 'tapi' setelah kabar bahagia.


"Tapi aku juga membencimu, dan tidak suka sikapmu yang kasar, dan suka membentak," ucap Eldar, "Kamu juga suka pergi dengan berkilah aku mengusirmu, padahal aku mencoba lebih dekat denganmu, tapi kamu malah pergi," lanjut Eldar.


"Hm?" Naza sedikit bingung dengan apa yang dimaksud Eldar.


"Kemarin kamu kebelet pup, kan! Tapi kamu malah beralasan aku mengusirmu," ucap Eldar sambil kembali memandang wajah tampan Naza.


Naza terkekeh dan tidak menyangka jika kemarin dia salah paham dengan pertanyaan Eldar, dia kira Eldar benar-benar mengusirnya, tapi dia bersyukur karena Eldar berpikir positif dan tidak berpikir kalau dirinya marah saat itu.


"Baiklah, maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Naza sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


"Baiklah, karena aku sedang bahagia, aku memaafkanmu," balas Eldar.


Beberapa saat suasana menjadi hening karena Eldar terlalu nyaman di pelukan Naza dan Naza bingung harus berbicara apa, dia masih belum mendapatkan jawaban apakah Eldar mencintainya atau tidak, dia juga sedikit ragu dengan perasaannya yang tumbuh begitu cepat kurang dari 86.400 detik.


"El," panggil Naza. Eldar yang terpejam membuka matanya dan melihat ke atas ke wajah Naza.


"Apa?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa kamu mencintaiku?" tanya Naza.


Eldar terdiam memikirkan perasaannya, "Aku masih belum bisa memastikan ... tapi aku sangat nyaman saat bersamamu," jawab Eldar. Naza tersenyum.


"Apa kamu mau jadi pacarku?" ucap Naza begitu serius sambil menatap manik biru muda milik Eldar. Eldar seketika membulatkan matanya lalu memalingkan pandangannya.


"Jangan bercanda, kamu saja tidak mencintaiku," jawab Eldar.


Naza menarik dagu Eldar membuat wajah cantik Eldar kembali menatap wajahnya, "Aku mencintaimu, Eldar. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri ... a-aku mulai tertarik padamu saat melihatmu kemarin sore di dermaga kayu," ucap Naza dengan serius dan Eldar tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Naza.


"I-ini terlalu cepat, bahkan aku masih belum bisa memastikan kalau aku juga mencintaimu, a-aku takut kalau pada akhirnya aku menyakiti perasaanmu," ucap Eldar.


"Aku akan berjuang agar kamu bisa mencintaiku juga, aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku," balas Naza.


"A-aku tidak yakin," balas lirih Eldar.


"Aku akan membuatmu yakin," ucap Naza serius.


"Caranya?" tanya Eldar sambil menatap bingung.


Cupp ....


Kecupan tanpa lumatan tanpa nafsu Naza landingkan dengan lembut di bibir Eldar, "Ini salah satu caranya," jawab Naza sambil tersenyum.


Eldar masih terdiam, ini kali keduanya di kecup oleh laki-laki, dan laki-laki itu masih sama seperti yang pertama.


"Itu kecupan pertamaku selama aku hidup, dan aku memberikannya padamu," ucap Naza.


"Apa kamu sudah pikun? Ini kali keduanya kamu mengecup bibirku, dan kamu sudah mengambil keperawanan bibirku tadi pagi," gerutu Eldar, "Untung tadi kamu tidak mengambil ciuman pertamaku," lanjut Eldar.


"Ka-kapan aku melakukannya?" tanya Naza.


"Tadi pagi aku bangun terus kamu membentakku, dan tiba-tiba mencium bibirku lalu tidur lagi seperti tanpa dosa," jawab Eldar, "Pakai peluk-peluk pula," lanjutnya.


"Ma-maafkan aku, a-aku benar-benar tidak ingat," ucap Naza jujur.


"Tanpa kamu minta pun, aku sudah memaafkanmu sejak tadi, dan aku akan melupakannya karena aku tidak suka pencuri yang tidak permisi," ucap Eldar.


"El ... apa kamu tidak percaya dengan cintaku? Aku tahu, ini, terlalu cepat, bahkan sangat cepat, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, dan aku tidak mau menyakiti diriku sendiri dengan menyimpan perasaan, ini," ucap Naza, "Jadilah pacarku, aku akan memberimu kebahagiaan, dan memberimu dunia penuh cinta," lanjut Naza.


"A-aku-" Eldar menggantung ucapannya.


"Ya, katakan, ya," ucap Naza dalam hatinya.


"A-aku ... tidak mau," jawab Eldar.


Deg ....


Jantung Naza berhenti berdetak dan sesak rasanya, detak jantungnya tidak secepat tadi, bahkan ini lebih lambat dari kecepatan normalnya. Naza merasakan petir menyambar hatinya, dia melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri dan menjauh dari Eldar.


"Ke-kenapa sangat sakit?" gumam Naza sambil memegangi dadanya.


Sakit tak berdarah, itulah yang dirasakan Naza saat ini, dia tidak pernah jatuh cinta walaupun banyak wanita cantik di sekitarnya, sekali dan pertama kali dia merasakan yang namanya cinta dan langsung mendapat penolakan membuat seluruh tenaganya hilang seketika.


Hati yang beberapa menit lalu dipenuhi kebahagiaan, kenyamanan, kehangatan, dan cinta, sekarang hanya hampa dan menciptakan luka yang bertabur garam. Perih.


Eldar masih duduk dan menatap bingung punggung Naza, "Apa aku salah bicara?" gumam Eldar.


"Pergilah, El. Mungkin orang-orang sedang mencarimu sekarang," ucap Naza mengusir Eldar.


Eldar bangkit dari duduknya, "Apa kamu mengusirku?" tanya Eldar yang merasa sedikit sakit saat Naza berkata begitu.


"Tidak, jangan salah paham, aku hanya tidak ingin orang-orang khawatir mencarimu," jawab Naza tanpa menatap Eldar.


Eldar menjadi geram karena Naza tidak berbalik dan memunggunginya saat berbicara, dia berjalan mendekat dan menarik lengan Naza dengan kasar hingga Naza berbalik menghadapnya.


"Jangan memunggungiku saat bicara! Aku tidak suka!" geram Eldar.


"Pergilah, dan lupakan apa yang sudah terjadi, anggap saja hari, ini, tidak pernah terjadi," ucap Naza sambil menahan perih di hatinya.


Bughh ....


Uhkk ....


Pukulan yang cukup keras mendarat di perut Naza hingga meringis kesakitan.


"Kenapa kamu tiba-tiba berubah! Kamu sudah menyatakan cintamu, dan membuatku percaya jika aku juga mencintaimu! Tapi, tapi kenapa kamu malah menyuruhku melupakannya! Tadi kamu bilang kamu akan membahagiakan aku, memberiku cinta, di mana? Di mana janji-janji manismu tadi, hah?" teriak Eldar.


"Kamu menolakku, El! Kamu sudah menolakku," jawab Naza menjadi lirih karena dia tidak kuasa membentak Eldar.


Grebb ... bughh ....


Eldar memeluk Naza dan memukul-mukul punggung Naza, "Itulah yang tidak aku sukai darimu, kamu selalu salah paham, dan tidak mau mendengarkan orang berbicara sampai selesai," lirih Eldar yang membenamkan wajahnya di antara kedua dada bidang Naza.


"Apa maksudmu, El?" tanya lirih Naza.


"Aku tidak mau menolak cinta laki-laki yang sudah membuatku jatuh cinta padanya," jawab Eldar.


"Ma-maksudnya, ka-kamu mau jadi pacarku?" tanya Naza sambil menerka-nerka.


"Apa jawabanku masih kurang jelas, Sayang?" tanya balik Eldar sambil menatap wajah Naza.


"Yang, ini, cukup jelas," jawab Naza.


"Pintar," balas Eldar sambil mengusap rambut Naza.


Pandangan keduanya bertemu dan saling menatap lekat satu sama lain, wajah Naza perlahan mulai mendekat, Eldar seperti membeku menatap mata Naza yang mulai sayu.


"A-apa dia akan menciumku? A-apa kita akan berciuman?" gumam Eldar dalam hatinya. Naza memejamkan matanya, Eldar juga ikut terpejam, wajah mereka semakin dekat dan dekat.


Cupp ....


Bibir Naza mengecup lembut bibir Eldar, perlahan kecupan itu berubah jadi ciuman tanpa gairah, tapi itu tidak berlangsung lama, ciuman keduanya menjadi penuh gairah karena dibutakan cinta. Tangan Eldar mulai mengusap-usap punggung Naza dan beralih memeluk tengkuk Naza, Eldar menarik kepala Naza agar ciuman mereka tidak lepas begitu cepat. Walaupun, ini kali pertama mereka melakukan selama mereka hidup, tapi mereka menjadi pintar sendiri saat ada media untuk prakteknya.


Aahhkkk ....


Eldar menjerit dan mendorong Naza hingga pelukan mereka terlepas, Eldar melihat Naza sekilas dan berbalik badan sambil menutup matanya.


"Naza ..! Burungmu berdiri, cepat tutup!" teriak Eldar. Dia begitu syok saat sedang ciuman dengan Naza, dia merasakan ada benda keras, besar dan hangat yang menempel dan berkedut di perutnya.


Naza yang baru sadar saat adiknya sudah berdiri tegak dan handuk yang ia kenakan sudah melorot tanpa sepengetahuannya, dia langsung mengambil handuknya dan menutupi adiknya lalu berlari mengambil pakaiannya di koper.


"Kenapa aku jadi seliar, ini?" gumam Eldar, "Mataku, mataku sudah ternodai," lanjut Eldar meratapi nasibnya.


Cuma mengingatkan saja, jangan lupa tekan like dan apabila ada typo atau salah penyebutan nama, beritahu di kolom komentar ya say. Terima kasih:)